Fiksi
# Tak Terduga #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
“Aku
ingin dapat suami PNS ah!" Dewi mengawali perbincangan yang sering kami
lakukan di kantin sekolah waktu SMU. Tentang pernikahan dan pendamping hidup.
“Aku nanti sama anggota Brimob saja, karena ku kan tinggal di Asrama Brimob.”
Rus menimpali.
“Huh lagian, kan! Rus pacarnya calon Brimob,” celetukku dengan
canda.
“Kalau Tini? Pastinya sama orang kampungnya, ya kan?” Aku meledek,
sementara Tini senyum tersipu.
“Kalau kamu Ris?” Serempak bertiga mereka
melempar tanya padaku.
“Kalau aku…hmm… punya suami yang baik, dan maunya orang Jawa. Bukan orang sini. Ntar nikahnya umur 25 tahun aja!” jawabku sekenanya.
Percakapan dua belas tahun yang lalu dengan teman-temanku di kantin sekolah.
Dan ternyata apa yang pernah aku ucapkan benar-benar kenyataan. Aku menikah
diusia duapuluh lima tahun. Suamiku dari pulau Jawa dan baik hati. Persis sama dengan ucapanku pada
teman-teman. Tak diduga, ucapan tentang pernikahan yang asal sebut, jadi kenyataan.
Barangkali berkenan!
=================================================================
Fiksi # Rumah Angker #
Oleh : Rosi.Ochiemuh.
Di malam
sepi dalam sebuah rumah kecil terjadilah percakapan dua orang antara ibu dan
anak.
“ Said, tolong antarkan baju jahitan ini ke rumah Pak Eko, ya,” pinta ibunya
Said mengawali perbincangan.
“Pak Eko yang rumahnya lewat kuburan cina itu, Bu?” tanya Said.
“Iya Nak, emangnya kenapa kamu takut. Ini masih sore ntar habis
sholat Isya," gumam ibu.
“Said nggak mau Bu, besok saja.” Tolak Said dengan
lembut.
“Duh kamu ini gimana sih. Bu Eko nya mau pakai baju jahitan ini besok
pagi Nak, uangnya sudah dibayar.” Sanggah ibu. “Emangnya kenapa sih nggak
mau? Takut lewatin kuburannya?” tanya ibu.
“Bukan itu Bu, karena rumahnya Pak
Eko itu Angker,” jawab Said.
“Angkernya dari mana Said? Orang di sana nggak ada
apa-apa.” Ibunya meyakinkan.
“Bukan Angker itu Bu. Rumahnya Pak Eko Angker
karena sering dijadikan tempat main judi, nggak pernah di ngajiin apalagi disolatin. Makanya Said malas malam-malam ke sana.” Said menjelaskan sambil
membenarkan sarung dan pecinya.
“Hmmm..Oalah.. kirain angker ada hantunya. Huh
omonganmu ini bikin Ibu mikir. Udah sana anterin!” Gertak ibunya kesal.
======================================================
Fiksi # Jodoh #
Oleh : Rosi.Ochiemuh.
“Aduh.
Lihat-lihat dong kalau jalan, matanya dipake!” Teriak Dina pada seorang ibu
yang tak sengaja menabraknya di pasar.
“Maaf Dik, saya tidak sengaja,” ujar
ibu itu dengan ramahnya.
“Makanya Bu, suaminya yang bawa belanjaan,” ucap Dina ketus.
"Ya Allah, Anda sudah punya suami?” tanya ibu itu.
“Emang kenapa
sih nanya-nanya? Saya masih gadis, kok,” jawab Dina dengan muka ditekuk.
“O..
mudah-mudahan cepat dapat jodoh ya, atau malah sebaliknya.” Ibu itu langsung
pergi dengan membawa belanjaannya yang banyak setelah mengucapkan kalimat itu.
Entah
karena ucapan ibu-ibu yang dulu tak sengaja menabrak kak Dina atau memang
kuasa Allah. Sudah hampir sepuluh tahun sejak kejadian tersebut sampai sekarang belum menikah diusianya ketiga puluh, padahal dia cantik
dan berpendidikan tinggi. Apa mungkin karena ucapan-ucapan ketusnya pada orang. Atau memang belum ketemu
jodohnya? Wallahu’alam.
=====================================================
Fiksi # Selaksa Rindu #
Oleh : Rosi.Ochiemuh.
