Tanyakan pada hatimu saat menatap cermin dan bayanganmu sendiri:
*Siapa dirimu?
*Apa tujuan hidupmu?
*Pernahkah engkau menyakiti hati orang lain seumur hidupmu?
*Pernahkah merugikan dan menyusahkan orang lain dalam hidup?
*Apa yang sudah dicapai?
*Sudah lunaskah hutang-hutang materi, hutang pada Tuhan dan hutang janji?
*Sudah banyakkah perbuatan baikmu pada kedua orangtua dan keluarga?
*Berapa usiamu? Dan apakah yang sudah banyak di perbuat? Kebaikankah atau keburukankah?...
Ketika kita memandang pantulan cermin itu adalah diri sendiri. Tidak banyak orang yang merenungi kata-kata diatas, selain hanya memandang wajah dan penampilan luar. Sudah enakkan wajahku dipandang orang? sudah pantaskah penamilan pakaianku saat keluar? Hanya dari fisik semata.
Sedikit sekali manusia bercermin dan mempertanyakan sesuatu tentang kalbunya saat bercermin. Atau ada manusia yang menangis, saat menatap dirinya dicermin karena melihat semua dosa-dosanya melumuri wajah, tubuh hingga tak berbentuk lagi fisik manusia sempurna.
Kalimat-kalimat itu adalah sebuah pemikiranku. Kesadaran nurani itu terkadang kembali menelisik dan bertanya tentang sesuatu yang sensitif. Itu adalah hati dan jiwa, yang sudah terbiasa bahwa manusia selalu senang dan ingin mendapatkan pujian. Pujian adalah sesuatu makanan jiwa yang tidak sehat, karena bisa berefek menjadikan manusia keras hati dan keras kepala. Selalu merasa benar dengan apa yang sudah di lakukannya. Tidak menjadi empati terhadap lingkungan sekitar.
Cermin sering menjadi patokan kita untuk mengukur diri dengan fisik. Melihat bayangan diri dengan mengukur dari penglihatan visual, sebagai pembanding antara buruk dan baiknya anggota tubuh yang terlihat. Di ibaratkan dengan melihat kebaikan dan keburukan dengan kacamata telanjang, bukan dengan kacamata rohani. Hingga banyak manusia yang memberi sudut pandang yang dangkal, dan melihat orang lain dari sebuah kemasan bukan isinya. Itulah manusia yang selalu senang melihat keindahan dan kemewahan.
Adakalanya membiarkan hati dan jiwa itu menilah sesuatu bukan dari kemasan, tetapi isinya yang berkualitas. Begitu pun memberikan sudut pandang pada orang lain. Agar tidak menjadi orang yang suka menyepelakan, dan orang yang selalu menghargai orang lain. Cermin menampakkan sesuatu yang tampak dillihat, tapi hati, isi kepala dan jiwa tidak. Maka menjadi cermin bagi diri sendiri terkadang perlu untuk mengintrospeksi diri seutuhnya, agar saat keluar dan berhubungan sosial dengan lainnya tak menjadikan diri ini merugikan yang lain. Dari mulut, mata, telinga, kaki dan tangan dalam beraktifitas.
(Lippo Cikarang,12-september-2014. Rosi.Ochiemuh).
*Siapa dirimu?
*Apa tujuan hidupmu?
*Pernahkah engkau menyakiti hati orang lain seumur hidupmu?
*Pernahkah merugikan dan menyusahkan orang lain dalam hidup?
*Apa yang sudah dicapai?
*Sudah lunaskah hutang-hutang materi, hutang pada Tuhan dan hutang janji?
*Sudah banyakkah perbuatan baikmu pada kedua orangtua dan keluarga?
*Berapa usiamu? Dan apakah yang sudah banyak di perbuat? Kebaikankah atau keburukankah?...
Ketika kita memandang pantulan cermin itu adalah diri sendiri. Tidak banyak orang yang merenungi kata-kata diatas, selain hanya memandang wajah dan penampilan luar. Sudah enakkan wajahku dipandang orang? sudah pantaskah penamilan pakaianku saat keluar? Hanya dari fisik semata.
Sedikit sekali manusia bercermin dan mempertanyakan sesuatu tentang kalbunya saat bercermin. Atau ada manusia yang menangis, saat menatap dirinya dicermin karena melihat semua dosa-dosanya melumuri wajah, tubuh hingga tak berbentuk lagi fisik manusia sempurna.
Kalimat-kalimat itu adalah sebuah pemikiranku. Kesadaran nurani itu terkadang kembali menelisik dan bertanya tentang sesuatu yang sensitif. Itu adalah hati dan jiwa, yang sudah terbiasa bahwa manusia selalu senang dan ingin mendapatkan pujian. Pujian adalah sesuatu makanan jiwa yang tidak sehat, karena bisa berefek menjadikan manusia keras hati dan keras kepala. Selalu merasa benar dengan apa yang sudah di lakukannya. Tidak menjadi empati terhadap lingkungan sekitar.
Cermin sering menjadi patokan kita untuk mengukur diri dengan fisik. Melihat bayangan diri dengan mengukur dari penglihatan visual, sebagai pembanding antara buruk dan baiknya anggota tubuh yang terlihat. Di ibaratkan dengan melihat kebaikan dan keburukan dengan kacamata telanjang, bukan dengan kacamata rohani. Hingga banyak manusia yang memberi sudut pandang yang dangkal, dan melihat orang lain dari sebuah kemasan bukan isinya. Itulah manusia yang selalu senang melihat keindahan dan kemewahan.
Adakalanya membiarkan hati dan jiwa itu menilah sesuatu bukan dari kemasan, tetapi isinya yang berkualitas. Begitu pun memberikan sudut pandang pada orang lain. Agar tidak menjadi orang yang suka menyepelakan, dan orang yang selalu menghargai orang lain. Cermin menampakkan sesuatu yang tampak dillihat, tapi hati, isi kepala dan jiwa tidak. Maka menjadi cermin bagi diri sendiri terkadang perlu untuk mengintrospeksi diri seutuhnya, agar saat keluar dan berhubungan sosial dengan lainnya tak menjadikan diri ini merugikan yang lain. Dari mulut, mata, telinga, kaki dan tangan dalam beraktifitas.
(Lippo Cikarang,12-september-2014. Rosi.Ochiemuh).
Komentar
Posting Komentar