Langsung ke konten utama

Fikmin : Fakir juga Manusia



Fakir juga manusia

Malam ini bapak mengajak  jalan-jalan selepas salat tarawih  dengan mobilnya. Kami berangkat bertiga. Sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Mobil bapak lalu berhenti di pinggir parkiran pertokoan yang sudah tutup. Kami keluar bersama.
“Kamu lihat, ada beberapa orang di kota ini yang tidak beruntung hidupnya.” Bapak menjelaskan sambil memandangi beberapa gelandangan yang sedang tidur di emperan toko yang berjejer. Malam itu begitu sepi.
“Kenapa dengan mereka?” tanyaku.
“Karena mereka tidak punya tempat tinggal, pekerjaan. Banyak yang tidak mau menerima mereka bekerja yang layak," jawab bapak.
“Kasihan ya," ujarku
“Bersyukurlah dengan keadaan kita,” gumam Ibu.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami atas ketidakperdulian kami pada hamba-hamba-Mu yang fakir. Gumamku dalam hati,  rasa kasihan melihat mereka begitu nyenyak tidur di emperan toko.
“Besok kita kemari lagi.” Tiba-tiba bapak berkata.
“Untuk apa Pak?” tanyaku bingung.
“Kita akan berikan hadiah buat mereka dengan diam-diam.” Surprice Bapak Aku bahagia mendengar kejutan ucapan dari bapak. Semoga dapat memberikan senyum dihati mereka.

(By: Rosi.Ochiemuh.FBI)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...

Puisi (Rosi)

Teratai Menunggu Cerah Ungu menyapa pagi dalam dedauan sepi Hijau menebar pesona mengambang diantara jernihnya tertiup angin kesana kemari Merekah mempesona seakan menanti Datangnya sinar cerah sang mentari Senyum ditampilkan mekar dan indah Menari tertiup angin begitu megah Cantikmu wahai jelita ungu putihmu menebar suci baik hati Diantara dedauan dirimu tegak berdiri Seolah tegar menghadap langit biru Akh.. Seperti itukah gadis-gadis Sedang mekar-mekarnya dibalut ceria Seolah menunggu, dipetik dan dihias' Oleh para jumawa jejaka yang rindu si Jelita. (Cikarang,14-Oktober-2014, Rosi.Ochiemuh)