“Sil, Nenek dan Kakek bawa hadiah buat kamu.” Nenek memelukku dengan penuh
kehangatan, sambil memberikan kado. Kakek memandangiku dengan senyum.
Mereka lalu mengajakku jalan-jalan ke pasar malam.
“Silvi, buka kadonya.” Nenek
dan Kakek menyuruhku membuka kado dari mereka.
“Terima kasih Nek, Kek, ini kado
terindah,” jawabku dengan senangnya di samping mereka. Hadiah dari mereka mukenah cantik.
“Pakai ya Silvi mukenahnya, rajin salat. Nenek
dan Kakek sangat senang sekali.” Mereka tiba-tiba menghilang dariku.
Mataku
terasa berat untuk dibuka. Bingung kenapa aku berada dalam kamarku? Kemana
Nenek dan Kakek. Ya Allah. Ternyata aku bermimpi, tadi aku tidur. Kupegang
keningku, ya ampun… panas. Ternyata aku demam.
Saat kubalikkan badanku,
ternyata mukenah yang ada dalam mimpi tadi, sekarang ada di sampingku. Ya Allah apa
ini? Padahal Nenek dan Kakek sudah dua tahun lalu tiada. Kangenkah mereka
padaku?.
=========================================================
Fiksi
# Absen Rokok #
Oleh : Rosi.Ochiemuh
“Bang, saya buatin kopi ye?” Jamilah istrinya menawarkan.
“Nggak usah Milah, abang absen dulu.”
“Emangnya
absen apaan, nggak masuk kerja gitu?” Milah bingung.
“Maksud gue, absen dari
minum kopi. Dengar nggak kemarin pesan dokter? Gue nggak boleh minum kopi.”
Bang Jarot menjelaskan.
“Oh… jadi absen ngopinye nih.. bagus dah, irit jadinye,” gumam Jamilah sambil senyum.
“Kalau rokoknye absen nggak?” tanya Jamilah dengan
lirikan yang sadis.
“Dokter nggak nyebutin gue harus absen rokok Milah,” ujar
Bang Jarot dengan ragu.
“Masa sih Bang? Bukannye rorok yang bikin sakit kepala
Abang. Berhenti apa rokoknye!” Jamilah tambah melotot.
“Hehe, nah ... itu die yang
jadi pikiran gue… kalau itu yang absen mati gaye gue.” Bang Jarot mukanya
kalut.
“Huh, dasar Abang! kalau absen kopi, Jamilah bisa irit gula. Rokok nggak
absen sama aja dong! Tekor banyakan rokok pengeluarannye.” Jamilah menggerutu
dan bibirnya manyun.. Sementara Bang Jarot masih bimbang dengan keputusannya
untuk berhenti merokok.
==============================
Fiksi
# Jagoan Kampung #
Oleh : Rosi.Ochiemuh.
Di sebuah warung kopi milik Pak Hata, siang
itu.
“Jaya! Ape kehebatan elo setelah
keluar dari penjara. Hah?” Tiba-tiba Karta memulai percakapan. Jaya diam
sejenak dan meminum secangkir kopi hitamnya.
“Mana kehebatan elo! Saat dulu melawan
preman-preman pasar? Elo sama kayak mereka.” Karta semakin memancing amarahnya
Jaya.
"Udah Karta jangan mancing orang emosi,
jangan jadikan warung gue tempat bertarung.
Ke lapangan bola aja elo bedua.” Pak Hata menimpali.
"Bang, Aye udah
bunuh satu orang dan nggak mau ditambah satu orang lagi.” Jaya pun akhirnya
berbicara juga sambil memandang Karta dengan menantang.
“Terus mau Bang Karta
apa?” Jaya menatap Karta dengan seriusnya. Pak Hata mulai sedikit ketakutan dengan
kedua orang itu.
“Kalau gitu, gue mau nantang elo adu kekuatan. Main catur.
Setuju?”
“Setuju
lah… secara udah lama banget nggak main catur selama ini.” Jaya memecah
ketegangan dengan canda.
“Eeiit dech ah!
Gue kirain. Dasar lu bedua ngerjain. Ni jantung dari tadi deg-degan lihat elo
pade sepelototan. Hah!” Pak Hata merasa tertipu.
Mereka tertawa terbahak-bahak
melihat muka Pak Hata yang pucat.
=================================================================
Fiksi
# Siluet Teman #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Langit yang terang dipandanginya dengan sinis. Bersama
hiruk pikuk kota Jakarta yang pengap dan semberawut kemacetan. Remaja yang
sedang duduk di pelataran ruko itu tak peduli dengan sekitarnya.
