Kau tahu bagaimana
menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa
adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang
menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan.
Putri Kaca.
Kakek
jarang mengajak aku bercerita
sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku
dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu
kagum pada kecantikan dua kakak
sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama
Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua.
Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam,
rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling
pandai di sekolahnya.
Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya
langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti
Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari bapak. Mereka berdua tinggal
di rumah nenek dan kakek bersama-sama di rumah besar itu. Keduanya selalu disayang
Nenek. Aku terkadang merasa iri pada mereka. Saudara sepupu tertua yang masih
saja diperhatikan.
Aku senang jika datang ke rumah Nenek dan Kakek saat tidak
ada Ibu dan Bapak Besar. Yakni kedua orangtua Mary dan Elis. Terkadang aku
pura-pura meminta bantuan Mary untuk tugas sekolah, kemudian memuji Elis karena
kerjaan rumahnya rapi. Sejak kecil, Mary, Elis dan aku memang dibiasakan untuk
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel lantai, merapikan ruang
tamu, kamar tidur dan membersihkan kamar mandi. Nenek kami sangat cerewet dan super pembersih.
Setiap debu yang menempel di buffet, kaca, dan benda-benda harus dibersihkan dengan kemoceng setiap tiga kali
dalam satu hari.
Suatu kali aku pernah melihat Mary jalan berdua dengan anak
laki-laki yang lebih tinggi dari dirinya di samping sekolah yayasan kompleks. Dia terkejut dan
langsung menarik tanganku lalu membisikkan sesuatu di telingaku.
“Jangan
pernah bilang sama siapa pun, aku jalan dengan cowok.” Matanya melotot dan
alisnya tertarik ke atas melengkung. Hingga aku terbata-bata mengangguk. Saat
itu Mary masih berseragam putih biru.
Belakangan diketahui setelah aku berseragam putih biru,
ternyata anak laki-laki itu telah berubah jadi pemuda. Tubuhnya lebih tinggi
dan berisi. Wajahnya tampan dan sayangnya dia terlihat sombong. Namanya Alek dan
rumahnya di belakang gedung sekolah tempat kami bersekolah.
Mary terang-terangan membawa dia ke rumah Nenek dan Kakek. Mary bilang bahwa Alek
adalah pacar barunya. Aku heran
Ibu Besar dan Bapak Besar mengizinkan Mary berpacaran meski sebenarnya Kakek dan Nenek sangat tidak setuju.
Aku sangat mengagumi Mary sejak aku kecil hingga sampai Mary
berubah menjadi gadis yang cantik, seperti foto model dan artis. Aku masih
mengaguminya. Mary sejak dulu baik padaku dan menganggapku sebagai adik perempuannya sendiri.
Tapi sayangnya dia sangat ketus dan suaranya cempreng ketika dia marah.
Tidak banyak yang aku ketahui tentang Elis. Padahal dia
pintar memasak dan membuat camilan. Nenek begitu bangga ketika menceritakan
Elis dan Mary di hadapanku seolah-olah hanya mereka cucu perempuannya. Dan
memang dari fisik,
aku tidak sama dengan kedua sepupuku itu. Jauh sekali perbandingannya.
“Mona,
maukah kau membantu aku?” tiba-tiba
Mary meminta bantuan ketika aku datang ke kamarnya. Waktu itu aku baru saja
duduk di bangku SMP kelas tiga. Dan dia sudah kelas tiga SMA yang sebentar lagi
tamat sekolah.
Aku memandanginya sangat dekat. Wajahnya pucat, matanya
sembab dan yang kulihat seperti bukan Mary yang selalu cantik. Pipinya terlihat
tirus.
“Kakak
sakit?”
tanyaku. Dia mengangguk. "Kakak mau minta tolong apa padaku?”
“Tolong
berikan surat ini pada Alek, ya.” Aku mengangguk. Meski sebenarnya aku
sangat malas sekali mampir menemui Alek pulang sekolah besok.
“Kakak
sakit apa?”"
tanyaku sambil menatap wajahnya. Kedua matanya yang berkaca-kaca sejak tadi,
langsung pecah jadi air mata.
Dia tak menjawab pertanyaanku.
"Rasanya aku ingin pergi dari rumah ini," ucapnya
tiba-tiba dan aku
terkejut, kalimat itu meluncur lancar dari bibirnya.
“Kenapa,
Kak? Kakak kenapa bicara begitu?”
“Tidak,
aku sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Untungnya ujian akhir sudah selesai.
