Ketika
Hak Tergusur
Teriknya matahari tak membuat ratusan manusia itu penuh peluh. Serbuan hentakan air yang keluar dari selang itu mengguyur tubuh mereka berkali-kali. Membasahi tubuh mereka, tapi tak membuat langkah kaki pantang menyerah. Seperti pasukan semut yang datang mengerubungi tumpukan gula. Menghadapi beberapa pasukan satpol PP, dan pemadam kebakaran yang memegang selang.
Kantor dewan di datangi ratusan demonstran, semua adalah warga yang menuntut hak dikembalikannya
permukiman mereka. Terkena gusuran dari beberapa penguasa yang semena-mena.
Atas nama kepemilikan lahan pemerintah dan pejabat daerah. Semua berjibaku,
menampilkan keluhan dan kritikan lewat suara-suara sumbang dan juga beberapa
spanduk-spanduk bertuliskan kearoganan sang penguasa.
“Kakek! Biar Jupri saja
yang ikut mereka!” Teriak Jupri dari balik rombongan yang akan segera berangkat
menuju kantor dewan.
“Kakek harus ikut!
Bagaimanapun Kakek juga berhak menuntut mereka! Uang pergantian ini akan kita
serahkan dan tanah itu harus jadi milik kita.” Semangat empat lima itu serasa
kembali di tubuh lelaki renta yang bernama Jarot, yang tak punya daya lagi.
Tapi hari ini, ia bergegas untuk mendapatkan haknya sebagai warga Negara yang
baik.
Bagaimana tidak
menuntut. Sudah hampir tiga puluh tahun ia dan warga lainnya menempati
permukiman tanah tersebut. Dengan sertifikat tanah yang resmi, dan membayar
ketentuan pajak tanah dan bangunan setiap tahunnya. Tiba-tiba serta merta para
penguasa itu membalikkan nama kepemilikan dan menang diperadilan atas hak tanah
tersebut. Mereka berjanji untuk ganti rugi semua waga dengan kompensasi yang
sesuai. Kenyataannya yang terjadi di lapangan, tidak sesuai dengan janji-janji
mereka.
Berani mati untuk
mempertaruhkan semua itu. Anak-anak kecil dan isteri-isteri para kepala rumah
tangga yang ikut berdemonstrasi menangis haru, sambil berdo’a agar Tuhan
memihak mereka. Kesedihan buat warga yang tidak tahu apa-apa dengan tiba-tiba
terampas hak tinggal mereka.
Jupri dan Kakek Jarot
diantara para demonstran memenuhi halaman di depan pagar kantor dewan. Mereka
memaksa untuk bertemu dengan para dewan di daerah itu untuk mengadukan perihal
mereka. Apalah daya, sang dewan tak keluar batang hidungnya satu orang pun.
Yang ada hanyalah satpam dan satpol PP.
“Keluar Pak! Kami butuh
bapak-bapak untuk memecahkan masalah Kami!” Kepala demonstran berbicara dengan
speaker yang dibawanya.
“Ini sudah kelima
kalinya kami meminta bapak-bapak dewan untuk keluar! Jika masih saja tidak
keluar, maka kami akan dobrak paksa pagar dan kantornya! Setuju semua!”
“Setuju!!!” Teriak
semua berbarengan.
Semakin bertambah
semangat selama hampir tiga jam berdiri di depan pagar kantor dewan, semakin
bertambah pula satpol PP yang datang menghadang. Entah karena mereka yang di
dalam takut pada para demonstran, atau mereka pengecut dan tidak bernyali besar
membantu para warga.
“Kemarin kami
memilihmu, sekarang kalian tega membiarkan kami tertindas tanpa rasa
kemanusiaan. Tiga hari lagi penggusuran permukiman kami akan segera dilancarkan.
Mau tinggal dimana kami yang sudah menjadi warga Negara dan saudara kalian
sendiri! “ Kepala demonstran itu yang memegang speaker terlihat semakin
memanas.
“Maaf, tolong semua
tenang. Pak dewan bukannya tidak mau keluar. Tetapi sedang tugas keluar kota.
Kembali lagi besok saja.” Ujar si Satpol PP mencoba memberi penjelasan untuk
menenangkan para demonstran.
“Huhhh!!! Bohong itu!!
Tadi pagi masuk kantor kok!” Semua para pendemonstran berteriak kencang
mengalihkan ucapan satpol PP tadi.
