Langsung ke konten utama

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)



Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan.



Putri Kaca.

Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya.
Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari bapak. Mereka berdua tinggal di rumah nenek dan kakek bersama-sama di rumah besar itu. Keduanya selalu disayang Nenek. Aku terkadang merasa iri pada mereka. Saudara sepupu tertua yang masih saja diperhatikan.
Aku senang jika datang ke rumah Nenek dan Kakek saat tidak ada Ibu dan Bapak Besar. Yakni kedua orangtua Mary dan Elis. Terkadang aku pura-pura meminta bantuan Mary untuk tugas sekolah, kemudian memuji Elis karena kerjaan rumahnya rapi. Sejak kecil, Mary, Elis dan aku memang dibiasakan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel lantai, merapikan ruang tamu, kamar tidur dan membersihkan kamar mandi. Nenek kami sangat cerewet dan super pembersih. Setiap debu yang menempel di buffet, kaca, dan benda-benda harus dibersihkan dengan kemoceng setiap tiga kali dalam satu hari.
Suatu kali aku pernah melihat Mary jalan berdua dengan anak laki-laki yang lebih tinggi dari dirinya di samping sekolah yayasan kompleks. Dia terkejut dan langsung menarik tanganku lalu membisikkan sesuatu di telingaku.
Jangan pernah bilang sama siapa pun, aku jalan dengan cowok.Matanya melotot dan alisnya tertarik ke atas melengkung. Hingga aku terbata-bata mengangguk. Saat itu Mary masih berseragam putih biru.
Belakangan diketahui setelah aku berseragam putih biru, ternyata anak laki-laki itu telah berubah jadi pemuda. Tubuhnya lebih tinggi dan berisi. Wajahnya tampan dan sayangnya dia terlihat sombong. Namanya Alek dan rumahnya di belakang gedung sekolah tempat kami bersekolah. Mary terang-terangan membawa dia ke rumah Nenek dan Kakek. Mary bilang bahwa Alek adalah pacar barunya. Aku heran Ibu Besar dan Bapak Besar mengizinkan Mary berpacaran meski sebenarnya Kakek dan Nenek sangat tidak setuju.
Aku sangat mengagumi Mary sejak aku kecil hingga sampai Mary berubah menjadi gadis yang cantik, seperti foto model dan artis. Aku masih mengaguminya. Mary sejak dulu baik padaku dan menganggapku sebagai adik perempuannya sendiri. Tapi sayangnya dia sangat ketus dan suaranya cempreng ketika dia marah.
Tidak banyak yang aku ketahui tentang Elis. Padahal dia pintar memasak dan membuat camilan. Nenek begitu bangga ketika menceritakan Elis dan Mary di hadapanku seolah-olah hanya mereka cucu perempuannya. Dan memang dari fisik, aku tidak sama dengan kedua sepupuku itu. Jauh sekali perbandingannya.
Mona, maukah kau membantu aku?tiba-tiba Mary meminta bantuan ketika aku datang ke kamarnya. Waktu itu aku baru saja duduk di bangku SMP kelas tiga. Dan dia sudah kelas tiga SMA yang sebentar lagi tamat sekolah.
Aku memandanginya sangat dekat. Wajahnya pucat, matanya sembab dan yang kulihat seperti bukan Mary yang selalu cantik. Pipinya terlihat tirus.
Kakak sakit? tanyaku. Dia mengangguk. "Kakak mau minta tolong apa padaku?
Tolong berikan surat ini pada Alek, ya. Aku mengangguk. Meski sebenarnya aku sangat malas sekali mampir menemui Alek pulang sekolah besok.
Kakak sakit apa?" tanyaku sambil menatap wajahnya. Kedua matanya yang berkaca-kaca sejak tadi, langsung pecah jadi air mata. Dia tak menjawab pertanyaanku.
"Rasanya aku ingin pergi dari rumah ini," ucapnya tiba-tiba dan aku terkejut, kalimat itu meluncur lancar dari bibirnya.
Kenapa, Kak? Kakak kenapa bicara begitu?
