Langsung ke konten utama

Postingan

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...
Postingan terbaru

Anak Pengarang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cakrawala-Cerita Muda. Minggu, 10 Desember 2023.  Entah mulai darimana menceritakan ini. Saat itu bapakku    menulis novel dengan membuat satu tokoh bernama Mery. Menulis kisah romantis dibumbui puisi karyanya sampai lupa akan kehidupannya, padaku, juga ibu. Kerap kudapati bapak berbicara sendiri, menyebut nama Mery berkali-kali. “Siapa Mery? Mengapa bapakku menyebut nama itu?” tanyaku saat ibu tidak ada. Bahkan saat di meja makan kami bertiga seperti biasa. Tidak ada yang harus dipermasalahkan dengan kejadian yang kami dengar.  Mery adalah tokoh rekaan. Aku sedang menulis novel percintaan yang berakhir tragis, jawabnya setelah aku bertanya terus. Namun, Ibu diam saja dan dia pun sibuk menulis untuk novel terbarunya. Cinta Terakhir Boy yang kisahnya romantis juga, tapi ibu membuat tokohnya bahagia. Sesuai ciri khas ibu, penulis roman yang piawai mengaduk hati pembaca. Bagiku, bapak dan ibu sama-sama...

Romansa Dungu ( Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cerita Muda-Cakrawala. Minggu, 25 Juni 2023. Adakah yang masih percaya bahwa di zaman secanggih ini masih ada makhluk paling idealisme. Seorang pemuda bernama Asmawi. Orang ini menurut saya, pemuda yang punya ketidakwarasan soal cinta. Begitu setianya dia pada cinta pertamanya hingga jelang remaja. Cinta itu selalu ada pada gadis bernama Yulia. Wajah Asmawi setengah kegantengannya mirip aktor Fedi Nuril, dan setengahnya lagi mirip komedian Tukul Arwana. Kira-kira seperti itulah membayangkan wajah Asmawi. Namun, saya tidak mau pusing memaparkan rupa Asmawi, karena yang pusing adalah kelakuannya. Sejak kecil Asmawi menyukai Yulia yang anak guru ngaji dan buruh listrik. Ibu dan bapak Yulia sedikit terpandang di perkampungan kami. Mereka berdua sering dijadikan figur teladan yang dikagumi oleh tetangga sekitar karena keaktifan suami-istri itu dalam kegiatan sosial di masyarakat, khususnya lingkungan sekitar kami.  Mun...

Apa Kabar, Semesta Jiwamu?

Sesekali bisakah aku memeluk diriku dengan baik, tanpa membutuhkan tubuh siapapun?  Selama ini, memikirkannya saja sudah buat aku bahagia. Tentu, karena dua tahun belakangan ini aku merasa situasi tidak baik-baik saja walau ucapanku pada tiap orang aku baik-baik saja.  Entah pertemanan di dunia maya, selalu membuat aku merasa tidak ada yang tulus meski postingan mereka tampak mulia dan tebar kebajikan. Contoh pertemanan di dunia maya yang tak berkesinambungan dan kamuflase adalah : Akun sosial media yang punya pertemanan 2000 ~ 5000 akun berbeda. Mungkin hanya 1 ~ 10 akun yang benar-benar menganggap teman seolah di dunia nyata. Hanya 5% saja dari 1000% yang benar-benar peduli, tulus, dan apa adanya. Selebihnya, akun-akun itu hanya butuh pencapaian popularitas, pengakuan, dan sebagai akun untuk mencapai obsesi demi bisa terus pamer.  Aku sadar, di dunia nyata pun sering menemui orang-orang yang hanya ingin mengambil keuntungan saja saat berhubungan denganku. Entah itu hubu...

Setelah Hujan Mereda (Cerpen)

(Cerpen ini dimuat pertama kali di koran Radar Mojokerto, grup JawaPos, Minggu, 20 Februari 2022) *** Hujan mengguyur sejak Subuh. Aku benci hujan, seakan dipenjara saat hujan deras. Tak bisa ke mana-mana, tak bisa mendekati Maya, si cantik incaranku sejak dulu. Aku berdua saja dengan perempuan tua ini, bosan sekali. Perempuan tua ini berulang-ulang cerita padaku tentang anak kesayangannya yang telah sukses hidup di luar negeri. Juga bercerita tentang mendiang suaminya yang PNS. Sampai akan menutup cerita, dia lalu sesenggukan di kursi goyang. Aku tak tega meninggalkannya seperti itu.      Meski sekarang dia hidup sendiri, perempuan tua ini masih punya uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Memberiku makan tiga kali sehari, hingga aku bisa semontok dan setampan ini.      Terdengar jejak langkah kakinya mendekatiku. Dia memakai longdress, wajah riasan tipis, rambut putih sebahu dikuncir belakang, aroma parfum tercium dari jauh. Dia hempaskan p...

Jangan Putus Asa dalam Menjalani Hidup.

Pada suatu waktu seseorang pernah berada pada titik yang sangat sulit. Pastinya akan merasa terpojok di dunia ini, ketika tidak ada satu pun yang peduli dengan keadaan yang alami saat itu. Aku pun pernah, bahkan bisa dibilang berkali-kali. Setiap orang selalu ingin bisa hidup lebih baik, layak, bahkan lebih sukses dari kehidupannya terdahulu. Namun, sekeras apapun sebuah perjuangan dan sebanyak apapun hasil yang didapat, kita akan berakhir pada satu titik. Yakni titik nol.  Mengapa begitu? Karena kesempurnaan manusia tidak bisa ditentukan oleh pemikiran manusia itu sendiri. Kesempurnaan dan kesuksesan hanya bisa dicapai oleh pemikiran manusia sedapatnya yang dia mampu. Di luar itu, kekuasaan serta kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.  Prediksi manusia dengan kekuasaan-Nya masih sangat dangkal. Misalkan, manusia yang sukses ialah yang memiliki segalanya yang ada di dunia ini dan manusia yang merdeka dari perbudakan, yang bebas. Entah memiliki segalanya di dunia ini yang baga...

Menulislah untuk Berbicara Banyak Hal.

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain, entah di mana.  Kutipan;  Seno Gumira Adji Darma. Alasan saya menulis, salah satunya ada dalam kutipan kalimat tersebut. Kutipan Penulis Besar, Pak Seno Gumiara Adji Darma yang saya ambil dari sembarang internet. Menulis adalah suatu cara untuk bicara. Benar, jika untuk bicara langsung dengan orang lain atau orang banyak tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Termasuk saya, salah satu cara untuk menyampaikan perihal pemikiran, imajenasi dan perasaan, saya beranikan dengan tulisan. Menulis cara paling luas dan lebih dekat untuk menyampaikan sesuatu kepada orang yang ingin kita sentuh. Perorangan, kelompok atau seluruh umat manusia di dunia ini. Saya suka menulis karena tidak pandai berbicara dengan orang lain. Melalui tulisan isi dari pemikiran saya, penyampaian  tentang keresahan yang terekam di otak bisa dituangkan ke dalam kertas atau media lai...