Bulan Agustus ini banyak sekali event-event kepenulisan yang dibuat oleh beberapa grup dan penerbitan indhie. Begitu semangat empatlimanya aku untuk mengikutinya, meski bermodal pengetahuan yang seadanya. Bermula dari mengikuti grup kepenulisan di facebook. Lalu mendapatkan teman-teman yang sesama hobi menulis. Dari merekalah aku mendapatkan ilmu literasi walau cuma seujung kuku.
Sangat kecil bukan ilmunya, hehe.. semangat itu terus bertambah saat aku memiliki fasilitas internet. Dan membuat blog sendiri di google. Mendapat teman yang luas dari gogle juga berbagai bacaaan hasil karya mereka semua yang bagus-bagus sekali.
Hampir minder diri ini ketika menghadapi berpuluh-puluh peserta event, mereka semua bagus-bagus karyanya. Dan hampir semua dari mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidang kepenulisan. Mereka banyak yang sudah punya karya sendiri, baik itu buku antalogi dan membuat novel keroyokan/bersama. Tapi kutepis semua dengan usaha yang keras. Belajar untuk tidak menyerah dengan semua itu.
Anggap saja sedang menjelajah petualang ke sebuah negeri yang asing. Tetapi berusaha untuk mengenal dan mencintainya. Itulah menulis bagiku, bukan asing namun sudah dari dulu kusukai cuma terhambat karena selalu kehilangan peluang dan kesempatan. Ketika aku mengikuti event menulis itu, aku tidak berpikir untuk menang. Namun berpikir untuk memperlihatkan karya tulisku pada mereka ahlinya bahwa aku punya kemampuan. Walaupun tidak menang yang penting sudah mencoba. Dan semua itu kupersembahkan untuk suami dan puteri tercinta sebagai apresiasiku dengan menulis pada mereka.
Sangat kecil bukan ilmunya, hehe.. semangat itu terus bertambah saat aku memiliki fasilitas internet. Dan membuat blog sendiri di google. Mendapat teman yang luas dari gogle juga berbagai bacaaan hasil karya mereka semua yang bagus-bagus sekali.
Hampir minder diri ini ketika menghadapi berpuluh-puluh peserta event, mereka semua bagus-bagus karyanya. Dan hampir semua dari mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidang kepenulisan. Mereka banyak yang sudah punya karya sendiri, baik itu buku antalogi dan membuat novel keroyokan/bersama. Tapi kutepis semua dengan usaha yang keras. Belajar untuk tidak menyerah dengan semua itu.
Anggap saja sedang menjelajah petualang ke sebuah negeri yang asing. Tetapi berusaha untuk mengenal dan mencintainya. Itulah menulis bagiku, bukan asing namun sudah dari dulu kusukai cuma terhambat karena selalu kehilangan peluang dan kesempatan. Ketika aku mengikuti event menulis itu, aku tidak berpikir untuk menang. Namun berpikir untuk memperlihatkan karya tulisku pada mereka ahlinya bahwa aku punya kemampuan. Walaupun tidak menang yang penting sudah mencoba. Dan semua itu kupersembahkan untuk suami dan puteri tercinta sebagai apresiasiku dengan menulis pada mereka.
Komentar
Posting Komentar