“Kamu kok
melamun saja?” tegur Mimin sambil menenteng gitar kecilnya yang kumal.
“Nggak…
cuma ingin diam saja," jawab Nano ketus.
“Kamu
lain dari biasanya. Ada masalah ya?” Mimin melanjutkan pertanyaan.
“Masalahnya aku putus sekolah Min karena nggak punya uang.” Nano langsung
mengeluh pada Mimin.
“Kamu
pasti sekolah lagi No, dengan kerja keras lagi.” Mimin menenangkan temannya
yang galau itu.
“Maksudmu
dengan mengamen?” Nano menepis kata-kata Mimin.
“Aku
mau ikut ajakan Bang Dorman saja, lebih banyak hasilnya.” Matanya masih
menerawang.
“Kamu
mau ikut jadi pencopet? Kalau begitu, aku tak mau jadi temanmu lagi!” Mimin
marah mendengar ucapan Nano, dia pun pergi meninggalkannya.
Nano
terdiam melihat temannya pergi meninggalkannya, akal sehatnya tadi seolah
hilang kembali sadar.
==========================================================
Fiksi
# Tak Sampai #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
“Kak Halim, Kak Piah di bawa ke rumah sakit.
Mau melahirkan," ucapnya dengan suara yang terbata-bata di telepon.
“Ya
Allah.. bagaimana dengan keadaannya?” tanyaku dengan jantung yang berpacu
cepat.
“Kak
Piah ketubannya pecah dan harus dibawa ke rumah sakit kata bidan. Sekarang Kak
Piah, ibu, bapak dan bidan ke sana dengan ambulans.
Kak Halim bisa pulang cepat?”
Adikku Heru menjelaskan dengan detail perihal Istriku.
“Iya.
Kakak usahakan Dik.” Telepon terputus.
Lalu
aku berusaha untuk meminta izin pulang cepat pada atasanku.
Akhirnya
bisa. Semoga selamat dan baik-baik saja. Ya Alloh lindungilah mereka berdua,
selamatkanlah nyawa keduanya. Amiin.
Pikiran
ini terus berpacu dengan kencangnya kendaraan. Harus sampai dan melihat
kelahiran anakku, terus menghantui pikiran.
Ohh…Ciittttt, TrraKKk!! BrruKK!!. Motor
yang kunaiki jatuh, pandanganku kabur, disekelilingku penuh dengan banyak
orang. Kaki kiriku tertimpa badan motor, rasanya aku tak kuat lagi. Tiba-tiba
pandanganku gelap.
================================================================
Fiksi
# Foto Berdarah #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Matanya
masih memandangi bingkai foto perempuan yang dikasihinya, yang berada di atas
meja kecil di samping laki-laki muda itu. Senyumnya mengembang saat ia mengingat
kenangan bersama perempuan itu. Lili… kekasihnya yang Ia cintai harus pergi
meninggalkan dunia karena kecelakaan.
“Reimon,
lupakanlah perempuan itu! Dari dahulu Ibu tidak pernah merestuimu dengannya.”
Perempuan tua itu terlihat tidak senang dengan sikap anaknya.
“Bu…
Rei tak bisa melupakan Lili. Cinta Rei begitu dalam.”
“Besok,
Ibu akan mempertemukan kamu dengan puteri Bu Mala. Kamu dan Karmila akan Ibu
jodohkan. Dia lebih baik dari Lili.” Ibu menyela ucapan Rei dengan tatapan yang
tajam ke arahnya.
“Terserah
Ibu saja. Rei tetap mencintainya, meski Rei jadi milik orang lain.”
Prangg!!
Seketika foto itu terjatuh ke bawah dari meja di samping Reimon, bersamaan dengan
itu pintu kamar Reimon tertutup sendiri dengan keras. Mereka bedua saling
berpandangan heran dengan kejadian tersebut karena di dalam rumah Mereka, hanya
ada Ibu dan Reimon.
Kaca bingkai foto berserakan, Reimon mengambilnya lalu dibersihkan. Dipandanginya wajah Lili dalam bingkai foto, terlihat kedua
matanya mengeluarkan cairan merah.
=====================================================*
Fiksi
# Rezeki Kilat #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Hari
yang melelahkan sejak pagi Gito berdagang koran pinggir jalan raya ibu kota, dilihat
penghasilannya hari ini baru dua puluh ribu. Hanya beberapa buah koran laku terjual sejak pagi sampai siang. Saatnya
membeli makan siang.
