Kado Terindah.
Malam yang indah dimana saat esok akan ada keajaiban gumam gadis ini dalam hatinya penuh harapan. Sang Bunda sedang menyiapkan makan malam di sudut ruang makan yang kecil. Sementara Bapak sedang asyik menonton televisi siaran tunda sepakbola. Ira sedari tadi di dalam kamarnya, ia selalu mengamati gambar sebuah gelang emas bermata batu merah yang indah dimajalah remaja yang sudah setahun yang lalu dibelinya. Gambar iklan di majalah itu sangat mengganggu pikirannya, Ia berharap suatu saat bisa memilikinya dan mendapatkannya saat hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun.
“ Ira, Bapak, makan malam sudah siap, ayo
semua makan dulu.” Tiba-tiba sang Bunda mengetuk kamarnya dan memanggil
Bapaknya juga yang sedari tadi di ruang tamu menonton televisi.
Ira,
Bunda dan Bapaknya berkumpul dimeja makan. Tradisi makan malam selalu tidak
pernah mereka lewatkan. Mereka berkumpul agar kehangatan dan komunikasi
keluarga selalu terjalin. Bahkan meski keluarga kecil ini hanya tinggal
bertiga, tapi masih menyempatkan untuk shalat maghrib berjamaah di rumah itu
ataupun makan malam. Sementara kakak Ira yang lelaki Budi, baru beberapa bulan berumah
tangga dan sudah tinggal di tempat terpisah bersama isterinya.
“Hmm..
Bunda.., Bapak, ingat tidak besok hari
apa?.” Ira pura-pura bertanya kepada Bunda dan bapaknya yang sedang makan.
“Besok
hari Minggu lah, liburkan sekolahmu?.” Bapak menjawab sekenanya sambil
menikmati makan malamnya.
“Hmmm,
Bapak pura-pura ngga tahu apa memang tidak mau tahu sih?.” Gumam Ira dengan
wajah yang sedikit cemberut.
“Ira,
makan dulu makananmu. Memangnya ada apa dengan besok?.” Bunda mengomentari
dengan lembut.
“Hmm..
nggak sih, ya mungkin Ira sudah besar jadi pada lupa.” Ira menjawab pertanyaan
Bundanya itu dengan wajah yang masih cemberut.
Bapak dan
Bundanya menatap anak gadisnya itu dengan ekspresi biasa saja pada sikap Ira.
Mereka pun melanjutkan makan malam itu saling berdiam-diaman.
Ira
kemudian masuk kekamar setelah merapikan meja makan dan mencuci piring. Gadis
manis ini sudah terbiasa mengerjakan kerjaan rumah membantu Ibunya. Karena
sejak kecil Ira selalu diajarkan untuk tidak manja, walau ia anak perempuan
satu-satunya di rumah itu. Ira masih memandangi gambar gelang emas bermata
merah itu. Hmm, ia berpikir tidak mungkin bisa membelinya. Harganya saja dulu dibawah
satu juta, dan itu pun tidak mungkin bisa di wujudkan orangtuanya apalagi
sekarang mungkin harganya sudah naik. Bapaknya cuma penjual soto ayam di
pangkalan terminal. Dan penghasilannya tidak mungkin bisa mewujudkan impian nya
yang ingin punya gelang emas bermata merah yang seharga segitu mahalnya. Penghasilan
Bapaknya sehari-hari saja tidak sampai lebih dari dua ratus ribu perhari kalau
sedang ramai, kalau sepi paling cuma dapat seratus atau lima puluh ribu
seharian.
Masih
merenungi keinginannya. Dan Ira hanya memendam keinginannya. Dia punya tabungan
sendiri dan itu masih jauh belum bisa memenuhi keinginannya. Tabungan yang ia
kumpulkan dari sisa uang jajan yang dihemat setiap hari di sekolah selama lima
bulan saja, baru hanya terkumpul dua ratus ribu.
Keesokan
paginya, adalah hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Seperti biasa
selesai sholat subuh, Ira dan Bundanya membereskan keperluan dagangan Bapak.
