Langsung ke konten utama

Cerpen 5: Kado Terindah



Kado Terindah.


Malam yang indah dimana saat esok akan ada keajaiban gumam gadis ini dalam hatinya penuh harapan. Sang Bunda sedang menyiapkan makan malam di sudut ruang makan yang kecil. Sementara Bapak sedang asyik menonton televisi siaran tunda sepakbola. Ira sedari tadi di dalam kamarnya, ia selalu mengamati gambar sebuah gelang emas bermata batu merah yang indah dimajalah remaja yang sudah setahun yang lalu dibelinya. Gambar iklan di majalah itu sangat mengganggu pikirannya, Ia berharap suatu saat bisa memilikinya dan mendapatkannya saat hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun.

 “ Ira, Bapak, makan malam sudah siap, ayo semua makan dulu.” Tiba-tiba sang Bunda mengetuk kamarnya dan memanggil Bapaknya juga yang sedari tadi di ruang tamu menonton televisi.

Ira, Bunda dan Bapaknya berkumpul dimeja makan. Tradisi makan malam selalu tidak pernah mereka lewatkan. Mereka berkumpul agar kehangatan dan komunikasi keluarga selalu terjalin. Bahkan meski keluarga kecil ini hanya tinggal bertiga, tapi masih menyempatkan untuk shalat maghrib berjamaah di rumah itu ataupun makan malam. Sementara kakak Ira yang lelaki Budi, baru beberapa bulan berumah tangga dan sudah tinggal di tempat terpisah bersama isterinya.

“Hmm.. Bunda.., Bapak,  ingat tidak besok hari apa?.” Ira pura-pura bertanya kepada Bunda dan bapaknya yang sedang makan.

“Besok hari Minggu lah, liburkan sekolahmu?.” Bapak menjawab sekenanya sambil menikmati makan malamnya.

“Hmmm, Bapak pura-pura ngga tahu apa memang tidak mau tahu sih?.” Gumam Ira dengan wajah yang sedikit cemberut.

“Ira, makan dulu makananmu. Memangnya ada apa dengan besok?.” Bunda mengomentari dengan lembut.

“Hmm.. nggak sih, ya mungkin Ira sudah besar jadi pada lupa.” Ira menjawab pertanyaan Bundanya itu dengan wajah yang masih cemberut.

Bapak dan Bundanya menatap anak gadisnya itu dengan ekspresi biasa saja pada sikap Ira. Mereka pun melanjutkan makan malam itu saling berdiam-diaman.

Ira kemudian masuk kekamar setelah merapikan meja makan dan mencuci piring. Gadis manis ini sudah terbiasa mengerjakan kerjaan rumah membantu Ibunya. Karena sejak kecil Ira selalu diajarkan untuk tidak manja, walau ia anak perempuan satu-satunya di rumah itu. Ira masih memandangi gambar gelang emas bermata merah itu. Hmm, ia berpikir tidak mungkin bisa membelinya. Harganya saja dulu dibawah satu juta, dan itu pun tidak mungkin bisa di wujudkan orangtuanya apalagi sekarang mungkin harganya sudah naik. Bapaknya cuma penjual soto ayam di pangkalan terminal. Dan penghasilannya tidak mungkin bisa mewujudkan impian nya yang ingin punya gelang emas bermata merah yang seharga segitu mahalnya. Penghasilan Bapaknya sehari-hari saja tidak sampai lebih dari dua ratus ribu perhari kalau sedang ramai, kalau sepi paling cuma dapat seratus atau lima puluh ribu seharian.

Masih merenungi keinginannya. Dan Ira hanya memendam keinginannya. Dia punya tabungan sendiri dan itu masih jauh belum bisa memenuhi keinginannya. Tabungan yang ia kumpulkan dari sisa uang jajan yang dihemat setiap hari di sekolah selama lima bulan saja, baru hanya terkumpul dua ratus ribu.

