Langsung ke konten utama

PESTA FIKSIMINI ( Rosi Ochiemuh )




Fiksi # Tak Terduga #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

“Aku ingin dapat suami PNS ah!" Dewi mengawali perbincangan yang sering kami lakukan di kantin sekolah waktu SMU. Tentang pernikahan dan pendamping hidup. 

“Aku nanti sama anggota Brimob saja, karena ku kan tinggal di Asrama Brimob.” Rus menimpali. 

“Huh lagian, kan! Rus pacarnya calon Brimob,” celetukku dengan canda. 

“Kalau Tini? Pastinya sama orang kampungnya, ya kan?” Aku meledek, sementara Tini senyum tersipu. 

“Kalau kamu Ris?” Serempak bertiga mereka melempar tanya padaku. 

“Kalau aku…hmm… punya suami yang baik, dan maunya orang Jawa. Bukan orang sini. Ntar nikahnya umur 25 tahun aja!” jawabku sekenanya.

Percakapan dua belas tahun yang lalu dengan teman-temanku di kantin sekolah. Dan ternyata apa yang pernah aku ucapkan benar-benar kenyataan. Aku menikah diusia duapuluh lima tahun. Suamiku dari pulau Jawa dan  baik hati. Persis sama dengan ucapanku pada teman-teman. Tak diduga, ucapan tentang pernikahan yang asal sebut, jadi kenyataan. Barangkali berkenan!


 ================================================================= 
Fiksi # Rumah Angker #

Oleh : Rosi.Ochiemuh.

Di malam sepi dalam sebuah rumah kecil terjadilah percakapan dua orang antara ibu dan anak. 

“ Said, tolong antarkan baju jahitan ini ke rumah Pak Eko, ya,” pinta ibunya Said mengawali perbincangan. 

“Pak Eko yang rumahnya lewat kuburan cina itu, Bu?” tanya Said. 

“Iya Nak, emangnya kenapa kamu takut. Ini masih sore ntar habis sholat Isya," gumam ibu. 

“Said nggak mau Bu, besok saja.” Tolak Said dengan lembut. 

“Duh kamu ini gimana sih. Bu Eko nya mau pakai baju jahitan ini besok pagi Nak, uangnya sudah dibayar.” Sanggah ibu. “Emangnya kenapa sih nggak mau? Takut lewatin kuburannya?” tanya ibu. 

“Bukan itu Bu, karena rumahnya Pak Eko itu Angker,” jawab Said. 

“Angkernya dari mana Said? Orang di sana nggak ada apa-apa.” Ibunya meyakinkan. 

“Bukan Angker itu Bu. Rumahnya Pak Eko Angker karena sering dijadikan tempat main judi, nggak pernah di ngajiin apalagi disolatin. Makanya Said malas malam-malam ke sana.” Said menjelaskan sambil membenarkan sarung dan pecinya. 

“Hmmm..Oalah.. kirain angker ada hantunya. Huh omonganmu ini bikin Ibu mikir. Udah sana anterin!” Gertak ibunya kesal.
====================================================== 


Fiksi # Jodoh  #

 Oleh : Rosi.Ochiemuh.

“Aduh. Lihat-lihat dong kalau jalan, matanya dipake!” Teriak Dina pada seorang ibu yang tak sengaja menabraknya di pasar. 

“Maaf Dik, saya tidak sengaja,” ujar ibu itu dengan ramahnya. 

“Makanya Bu, suaminya yang bawa belanjaan,” ucap Dina ketus.

 "Ya Allah, Anda sudah punya suami?” tanya ibu itu. 

“Emang kenapa sih nanya-nanya? Saya masih gadis, kok,” jawab Dina dengan muka ditekuk. 

“O.. mudah-mudahan cepat dapat jodoh ya, atau malah sebaliknya.” Ibu itu langsung pergi dengan membawa belanjaannya yang banyak setelah mengucapkan kalimat itu.

Entah karena ucapan ibu-ibu yang dulu tak sengaja menabrak kak Dina atau memang kuasa Allah. Sudah hampir sepuluh tahun sejak kejadian tersebut sampai sekarang belum menikah diusianya ketiga puluh, padahal dia cantik dan berpendidikan tinggi. Apa mungkin karena ucapan-ucapan ketusnya pada orang. Atau memang belum ketemu jodohnya? Wallahu’alam.
  =====================================================


Fiksi # Selaksa Rindu #

Oleh : Rosi.Ochiemuh.

