Langsung ke konten utama

Cerpen 01-sept-2014



Ketika Hak Tergusur

Teriknya matahari tak membuat ratusan manusia itu penuh peluh. Serbuan hentakan air yang keluar dari selang itu mengguyur tubuh mereka berkali-kali. Membasahi tubuh mereka, tapi tak membuat langkah kaki pantang menyerah. Seperti pasukan semut yang datang mengerubungi tumpukan gula. Menghadapi beberapa pasukan satpol PP, dan pemadam kebakaran yang memegang selang.
Kantor dewan di datangi ratusan demonstran, semua adalah warga yang menuntut hak dikembalikannya permukiman mereka. Terkena gusuran dari beberapa penguasa yang semena-mena. Atas nama kepemilikan lahan pemerintah dan pejabat daerah. Semua berjibaku, menampilkan keluhan dan kritikan lewat suara-suara sumbang dan juga beberapa spanduk-spanduk bertuliskan kearoganan sang penguasa.
“Kakek! Biar Jupri saja yang ikut mereka!” Teriak Jupri dari balik rombongan yang akan segera berangkat menuju kantor dewan.
“Kakek harus ikut! Bagaimanapun Kakek juga berhak menuntut mereka! Uang pergantian ini akan kita serahkan dan tanah itu harus jadi milik kita.” Semangat empat lima itu serasa kembali di tubuh lelaki renta yang bernama Jarot, yang tak punya daya lagi. Tapi hari ini, ia bergegas untuk mendapatkan haknya sebagai warga Negara yang baik.
Bagaimana tidak menuntut. Sudah hampir tiga puluh tahun ia dan warga lainnya menempati permukiman tanah tersebut. Dengan sertifikat tanah yang resmi, dan membayar ketentuan pajak tanah dan bangunan setiap tahunnya. Tiba-tiba serta merta para penguasa itu membalikkan nama kepemilikan dan menang diperadilan atas hak tanah tersebut. Mereka berjanji untuk ganti rugi semua waga dengan kompensasi yang sesuai. Kenyataannya yang terjadi di lapangan, tidak sesuai dengan janji-janji mereka.
Berani mati untuk mempertaruhkan semua itu. Anak-anak kecil dan isteri-isteri para kepala rumah tangga yang ikut berdemonstrasi menangis haru, sambil berdo’a agar Tuhan memihak mereka. Kesedihan buat warga yang tidak tahu apa-apa dengan tiba-tiba terampas hak tinggal mereka.
Jupri dan Kakek Jarot diantara para demonstran memenuhi halaman di depan pagar kantor dewan. Mereka memaksa untuk bertemu dengan para dewan di daerah itu untuk mengadukan perihal mereka. Apalah daya, sang dewan tak keluar batang hidungnya satu orang pun. Yang ada hanyalah satpam dan satpol PP.
“Keluar Pak! Kami butuh bapak-bapak untuk memecahkan masalah Kami!” Kepala demonstran berbicara dengan speaker yang dibawanya.
“Ini sudah kelima kalinya kami meminta bapak-bapak dewan untuk keluar! Jika masih saja tidak keluar, maka kami akan dobrak paksa pagar dan kantornya! Setuju semua!”
“Setuju!!!” Teriak semua berbarengan.
Semakin bertambah semangat selama hampir tiga jam berdiri di depan pagar kantor dewan, semakin bertambah pula satpol PP yang datang menghadang. Entah karena mereka yang di dalam takut pada para demonstran, atau mereka pengecut dan tidak bernyali besar membantu para warga.
“Kemarin kami memilihmu, sekarang kalian tega membiarkan kami tertindas tanpa rasa kemanusiaan. Tiga hari lagi penggusuran permukiman kami akan segera dilancarkan. Mau tinggal dimana kami yang sudah menjadi warga Negara dan saudara kalian sendiri! “ Kepala demonstran itu yang memegang speaker terlihat semakin memanas.
“Maaf, tolong semua tenang. Pak dewan bukannya tidak mau keluar. Tetapi sedang tugas keluar kota. Kembali lagi besok saja.” Ujar si Satpol PP mencoba memberi penjelasan untuk menenangkan para demonstran.
“Huhhh!!! Bohong itu!! Tadi pagi masuk kantor kok!” Semua para pendemonstran berteriak kencang mengalihkan ucapan satpol PP tadi.
