Langsung ke konten utama

Ketika Perempuan/Bunda berganti peran.

Oleh : Rosi.Ochiemuh.

Wahai Perempuan, apakah Anda pernah mengalami : Suami berhenti bekerja secara mendadak dari tempat kerja/mata pencahariannya? Wahai perempuan, pernahkah Anda ditinggal wafat suami tercinta atau sejak kecil sudah ditinggal wafat Ayahanda tercinta? Biasanya suamilah yang bekerja mencari nafkah, biasanya ayah yang bekerja. Dan biasanya kita para perempuan bergantung mata pencaharian sepenuhnya dari mereka laki-laki. Tapi jika takdir berkata lain, terpaksa peran seorang perempuan dan ibu menggantikan posisi laki-laki. Bekerja di luar rumah, mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga. Emansipasi perempuan bukan saja membebaskan perempuan untuk berkarier dan berkarya. Lihatlah zaman era globalisasi menjadikan zaman dengan persaingan hidup yang ketat.
Emansipasi terjadi setelah revolusi Raden.Ajeng.Kartini “Habis gelap terbitlah terang”. Perempuan-perempuan Indonesia banyak yang bekerja diluar rumah dengan berbagai prinsip dan  pemikiran serta keadaan mereka yang bermacam-macam. Ada yang bekerja untuk mengejar karier, ada juga yang bekerja karena keadaan memaksa. Banyak perempuan yang bekerja di berbagai bidang. Seorang Ibu yang bekerja di luar rumah. Mungkin ada yang berkata seperti ini, sebaiknya seorang isteri atau Ibu itu diam di rumah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Tetapi berbagai keadaan yang terjadi saat ini, dalam perekonomian Indonesia yang lemah dengan lapangan pekerjaan yang sedikit untuk para laki-laki, menjadikan seorang isteri dan ibu itu bekerja di luar rumah. Termasuk para bunda yang bekerja di luar rumah, Karena ketiadaan suami tercinta.
Hampir seluruh lapangan pekerjaan di Indonesia di dominasi oleh pekerja perempuan. Begitupun dengan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Kerasnya persaingan mendapatkan lapangan pekerjaan bagi kaum laki-laki membuat setiap para perempuan yang sudah berumah tangga ikut bekerja membantu suami. Khususnya di kota-kota besar metropolitan yang persaingan hidupnya sangat ketat. Dialami juga oleh saya, sejak hijrah ke kota Industri ini baru lulus sekolah menengah umum, dengan cepatnya saya mendapatkan pekerjaan sebagai buruh pabrik. Di Pabrikan elektronik kawasan Industri. Pabrik tersebut banyak yang membutuhkan pekerja  perempuan. Sedang pekerja laki-lakinya sangat sedikit. Berada di perkotaan yang maju seperti daerah Jabodetabek membuat semua orang harus berpikir keras. Begitu cepatnya persaingan dalam kehidupan masyarakat terutama dalam pendidikan dan lapangan pekerjaan. Hampir setiap lulus sekolah, anak-anak tetangga saya berpikir untuk mencari kerja bukan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Karena merasakan dampak ekonomi pada keluarga mereka belum terbantu dengan layak. Anak perempuan mereka banyak yang bekerja di luar rumah, terutama menjadi buruh pekerja.
Menurut data BPS 2008, populasi pekerja di Indonesia sudah mencapai 166,64 juta orang. Sekitar 38% pekerja bekerja di sektor informal, dengan persentase terbesar (40,3%) bekerja di sektor pertanian. Sedangkan jumlah pekerja perempuan sekitar 40%. Jumlah pekerja sektor informal mencapai 69,49% dan diperkirakan 70 % adalah perempuan. Sedangkan tenaga kerja yang bekerja di luar negeri (BNP2 TKI, 2008) sebanyak 748.825 orang, dengan rincian jumlah TKI formal 296.340 orang (36%) dan TKI Informal 452.485orang (64%), dengan jumlah TKI Perempuan sekitar 569 ribu (76%), 512 ribu orang (90%) adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT). Permasalahan pekerja perempuan di Indonesia cukup kompleks, khususnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diluar negeri. Pada tahun 2011 terdapat sekitar enam juta berada di lebih dari 40 negara dan berasal dari 400 kabupaten/kota di Indonesia. Sebanyak 65 persen dari jumlah itu merupakan TKI informal yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Jumlah TKI di luar negeri diperkirakan akan terus meningkat. Faktor pendorongnya adalah karena pengangguran (sulit memperoleh pekerjaan di dalam negeri), kebutuhan ekonomi mendesak (meningkatkan taraf hidup lebih layak), masalah keluarga, menanggung hutang, biaya sekolah anak, beban keluarga yang semakin kompleks. Demikian juga di dalam negeri, dengan jumlah mencapai 62% yang bekerja di sektor informal dan pekerja perempuan sebanyak 40,74 juta (38%), sekitar 25 juta usia reproduksi yang dalam siklus kehidupannya kemungkinan akan mengalami proses menyusui bayi setelah bersalin.