Tidak, aku sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Untungnya ujian akhir sudah selesai. Jika tidak, bagaimana dengan…,” Dia berhenti melanjutkan perkataannya. Entah kenapa dengan Mary saat itu. Terlihat dia sangat sedih. Apakah dia punya masalah? Pikirku saat itu. Saat dia meminta tolong padaku, aku sangat senang tapi juga sedih melihat keadaannya. Sejak tadi dia di ranjangnya memakai selimut sambil memeluk guling.
Saat aku tanya keadaan Mary pada Ibu Besar, dia bilang bahwa Mary sakit demam dan masuk angin. Aku tidak menyadari jika sakit yang didera Mary adalah awal tercorengnya aib keluarga kami. Nenek dan Kakek.
Seminggu setelah itu, kabar menghebohkan datang dari tetangga rumah Nenek bahwa Mary hilang. Mary pergi dari rumah. Saat aku sampai di rumah Nenek, Kakek sedang mengoceh tak beraturan, mirip menggerutu. Tak biasanya kulihat Kakekku seperti itu. Paman, Bibi, juga Ibu Besar yang membicarakan Mary. Lalu bapakku, tiba-tiba saja berbicara keras pada Ibu Besar yang tak lain adalah kakaknya. Bapak marah, dan menyalahkan satu persatu orang-orang di rumah itu atas hilangnya Mary dan pergaulannya.
Bapak Besar, ayahnya Mary tidak tampak di rumah. Aku hanya khawatir pada Nenek. Dia pasti merasa sesak mendengar keributan di rumah. Kulihat Nenek menangis dalam kamarnya. Saat aku dekati dia dengan pelan. Dia langsung menarik tanganku lantas memeluk tubuhku erat.
Mona. Mary ‘minggat’. Aku bukan nenek yang baik. Kamu bisa jadi anak yang baik, Mona? Harapan nenek hanya kamu, ucapnya lirih.
Getaran kesedihan Nenek meresap dalam dadaku. Ada apa dengan Mary? pikirku.
Satu, dua, tiga, hingga hari kelima Mary pulang. Tapi bukan kegembiraan yang tertangkap dari wajah-wajah orang di rumah besar itu. Hanya Nenek yang ramah. Mary datang bersama Alek. Di ruang tamu yang tertutup itu aku mengintip dari balik gorden pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga. Bapak, Paman, Ibu Besar, Bapak Besar, Bibi, Kakek dan juga Elis, ada di sana. Ibuku menyusul. Mereka semua berada di ruang tamu.
Ruang tamu yang besar itu seperti senyap meski mereka semua berkumpul di sana. Rumah ini terasa seperti ruang pengadilan yang sering aku lihat di film-film jaman dulu. Mary dan Alek bagai tersangka. Pertama, Bapak Besar yang wajahnya memerah itu mulai bicara.
Alek! Kamu bawa ke mana Mary?! Keparat, Bajingan! Kamu apakan anakku!” suara Bapak Besar terdengar kasar dan menyeramkan, bapakku langsung menahan Bapak Besar untuk tidak gegabah memukul Alek yang sedari tadi tertunduk lesu, terlihat menangis dan hampir tak bisa mengangkat wajahnya di hadapan keluarga besar kami.
Kakek duduk di kursi rotannya sambil menghisap rokok kretek. Memandangi Mary dan Alek. Saya mau tanya sama kamu, Mary. Kenapa kamu pergi diam-diam dari rumah. Bersama pemuda ini? Kamu paham jika ada seorang gadis yang pergi berdua dengan laki-laki bukan muhrim. Bukan saja kamu mengundang dosa dan melempar kotoran ke muka kami, kamu juga membuat kami terlihat kotor di mata orang-orang sekompleks ini.”
Mary masih geming mendengarkan ucapan kakek kami yang tenang itu, meski sebetulnya hatinya resah, dan marah. Berkecamuk jadi satu seperti yang terlihat pada wajah Bapak besar dan lainnya. Hanya Nenek, Kakek, ibu dan bapakku yang tidak terlalu terlihat emosi.
“Mary, Alek, jawablah,” suara ibunya Mary terdengar pelan gemetar. Aku tahu Ibu Besar sedang menahan emosi juga dan tidak mau kasar terhadap anak perempuannya itu. Anak yang selalu dia banggakan.