“Sil, Nenek dan Kakek bawa hadiah buat kamu.” Nenek memelukku dengan penuh kehangatan, sambil memberikan kado. Kakek memandangiku dengan senyum. Mereka lalu mengajakku jalan-jalan ke pasar malam. 

“Silvi, buka kadonya.” Nenek dan Kakek menyuruhku membuka kado dari mereka. 

“Terima kasih Nek, Kek, ini kado terindah,” jawabku dengan senangnya di samping mereka. Hadiah dari mereka mukenah cantik. 

“Pakai ya Silvi mukenahnya, rajin salat. Nenek dan Kakek sangat senang sekali.” Mereka tiba-tiba menghilang dariku.

Mataku terasa berat untuk dibuka. Bingung kenapa aku berada dalam kamarku? Kemana Nenek dan Kakek. Ya Allah. Ternyata aku bermimpi, tadi aku tidur. Kupegang keningku, ya ampun… panas. Ternyata aku demam. 

Saat kubalikkan badanku, ternyata mukenah yang ada dalam mimpi tadi, sekarang ada di sampingku. Ya Allah apa ini? Padahal Nenek dan Kakek sudah dua tahun lalu tiada. Kangenkah mereka padaku?.
 =========================================================


Fiksi # Absen Rokok #

 Oleh : Rosi.Ochiemuh

“Bang, saya buatin kopi ye?” Jamilah istrinya menawarkan. 

“Nggak usah Milah, abang absen dulu.”

“Emangnya absen apaan, nggak masuk kerja gitu?” Milah bingung. 

“Maksud gue, absen dari minum kopi. Dengar nggak kemarin pesan dokter? Gue nggak boleh minum kopi.” Bang Jarot menjelaskan.

“Oh… jadi absen ngopinye nih.. bagus dah, irit jadinye,” gumam Jamilah sambil senyum. 

“Kalau rokoknye absen nggak?” tanya Jamilah dengan lirikan yang sadis. 

“Dokter nggak nyebutin gue harus absen rokok Milah,” ujar Bang Jarot dengan ragu. 

“Masa sih Bang? Bukannye rorok yang bikin sakit kepala Abang. Berhenti apa rokoknye!” Jamilah tambah melotot. 

“Hehe, nah ... itu die yang jadi pikiran gue… kalau itu yang absen mati gaye gue.” Bang Jarot mukanya kalut. 

“Huh, dasar Abang! kalau absen kopi, Jamilah bisa irit gula. Rokok nggak absen sama aja dong! Tekor banyakan rokok pengeluarannye.” Jamilah menggerutu dan bibirnya manyun.. Sementara Bang Jarot masih bimbang dengan keputusannya untuk berhenti merokok.


==============================


Fiksi # Jagoan Kampung #

Oleh : Rosi.Ochiemuh.

Di sebuah warung kopi milik Pak Hata, siang itu.  

“Jaya! Ape kehebatan elo setelah keluar dari penjara. Hah?” Tiba-tiba Karta memulai percakapan. Jaya diam sejenak dan meminum secangkir kopi hitamnya. 

“Mana kehebatan elo! Saat dulu melawan preman-preman pasar? Elo sama kayak mereka.” Karta semakin memancing amarahnya Jaya.

 "Udah Karta jangan mancing orang emosi, jangan jadikan warung gue tempat bertarung.  Ke lapangan bola aja elo bedua.” Pak Hata menimpali.

 "Bang, Aye udah bunuh satu orang dan nggak mau ditambah satu orang lagi.” Jaya pun akhirnya berbicara juga sambil memandang Karta dengan menantang. 

“Terus mau Bang Karta apa?” Jaya menatap Karta dengan seriusnya. Pak Hata mulai sedikit ketakutan dengan kedua orang itu. 

“Kalau gitu, gue mau nantang elo adu kekuatan. Main catur. Setuju?”

“Setuju lah… secara udah lama banget nggak main catur selama ini.” Jaya memecah ketegangan dengan canda.

 “Eeiit dech ah! Gue kirain. Dasar lu bedua ngerjain. Ni jantung dari tadi deg-degan lihat elo pade sepelototan. Hah!” Pak Hata merasa tertipu. 