Kenyataan yang terjadi saat ini, yaitu belum sepenuhnya pekerja memperoleh pelayanan kesehatan sesuai harapan, terutama pekerja di sektor informal. Sebagai gambaran baru 20 % pekerja formal dan 1% pekerja sektor informal dilindungi dengan pembiayaan kesehatan. Kecilnya jumlah pekerja sektor informal yang terlindungi karena terkendala oleh kemampuan finansial pekerja informal untuk membayar iuran dan tidak pahamnya pekerja informal terhadap program jaminan kesehatan tenaga kerja. Partisipasi perempuan pada populasi pekerja meningkat terus, baik di sektor pertanian, industri maupun jasa, sehingga saat ini sudah mencapai sekitar 42% dari populasi pekerja di dunia. ( Sumber tulisan dari : Paradigma perlindungan terhadap perempuan pekerja oleh : Selamat Riyadi.artikel.Wikphedia). Yang terjadi di Indonesia dan Negara-negara berkembang saat ini adalah bekerja bagi para perempuan sebuah kebutuhan hidup. Bukan sekedar karier, dari beberapa fakta di tahun 2008 yang saya sematkan di tulisan ini.
Seperti juga dialami para bunda pekerja yang single parent , sudah menjadi kewajiban mereka untuk bekerja. Demi mencukupi kebutuhan keluarga karena ketiadaan suami, semisalnya mencukupi kebutuhan anak-anak. Para ibu-ibu single parent biasanya sangat kuat dan tegar. Kesabaran sebagai modal utama untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Meski dengan hati yang sedih meninggalkan para buah hati dalam asuhan keluarga yang lain, dan mengurangi waktu kebersamaan. Namun perempuan-perempuan yang single parent ini lebih tegar dan lebih kuat daripada para laki-laki yang single parent, mereka tidak terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri.
Tidak ada yang melarang perempuan bekerja jika itu menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Bisa menjadi ladang amal Ibadah bagi perempuan yang membantu keluarganya. Siapa pun yang beramal baik, mereka akan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan yang baik di dunia. Dalam Al-Qur’an tertuliskan : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.An-Nahl: 97).
 Diriwayatkan pula bahwa Asma’ binti Abu Bakar – yang mempunyai dua ikat pinggang – biasa membantu suaminya Zubair bin Awwam dalam mengurus kudanya, menumbuk biji-bijian untuk dimasak, sehingga ia juga sering membawanya di atas kepalanya dari kebun yang jauh dari Madinah. (Hadist).
Beberapa pekerja perempuan yang sudah berumah tangga sering menjadikan pekerjaan mereka seperti dilema. Harus meninggalkan anak di rumah yang masih bayi atau balita. Saya merasakan hal yang sama seperti mereka. Saat harus meninggalkan anak pertama setelah masa cuti melahirkan selesai, di umur tiga bulannya yang seharusnya anak perlu perhatian lebih dari ibunya. Tetapi karena sesuatu hal yang harus memaksakan diri bekerja di luar rumah, mau tidak mau harus dilakukan. Bekerja di luar rumah memang menguras tenaga dan pikiran perempuan. Saat berangkat kerja, harus memenuhi kebutuhan di rumah terlebih dahulu baik suami ataupun anak. Setelah pulang bekerja, masih harus bertanggung jawab mengurus kebutuhan suami, anak dan rumah tangga. Ada baiknya jika kita sebagai isteri yang bekerja di luar rumah harus berkomunikasi yang baik dengan suami. Mintalah untuk mengerti dan membantu sedikit meringankan pekerjaan di rumah. Kerja sama dan komunikasi yang baik terhadap suami harus terjalin, jangan sampai semua pekerjaan rumah dilakukan oleh bunda juga mencari nafkah. Bagaimanapun bunda, perempuan dan seorang ibu adalah peran kita yang sangat utama. Ibu adalah Madrasah, lembaga pendidikan, Jika Anda mempersiapkannya dengan baik. Maka Anda telah Mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya. Lebih kurangnya perempuan yang bekerja selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan suami dan anak di rumah. Bagi para perempuan pekerja, hendaklah diperhatikan agar kita tidak melenceng dari syariat agama. Berikut ini beberapa penuntun diri para perempuan khususnya para muslimah juga para bunda, agar kita tidak salah melangkah saat bekerja di luar rumah :
Pertama, memenuhi adab perempuan sebagai muslimah ketika keluar rumah, dalam berpakaian, berjalan, berbicara, dan melakukan gerak-gerik. “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya …’” (QS. An-Nur: 31). Maksudnya tetap menjaga adab perempuan dengan memegang teguh ajaran agama yang berpedoman. Agar tidak memberikan dampak dan masalah pada perempuan saat kita berada di luar rumah. Terutama seorang muslimah, yang sudah mengerti ajaran-ajaran agamanya.