Setiap Pagi pada setiap harinya, Bapaknya berjualan Soto Ayam di pangkalan
terminal. Sudah hampir sepuluh tahun berjualan soto ayam, karena dulu Bapaknya
Ira bekerja di sebuah Pabrik sepatu, dan Pabriknya bangkrut dengan mendapat
upah pesangon seadanya. Bapaknya Ira memberanikan diri membuka usaha menjual soto
ayam dengan gerobaknya. Bersyukurnya perniagaan itu panjang dan bapaknya sudah
banyak pelanggan tetap. Jam enam pagi bapak dan Ira berpamitan keluar rumah
untuk berdagang soto ayam dengan gerobaknya. Kali ini bunda tidak membantu bapak
berjualan. Tetapi Ira yang membantu bapak berjualan, karena hari minggu
biasanya libur sekolah Ira selalu membantu Bapaknya berjualan.
Ira dan
Bapaknya mulai membuka dagangan mereka. Menyiapkan mangkok bersih, menata
bangku dan meja. Juga peralatan makan seperti garpu dan sendok ditata diatas
meja. Sambil duduk di bangku, Ira dan Bapaknya menunggu pembeli.
Akhirnya
pembeli pertama pun datang, dari seorang pedagang Koran. Sepertinya ia sudah
kenal dengan Bapak dan memesan dua mangkok soto ayam untuk dia dan teman
dagangnya. Dengan lahapnya mereka makan. Lalu mereka pergi lagi berjualan setelah
membayar, ada lagi pembeli yang datang. Kali ini seorang ibu-ibu berjilbab hijau
dengan membawa belanjaan sayuran bersama anak lelakinya yang baru sepuluh tahun
memesan dua mangkok soto ayam. Namun Ira masih terlihat murung diwajahnya,
keceriaannya hilang saat ia merasa tidak ada satu keluarga di rumahpun yang
mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bapak, bunda, apalagi kakaknya yang
sudah menikah itu. Hari minggu ini benar-benar sangat menyedihkan buat dia.
Dulu
waktu ia masih bersekolah SD, setiap tahun bunda dan bapak selalu merayakan
Ulang tahunnya dengan mengundang teman-teman dan tetangga. Tetapi sepuluh tahun
belakangan ini sejak bapaknya di PHK, dia sudah tidak merasakan masa-masa indah
itu. Ira selalu memendam rasa keinginannya itu dari orangtuanya. Ira tahu
keadaan kedua orangtuanya tidak semapan dulu.
Masih
membantu Bapaknya di Pangkalan Terminal. Ira hanya menghibur dirinya yang sedih
dengan melihat berbagai macam aktifitas orang yang berlalu lalang di terminal
itu, sambil membaca majalah remaja terbarunya kala tidak ada pembeli tapi
ternyata minggu ini banyak juga pembeli soto ayam bapaknya. Banyak orang-orang
yang baru pada mudik pulang mampir makan sebentar ke gerobak soto ayam milik
mereka.
“Ira…
kamu makan dulu ya.. ini sudah siang. Sementara kamu makan soto ayam ini.”
Bapak berbicara sambil mengipas-ngipasi topi ketubuhnya. Ternyata hari mulai
siang dan sepertinya soto ayam bapaknya tinggal sedikit lagi akan habis.
“Ia Pak,
Bapak makan apa nanti?, Ira belikan makanan ke warung disana ya?.” Jawab Ira
sambil menunjukkan warung nasi yang ada di seberang jalan.
“Bapak
mau makan Gado-gado yang di samping ruko.” Ujar Bapaknya.
“Kalau
gitu, Ira beliin ya,” Ira menawarakan diri untuk membelikan Gado-gado buat bapaknya.
Jam dua
belas siang sudah, Ira dan bapaknya sudah makan siang. Mereka melihat Soto Ayam
mereka sudah mau habis. Dan sebentar lagi mereka akan pulang kerumah. Ira merasa
hari ini lumayan lelah membantu Bapaknya. Namun hilang setelah melihat
Penjualan Soto Ayam Bapaknya yang laris manis banyak pembeli di hari minggu
ini. Masih didalam hati dan pikiran Ira, kenapa orang tuanya tidak memberi
ucapan selamatpun padanya, atau sekedar ucapan nasehat sedikit buatnya saat
umurnya bertambah. Ira memandangi wajah Bapaknya yang lelah sambil mendorong
gerobak Soto Ayam.