Mereka tertawa terbahak-bahak melihat muka Pak Hata yang pucat.
 =================================================================
 Fiksi # Siluet Teman #

 Oleh:Rosi.Ochiemuh

Langit  yang terang dipandanginya dengan sinis. Bersama hiruk pikuk kota Jakarta yang pengap dan semberawut kemacetan. Remaja yang sedang duduk di pelataran ruko itu tak peduli dengan sekitarnya.

“Kamu kok melamun saja?” tegur Mimin sambil menenteng  gitar kecilnya yang kumal.

“Nggak… cuma ingin diam saja," jawab Nano ketus.

“Kamu lain dari biasanya. Ada masalah ya?” Mimin melanjutkan pertanyaan.

“Masalahnya aku putus sekolah Min karena nggak punya uang.” Nano langsung mengeluh pada Mimin.

“Kamu pasti sekolah lagi No, dengan kerja keras lagi.” Mimin menenangkan temannya yang galau itu.

“Maksudmu dengan mengamen?” Nano menepis kata-kata Mimin.

“Aku mau ikut ajakan Bang Dorman saja, lebih banyak hasilnya.” Matanya masih menerawang.

“Kamu mau ikut jadi pencopet? Kalau begitu, aku tak mau jadi temanmu lagi!” Mimin marah mendengar ucapan Nano, dia pun pergi meninggalkannya.

Nano terdiam melihat temannya pergi meninggalkannya, akal sehatnya tadi seolah hilang kembali sadar.

==========================================================

Fiksi  # Tak Sampai #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

 “Kak Halim, Kak Piah di bawa ke rumah sakit. Mau melahirkan," ucapnya dengan suara yang terbata-bata di telepon.

“Ya Allah.. bagaimana dengan keadaannya?” tanyaku dengan jantung yang berpacu cepat.

“Kak Piah ketubannya pecah dan harus dibawa ke rumah sakit kata bidan. Sekarang Kak Piah, ibu, bapak dan bidan ke sana dengan ambulans.
 
Kak Halim bisa pulang cepat?” Adikku Heru menjelaskan dengan detail perihal Istriku.

“Iya. Kakak usahakan Dik.” Telepon terputus.

Lalu aku berusaha untuk meminta izin pulang cepat pada atasanku.
Akhirnya bisa. Semoga selamat dan baik-baik saja. Ya Alloh lindungilah mereka berdua, selamatkanlah nyawa keduanya. Amiin.

Pikiran ini terus berpacu dengan kencangnya kendaraan. Harus sampai dan melihat kelahiran anakku, terus menghantui pikiran.

Ohh…Ciittttt, TrraKKk!! BrruKK!!. Motor yang kunaiki jatuh, pandanganku kabur, disekelilingku penuh dengan banyak orang. Kaki kiriku tertimpa badan motor, rasanya aku tak kuat lagi. Tiba-tiba pandanganku gelap.

================================================================

Fiksi # Foto Berdarah #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

Matanya masih memandangi bingkai foto perempuan yang dikasihinya, yang berada di atas meja kecil di samping laki-laki muda itu. Senyumnya mengembang saat ia mengingat kenangan bersama perempuan itu. Lili… kekasihnya yang Ia cintai harus pergi meninggalkan dunia karena kecelakaan.

“Reimon, lupakanlah perempuan itu! Dari dahulu Ibu tidak pernah merestuimu dengannya.” Perempuan tua itu terlihat tidak senang dengan sikap anaknya.

“Bu… Rei tak bisa melupakan Lili. Cinta Rei begitu dalam.”

“Besok, Ibu akan mempertemukan kamu dengan puteri Bu Mala. Kamu dan Karmila akan Ibu jodohkan. Dia lebih baik dari Lili.” Ibu menyela ucapan Rei dengan tatapan yang tajam ke arahnya.

“Terserah Ibu saja. Rei tetap mencintainya, meski Rei jadi milik orang lain.”

Prangg!! Seketika foto itu terjatuh ke bawah dari meja di samping Reimon, bersamaan dengan itu pintu kamar Reimon tertutup sendiri dengan keras. Mereka bedua saling berpandangan heran dengan kejadian tersebut karena di dalam rumah Mereka, hanya ada Ibu dan Reimon.

 Kaca bingkai foto berserakan, Reimon mengambilnya lalu dibersihkan. Dipandanginya wajah Lili dalam bingkai foto, terlihat kedua matanya mengeluarkan cairan merah.