Kedua, hendaknya berusaha menutup aurat dengan baik untuk para muslimah sebagaimana yang di perintahkan dalam AlQur’an : “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS, Al-Ahzab: 59). Menutup aurat dengan baik dan sempurna sesuai dengan ajaran dalam AlQur’an, bisa memperkecil tingkat kriminalitas di luar rumah, dan memperkecil hal-hal buruk terjadi pada muslimah. Agar perempuan tidak terkena fitnah-fitnah buruk dan keburukan norma kesusilaan, khususnya saat bekerja disebuah tempat kerja dengan percampuran laki-laki dan perempuan.
Ketiga, selalu menjalankan perintah Allah.Swt dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya dengan sungguh-sungguh. “Jagalah Allah, dimanapun berada dan dalam keadaan apapun. Maka Allah.Swt akan menjagamu.” (HR.Muslim). Dengan begitu, keresahan dan kepernatan yang ada pada diri kan hilang. Setiap beban hidup akan terasa ringan karena kedekatan pada sang Maha Kuasa.
Keempat, berusaha melakukan semua pekerjaan dengan niat yang tulus, dan tidak melenceng ke arah yang negatif. Karena setiap perbuatan kita selalu diperhatikan Allah.Swt. Niatkanlah tugas kita mencari nafkah adalah ibadah meringankan beban keluarga dan membantu. Dalam sebuah hadist, Rasulullah.Saw bersabda : “Hamba yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala yaitu, manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain, yang menghilangkan kelaparan dari orang itu, menghilangkan kesedihannya dan membayarkan hutangnya.(HR.Muslim).
Kelima, jangan pernah melupakan kodrat sebagai perempuan, seorang isteri, dan ibu saat kita sudah berada di rumah. Ingat bunda, anak-anak adalah titipan Allah.Swt. Mereka adalah tanggung jawab kita di akhirat dan suatu saat akan dipertanyakan oleh-Nya. Perhatian dan tanggung jawab sebagai isteri dan ibu tetaplah harus dilakukan bagaimanapun kondisinya. Sehingga terus terbina dan selalu menciptakan keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan warahmah.
Keenam, sebisa mungkin untuk para perempuan yang ingin bekerja, juga para bunda yang terpaksa bekerja. Usahakan bekerja di tempat kerja yang dekat dengan rumah dan di Negara sendiri. Karena bisa memperkecil terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak tergiur dengan pekerjaan yang gajinya besar tapi membawa mudharat yang menggelincirkan perempuan pada sesuatu yang haram. Berganti peran sebagai pencari nafkah, sudah banyak terjadi pada kaum perempuan khususnya para bunda dengan segala kondisi dan keadaan tidak nyaman.
Menyikapinya hal ini, janganlah para perempuan dan khususnya bunda berputus asa atau sedih. Karena apa yang dilakukan adalah menyokong kehidupan yang lain. Yakinlah jika keluarga selalu mendukung apa yang kita lakukan. Bukan berarti bekerja di luar rumah dan meninggalkan buah hati adalah kesalahan. Pada dasarnya pemerintah Negara adalah pelindung warga negaranya, terutama perempuan. Wajib bagi pemerintah di sebuah Negara untuk memperhatikan warga negaranya, baik laki-laki maupun perempuan. Karena ketidakmampuan Negara di perekonomian yang lemah serta lapangan kerja yang tidak banyak, maka semua warganya berusaha untuk mencari kecukupan perekonomian sendiri. Peran perempuan dan bunda di Indonesia yang bekerja juga dapat dirasakan di Negara berkembang ini, memberikan kemajuan secara financial disegala bidang terutama Ekonomi dan industry.
(Rosi.Ochiemuh.Cikarang : 13-Agustus-2014)
Cc : Erie Gusnellyanti, Kang Dana & umi Neny Suswati.

KBM (Komunitas Bisa Menulis) Facebook.
Lomba menulis artikel. Bersama Kang Dana & Umi Neny Suswati
Tema : Dilema Ibu bekerja.
Ini adalah tulisan saya yang diikutkan ke lomba artikel menulis dari KBM. Alhamdulillah, dengan adanya lomba seperti ini menjadikan saya terus belajar. Alhamdulillah tidak menang, karena tulisan saya jauh dari kriteria terbaik dari para juri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...