Jika tidak, bagaimana dengan…,” Dia
berhenti melanjutkan perkataannya. Entah kenapa dengan Mary saat itu. Terlihat
dia sangat sedih. Apakah dia punya masalah? Pikirku saat itu. Saat dia meminta
tolong padaku, aku sangat senang tapi juga sedih melihat keadaannya. Sejak tadi
dia di ranjangnya memakai selimut sambil memeluk guling.
Saat aku tanya keadaan Mary pada Ibu Besar, dia bilang bahwa
Mary sakit demam dan masuk angin. Aku tidak menyadari jika sakit yang didera
Mary adalah awal tercorengnya aib keluarga kami. Nenek dan Kakek.
Seminggu setelah itu, kabar menghebohkan datang dari
tetangga rumah Nenek bahwa Mary hilang. Mary pergi dari rumah. Saat aku
sampai di rumah Nenek, Kakek sedang mengoceh tak beraturan, mirip menggerutu. Tak biasanya
kulihat Kakekku seperti itu.
Paman, Bibi, juga Ibu Besar yang membicarakan Mary. Lalu bapakku, tiba-tiba
saja berbicara keras pada Ibu Besar yang tak lain adalah kakaknya. Bapak marah,
dan menyalahkan satu persatu orang-orang di rumah itu atas hilangnya Mary dan pergaulannya.
Bapak Besar, ayahnya Mary tidak tampak di rumah. Aku hanya khawatir pada Nenek.
Dia pasti merasa sesak mendengar keributan di rumah. Kulihat Nenek menangis dalam
kamarnya. Saat aku dekati
dia dengan pelan. Dia langsung menarik tanganku lantas memeluk tubuhku erat.
“Mona.
Mary ‘minggat’.
Aku bukan nenek yang baik. Kamu bisa jadi anak yang baik, Mona? Harapan nenek
hanya kamu,”
ucapnya lirih.
Getaran kesedihan Nenek meresap dalam dadaku. Ada apa dengan
Mary? pikirku.
Satu,
dua, tiga, hingga hari kelima Mary pulang. Tapi bukan kegembiraan yang tertangkap dari wajah-wajah
orang di
rumah besar itu.
Hanya Nenek yang ramah. Mary datang bersama Alek. Di ruang tamu yang tertutup
itu aku mengintip dari balik gorden pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Bapak, Paman, Ibu Besar, Bapak Besar, Bibi, Kakek dan juga Elis, ada di sana.
Ibuku menyusul. Mereka
semua berada di ruang tamu.
Ruang tamu yang besar itu seperti senyap meski mereka semua
berkumpul di sana. Rumah ini terasa seperti
ruang pengadilan yang sering aku lihat di film-film jaman dulu.
Mary dan Alek bagai tersangka. Pertama, Bapak Besar yang wajahnya memerah itu
mulai bicara.
“Alek!
Kamu bawa ke mana Mary?!
Keparat, Bajingan! Kamu apakan anakku!” suara Bapak Besar terdengar kasar dan menyeramkan, bapakku langsung menahan
Bapak Besar untuk tidak gegabah memukul Alek yang sedari tadi tertunduk lesu,
terlihat menangis dan hampir tak bisa mengangkat wajahnya di hadapan keluarga
besar kami.
Kakek duduk di kursi rotannya sambil menghisap rokok kretek.
Memandangi Mary dan Alek. “Saya
mau tanya sama kamu, Mary. Kenapa kamu pergi diam-diam dari rumah. Bersama pemuda ini? Kamu paham jika ada seorang
gadis yang pergi berdua dengan laki-laki bukan muhrim. Bukan saja kamu
mengundang dosa dan melempar kotoran ke muka kami, kamu juga membuat kami
terlihat kotor di mata orang-orang sekompleks ini.”
Mary masih geming mendengarkan ucapan
kakek kami yang tenang itu, meski sebetulnya hatinya resah, dan marah. Berkecamuk
jadi satu seperti yang terlihat pada wajah Bapak besar dan lainnya. Hanya Nenek,
Kakek, ibu dan bapakku yang tidak terlalu terlihat emosi.
“Mary, Alek, jawablah,” suara ibunya
Mary terdengar pelan gemetar. Aku tahu Ibu Besar sedang menahan emosi juga dan
tidak mau kasar terhadap anak perempuannya itu. Anak yang selalu dia banggakan.