=====================================================*

Fiksi # Rezeki Kilat #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

Hari yang melelahkan sejak pagi Gito berdagang koran pinggir jalan raya ibu kota, dilihat penghasilannya hari ini baru dua puluh ribu. Hanya beberapa buah koran laku terjual sejak pagi sampai siang. Saatnya membeli makan siang.

“Minta sedekahnya Nak,” seorang pengemis tua mendekati Gito.

“Maaf Kek, tidak ada uang," sahut Gito, tetapi hatinya tak tega.

 Ketika Pengemis itu hendak pergi.
“Tunggu Kek! Ada uang segini, terima ya.” Gito memberikan uang hasil dagangannya.

“Terima kasih, semoga rezekimu lebih banyak.”

“Aamiin.” Gito mengaminkan perkataan pengemis itu. Tak berapa lama kemudian.

“Dik, masih ada nggak koran-korannya?” tiba-tiba seorang Ibu-ibu menghampirinya.

“Masih ada Bu, ni korannya,”  jawabnya sambil menunjukkan koran-koran di tangannya.

“Saya beli semua koran kamu, berapa Dik?” tanya ibu itu. 

“Beneran Bu?”

“Iya, ada keperluan untuk murid-murid Saya,” ibu itu memastikan.

“Semuanya jadi Delapan puluh ribu,” jawab Gito dengan senyum.

“Ini, kembaliannya ambil saja. Saya buru-buru.” Seketika uang seratus ribu sudah di tangan, betapa senangnya.  Tiba-tiba Gito ingat dengan pengemis tadi.


============================================================

Fiksi # Buah Petasan #

 Oleh: Rosi.Ochiemuh

TAAR..TERR…TORR!! Pagi-pagi sudah terdengar suara petasan di samping rumah. Dasar! Anak-anak kurang kerjaan, ibunya tidak ada yang melarang ya? Yang jualan juga tidak punya akal, jual petasan saat bulan Ramadan. TAAR…TERR…TORR! Sekali lagi suara petasan itu mengganggu. Kucoba menyuruh mereka pergi.

“Aldo, Raihan, Tino! Jangan berisik! Sana mainnya jangan disini!" teriakku pada anak-anak yang asyik menyalakan petasan.

“Iya Bu..” ujar mereka. Tapi tangan mereka tetap saja main petasan.

“Aldo, Raihan, Tino main ke lapangan belakang aja. Berisik, Salsa lagi tidur nih!” tegurku yang kedua kali tak digubris mereka. Dalam hati kesal sekali, berkali-kali suara petasan itu mengganggu. Semoga saja kalian kena batunya dan kapok.

“Aduh!!.. sakit… aduh….ibu!” Terdengar tangisan dari salah satu anak yang sedang main petasan tadi. Kuhampiri mereka.

“Kenapa?” tanyaku.

“Raihan matanya kena petasan Bu Salsa," jawab Tino dan Aldo berbarengan.

“Makanya kalau dibilangin dengerin jangan main petasan terus, jadi kena batunya kan!”

Raihan masih menangis kesakitan. Tidak tega juga lihat mereka, akhirnya Raihan kuantar ke rumahnya.

 ================================================================
Fiksi # Permata Hati #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

Secerah tawanya, sejernih bola matanya. Bagaikan matahari dalam hidupku. Dia memberikan semangat hidup. Syifa, senyumnya mengembang menyambut mamanya pulang kerja. Lelah ini sedikit pergi karena sambutanmu, Nak. Setahun setengah sudah kubekerja di luar rumah. Memenuhi kebutuhan kami. Kulihat dia masih diranjangnya.

“Sudah pulang Ma?” Sahutnya dari dalam kamar.

“Iya Pa. Sudah makan belum? Mama belikan Sup ayam. Nanti makan bareng ya.”

“Makasih Ma. Maaf, Papa belum bisa bantu.” Keluhnya.

“Kamarnya rapi ya?” tanyaku  memandangi sekeliling kamar.

“Papa dibantuin Syifa rapikan kamar," ujar suamiku. Syifa menghampiri kami. Tiba-tiba setitik embun menetes dipipi. Kupeluk mereka berdua, Allah jagalah mereka tercinta.

Lelaki itu terharu, seandainya dua tahun yang lalu kecelakaan tidak merenggut kakinya. Tidak akan ia biarkan isterinya bekerja di luar rumah. Ya Allah jagalah kedua permataku ini. Gumam Lelakiku dalam hati dipelukan istri dan anaknya ini.

