Langsung ke konten utama

Cerpen: Peristiwa ganjil malam itu



Peristiwa ganjil malam itu
Oleh : Rosi Ochiemuh.

Sungai Musi yang berada di Kota Palembang, provinsi Sumatera Selatan. Penuh dengan berbagai aktifitas warganya berdagang dan lain-lain. Di pinggiran sungai Musi banyak rumah-rumah apung dinamakan rumah Rakit, terbuat dari bilahan bambu beserta jalanan tapaknya, namun di bantaran sungai Musi itu juga banyak kisah misteri tentang hantu air atau mereka bilang ‘hantu banyu’ dan ‘siluman buaya putih,’ mereka sejenis makhluk jadi-jadian atau siluman yang sudah lama mendiami sungai Musi berabad-abad tahun yang lalu. Antara percaya atau tidak, tapi kenyataanya banyak warga yang sering melihat kejadian dan juga pernah ada korban dari keheningan sungai Musi. Berikut kisahnya.

Disuatu perkampungan rumah rakit di pinggiran sungai Musi yang banyak rawa-rawa. Malam itu begitu dingin, Safrudin sedang menjala mencari ikan dekat rumah rakitnya, walau gelap tetapi disamping kanan kirinya begitu banyak perahu getek yang berlalu lalang. Perahu getek adalah transfortasi masal di sungai Musi, fungsinya untuk mengantar jarak dekat dan jauh bagi para nelayan dan warga bantaran sungai lainnya. Sepertinya malam ini Safrudin, tidak mendapatkan keberuntungan. Pasalnya sejak jam tujuh malam sampai jam Sembilan pun, dia tidak mendapatkan ikan besar sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai perahu geteknya, pergi ke kampung sebelah yang masih asri, jauh dari pemukiman rumah rakit. Ia memutuskan pergi ke situ, karena bujuk rayu temannya Ali, yang katanya ikan disana banyak dan gampang didapat.
Ditariklah tali pengungkit mesin perahu getek, semua fasilitas menjala ikan telah disiapkan. Dan berangkatlah dia bersama temannya Ali, yang sedari tadi ia telepon untuk membantunya menjala ikan. Sesampai ditempat itu, mereka berdua menambatkan perahu getek dengan tali tambang dipinggiran pohon dibibir sungai agar perahu tidak terbawa arus. Safrudin mulai menjala ikan, dilihatnya di seberang perahunya terdapat daratan rawa-rawa dan pepohonan yang sepi. Memang tempat itu sepi karena jauh dari tempat pemukiman rumah rakit, namun di rawa-rawa itu pun banyak ikan-ikan air tawarnya. Ia mulai membentangkan jalanya dan beberapa saat menariknya lagi.
“Alhamdulillah, Ali.. aku dapat ikan enam ekor besar-besar.” Sambil menarik jala yang terisi ikan air tawar.
“Tuh..benerkan, kata ku disini memang banyak ikannya karena airnya tenang.” Ali menyahuti temannya Safrudin. Setelah hampir satu jam mereka ditempat itu. Tiba-tiba mereka melihat bayangan seorang anak kecil duduk ditanah diseberang daratan rawa di pinggir sungai yang sepi dan gelap, tidak jauh dari tempat mereka menambatkan tali perahu getek. Anehnya anak kecil itu rambutnya panjang terurai, dan duduk nongkrong membelakangi mereka.
“Safrudin.. di pojokan pinggir sungai itu coba kau lihat, itu anak siap, seperti sedang buang air besar ya?.” Tanyanya sambil menatapi dari kejauhan sosok bayangan hitam itu.
 “Coba kutengok, ia.. rambutnya panjang sekali, itu orang bukan ya? Apa monyet?’ coba kita dekati sedikit perahu kita kearah daratan itu.” Jawab Safrudin.
“ Kenapa malam-malam begini masih ada anak kecil di pinggir rawa ya?.” Tanya Ali pada Safrudin sambil membenarkan lampu teploknya di perahu.
 “Aku senterin lagi ya, biar jelas itu orang.” Dan Safrudin mencoba melihat jelas anak kecil itu dengan senter besarnya.
Betapa kagetnya mereka, setelah menyenteri ke arah anak kecil itu dan ternyata dia makhluk yang sangat menyeramkan. Tidak seperti manusia umumnya, makhluk itu membalikkan wajahnya ke arah Safrudin dan Ali yang sedang menyenterinya, wajahnya terlihat seram, mata melotot, hidung besar dan pesek, gigi taringnya keluar dan mulutnya berlumuran darah segar. Rambutnya panjang jatuh setanah, dan kakinya yang pendek membengkok kedalam. Lalu di samping tempat berdirinya tergeletak seperti jasad manusia, entah jasad itu masih hidup atau sudah jadi mayat.
 “Itu kan seperti makhluk siluman….Ha…ha…hantu banyu!!…… ayo kita pergi putusin talinya!.”  Teriak Ali sambil menjerit menuyuruh memutuskan tali kekang perahu getek mereka, dan Safrudin  pun bergegas memotong tali kekang perahu getek dengan pisaunya dan langsung menarik tali mesin perahu getek nya dengan cepat. Sekelabat makhluk misterius itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya berbarengan dengan suara seperti orang melompat ke sungai. Safrudin dan Ali memacu mesinnya dengan cepat, mereka takut makhluk tadi mengejar perahu mereka dan membalikkan perahu getek mereka. Perjalanan dari tempat kejadian dan rumah mereka memang agak jauh, dan membuat mereka semakin was-was ditengah perjalanan.
Akhirnya mereka sampai di pemukiman rumah-rumah rakit, di rumah mereka. Seketika itu Ali dan Safrudin pulang ke rumah masing –masing dan belum sempat membenahi peralatan nelayan mereka serta hasil ikan-ikan tangkapan mereka. Dengan wajah yang pucat pasi. Safrudin masuk kedalam lalu ke dapur dan mengambil minum, sambil menarik nafas beberapa kali menenangkan diri. Lalu dia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk.  Isteri dan anak disebelahnya terlihat sudah tertidur pulas karena saat itu sudah menunjukkan jam satu malam.
***

