Langsung ke konten utama

Puisi : Payungkan aku



Payungkan aku,

Dingin menelanjangi setiap sendi tulang ini
Menyeret dalam ketakutan, asa tanpa jendela
Meremukkan secercah bahagia
Gerimis menetesi warna pelangiku,

Tak tahu dimana ruangnya tuk dilukiskan kembali
Lelah mencoba memperbaiki.
Tapi tetap tidak kembali indah

Datang hujan mengguyur seluruh
Lukisan pelangi cintaku
Menghapus semua kehangatan,
Menjadi dingin dan membeku

Pinjamkanlah aku payungmu,
Dan berilah sisa ruang cinta bertabur asa,
Membawa kehangatan, merenda mentari
Melukis lagi pelangi

Atau…, paling tidak payungkan aku,
Hingga tidak terasa menggigil persendian hati,
Mengeringkan senyawa luka ini
Membalut pelukan hangat dalam kalbuku

Oleh; Rosi.Jumnasari . Bekasi, 21januari2014 . KBM my group fb.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...

Puisi (Rosi)

Teratai Menunggu Cerah Ungu menyapa pagi dalam dedauan sepi Hijau menebar pesona mengambang diantara jernihnya tertiup angin kesana kemari Merekah mempesona seakan menanti Datangnya sinar cerah sang mentari Senyum ditampilkan mekar dan indah Menari tertiup angin begitu megah Cantikmu wahai jelita ungu putihmu menebar suci baik hati Diantara dedauan dirimu tegak berdiri Seolah tegar menghadap langit biru Akh.. Seperti itukah gadis-gadis Sedang mekar-mekarnya dibalut ceria Seolah menunggu, dipetik dan dihias' Oleh para jumawa jejaka yang rindu si Jelita. (Cikarang,14-Oktober-2014, Rosi.Ochiemuh)