Suasana hening, hanya jam dinding besar
itu yang masih terdengar berdetak. Hingga bermenit-menit terlewati, aku
mendengar Alek buka suara dengan tersendat-sendat, wajahnya memerah, lalu
terisak, dan tangis dia pecah setelah semua tahu kebenarannya. Dia langsung
bersujud di kaki ibunya Mary memohon maaf. Meski aku waktu itu tidak mengerti
kenapa mereka bisa begitu. Apa salahnya jika mereka saling mencintai dan
terjadilah hal yang di luar kesadaran? Saat itu aku belum mengerti. Aku hanya
tahu kisah film yang aku tonton di bioskop, Romeo and Juliet yang dimainkan
aktor hollywood; Leonardo Dicaprio.
Semua orang di ruangan itu berteriak,
memandang jijik pada Alek yang seolah dia sangat berdosa besar. Dan Mary hanya
termangu, meski air matanya terus membasahi pipi perlahan. Elis tampak murung,
dia juga mungkin berpikiran yang sama. Bapak Besar berkali-kali memukul sofa
sebagai pelampiasan emosinya. Bapak dan ibuku menenangkan Kakek. Sedangkan Ibu
Besar masih menundukkan wajahnya seperti sedang menangisi sebuah kematian orang
terdekatnya.
Bibi dan Paman-Paman lainnya lalu
mengajak Alek berbicara untuk ketegasan tentang kelanjutan semua yang terlah
terjadi. Seperti meminta pertanggungjawaban.
Mary, aku tidak menyangka kisah
cintanya akan membuat semua keluarga kecewa. Dia kukagumi serupa peri, Putri
Kaca yang pantas memakai sepatu kaca dan bersanding dengan pangeran impian,
tinggal di istana yang indah dan bahagia. Tapi dalam pandangan kekanakanku saat
itu, Mary telah retak. Dia Putri Kaca yang retak-retak karena terbentur sesuatu
yang keras dan menyakitkan.
Sebulan kemudian, pernikahan Mary
dilangsungkan dengan meriah. Aku bahagia, dan merasa senang melihat dia
semringah di pesta pernikahan yang digelar dengan dadakan. Mary—cucu—Nenek yang
pertama kali menikah. Usianya sangat belia saat itu. Mary tiga kali ganti busana pengantin. Pertama memakai adat jawa dengan riasan kebaya hitam emasnya dan riasan
yang sangat cantik. Kedua dia memakai pakaian adat Palembang, merah emas yang
bermahkota dua tingkat di kepalanya. Busananya persis seperti penari tanggai
yang sering diundang di acara-acara besar. Ketiga, dia memakai busana sleyer,
gaun putih mengembang pada bagian roknya. Busana itu dulu sering aku idamkan
untuk jadi pakaian pengantinku kelak jika aku menikah nanti.
Aku melihat ada yang aneh pada tubuh
Mery. Pinggangnya sedikit lebar dan perutnya seperti menonjol. Dia terlihat
agak gemuk meski terlihat menawan dengan pakaian pengantinnya dan cantik dengan
riasan wajahnya.
“Apakah aku cantik, Mona?” tanyanya
saat aku akan berfoto bersamanya.
“Kakak sangat cantik. Bajunya bagus dan
seperti raja dan ratu,” jawabku, dia tersipu. Baru kali ini wajah Mary terihat
cerah dan merona setelah kemarin-kemarin sebelum dia menghilang dan setelah dia
kembali pulang.
Setelah kejadian itu, bulan-bulan
berikutnya aku baru mengerti apa yang terjadi pada Mary selepas dia masuk rumah
sakit bersalin. Dia melahirkan anak laki-laki yang imut dan kulitnya seputih
kapas dan pipinya merah merona. Mary hamil sebelum menikah. Bersyukurnya, Bapak
Besar dan Ibu Besar sudah bisa menerima apa yang terjadi. Termasuk Kakek dan
Nenekku.
“Biarlah orang berkata apa tentang aku,
Mona. Sekarang aku lega bisa melahirkan bayi ini yang hampir saja gugur karena
emosi aku dan Alek juga orang-orang di rumah,” pungkas Mary. Aku mengangguk,
masih mengagumi kecantikannya yang tidak luntur meski telah melahirkan bayi. Tapi
aku meringis ketika memikirkan apa yang Mary lanjutkan selepas ini?(*-)
Cikarang Barat, 30-November-2017
(Cerita Bersambung)
Cikarang Barat, 30-November-2017
(Cerita Bersambung)
Komentar
Posting Komentar