Keesokan paginya, adalah hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Seperti biasa selesai sholat subuh, Ira dan Bundanya membereskan keperluan dagangan Bapak. Setiap Pagi pada setiap harinya, Bapaknya berjualan Soto Ayam di pangkalan terminal. Sudah hampir sepuluh tahun berjualan soto ayam, karena dulu Bapaknya Ira bekerja di sebuah Pabrik sepatu, dan Pabriknya bangkrut dengan mendapat upah pesangon seadanya. Bapaknya Ira memberanikan diri membuka usaha menjual soto ayam dengan gerobaknya. Bersyukurnya perniagaan itu panjang dan bapaknya sudah banyak pelanggan tetap. Jam enam pagi bapak dan Ira berpamitan keluar rumah untuk berdagang soto ayam dengan gerobaknya. Kali ini bunda tidak membantu bapak berjualan. Tetapi Ira yang membantu bapak berjualan, karena hari minggu biasanya libur sekolah Ira selalu membantu Bapaknya berjualan.

Ira dan Bapaknya mulai membuka dagangan mereka. Menyiapkan mangkok bersih, menata bangku dan meja. Juga peralatan makan seperti garpu dan sendok ditata diatas meja. Sambil duduk di bangku, Ira dan Bapaknya menunggu pembeli.

Akhirnya pembeli pertama pun datang, dari seorang pedagang Koran. Sepertinya ia sudah kenal dengan Bapak dan memesan dua mangkok soto ayam untuk dia dan teman dagangnya. Dengan lahapnya mereka makan. Lalu mereka pergi lagi berjualan setelah membayar, ada lagi pembeli yang datang. Kali ini seorang ibu-ibu berjilbab hijau dengan membawa belanjaan sayuran bersama anak lelakinya yang baru sepuluh tahun memesan dua mangkok soto ayam. Namun Ira masih terlihat murung diwajahnya, keceriaannya hilang saat ia merasa tidak ada satu keluarga di rumahpun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bapak, bunda, apalagi kakaknya yang sudah menikah itu. Hari minggu ini benar-benar sangat menyedihkan buat dia.

Dulu waktu ia masih bersekolah SD, setiap tahun bunda dan bapak selalu merayakan Ulang tahunnya dengan mengundang teman-teman dan tetangga. Tetapi sepuluh tahun belakangan ini sejak bapaknya di PHK, dia sudah tidak merasakan masa-masa indah itu. Ira selalu memendam rasa keinginannya itu dari orangtuanya. Ira tahu keadaan kedua orangtuanya tidak semapan dulu.

Masih membantu Bapaknya di Pangkalan Terminal. Ira hanya menghibur dirinya yang sedih dengan melihat berbagai macam aktifitas orang yang berlalu lalang di terminal itu, sambil membaca majalah remaja terbarunya kala tidak ada pembeli tapi ternyata minggu ini banyak juga pembeli soto ayam bapaknya. Banyak orang-orang yang baru pada mudik pulang mampir makan sebentar ke gerobak soto ayam milik mereka.

“Ira… kamu makan dulu ya.. ini sudah siang. Sementara kamu makan soto ayam ini.” Bapak berbicara sambil mengipas-ngipasi topi ketubuhnya. Ternyata hari mulai siang dan sepertinya soto ayam bapaknya tinggal sedikit lagi akan habis.

“Ia Pak, Bapak makan apa nanti?, Ira belikan makanan ke warung disana ya?.” Jawab Ira sambil menunjukkan warung nasi yang ada di seberang jalan.

“Bapak mau makan Gado-gado yang di samping ruko.” Ujar Bapaknya.

“Kalau gitu, Ira beliin ya,” Ira menawarakan diri untuk membelikan Gado-gado buat bapaknya.

Jam dua belas siang sudah, Ira dan bapaknya sudah makan siang. Mereka melihat Soto Ayam mereka sudah mau habis. Dan sebentar lagi mereka akan pulang kerumah. Ira merasa hari ini lumayan lelah membantu Bapaknya. Namun hilang setelah melihat Penjualan Soto Ayam Bapaknya yang laris manis banyak pembeli di hari minggu ini. Masih didalam hati dan pikiran Ira, kenapa orang tuanya tidak memberi ucapan selamatpun padanya, atau sekedar ucapan nasehat sedikit buatnya saat umurnya bertambah. Ira memandangi wajah Bapaknya yang lelah sambil mendorong gerobak Soto Ayam.