Suasana hening, hanya jam dinding besar itu yang masih terdengar berdetak. Hingga bermenit-menit terlewati, aku mendengar Alek buka suara dengan tersendat-sendat, wajahnya memerah, lalu terisak, dan tangis dia pecah setelah semua tahu kebenarannya. Dia langsung bersujud di kaki ibunya Mary memohon maaf. Meski aku waktu itu tidak mengerti kenapa mereka bisa begitu. Apa salahnya jika mereka saling mencintai dan terjadilah hal yang di luar kesadaran? Saat itu aku belum mengerti. Aku hanya tahu kisah film yang aku tonton di bioskop, Romeo and Juliet yang dimainkan aktor hollywood; Leonardo Dicaprio.
Semua orang di ruangan itu berteriak, memandang jijik pada Alek yang seolah dia sangat berdosa besar. Dan Mary hanya termangu, meski air matanya terus membasahi pipi perlahan. Elis tampak murung, dia juga mungkin berpikiran yang sama. Bapak Besar berkali-kali memukul sofa sebagai pelampiasan emosinya. Bapak dan ibuku menenangkan Kakek. Sedangkan Ibu Besar masih menundukkan wajahnya seperti sedang menangisi sebuah kematian orang terdekatnya.
Bibi dan Paman-Paman lainnya lalu mengajak Alek berbicara untuk ketegasan tentang kelanjutan semua yang terlah terjadi. Seperti meminta pertanggungjawaban.
Mary, aku tidak menyangka kisah cintanya akan membuat semua keluarga kecewa. Dia kukagumi serupa peri, Putri Kaca yang pantas memakai sepatu kaca dan bersanding dengan pangeran impian, tinggal di istana yang indah dan bahagia. Tapi dalam pandangan kekanakanku saat itu, Mary telah retak. Dia Putri Kaca yang retak-retak karena terbentur sesuatu yang keras dan menyakitkan.
Sebulan kemudian, pernikahan Mary dilangsungkan dengan meriah. Aku bahagia, dan merasa senang melihat dia semringah di pesta pernikahan yang digelar dengan dadakan. Mary—cucu—Nenek yang pertama kali menikah. Usianya sangat belia saat itu. Mary tiga kali ganti busana pengantin. Pertama memakai adat jawa dengan riasan kebaya hitam emasnya dan riasan yang sangat cantik. Kedua dia memakai pakaian adat Palembang, merah emas yang bermahkota dua tingkat di kepalanya. Busananya persis seperti penari tanggai yang sering diundang di acara-acara besar. Ketiga, dia memakai busana sleyer, gaun putih mengembang pada bagian roknya. Busana itu dulu sering aku idamkan untuk jadi pakaian pengantinku kelak jika aku menikah nanti.
Aku melihat ada yang aneh pada tubuh Mery. Pinggangnya sedikit lebar dan perutnya seperti menonjol. Dia terlihat agak gemuk meski terlihat menawan dengan pakaian pengantinnya dan cantik dengan riasan wajahnya.
“Apakah aku cantik, Mona?” tanyanya saat aku akan berfoto bersamanya.
“Kakak sangat cantik. Bajunya bagus dan seperti raja dan ratu,” jawabku, dia tersipu. Baru kali ini wajah Mary terihat cerah dan merona setelah kemarin-kemarin sebelum dia menghilang dan setelah dia kembali pulang.
Setelah kejadian itu, bulan-bulan berikutnya aku baru mengerti apa yang terjadi pada Mary selepas dia masuk rumah sakit bersalin. Dia melahirkan anak laki-laki yang imut dan kulitnya seputih kapas dan pipinya merah merona. Mary hamil sebelum menikah. Bersyukurnya, Bapak Besar dan Ibu Besar sudah bisa menerima apa yang terjadi. Termasuk Kakek dan Nenekku.
“Biarlah orang berkata apa tentang aku, Mona. Sekarang aku lega bisa melahirkan bayi ini yang hampir saja gugur karena emosi aku dan Alek juga orang-orang di rumah,” pungkas Mary. Aku mengangguk, masih mengagumi kecantikannya yang tidak luntur meski telah melahirkan bayi. Tapi aku meringis ketika memikirkan apa yang Mary lanjutkan selepas ini?(*-) 

Cikarang Barat, 30-November-2017

(Cerita Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.