Keesokan harinya Safrudin bercerita tentang kejadian semalam kepada isterinya. “Bang, pantas saja tadi pagi aku keluar,  kutengok berantakan sekali didalam perahu getek mu.”  Isterinya berkata pada suaminya sambil menanak nasi di dapur. Aktifitas di rumah-rumah rakit memang seperti aktifitas di rumah-rumah diatas daratan seperti biasa sama saja. Anaknya Safrudin yang bernama Soleh tiba-tiba masuk dari luar. 
“Assalaamu’alaikum, ibu.. bapak.” Sapa Soleh pada orangtuanya sambil bersalaman menciumi tangan ibu dan bapaknya itu.
“Soleh, kau sudah pulang cepat sekali sekolahnya?.. kau bolos ya?” tanya bapaknya keheranan.
 “Tidak Pak, di sekolah tadi ada yang meninggal dunia, kakak kelas Soleh yang sudah dua hari tidak masuk. Jadi kami dipulangkan dulu, karena para guru mau melayat,” jawab Soleh sambil melepaskan bajunya.
“Memangnya anak yang meninggal dunia itu sakit atau kenapa meninggalnya? Sampai guru-gurumu  melayat bersama?.” Tanya bapaknya sambil melahap buah sukun goreng masakan isterinya.
“ Teman Soleh itu meninggal karena hanyut setelah nyari ikan di sungai dekat rawa  kampung seberang yang sepi itu, sudah satu hari kemarin dicari tidak ketemu, nah.. subuh tadi ada warga yang nemuin mayatnya di pinggir rawa dekat sungai tempatnya mencari ikan, kata warga situ kedua bola matanya hilang dan ubun-ubun dikepalanya bolong, tidak ada isinya..hih seram Pak.” Soleh menjelaskan dengan detail dan sedikit meringis karena ada rasa takut dengan cerita naas itu.
“Hah.. innalillahi Wainna Ilaihi Roojiun.. kasian sekali anak itu meninggalnya. Apa mayatnya dimakan buaya atau ikan buntal menurutmu?.”  Tanya bapaknya lagi pada Soleh.
“Kata teman-teman Soleh, mayatnya mungkin jadi tumbal ‘Hantu Banyu’ Pak, rumahnya kan bukan didekat rawa itu, tapi di perkampungan yang jauh dari tempat kita. Kata temen-temen Soleh, di daratan rawa seberang itu tempatnya angker banyak penunggunya termasuk ‘Hantu Banyu’. Makanya Soleh nggak pernah main kesitu takut, hiiihhh...”
Safrudin mendengarkan cerita anaknya tersebut sambil mengingat peristiwa semalam, apa benar yang dia dan Ali lihat semalam itu makhluk siluman bernama ‘Hantu Banyu’. Dan mayat yang tergeletak itu mungkin saja mayat anak laki-laki, kakak kelasnya Soleh yang meninggal dunia mayatnya ditemukan di bantaran sungai subuh tadi.
Isterinya menyimak pembicaran mereka dengan serius, dan menanggapi cerita yang membuat isterinya itu berpikir dan mulai ikut berbicara.
 “ Bang,.. apa mungkin yang kau lihat itu mayat kakak kelasnya Soleh?, semalam engkau dan Ali bertemu makhluk jadi-jadian itu kan?.”
“Hmmm... mungkin saja ya.… setahu aku, siluman ‘Hantu Banyu’ dan Buaya putih itu cerita tahayul dari turun temurun, dan menurutku tidak ada. Tapi setelah semalam aku melihat dengan mata kepalaku sendiri…..hmmm…aku percaya.” Mata Safrudin membelalak kelangit rumahnya, seolah sedang berfikir. Obrolan satu keluarga itu tiba-tiba terhenti seketika,  saat teriakan seorang laki-laki menghampiri mereka, dari luar pintu rumah.
“Safrudin.. Safrudin.. ada kabar duka.” Ternyata suara itu dari tetangga sebelah rumahnya, Pak Bahar.
“Ada apa pak Bahar, ada kabar duka apa Pak?”.
“Tadi malam Ali kan ikut menjala sama kamu Safrudin, terus pulang ke rumah kan?.” Tanya pak Bahar dengan seriusnya sampai matanya menatap Safrudin dengan tatapan tajam.
“Iya betul,” jawab Safrudin.
“Nah.. aku tengok si Ali malam itu kira-kira jam dua keluar dari rumah lagi berjalan ke arah daratan rawa-rawa kampung seberang sana, kulihat dia tergesa-gesa berjalan. Terus sampai subuh belum pulang, dan tadi jam delapan pagi, ada orang yang menemukan mayat Ali di daratan rawa kampung sebelah dipinggir bibir sungai dalam keadaan mengerikan.” Pak Bahar menjelaskan detail dengan bibir yang gemetar.
“Hah!… yang benar pak Bahar?.” Safrudin terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
 “Iya benar, keadaan mayatnya itu kedua bola matanya hilang dan di ubun-ubun kepalanya bolong. Tubuhnya basah kuyup. Dan sepertinya kakinya terkena cakaran seperti cakaran kuku hewan.” Pak Bahar sekali lagi memberikan pembenaran perkataannya itu. Isteri Safrudin dan anaknya pun ikut menyimak perkataan pak Bahar dengan mata yang tidak berkedip.
Safrudin akhirnya terdiam lemas, dia merasa makhluk semalam itu masih mengincar mereka. Karena memergoki makhluk itu sedang menikmati santapannya seorang mayat semalam. Safrudin berfikir, apa betul makhluk itu yang membunuh Ali?. Mungkin dia dan Ali di ikuti oleh makhluk mengerikan itu. Akhirnya Safrudin berdiri kaku di depan rumahnya. Isteri dan anaknya segera menggoyangkan tubuh Safrudin yang kaku itu.
“Bang…bang… sadar…. Bapak…..sadar Pak,” teriak isteri dan kedua anaknya berbarengan.
Akhirnya Safrudin tersadar, dan mendengarkan teriakan isteri dan anaknya. Pak Bahar bingung dengan Safrudin  sambil melihati wajahnya yang kaku. Akhirnya Safrudin didudukkan di kursi rotan dalam ruangan, mereka juga berada di samping Safrudin menenangkan Safrudin termasuk pak Bahar bingung melihat keadaan Safrudin. Akhirnya, Safrudin menceritakan kejadian malam itu bersama Ali kepada pak Bahar. Pak Bahar, orang tua yang disegani di tempat itu akhirnya mengerti.
“Sudahlah Safrudin, mungkin ini sudah takdirnya Ali. Jangan takut, kamu pasrahkan semua pada Alloh, Aku pernah dengar ceritanya dari bapakku dan makhluk bernama ‘Hantu Banyu’ itu tidak memakan tumbal korban manusia lebih dari dua orang dalam satu tahun. Dari kejadian semalam, makhluk itu sudah memakan dua korban.”  Pak Bahar menenangkan Safrudin.
Isteri  Safrudin mengusap-ngusap punggung suaminya itu, sambil menenangkan. “Terima kasih pak Bahar, mungkin ini peringatan juga bagiku untuk selalu rajin sholat lima waktu dan sering ke masjid daripada menjala ikan, karena aku sudah lama tidak sholat lima waktu dengan benar dan jarang sholat di masjid juga.”