Dan keadaan semakin panas saja diterik matahari yang meninggi di atas kepala. Perut semua orang-orang disana merasakan lapar, mulut dan kerongkongan mereka merasakan kehausan. Tetapi tidak membuat mereka berhenti untuk menuntut bantuan, kepada siapa lagi mereka meminta pertolongan pejabat daerah. Satpol PP, satpam dan lainnya menyiramkan air dari selang besar milik pemadam kebakaran yang mereka panggil. Seketika itu juga para demonstran berteriak dan mendorong pagar dengan keras.
Makin kencang semprotan air bukan membuat mereka semua untuk pergi meninggalkan kantor dewan, tetapi malah membuat kebakaran di hati mereka. Tambah menjadi-jadi. Dan tidak bisa dihindari, amukan warga tersebut membuat pagar terbuka. Masing-masing ada yang menaiki pagar, membawa batu dan spanduk ke dalam. Sementara satpol PP, satpam yang jumlahnya tidak sama dengan para demonstran mulai kewalahan menghalangi puluhan warga demonstran yang sudah masuk. Tak terhindarkan lagi, mereka memasuki kantor yang ternyata sudah dikosongkan sejam yang lalu. Entah para penghuni kantor tersebut melewati jalan yang mana, bisa lolos. Semua berantakan di dalam kantor, kaca pecah, kursi, meja dan seisi ruangan kantor itu jadi amukan para demonstran.
“Jupri! Kamu di mana?” Teriak Kakek Jarot mencari cucu remajanya yang terpisah dari kerumunan demonstran.
“Kakek! Jupri di sini!” Teriak Jupri melambaikan tangannya dan berharap kakeknya melihat dia di samping kantor.
Mereka berdua tidak memasuki ruangan kantor. Semua warga yang berdemonstran kalap mata. Apapun menjadi amarah mereka. Kakek menyadarkan satu persatu teman seperjuangan mereka, agar tidak anarkis.
“Kek! Ini Jupri! Kemari Kek.” Jupri masih memanggil Kakeknya yang agak jauh. Kakeknya ingin menghampiri tetapi banyaknya kerumunan warga yang liar membabi buta, membuat sang Kakek tak tentu arah.
Tiba-tiba suara sirina terdengar jelas menghampiri lokasi keramaian, yang tak lain mobil patrol polisi. Warga demostrasi yang tadinya sibuk dengan kelakuan mereka, akhirnya sadar bahwa polisi datang. Tiga puluh polisi mengamankan keadaan yang carut marut itu. Warga yang berdemonstasi semua diam tak berkutik, polisi menangkap mereka satu-persatu yang terjaring anarkis. Situasi bisa dipulihkan segera.
Terlihat Jupri dan Kakek Jarot tertangkap pula.
“Pak polisi jangan tangkap Kakek saya! Dia tidak bersalah! Kami berdua tidak anarkis. Kami semua cuma ingin menuntut kebaikan dari para dewan!” Jupri memohon keras dengan tangan yang terborgol kepada para polisi yang menangkap Kakek dan dirinya.
“Maaf Dik, kalian berdua yang termasuk di lokasi kejadian ini terpakasa diamankan dahulu di kantor kepolisian, guna dimintai keterangan berlanjut.” Polisi muda itu menajwab tegas ucapan Jupri.
Mata Kakek dan Jupri saling berpandangan. Ya Allah apa lagi ini? Kami hanya butuh keadilan untuk memperjuangkan hak tempat tinggal. Kenapa jadi seperti ini. Gumam dua orang keluarga itu dalam hati. Berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah penangkapan mereka dan warga demonstran seperjuangan mereka.
Sementara langit sore semakin menampakkan warna jingga yang memencar, para isteri dan anak warga terkena gusuran itu menunggu kabar baik dari para suami dan anak remaja mereka yang berdemonstrasi. Berharap angin segar memberi perubahan dan keadilan yang mereka dengar. Tetapi mereka tak tahu, bahwa sedang terjadi pergulatan yang sengit antara suami-suami dan anak mereka dengan pihak berwajib.
Oleh: Rosi.Ochiemuh. Cikarang, 01-September-2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...