Dan keadaan semakin
panas saja diterik matahari yang meninggi di atas kepala. Perut semua
orang-orang disana merasakan lapar, mulut dan kerongkongan mereka merasakan
kehausan. Tetapi tidak membuat mereka berhenti untuk menuntut bantuan, kepada
siapa lagi mereka meminta pertolongan pejabat daerah. Satpol PP, satpam dan
lainnya menyiramkan air dari selang besar milik pemadam kebakaran yang mereka
panggil. Seketika itu juga para demonstran berteriak dan mendorong pagar dengan
keras.
Makin kencang semprotan
air bukan membuat mereka semua untuk pergi meninggalkan kantor dewan, tetapi
malah membuat kebakaran di hati mereka. Tambah menjadi-jadi. Dan tidak bisa
dihindari, amukan warga tersebut membuat pagar terbuka. Masing-masing ada yang
menaiki pagar, membawa batu dan spanduk ke dalam. Sementara satpol PP, satpam
yang jumlahnya tidak sama dengan para demonstran mulai kewalahan menghalangi
puluhan warga demonstran yang sudah masuk. Tak terhindarkan lagi, mereka
memasuki kantor yang ternyata sudah dikosongkan sejam yang lalu. Entah para
penghuni kantor tersebut melewati jalan yang mana, bisa lolos. Semua berantakan
di dalam kantor, kaca pecah, kursi, meja dan seisi ruangan kantor itu jadi
amukan para demonstran.
“Jupri! Kamu di mana?”
Teriak Kakek Jarot mencari cucu remajanya yang terpisah dari kerumunan
demonstran.
“Kakek! Jupri di sini!”
Teriak Jupri melambaikan tangannya dan berharap kakeknya melihat dia di samping
kantor.
Mereka berdua tidak
memasuki ruangan kantor. Semua warga yang berdemonstran kalap mata. Apapun
menjadi amarah mereka. Kakek menyadarkan satu persatu teman seperjuangan
mereka, agar tidak anarkis.
“Kek! Ini Jupri! Kemari
Kek.” Jupri masih memanggil Kakeknya yang agak jauh. Kakeknya ingin menghampiri
tetapi banyaknya kerumunan warga yang liar membabi buta, membuat sang Kakek tak
tentu arah.
Tiba-tiba suara sirina
terdengar jelas menghampiri lokasi keramaian, yang tak lain mobil patrol
polisi. Warga demostrasi yang tadinya sibuk dengan kelakuan mereka, akhirnya
sadar bahwa polisi datang. Tiga puluh polisi mengamankan keadaan yang carut marut
itu. Warga yang berdemonstasi semua diam tak berkutik, polisi menangkap mereka
satu-persatu yang terjaring anarkis. Situasi bisa dipulihkan segera.
Terlihat Jupri dan
Kakek Jarot tertangkap pula.
“Pak polisi jangan
tangkap Kakek saya! Dia tidak bersalah! Kami berdua tidak anarkis. Kami semua
cuma ingin menuntut kebaikan dari para dewan!” Jupri memohon keras dengan
tangan yang terborgol kepada para polisi yang menangkap Kakek dan dirinya.
“Maaf Dik, kalian
berdua yang termasuk di lokasi kejadian ini terpakasa diamankan dahulu di
kantor kepolisian, guna dimintai keterangan berlanjut.” Polisi muda itu
menajwab tegas ucapan Jupri.
Mata Kakek dan Jupri
saling berpandangan. Ya Allah apa lagi ini? Kami hanya butuh keadilan untuk
memperjuangkan hak tempat tinggal. Kenapa jadi seperti ini. Gumam dua orang
keluarga itu dalam hati. Berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah
penangkapan mereka dan warga demonstran seperjuangan mereka.
Sementara langit sore
semakin menampakkan warna jingga yang memencar, para isteri dan anak warga terkena
gusuran itu menunggu kabar baik dari para suami dan anak remaja mereka yang
berdemonstrasi. Berharap angin segar memberi perubahan dan keadilan yang mereka
dengar. Tetapi mereka tak tahu, bahwa sedang terjadi pergulatan yang sengit
antara suami-suami dan anak mereka dengan pihak berwajib.
Oleh: Rosi.Ochiemuh.
Cikarang, 01-September-2014.
Komentar
Posting Komentar