“Minta
sedekahnya Nak,” seorang pengemis tua mendekati Gito.
“Maaf
Kek, tidak ada uang," sahut Gito, tetapi hatinya tak tega.
Ketika Pengemis itu hendak pergi.
“Tunggu
Kek! Ada uang segini, terima ya.” Gito memberikan uang hasil dagangannya.
“Terima
kasih, semoga rezekimu lebih banyak.”
“Aamiin.”
Gito mengaminkan perkataan pengemis itu. Tak berapa lama kemudian.
“Dik,
masih ada nggak koran-korannya?” tiba-tiba seorang Ibu-ibu menghampirinya.
“Masih
ada Bu, ni korannya,” jawabnya sambil
menunjukkan koran-koran di tangannya.
“Saya
beli semua koran kamu, berapa Dik?” tanya ibu itu.
“Beneran Bu?”
“Iya,
ada keperluan untuk murid-murid Saya,” ibu itu memastikan.
“Semuanya
jadi Delapan puluh ribu,” jawab Gito dengan senyum.
“Ini,
kembaliannya ambil saja. Saya buru-buru.” Seketika uang seratus ribu sudah
di tangan, betapa senangnya. Tiba-tiba
Gito ingat dengan pengemis tadi.
============================================================
Fiksi
# Buah Petasan #
Oleh: Rosi.Ochiemuh
TAAR..TERR…TORR!!
Pagi-pagi sudah terdengar suara petasan di samping rumah. Dasar! Anak-anak
kurang kerjaan, ibunya tidak ada yang melarang ya? Yang jualan juga tidak punya
akal, jual petasan saat bulan Ramadan. TAAR…TERR…TORR! Sekali lagi suara petasan
itu mengganggu. Kucoba menyuruh mereka pergi.
“Aldo,
Raihan, Tino! Jangan berisik! Sana mainnya jangan disini!" teriakku pada
anak-anak yang asyik menyalakan petasan.
“Iya
Bu..” ujar mereka. Tapi tangan mereka tetap saja main petasan.
“Aldo,
Raihan, Tino main ke lapangan belakang aja. Berisik, Salsa lagi tidur nih!” tegurku yang kedua kali tak digubris mereka. Dalam hati kesal sekali, berkali-kali
suara petasan itu mengganggu. Semoga saja kalian kena batunya dan kapok.
“Aduh!!..
sakit… aduh….ibu!” Terdengar tangisan dari salah satu anak yang sedang main
petasan tadi. Kuhampiri mereka.
“Kenapa?” tanyaku.
“Raihan
matanya kena petasan Bu Salsa," jawab Tino dan Aldo berbarengan.
“Makanya
kalau dibilangin dengerin jangan main petasan terus, jadi kena batunya kan!”
Raihan
masih menangis kesakitan. Tidak tega juga lihat mereka, akhirnya Raihan kuantar
ke rumahnya.
================================================================
Fiksi
# Permata Hati #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Secerah
tawanya, sejernih bola matanya. Bagaikan matahari dalam hidupku. Dia memberikan
semangat hidup. Syifa, senyumnya mengembang menyambut mamanya pulang kerja. Lelah
ini sedikit pergi karena sambutanmu, Nak. Setahun setengah sudah kubekerja di
luar rumah. Memenuhi kebutuhan kami. Kulihat dia masih diranjangnya.
“Sudah
pulang Ma?” Sahutnya dari dalam kamar.
“Iya
Pa. Sudah makan belum? Mama belikan Sup ayam. Nanti makan bareng ya.”
“Makasih
Ma. Maaf, Papa belum bisa bantu.” Keluhnya.
“Kamarnya
rapi ya?” tanyaku memandangi sekeliling
kamar.
“Papa
dibantuin Syifa rapikan kamar," ujar suamiku. Syifa menghampiri kami.
Tiba-tiba setitik embun menetes dipipi. Kupeluk mereka berdua, Allah jagalah
mereka tercinta.
Lelaki
itu terharu, seandainya dua tahun yang lalu kecelakaan tidak merenggut kakinya.
Tidak akan ia biarkan isterinya bekerja di luar rumah. Ya Allah jagalah kedua
permataku ini. Gumam Lelakiku dalam hati dipelukan istri dan anaknya ini.