Safrudin menunduk. Suasana pemukiman rumah-rumah rakit di sekitar itu sangat berduka karena kematian  Ali yang secara tiba-tiba dan mengerikan. Dan Safrudin pun tidak lagi berani ke kampung sebelah di daratan rawa-rawa yang tak berpenghuni, ke tempat kemarin dia datangi. Jenazah Ali dimakamkan ke pekuburan terdekat, Safrudin pun kehilangan teman seprofesinya sebagai seorang nelayan. Safrudin menjalani aktifitas menjala ikan di sekitar lingkungan dekat rumahnya saja, dia juga tidak pernah kembali lagi ke tempat tersebut. Ia pun lebih sering sholat jamaah di masjid dan lebih rajin ibadah Shalatnya.
Safrudin tidak akan melupakan peristiwa tersebut, semua anak-anaknya dan anak-anak tetangganya dilarang sama sekali bermain di bantaran kampung sebelah itu dan tidak boleh mandi atau juga berenang di tempat yang bukan di kampung mereka, karena ‘Hantu Banyu’ itu ternyata ada, dan mencari tumbal manusia dari pemukiman luar kampung lain yang bukan asli dari tempat mereka tinggal. Kini Safrudin pun percaya tentang cerita tahayul yang diceritakan turun temurun dari kakek dan ayahnya dahulu, memang selalu jadi misteri bagi warga pemukiman rumah rakit di Sungai Musi. 
Sekian.             

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...