Mungkin
Bunda dan Bapak sedang mengalami masa sulit. Karena kemarin Ira yang baru saja
duduk di kelas Tiga sekolah menengah kejuruan itu, baru saja menghadapi bayaran
spp, dan uang daftar ulang. Pastinya semua uang yang dikumpulkan Bapak dan
Bunda begitu banyak. Sampai menguras tenaga seperti ini untuk bisa
menyekolahkanku, pikir gadis bertubuh kecil ini, masih memandangi wajah
Bapaknya yang penuh dengan peluh setelah setengah harian berjualan.
Akhirnya
sampailah di rumah, dengan cuaca yang sangat terik dan badan yang bau sinar
matahari. Ira dan Bapaknya pulang dengan membawa penghasilan yang lumayan.
“Bapak
Sudah pulang ya, sini Bunda bantuin.” Bunda langsung menyambut Bapak dan Ira
dengan senyumannya yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
“Alhamdulillah
Bunda, hasilnya hari ini lumayan. Dagangan Soto Ayam kita laris dan habis. Hari
ini banyak orang pulang mudik di terminal dan ada yang baru transit jadi banyak
yang mampir makan Bun.” Seru Bapak dengan gembiranya.
“Syukur
Alhamdulillah, Bunda senang mendengarnya. Semoga selalu ramai dan berkah ya
Pak.” Ujar Bunda
“Ira shalat
dzuhur terus kamu istirahat dulu dikamar ya nak.” Bunda seperti biasa
membiarkan Ira menyuruh untuk istirahat tidur siang.
“Ia Bun,
makasih. Ira kekamar dulu ya.” Ira kemudian mandi dan sholat dzuhur. Lalu Ira
merebahkan tubuhnya kekasur empuk yang terbuat dari kapuk asli. Matanya
menerawang keatas. Dalam hati ia berharap ada keajaiban di umurnya yang
bertambah satu tahun hari ini. Makin lama matanya makin terlelap tidur dan Ira
pun memejamkan mata tertidur dengan pulasnya.
Dua jam
setelah itu diruang tamu begitu ramainya, entah apa yang sedang dipersiapkan
Bunda, Bapak dan Budi kakaknya Ira juga kakak iparnya Nina. Mereka sibuk
sekali. Sementara Ira masih tertidur pulas dikamarnya.
Ternyata
Bunda dan Bapaknya dengan tanpa diketahui Ira sudah lama akan merayakan ulang
tahunnya Ira. Dengan mengundang secara diam-diam teman-teman sekolah Ira,
tetangga Ira dan saudara-saudara dekat. Kak Budi, Kak Nina lah yang
merencanakan semua ini, mereka sudah mendesain, mendekor ruangan dengan cepat
dan tanpa diketahui oleh Ira, memesan Nasi Tumpeng yang diatas lilinnya angka
tujuh belas. Dan mempersiapkan semua acara dengan rapi.
Semua tamu
sudah berkumpul sore itu di ruang tamu yang sederhana. Bunda kemudian mengetuk
kamar Ira. Tiba-tiba Ira terbangun dengan ketukan pintu kamarnya. Dibukanya,
lalu Bundanya masuk kekamar. Bunda kemudian memeluk Ira.
“Selamat
ulang tahun ya Nak, puteri Bunda sekarang sudah tujuh belas tahun.” Bunda
mengucapkan sesuatu yang sudah dari pagi di harapkan Ira.
“Makasih
Bunda, Ira pikir Bunda dan Bapak sudah lupa ulang tahun Ira.” Mata Ira
berkaca-kaca terharu dengan ucapan Bundanya itu.
“Bunda
dan bapak Punya kejutan buat kamu, tapi kamu tutup mata dulu ya sayang.” Ucap
Bunda sambil menggenggam tangan puterinya itu.