Mungkin Bunda dan Bapak sedang mengalami masa sulit. Karena kemarin Ira yang baru saja duduk di kelas Tiga sekolah menengah kejuruan itu, baru saja menghadapi bayaran spp, dan uang daftar ulang. Pastinya semua uang yang dikumpulkan Bapak dan Bunda begitu banyak. Sampai menguras tenaga seperti ini untuk bisa menyekolahkanku, pikir gadis bertubuh kecil ini, masih memandangi wajah Bapaknya yang penuh dengan peluh setelah setengah harian berjualan.

Akhirnya sampailah di rumah, dengan cuaca yang sangat terik dan badan yang bau sinar matahari. Ira dan Bapaknya pulang dengan membawa penghasilan yang lumayan.

“Bapak Sudah pulang ya, sini Bunda bantuin.” Bunda langsung menyambut Bapak dan Ira dengan senyumannya yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

“Alhamdulillah Bunda, hasilnya hari ini lumayan. Dagangan Soto Ayam kita laris dan habis. Hari ini banyak orang pulang mudik di terminal dan ada yang baru transit jadi banyak yang mampir makan Bun.” Seru Bapak dengan gembiranya.

“Syukur Alhamdulillah, Bunda senang mendengarnya. Semoga selalu ramai dan berkah ya Pak.” Ujar Bunda

“Ira shalat dzuhur terus kamu istirahat dulu dikamar ya nak.” Bunda seperti biasa membiarkan Ira menyuruh untuk istirahat tidur siang.

“Ia Bun, makasih. Ira kekamar dulu ya.” Ira kemudian mandi dan sholat dzuhur. Lalu Ira merebahkan tubuhnya kekasur empuk yang terbuat dari kapuk asli. Matanya menerawang keatas. Dalam hati ia berharap ada keajaiban di umurnya yang bertambah satu tahun hari ini. Makin lama matanya makin terlelap tidur dan Ira pun memejamkan mata tertidur dengan pulasnya.

Dua jam setelah itu diruang tamu begitu ramainya, entah apa yang sedang dipersiapkan Bunda, Bapak dan Budi kakaknya Ira juga kakak iparnya Nina. Mereka sibuk sekali. Sementara Ira masih tertidur pulas dikamarnya.

Ternyata Bunda dan Bapaknya dengan tanpa diketahui Ira sudah lama akan merayakan ulang tahunnya Ira. Dengan mengundang secara diam-diam teman-teman sekolah Ira, tetangga Ira dan saudara-saudara dekat. Kak Budi, Kak Nina lah yang merencanakan semua ini, mereka sudah mendesain, mendekor ruangan dengan cepat dan tanpa diketahui oleh Ira, memesan Nasi Tumpeng yang diatas lilinnya angka tujuh belas. Dan mempersiapkan semua acara dengan rapi.

Semua tamu sudah berkumpul sore itu di ruang tamu yang sederhana. Bunda kemudian mengetuk kamar Ira. Tiba-tiba Ira terbangun dengan ketukan pintu kamarnya. Dibukanya, lalu Bundanya masuk kekamar. Bunda kemudian memeluk Ira.

“Selamat ulang tahun ya Nak, puteri Bunda sekarang sudah tujuh belas tahun.” Bunda mengucapkan sesuatu yang sudah dari pagi di harapkan Ira.

“Makasih Bunda, Ira pikir Bunda dan Bapak sudah lupa ulang tahun Ira.” Mata Ira berkaca-kaca terharu dengan ucapan Bundanya itu.

“Bunda dan bapak Punya kejutan buat kamu, tapi kamu tutup mata dulu ya sayang.” Ucap Bunda sambil menggenggam tangan puterinya itu.

