Langsung ke konten utama

Kegigihan Pedagang Keliling.



Oleh:Rosi.Ochiemuh.

Ketika di siang hari, panas menyengat di depan teras rumah. Di hari minggu itu dunia terasa terik. Aku dan anakku Sabila duduk-duduk di bale (Tempat duduk santai dari kayu atau bambu) di teras rumah. Lewatlah pedagang keliling perabotan dengan memakai gerobak bersepeda. Dia menawarkan padaku beberapa barang jualannya yang tak lain adalah perabotan rumah tangga dari plastik, dan berbagai pakaian dalam wanita serta anak-anak.

Aku membeli perabotan rumah tangga dari plastik berupa sikat kamar mandi, dan pakaian dalam anakku setelah terjadinya tawar menawar. Berlalulah si pedagang keliling perabot, lewat lagi pedagang keliling es buah dan es dawet, tapi kami tak membelinya. Kemudian dilewati lagi pedagang keliling makanan ringan, mulai dari baklor (bakwan telor), siomay, bakso, pempek dan gorengan ayam. Itu baru disiang harinya pedagang keliling sering lewat di depan rumah kami.

Kalau di pagi harinya pedagang keliling sayur-mayur, tukang jual ikan-ikan cuek, tukang jualan ayam mentah, tukang kerupuk, tukang kue-kue, tukang jamu gendong, tukang kasur kapuk, tukang sol sepatu, tukang jahit keliling dan juga pedagang keliling mainan anak-anak. Dan dimalam harinya masih ada saja pedagang keliling yang melewati permukiman penduduk di tempat kami. Seperti siomay yang pakai sepeda, bakso gerobak atau sepeda, jagung rebus, sate kikil yang dipikul, minuman skoteng dan lain-lain.

Pemukiman di tempat tinggalku memang semua berpenduduk perkampungan asli dan rantauan, bukan pemukiman perumahan atau pertokoan. Hampir setiap pedagang keliling apapun melewati dan singgah sebentar di pemukiman kami di setiap hari. Mereka pedagang keliling tersebut ada yang tinggalnya di perkampungan sebelah, adalagi dari tempat jauh. Sebagian pedagang keliling yang melewati rutin di pemukiman kami adalah mereka yang sudah dikenal.

Aku sering iseng bertanya pada si pedagang keliling, dengan si tukang jamu gendong.

 “Mbak sudah lama jualan keliling kampung sini?”

“Iya Mbak, sudah hampir sepuluh tahun. Dari saya masih gadis sampai anak saya sudah sekolah SD,” ujanya menjelaskan

“Memang Mbak tak mau cari pekerjaan lain, selain ini?”

“Tadinya saya merantau ikut kerja dengan kakak di Pabrik, tapi habis kontrak, ada yang mengajak untuk berjualan seperti ini, tapi harus kuat jalan. Karena saya cuma tamatan SMP, jadi saya jualan gini aja.”

“Oh… Kalau dengan penghasilannya gimana Mbak, lumayan nggak dari kerja pabrik?” Tanyaku lagi mirip seperti wartawan. Bertanya terus.

“Kalau untuk gaji bulanan di pabrik sih masih jauh. Tapi lumayan tiap hari mencukupi untuk keperluan saya dan keluarga.” Aku mendengarkan penjelasan si Mbak jualan jamu gendong itu.

“Tapi lebih enak jualan seperti ini, kalau lagi banyak pendapatannya lebih dari harian di Pabrik. Bisa istirahat kapan saja, dan tidak tertekan sama Bos. Yang penting harus kuat jalan dan kuat mental aja Mbak.”

Mendengar penuturan si pedagang keliling jamu gendong itu, aku merasa terharu. Setiap pedagang keliling punya cara untuk bisa mendapatkan pembeli. Mereka akan berusaha memasuki perkampungan yang belum di singgahi, agar barang dagangan mereka laku terjual. Terkadang harus rela berpanas-panasan, atau juga kehujanan jika menjajakan barang dagangannya di kampung atau juga pemukiman penduduk.