Ira
dituntun keluar kamar menuju keruang tamu yang sudah dipersiapkan pesta
buatnya. Dengan mata tertutup, Ira berjalan pelan. Semua tamu, teman-teamn yang
hadir serta kakaknya sudah siap memberi kejutan pada Ira. Sampailah Ira di
tengah ruang tamu yang terdengar sunyi ditelinga Ira tapi sebenarnya sudah
banyak orang.
“Sekarang
matanya di buka ya sayang.” Ujar Bunda sambil memegang bahu puterinya.
Tiba-tiba
dengan serempak semua tamu yang hadir memberi ucapan sambil meniupkan
terompet-terompet.
“TARRA,,.SELAMAT
ULANG TAHUN IRA!!”. Semua nya memberi ucapan ulang tahun kepada Ira dengan rasa
senangnya. Ira kaget bukan kepalang, dilihatnya kakaknya dan kakak Iparnya
membawa Nasi Tumpeng yang lengkap, dan teman-teman sekolahnya yang datang
membawakan kado padanya. Ira seketika menangis bahagia, karena tidak percaya
bahwa Bunda dan Bapaknya juga memperhatikannya. Mereka semua menyayanginya dan
memberikan kado yang istimewa seperti ini. Kejutan yang indah di hari minggu
itu sangat berkesan di hati Ira. Dan acara ulang tahun Ira pun diadakan dengan
sangat hikmat dan gembira.
Bunda dan
Bapaknya bergantian menciumi kening puterinya itu. Lalu Ira memotong Nasi
Tumpengnya dan menyuapinya kepada Bunda, Bapak, kak Budi dan kak Nina. Tak lupa
Bunda dan Bapaknya memberikan kado padanya. Saat semua tamu yang berbahagia itu
menyuruh membuka kado tersebut, akhirnya Ira membuka kado pemberian kedua
orangtuanya itu. Sebuah kotak kecilpun dibuka. Betapa kagetnya Ira melihat
isinya, ternyata isinya gelang emas bermata merah itu yang ada di gambar
majalahnya dulu. Ira kembali memeluk kedua orangtuanya itu smbil menangis
terharu.
“Makasih
Bunda, Bapak… kok kalian tahu Ira sangat mennginginkan memiliki gelang emas ini?.”
Tanya Ira sambil mengelap airmatanya.
“Bunda
dan Bapak sudah lama tahu kamu itu sangat ingin punya gelang emas bermata merah
itu, dan selama lima bulan itu kami menyisihkan uang jualan itu untuk bisa
membelinya untuk hadiah buat kamu.” Jawab Bunda dengan senyuman.
“Mengenai
perayaan pestanya kamu, Kak Budi dan Kak Nina lah yang membantu Bapak dan Bunda
untuk merayakan pesta kejutan ini buat kamu Ira. Karena kami tahu, sudah lama
kamu tidak merasakannya lagi.” Gumam Bapak dengan senyuman pula.
“Makasih
semua, Ira sangat terharu dengan kalian. Ira janji, akan jadi yang terbaik buat
kalian dan tidak akan menyusahkan kalian. Maafkan Ira yang tidak bisa
memberikan banyak buat Bunda dan Bapak, tapi Ira akan berusaha memberi yang
terbaik buat kalian.” Ira menitikkan air mata berkali-kali dengan ucapannya
itu. Ia sadar, bahwa Kedua orangtuanya adalah orangtua yang terbaik di dunia.
Meskipun ia tidak pernah diberi apapun dari kedua orang tuanya. Ira bahagia karena
masih berada ditengah-tengah mereka.
Ulang
tahun ke tujuh belas ini adalah hari yang tidak akan dilupakan Ira. Dan Ira semakin
mencintai kedua orangtuanya itu, ia berjanji suatu hari nanti ia ingin
membanggakan kedua orangtuanya itu dengan prestasinya di sekolah dan ia ingin
mengangkat derajat kedua orangtuanya dengan perestasi dibidang akademis.
Ya…suatu saat nanti dalam hantinya bergumam.
SEKIAN.
*Oleh: Rosi.Ochiemuh.
Komentar
Posting Komentar