( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)
Mata-mata
hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya.
Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan
daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang
menyusui bayi mereka di kamar.
“Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh,
bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.
“Apa sih, Pak? Daging itu biasa
saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan
teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata
kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip.
Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan
tingkah suaminya.
Yatmo seorang penjual bakso yang terkenal
paling lezat di kota B. Hingga dia membuka dua cabang di kecamatan dan dikelola
oleh adik-adiknya. Lelaki itu sendiri yang membuat olahan daging sapi cincang dan
bumbu-bumbu rahasia menjadi pentol bakso lezat, kemudian dikirimkan menjadi bakso
beku ke kedai cabang.
Mencari daging sapi tanpa tulang tidaklah
sulit bagi Yatmo. Di pasar, dia menjadi pelanggan tetap penjual daging has sapi
dari penjagalan langsung. Sampai sering mendapatkan harga termurah dan terbaik.
Daging sapi berkualitas sedang dan halal. Walaupun saat daging sapi sedang
langka atau terjadi kenaikan harga. Hingga konsumen sangat percaya dengan
baksonya yang berdaging sapi asli dan halal.
Siapa sangka kesuksesan Yatmo
sebagai pedagang bakso di kota B tersebut membuat dia semakin membutuhkan
daging sapi lebih banyak dan murah. Karena semakin lama Yatmo memikirkan
keuntungan yang banyak untuk usaha baksonya. Alternatifnya adalah, dia sering membeli
daging sapi kurban dari seorang penadah yang dia kenal. Mereka mengaku orang yang
layak mendapatkan daging kurban dan menjualnya kembali kepada para penjual
bakso.
Yatmo salah satu pelanggan mereka.
Hingga setiap menjelang hari raya Idul Adha, Yatmo sudah memesan daging sapi
tersebut pada penadahnya yang tidak jelas. Padahal seminggu sebelum menjelang
lebaran haji, harga seekor sapi dan seekor kambing sedang melambung tinggi
untuk dijadikan kurban hari raya Idul Adha. Tapi para penadah itu malah menjual
dengan harga murah kepada yang membutuhkan daging sapi segar.
Panitia kurban kerapkali mendapatkan
data warga yang tidak akurat untuk penerimaan kurban pada warga yang kurang
mampu. Mereka menggunakan data seadanya tanpa mendata ulang kembali data warga
terbaru. Pastinya setiap tahun selalu ada perubahan dalam kehidupan warga di
lingkungan RT, RW dan kecamatan. Siapa tahu yang kemarin terdata sebagai
penerima kurban, tahun depannya sudah tidak menerima. Siapa tahu ada yang
terlewat sebagai penerima kurban. Mereka tidak seteliti pegawai sensus, pun
pegawai sensus tidak seteliti seorang ilmuwan.
Adalagi mungkin, setiap panitia kurban
kebanyakan orang yang tidak paham ilmu agama. Mereka dibutuhkan karena tidak
ada yang mau tahu dengan urusan itu. Hingga orang-orang yang diberi amanah
sebagai panitia kurban merasa telah melakukan jerih payah. Kemudian mereka dan
keluarga punya dalil sendiri, bahwa mereka harus mendapatkan bagian dari daging
kurban tersebut.
Yatmo sangat senang bisa membeli
daging sapi kurban itu untuk stok seminggu kedai baksonya. Keken merasa resah
dengan cara suaminya itu. Dia tahu bahwa perbuatan itu salah dan sering
menasihati suaminya untuk tidak membeli daging kurban dari para penjual yang
tidak jelas hukumnya. Tapi Yatmo berdalih, dia membeli daging kurban itu untuk
membantu meringankan beban ekonomi penjualnya.
Hati Keken tidak bisa berbohong dari
kemewahan hidup yang dirasakan menjadi istri juragan bakso. Pendapatan Yatmo
sudah lebih dari cukup. Bisa membeli kendaraan motor, membangun rumah kecil
mereka menjadi bertingkat dan menyekolahkan anak pertama mereka ke sekolah
terbaik. Itu semua berkat kesuksesan Yatmo sebagai seorang penjual bakso.
Mereka tidak lagi merasa kesulitan dalam hal ekonomi. Hingga kedai bakso itu
akhirnya menjadi bisnis bercabang. Tapi Keken merasa resah setiap kali Yatmo
melakukan hal itu.
Keken berpikir, seharusnya selama
enam tahun bisnis suaminya menjadi besar, seharusnya pun mereka melakukan satu
hal. Berkurban, walau hanya satu ekor kambing. Tapi, Keken merasa mereka belum
pernah melakukan itu. Aqiqah anak-anak mereka masih sanggup dilakukan. Namun,
untuk berkurban, sepertinya Yatmo—suaminya belum tergerak hati. Entah apakah
belum paham soal agama atau belum sanggup melaksanakan.
Belum sanggup? Padahal ekonomi sudah
mapan, pikir Keken. Dia coba berbicara dari hati ke hati untuk hal ini. Namun
Yatmo sepertinya tidak menanggapi serius keinginan istrinya untuk berqurban.
Meski berqurban seekor kambing.
Yatmo ternyata pergi ke rumah penadah
di tempat dia membeli daging sapi.
“Pak! Daging apa yang bapak jual ke
Saya? Kenapa aneh?” tanya Yatmo gusar.
“Daging sapi asli, Mo,” jawab orang itu.
“Kenapa ketika saya iris dagingnya
terlihat aneh? Banyak mata-mata hitam. Ngeri sekali, Pak. Apa itu daging babi?”
lanjut Yatmo lagi.
“Demi Allah! Itu daging sapi asli.
Di potongnya pun baca basmallah, Mo. Itu daging kurban, dapat dari masjid
kemarin,” dijawab orang itu lagi dengan penekanan.
Yatmo geming. Pertanyaan di benaknya
masih terus bermunculan dengan rasa tidak puas. Yatmo kembali ke rumahnya
memastikan apa yang dilihatnya tadi.
Sesampai di rumah dia melihat Keken
mengiris-ngiris kecil daging has sapi itu dan memasukkannya ke blender. Dia
pandangi lagi irisan daging sapi itu. Mata-mata hitam kecil itu masih terlihat
dan kali ini menutupi seluruh warna merah daging. Yatmo spontan berteriak,
“Buang dagingnya, Bu! Buang saja!”
Keken kaget mendengar suaminya berteriak.
“Kenapa?” tanyanya dengan tenang.
“Pokoknya buang daging itu, atau kasih
ke siapa saja. Aku nggak mau pakai daging itu! Daging itu aneh,” sahut Yatmo
bersikeras.
“Ini banyak sekali lho, Pak!” timpal
Keken.
“Pokoknya buang saja!” teriak Yatmo
lagi. Wajahnya semakin pias dan membuat Keken segera mengemas daging itu dalam kantong
plastik.
Keken bersama Yatmo akhirnya memberikan
tiga kantong irisan daging sapi has itu pada Nek Titi—tetangganya janda tua
fakir. Betapa senangnya janda tua itu diberikan daging sapi tiga kantong
plastik. Ketika Nek Titi membuka bungkusan daging tersebut, Yatmo terperangah.
Tidak ada mata-mata hitam kecil pada irisan daging has itu, tidak ada. Daging
sapinya segar sekali.(*)
Cikarang Barat, 07 September 2016.

Komentar
Posting Komentar