Ira dituntun keluar kamar menuju keruang tamu yang sudah dipersiapkan pesta buatnya. Dengan mata tertutup, Ira berjalan pelan. Semua tamu, teman-teamn yang hadir serta kakaknya sudah siap memberi kejutan pada Ira. Sampailah Ira di tengah ruang tamu yang terdengar sunyi ditelinga Ira tapi sebenarnya sudah banyak orang.

“Sekarang matanya di buka ya sayang.” Ujar Bunda sambil memegang bahu puterinya.

Tiba-tiba dengan serempak semua tamu yang hadir memberi ucapan sambil meniupkan terompet-terompet.

“TARRA,,.SELAMAT ULANG TAHUN IRA!!”. Semua nya memberi ucapan ulang tahun kepada Ira dengan rasa senangnya. Ira kaget bukan kepalang, dilihatnya kakaknya dan kakak Iparnya membawa Nasi Tumpeng yang lengkap, dan teman-teman sekolahnya yang datang membawakan kado padanya. Ira seketika menangis bahagia, karena tidak percaya bahwa Bunda dan Bapaknya juga memperhatikannya. Mereka semua menyayanginya dan memberikan kado yang istimewa seperti ini. Kejutan yang indah di hari minggu itu sangat berkesan di hati Ira. Dan acara ulang tahun Ira pun diadakan dengan sangat hikmat dan gembira.

Bunda dan Bapaknya bergantian menciumi kening puterinya itu. Lalu Ira memotong Nasi Tumpengnya dan menyuapinya kepada Bunda, Bapak, kak Budi dan kak Nina. Tak lupa Bunda dan Bapaknya memberikan kado padanya. Saat semua tamu yang berbahagia itu menyuruh membuka kado tersebut, akhirnya Ira membuka kado pemberian kedua orangtuanya itu. Sebuah kotak kecilpun dibuka. Betapa kagetnya Ira melihat isinya, ternyata isinya gelang emas bermata merah itu yang ada di gambar majalahnya dulu. Ira kembali memeluk kedua orangtuanya itu smbil menangis terharu.

“Makasih Bunda, Bapak… kok kalian tahu Ira sangat mennginginkan memiliki gelang emas ini?.” Tanya Ira sambil mengelap airmatanya.

“Bunda dan Bapak sudah lama tahu kamu itu sangat ingin punya gelang emas bermata merah itu, dan selama lima bulan itu kami menyisihkan uang jualan itu untuk bisa membelinya untuk hadiah buat kamu.” Jawab Bunda dengan senyuman.

“Mengenai perayaan pestanya kamu, Kak Budi dan Kak Nina lah yang membantu Bapak dan Bunda untuk merayakan pesta kejutan ini buat kamu Ira. Karena kami tahu, sudah lama kamu tidak merasakannya lagi.” Gumam Bapak dengan senyuman pula.

“Makasih semua, Ira sangat terharu dengan kalian. Ira janji, akan jadi yang terbaik buat kalian dan tidak akan menyusahkan kalian. Maafkan Ira yang tidak bisa memberikan banyak buat Bunda dan Bapak, tapi Ira akan berusaha memberi yang terbaik buat kalian.” Ira menitikkan air mata berkali-kali dengan ucapannya itu. Ia sadar, bahwa Kedua orangtuanya adalah orangtua yang terbaik di dunia. Meskipun ia tidak pernah diberi apapun dari kedua orang tuanya. Ira bahagia karena masih berada ditengah-tengah mereka.

Ulang tahun ke tujuh belas ini adalah hari yang tidak akan dilupakan Ira. Dan Ira semakin mencintai kedua orangtuanya itu, ia berjanji suatu hari nanti ia ingin membanggakan kedua orangtuanya itu dengan prestasinya di sekolah dan ia ingin mengangkat derajat kedua orangtuanya dengan perestasi dibidang akademis. Ya…suatu saat nanti dalam hantinya bergumam.

SEKIAN.
*Oleh: Rosi.Ochiemuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...