Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Hujan Batu di Kepala (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran cetak Solopos, dan Solopos.com. Sabtu-Minggu (26-27/8/2023) Pernah dimasukan juga ke dalam buku cetak Kumpulan Cerpen Sesuatu di Kota Kemustahilan. *** Di kepalamu sedang dihujani batu. Sakitnya sampai tidak bisa berkata-kata. Semula kamu tidak percaya bahwa batu itu sedang berjatuhan di kepalamu. Setiap malam kamu merasa batu-batu itu menghujani kepala sampai ambruk, lalu merasakan lagi pelukan hangat ibu yang setia menjaga. Batu-batu itu menghilang sebentar, tapi hujan batu itu datang lagi. **** Malam purnama hari itu tidak terlupakan. Tuhan semakin sayang padamu. Penyakit datang tanpa pandang bulu. Malam pekat itu membuatmu merasakan sesak napas. Batuk memecah sunyi berkali-kali. Tenggorokan seakan dicekik aura malam, sesak yang tidak bisa dijelaskan.  Berkali-kali mengelus kandungan, berharap apa yang kamu rasakan tidak mengganggu bayi dalam rahim. Lia terlihat resah, lalu dia mengambil segelas air hangat untukmu. Begitu saja ...
Postingan terbaru

Oh Mursalina (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pertama kali dimuat di koran cetak Harian Rakyat Sultra, Rubrik Sastra Bahasa dan Budaya. Hari Kamis, 13 Juli 2023. Cerpen ini sebelumnya dimasukkan ke buku cetak kumcer Sesuatu di Kota Kemustahilan.  Semua orang wajahnya muram dan kepala mereka seolah terlihat onak yang menonjol sejajar dengan rambut seperti siksaan yang baru saja dimulai pada Senin pagi di jalanan kota industri daerah Jawa bagian Barat. Tidak dengan Mursalina, dia senang bekerja di kantornya walaupun sebagai administrasi merangkap resepsionis di kantor penyuplai terbesar barang-barang spare part pabrik industri besar. Dia membuka laptop dan menyeduh secangkir cappucino. Sambil duduk manis, dia melakukan pekerjaan dengan baik lalu buka internet di kantor sepuasnya. Sesekali mengintip Facebook, Twitter, Instagram, dan juga berita terkini, kemudian kembali mengerjakan tugas lalu mengantar arsip-arsip yang sudah di-print kepada bosnya di lantai dua untuk ditandatangani. Kepalanya terlihat ber...

Tamparan Cinta (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Cetak Radar Bojonegoro - Grup Jawapos. Minggu, 19 November 2017. Dibukukan cetak di Kumpulan Cerpen Sesuatu di Kota Kemustahilan. Pertunjukan drama sebentar lagi akan dimulai, dari balik tirai itu kekasihku akan segera tampil dengan mempesona. Aku jatuh cinta sejak pertama kali mendengar suara soprannya yang membacakan puisi dan bernyanyi. Lalu lekuk tubuhnya bak gitar spanyol, hingga kuberpikir getaran cinta ini tergetar oleh dawai-dawai yang dia mainkan. Coba pikirkan sekali lagi kenapa kau harus menyukai gadis yang pipinya seperti bakpau itu, suatu kali teman seprofesiku bertanya dengan cara terburu-buru. Kujawab saja, bahwa cinta tidak mengenal fisik. Betapapun aku temukan kejelekan dalam diri idolaku itu seperti aroma kentutnya atau bau keringatnya. Namanya cinta tetaplah cinta. Aku menikmati semua itu dari sang idolaku. Tirai panggung dinaikkan, pertunjukkan baru dimulai dengan sangat elegan. Oh, rupanya kekasihku yang memulai pem...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

Anak Pengarang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cakrawala-Cerita Muda. Minggu, 10 Desember 2023.  Entah mulai darimana menceritakan ini. Saat itu bapakku    menulis novel dengan membuat satu tokoh bernama Mery. Menulis kisah romantis dibumbui puisi karyanya sampai lupa akan kehidupannya, padaku, juga ibu. Kerap kudapati bapak berbicara sendiri, menyebut nama Mery berkali-kali. “Siapa Mery? Mengapa bapakku menyebut nama itu?” tanyaku saat ibu tidak ada. Bahkan saat di meja makan kami bertiga seperti biasa. Tidak ada yang harus dipermasalahkan dengan kejadian yang kami dengar.  Mery adalah tokoh rekaan. Aku sedang menulis novel percintaan yang berakhir tragis, jawabnya setelah aku bertanya terus. Namun, Ibu diam saja dan dia pun sibuk menulis untuk novel terbarunya. Cinta Terakhir Boy yang kisahnya romantis juga, tapi ibu membuat tokohnya bahagia. Sesuai ciri khas ibu, penulis roman yang piawai mengaduk hati pembaca. Bagiku, bapak dan ibu sama-sama...

Romansa Dungu ( Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cerita Muda-Cakrawala. Minggu, 25 Juni 2023. Adakah yang masih percaya bahwa di zaman secanggih ini masih ada makhluk paling idealisme. Seorang pemuda bernama Asmawi. Orang ini menurut saya, pemuda yang punya ketidakwarasan soal cinta. Begitu setianya dia pada cinta pertamanya hingga jelang remaja. Cinta itu selalu ada pada gadis bernama Yulia. Wajah Asmawi setengah kegantengannya mirip aktor Fedi Nuril, dan setengahnya lagi mirip komedian Tukul Arwana. Kira-kira seperti itulah membayangkan wajah Asmawi. Namun, saya tidak mau pusing memaparkan rupa Asmawi, karena yang pusing adalah kelakuannya. Sejak kecil Asmawi menyukai Yulia yang anak guru ngaji dan buruh listrik. Ibu dan bapak Yulia sedikit terpandang di perkampungan kami. Mereka berdua sering dijadikan figur teladan yang dikagumi oleh tetangga sekitar karena keaktifan suami-istri itu dalam kegiatan sosial di masyarakat, khususnya lingkungan sekitar kami.  Mun...

Apa Kabar, Semesta Jiwamu?

Sesekali bisakah aku memeluk diriku dengan baik, tanpa membutuhkan tubuh siapapun?  Selama ini, memikirkannya saja sudah buat aku bahagia. Tentu, karena dua tahun belakangan ini aku merasa situasi tidak baik-baik saja walau ucapanku pada tiap orang aku baik-baik saja.  Entah pertemanan di dunia maya, selalu membuat aku merasa tidak ada yang tulus meski postingan mereka tampak mulia dan tebar kebajikan. Contoh pertemanan di dunia maya yang tak berkesinambungan dan kamuflase adalah : Akun sosial media yang punya pertemanan 2000 ~ 5000 akun berbeda. Mungkin hanya 1 ~ 10 akun yang benar-benar menganggap teman seolah di dunia nyata. Hanya 5% saja dari 1000% yang benar-benar peduli, tulus, dan apa adanya. Selebihnya, akun-akun itu hanya butuh pencapaian popularitas, pengakuan, dan sebagai akun untuk mencapai obsesi demi bisa terus pamer.  Aku sadar, di dunia nyata pun sering menemui orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan saja saat berhubungan denganku. Entah itu hubu...