Cerpen ini pernah dimuat di Koran Cetak Radar Bojonegoro - Grup Jawapos. Minggu, 19 November 2017. Dibukukan cetak di Kumpulan Cerpen Sesuatu di Kota Kemustahilan. Pertunjukan drama sebentar lagi akan dimulai, dari balik tirai itu kekasihku akan segera tampil dengan mempesona. Aku jatuh cinta sejak pertama kali mendengar suara soprannya yang membacakan puisi dan bernyanyi. Lalu lekuk tubuhnya bak gitar spanyol, hingga kuberpikir getaran cinta ini tergetar oleh dawai-dawai yang dia mainkan. Coba pikirkan sekali lagi kenapa kau harus menyukai gadis yang pipinya seperti bakpau itu, suatu kali teman seprofesiku bertanya dengan cara terburu-buru. Kujawab saja, bahwa cinta tidak mengenal fisik. Betapapun aku temukan kejelekan dalam diri idolaku itu seperti aroma kentutnya atau bau keringatnya. Namanya cinta tetaplah cinta. Aku menikmati semua itu dari sang idolaku. Tirai panggung dinaikkan, pertunjukkan baru dimulai dengan sangat elegan. Oh, rupanya kekasihku yang memulai pem...
Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik. “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...