===============================================================

Fiksi # Roda Hidup #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

Matanya terbelalak saat dapat arisan sepuluh  juta! Uang banyak, pikirnya. Tiap bulan Ria sisipkan uang gaji bulanan sebagai buruh pabrik garmen ke arisan temannya lima ratus ribu. Rumahnya sangat tidak layak. Pikirannya adalah membenahi rumah milik peninggalan ayahnya.

“Bu, Ria dapat arisan. Besok kita beli bahan bangunan, ya.”

“Alhamdulillah.. mudah-mudahan terlaksana. Ibu senang Nak.”

Sebulan kemudian, rumah reot itu sudah berdiri dengan rapi. Dindingnya sekarang terbuat dari batu bata dan semen. Lantai keramik, atapnya tidak kebocoran lagi kalau hujan. Ria dan Ibunya sekarang nyaman dengan rumahnya.

“Bu, ingat  Pak Tarno tidak? Dulu dia sangat jijik ke rumah kita saat nagih hutang."

“Oh iya. Sudah sebulan ini Pak Tarno tak datang ke rumah kita nagih hutang. Kenapa ya?”

“Bu, tetangga tadi cerita. Pak Tarno rumahnya kebakaran seminggu yang lalu.”

“Innalillahi wa Inna Ilaihi roojiun, semoga dia diberi ketabahan. Hidup memang seperti roda.” 
Mereka berdua terdiam sejenak.

=================================================================

Fiksi # Pulang Kampung (Tunda) #

 Oleh:Rosi.Ochiemuh

 Lebaran tahun ini Rini pulang kampung. Welas akan sepi karena lebaran ini dia tidak pulang kampung ke Semarang. Terlihat ceria di wajah Rini, akan bertemu bapak,  ibu juga  adiknya lalu  merayakan idul fitri bersama di sana.

“Yakin  pulang kampung ke Lampung lebaran tahun ini?” tanya Welas.

“Iya. THR nanti keluar minggu depan, jadi bisa pesan tiket lebih awal lebih murah," jawab Rini

“Mudah-mudahan." Welas menimpali.

Seminggu kemudian..

“Welas. Yang benar saja, masa THR ku diundur seminggu lagi. Terus kapan beli tiketnya?” gerutu Rini.

“Memang tanggal berapa pulang kampungnya?” tanya Welas bingung.

“Tanggal 24  rencana pulang, tapi…." Rini tak bisa meneruskan seakan ingin menangis.

“Kenapa Rin? Kok diam.” Welas bingung lihat si Rini terduduk lesu.

“THRnya itu Welas…, di keluarinnya tanggal 23. Terus harga tiket sudah naik. Buat bekal di jalan gimana? Hmmm.” Rini menangis sambil gigit jari. Welas jadi bingung lihat temannya itu.

=================================================================

Fiksi # Rumah-Mu #

Oleh:Rosi.Ochiemuh

Megah dan sejuknya rumah-Mu tak sesejuk rumahku yang sempit. Tapi lihatlah, bangunan megah itu seperti simbol kejayaan sang penderma. Kadang kosong tanpa maknanya. Saat azan Subuh berkumandang, hanya dua barisan sahf.  Azan Duhur, satu barisan shaf yang penuh. Maghrib, Alhamdulillah tiga baris. Isya, Subhanallah tetap saja satu barisan shaf. Baru di Ramadan ini, mereka berbondong-bondong datang menghadap-Mu.

“Mas Adi, sudah jam sebelas malam.” Tiba-tiba Pak Sajad pengurus masjid menegurku.

“Maaf Pak, ingin I’tikaf," ujarku.

“Disini jam sepuluh malam tidak boleh ada yang menginap di masjid.” Pak Sajad menimpali.

“Bukan menginap, tapi I’tikaf Pak," kataku.

“Emang I’tikaf itu artinya bukan menginap?” tanya Pak Sajad lagi.

“I’tikaf itu berdiam di masjid beribadah, berdzikir, shalat malam dan tadarus. Ini malam Ramadan seminggu terakhir. Boleh kan?” kuyakinkan.

“Mas Adi, maaf saya takut dimarahi pak dewan masjid. Beliau pesan tidak boleh ada yang menginap di masjid.”

Innalillahi! inikah umatmu ya Rasulullah, ajaran Islam saja mereka belum faham. Padahal pak dewan itu sudah mendapat gelar sarjana Agama Islam.
***

Kumpulan Fiksiminiku tahun 2014. Direvisi kembali. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...