Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik. “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...
Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cakrawala-Cerita Muda. Minggu, 10 Desember 2023. Entah mulai darimana menceritakan ini. Saat itu bapakku menulis novel dengan membuat satu tokoh bernama Mery. Menulis kisah romantis dibumbui puisi karyanya sampai lupa akan kehidupannya, padaku, juga ibu. Kerap kudapati bapak berbicara sendiri, menyebut nama Mery berkali-kali. “Siapa Mery? Mengapa bapakku menyebut nama itu?” tanyaku saat ibu tidak ada. Bahkan saat di meja makan kami bertiga seperti biasa. Tidak ada yang harus dipermasalahkan dengan kejadian yang kami dengar. Mery adalah tokoh rekaan. Aku sedang menulis novel percintaan yang berakhir tragis, jawabnya setelah aku bertanya terus. Namun, Ibu diam saja dan dia pun sibuk menulis untuk novel terbarunya. Cinta Terakhir Boy yang kisahnya romantis juga, tapi ibu membuat tokohnya bahagia. Sesuai ciri khas ibu, penulis roman yang piawai mengaduk hati pembaca. Bagiku, bapak dan ibu sama-sama...