===============================================================
Fiksi
# Roda Hidup #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Matanya
terbelalak saat dapat arisan sepuluh juta! Uang banyak, pikirnya. Tiap bulan Ria
sisipkan uang gaji bulanan sebagai buruh pabrik garmen ke arisan temannya lima
ratus ribu. Rumahnya sangat tidak layak. Pikirannya adalah membenahi rumah
milik peninggalan ayahnya.
“Bu,
Ria dapat arisan. Besok kita beli bahan bangunan, ya.”
“Alhamdulillah..
mudah-mudahan terlaksana. Ibu senang Nak.”
Sebulan
kemudian, rumah reot itu sudah berdiri dengan rapi. Dindingnya sekarang terbuat
dari batu bata dan semen. Lantai keramik, atapnya tidak kebocoran lagi kalau hujan. Ria dan
Ibunya sekarang nyaman dengan rumahnya.
“Bu,
ingat Pak Tarno tidak? Dulu dia sangat
jijik ke rumah kita saat nagih hutang."
“Oh
iya. Sudah sebulan ini Pak Tarno tak datang ke rumah kita nagih hutang. Kenapa
ya?”
“Bu,
tetangga tadi cerita. Pak Tarno rumahnya kebakaran seminggu yang lalu.”
“Innalillahi
wa Inna Ilaihi roojiun, semoga dia diberi ketabahan. Hidup memang seperti
roda.”
Mereka berdua terdiam sejenak.
=================================================================
Fiksi
# Pulang Kampung (Tunda) #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Lebaran tahun ini Rini pulang kampung. Welas
akan sepi karena lebaran ini dia tidak pulang kampung ke Semarang. Terlihat
ceria di wajah Rini, akan bertemu bapak,
ibu juga adiknya lalu merayakan idul fitri bersama di sana.
“Yakin
pulang kampung ke Lampung lebaran tahun
ini?” tanya Welas.
“Iya.
THR nanti keluar minggu depan, jadi bisa pesan tiket lebih awal lebih murah," jawab Rini
“Mudah-mudahan." Welas menimpali.
Seminggu
kemudian..
“Welas.
Yang benar saja, masa THR ku diundur seminggu lagi. Terus kapan beli
tiketnya?” gerutu Rini.
“Memang
tanggal berapa pulang kampungnya?” tanya Welas bingung.
“Tanggal
24 rencana pulang, tapi…." Rini tak
bisa meneruskan seakan ingin menangis.
“Kenapa
Rin? Kok diam.” Welas bingung lihat si Rini terduduk lesu.
“THRnya
itu Welas…, di keluarinnya tanggal 23. Terus harga tiket sudah naik. Buat bekal
di jalan gimana? Hmmm.” Rini menangis sambil gigit jari. Welas jadi bingung
lihat temannya itu.
=================================================================
Fiksi
# Rumah-Mu #
Oleh:Rosi.Ochiemuh
Megah
dan sejuknya rumah-Mu tak sesejuk rumahku yang sempit. Tapi lihatlah, bangunan
megah itu seperti simbol kejayaan sang penderma. Kadang kosong tanpa maknanya. Saat azan Subuh berkumandang, hanya dua barisan sahf. Azan Duhur, satu barisan shaf yang penuh.
Maghrib, Alhamdulillah tiga baris. Isya, Subhanallah tetap saja satu barisan
shaf. Baru di Ramadan ini, mereka berbondong-bondong datang menghadap-Mu.
“Mas
Adi, sudah jam sebelas malam.” Tiba-tiba Pak Sajad pengurus masjid menegurku.
“Maaf
Pak, ingin I’tikaf," ujarku.
“Disini
jam sepuluh malam tidak boleh ada yang menginap di masjid.” Pak Sajad menimpali.
“Bukan
menginap, tapi I’tikaf Pak," kataku.
“Emang
I’tikaf itu artinya bukan menginap?” tanya Pak Sajad lagi.
“I’tikaf
itu berdiam di masjid beribadah, berdzikir, shalat malam dan tadarus. Ini malam Ramadan seminggu terakhir. Boleh kan?” kuyakinkan.
“Mas
Adi, maaf saya takut dimarahi pak dewan masjid. Beliau pesan tidak boleh ada
yang menginap di masjid.”
Innalillahi!
inikah umatmu ya Rasulullah, ajaran Islam saja mereka belum faham. Padahal pak
dewan itu sudah mendapat gelar sarjana Agama Islam.
***
Kumpulan Fiksiminiku tahun 2014. Direvisi kembali.
Komentar
Posting Komentar