Aku hanya seorang perempuan yang selalu berharap sederhana. Sesederhana ketika menerima apa yang sudah diberikan kedua orangtua. Sesederhana ketika harus menerima keadaan dan kondisi kedua orangtua. Namun juga tak menampik jika suatu waktu aku mendapatkan keberuntungan dan menciptakan keinginan yang sangat besar.
Manusia memang tiada yang sempurna. Banyak juga yang mencari kesempurnaan, apalagi sekedar untuk mencapai cita-cita, rezeki dan jodoh. Semua merasa ingin menuntut kesempurnaan. Hingga mereka tersadar bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hanya ada kata melengkapi satu sama lain. Sederhananya hidup itu, jika selalu menanggapinya dengan bijak.
Sederhana itu memang sesuatu yang istimewa, saat kita menjalankan sesuatu. Karena kesederhanaanku, tidak pernah tercapai cita-citaku yang besar. Pemikiranku terkadang sederhana dan merendah. Kedua orang tua yang sangat aku sayangi itu, adalah bagian dari pemikiran sederhanaku. Saat ingin memasuki jenjang pendidikan, terpikir bagaimana agar biaya itu tidak besar. Tak mau menyusahkan, karena melihat keadaan ekonomi orangtua. Keputusan yang final adalah mengalah dari semua keinginan-keinginan yang besar. Sederhana bukan? Tak sulit untuk melakukannya.
Mungkin ini bagi orang-orang yang gigih sangat bodoh. Karena diam di tempat dan tidak mengejar apa yang dicitakan. Begitulah aku, yang selalu sederhana dalam berpikir dan bertindak. Hingga tidak ada sesuatu yang menarik dan special dari diri ini. Itu sudah menjadi karakter dalam jiwaku. Tapi bukannya tidak mau meraih keinginan besar, cuma belum ada kesempatan baik dan juga harus berpikir panjang ketika memutuskan itu semua.
Kebodohanku adalah menerima saja apa yang sudah diberikan Tuhan. Dan tidak berusaha mencari sesuatu yang lebih baik lagi, diam di tempat. Menonton orang-orang yang sukses didepan mata, tanpa mencoba mengikuti mereka. Itulah aku...
Sesederhananya diri ini sampai melupakan semangat untuk menggapai impian besar. Menurutku cara ini adalah bersabar, tapi menurut yang lain ini bukan sabar tetapi malas. Pasti berusaha sedikit-sedikit merubah pemikiran sederhanaku ini. Agar bisa mencapai impian besar dan membagikan semangatku pada orang-orang tercinta.
Manusia memang tiada yang sempurna. Banyak juga yang mencari kesempurnaan, apalagi sekedar untuk mencapai cita-cita, rezeki dan jodoh. Semua merasa ingin menuntut kesempurnaan. Hingga mereka tersadar bahwa, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hanya ada kata melengkapi satu sama lain. Sederhananya hidup itu, jika selalu menanggapinya dengan bijak.
Sederhana itu memang sesuatu yang istimewa, saat kita menjalankan sesuatu. Karena kesederhanaanku, tidak pernah tercapai cita-citaku yang besar. Pemikiranku terkadang sederhana dan merendah. Kedua orang tua yang sangat aku sayangi itu, adalah bagian dari pemikiran sederhanaku. Saat ingin memasuki jenjang pendidikan, terpikir bagaimana agar biaya itu tidak besar. Tak mau menyusahkan, karena melihat keadaan ekonomi orangtua. Keputusan yang final adalah mengalah dari semua keinginan-keinginan yang besar. Sederhana bukan? Tak sulit untuk melakukannya.
Mungkin ini bagi orang-orang yang gigih sangat bodoh. Karena diam di tempat dan tidak mengejar apa yang dicitakan. Begitulah aku, yang selalu sederhana dalam berpikir dan bertindak. Hingga tidak ada sesuatu yang menarik dan special dari diri ini. Itu sudah menjadi karakter dalam jiwaku. Tapi bukannya tidak mau meraih keinginan besar, cuma belum ada kesempatan baik dan juga harus berpikir panjang ketika memutuskan itu semua.
Kebodohanku adalah menerima saja apa yang sudah diberikan Tuhan. Dan tidak berusaha mencari sesuatu yang lebih baik lagi, diam di tempat. Menonton orang-orang yang sukses didepan mata, tanpa mencoba mengikuti mereka. Itulah aku...
Sesederhananya diri ini sampai melupakan semangat untuk menggapai impian besar. Menurutku cara ini adalah bersabar, tapi menurut yang lain ini bukan sabar tetapi malas. Pasti berusaha sedikit-sedikit merubah pemikiran sederhanaku ini. Agar bisa mencapai impian besar dan membagikan semangatku pada orang-orang tercinta.
Komentar
Posting Komentar