Adalagi yang menyedihkan dari pedagang keliling, saat dagangannya yang ia bawa sangat banyak dan berat. Tapi tak satu orang pun yang membeli di hari ia menajajakan dagangannya, mesti dibawa lagi ke tempatnya. Biasanya itu pedagang keliling jualan bak, baskom, ember besar, lemari, kasur busa, dan batu ulekan bumbu. Mertuaku sering memberi nasehat, kalau ada pedangang keliling yang menjajakan barang berat, lalu kita ingin membelinya, sebisa mungkin jangan di tawar. Kasihan jika melihat mereka membawa jualan keliling yang berat bahannya, apalagi jika pedagangnya sudah tua renta.

Melihat para pedagang keliling itu aku berpikir, masih banyak orang-orang di Indonesia ini yang gigih mencari nafkah. Buktinya, banyak sekali pedagang keliling berkeliaran di sekitar kita. Pedagang keliling bukan seperti pedagang kaki lima yang selalu mangkal di pinggir jalan. Pedagang keliling mencari peruntungan di sekitar pemukiman penduduk, di sekolahan, di pabrik dan tempat yang menurut mereka banyak yang mencari dagangan mereka. Mereka harus melewati beberapa jalanan yang tak biasa mereka lewati, siap menerima apapun yang dikatakan orang saat menjajakan dagangannya.

Rela berpanas-panasan, kena hujan dan kena berbagai asap kendaraan, debu dan sindiran orang tentang dagangan mereka. Siap mental juga, jika seharian dagangan mereka tak laku, jika dagangan laku sedikit dan terpaksa kembali menyetor dagangannya ke pengepul atau jua siap rugi dan membuat yang baru. Yah, begitulah para pedagang keliling.
Tapi jika mereka mendapatkan lebih banyak dari hari-hari biasa, pendapatan mereka jika di omzet perbulan bisa mengalahkan pendapatan gaji karyawan perbulannya. Hebat kan mereka!

Kegigihan mereka mencari nafkah dibuktikan dengan berkeliling menjajakan barang dagangan dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu, dari kampung ke kampung pemukiman penduduk. Rezeki yang telah Allah.swt limpahkan pada kita, mereka para pedagang keliling telah lebih baik dari kita. Mereka tidak menunggu rezeki, tapi menyambut dan meraih rezeki dengan berjalan kaki, bersepeda, bermotor butur, dan juga dengan gerobak rombeng mereka. Dengan menjajakan barang dagangan, berharap rezeki itu datang dari barang dagangan yang di jajakan.

Rezeki dan Jodoh itu seharusnya di raih, bukan di tunggu. Banyak contoh kehidupan di sekitar kita yang bisa di ambil. Alhamdulillah dari pedagang keliling yang sering melewati rumah kami, aku merasa mendapatkan pelajaran hidup dari mereka. Mereka pedagang keliling saja sejak subuh sampai petang, setiap hari mengejar rezeki. Tidak pernah menunggu rezeki itu turun dari langit. Mereka mengajarkan kita untuk tidak malas menjemput rezeki. Mereka pedagang keliling yang kebanyakan dari orang-orang berpendidikan rendah, dari orang-orang yang sudah tua masih sanggup mencari nafkah dengan berdagang keliling. Bagaimana dengan kita yang sudah mendapatkan pendidikan layak, masih muda dan aktif tapi malasnya mencari rezeki apalagi meraih cita-cita?.. Agaknya aku harus introspeksi diri tentang hal ini. Bagaimana dengan Anda yang membaca tulisanku?.
(LippoCikarang,15-September-2014/Rosi.Ochiemuh)

Komentar

  1. kesuksesan sebuah bisnis memang hanya milik mereka yang gigih dalam berjuang untuk mengembangkan usahanya. terimakasih atas artikelnya yang menginspirasi Kak..
    Software Kasir Android Terbaik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...