Langsung ke konten utama

Sendiri Di Renungan Hati

Sendirian itu bukan karena kau tak punya teman,
Tapi karena kau tak pernah mau membuka tanganmu,
menerima semua yang ada disekitarmu.
Meskipun lelah dahulu berikan jemu,
saat kau berusaha untuk berbaur.
Karena berjuta duri tertancap dikalbu, hingga membuatmu ingin menyendiri.
Menjauhkan dari semua yang mengingatkan masa lalu.
Bukan berarti menutup diri bukan?
Akh! Andai hatimu seperti mentari, atau bintang gemintang.
Andai hatimu sekuat pohon beringin itu,
Andai hatimu setegar batu karang,
Andai hatimu seluas samudera..
Andai hatimu seluas langit...


Kalimat-kalimat itu kurangkai dan dituliskan di status fb. Bukan tanpa alasan, hari itu aku merasakan sendiri. Meski dikelilingi anggota keluarga yang lengkap dan saling berhubungan. Mungkin perasaanku saja, karena tanpa disadari jauh dari anggota keluarga sebenarnya. 

Sedikit mengalami keprihatinan hati, bagaimana aku, suami dan buah hati dimasa depan. Dijalani sajalah semua yang sudah terjadi, anggap ini adalah sebuah pertualangan di dunia dan pegangannya adalah Sang Maha Pencipta. Tanpa kusadari usia sudah mulai memasuki kepala tiga, sebegitu cepatnya diri ini menua. Dan belum banyak semua amal ibadah di usia itu.

Kelalaian diri selalu menghiasi hari-hari, detik demi detik terlewati. Kemana larinya hidayah yang dulu singgah dihati? Saat memutuskan penuh untuk berhijab sesuai perintah-Nya dalam Al-Qur'an. Kesibukan telah merajai hati dan pikiranku sejak menjadi Ibu rumah-tangga. Kompleksnya masalah-masalahku dalam kehidupan.

Terkadang ingin mengeluhkan semua kepada pasangan hidup, tetapi saat kulihat lagi wajahnya yang letih itu. Aku tidak sanggup mengeluh padanya. Mungkin inilah pendewasaan dalam diri, tidak semua masalah isteri harus di keluhkan pada suaminya.

Begitupun dengan suami, dia lebih berat beban dan tanggung jawabnya padaku, anak-anak dan kedua orangtuanya. Guratan di wajahnya sangat membuat aku tak tega untuk membebaninya atau mengeluh sejenak. Setiap manusia punya masalah dan beban hidup masing-masing. Tak pernah lepas do'aku untuk kedua orangtuanya dan aku. Tak lepas do'aku pula untuk kekasih hati dan buah hati tercinta.

Sore ini pun aku masih membutuhkannya, pasangan hidup pilihanku. Dia pun begitu tak bisa lepas dari diri ini, dia membutuhkan aku untuk saling melengkapi kehidupan masing-masing. Sendirian sejenak melepaskan diri dari semua kepenatan, keramaian dan keluarga itu memang diperlukan. Untuk menyiapkan waktu berdua dengan Sang Maha Pencipta, Allah.Swt. Harapan ini, untuk kemaslahatan keluarga kecilku dan masa depan kami dunia & akhirat. Amiin...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...