Ang, panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang.
Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.
“Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan.
***
Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lainnya. Sudah bisa membantu bawakan kayu bakar satu pikulan untuk neneknya, dan menjinjing sekarung sayuran yang akan dijual neneknya di pasar. Ang, nama kecil yang disematkan si nenek karena tidak tega memanggil nama aslinya.
Apalah arti sebuah nama, kata neneknya. Jika nama yang sudah bagus saja tidak bisa jadi tameng supaya keburukan tidak datang padanya. Seperti ibunya Arang yang usai melahirkan gantung diri. Anisa yang terkenal polos dan berbudi luhur itu melakukan bunuh diri. Suatu perbuatan terburuk dalam agama. Ruh dan jasadnya tidak akan diterima bumi.
Masih teringat dibenak Arang, percakapan yang buat dia terganggu sampai sudah sebesar ini. Percakapan kakek dan neneknya sepuluh tahun lalu sebelum kakek wafat dihajar penyakit batuk kronis sebulan penuh.
“Pak, seandainya anak itu kau beri nama, Ahmad, Ali, Amir, atau Abidin. Asalkan jangan diberi nama Arang. Pasti dia tidak jadi ledekan teman-temannya.”
“Nama itu sesuai! Atas apa yang dilakukan ibunya!”
“Ya Alloh, Pak. Masih belum juga kau maafkan Anisa. Puteri semata wayang kita. Hanya Ang—putra Anisa satu-satunya garis keturunan kita.”
“Aku masih tidak sudi! Karena kasihan saja, aku masih mengurus anak itu. Coba lihat fisiknya, apakah dia mirip dengan kita? Mata dan kulitnya persis orang luar sana!”
“Teganya, dirimu Pak! Aku akan tetap menyayangi anak dan cucuku. Ang satu-satunya harapanku!”
Ucapan terakhir neneknya itu sungguh pilu. Apa yang telah dilakukan ibunya, sampai kakek begitu benci padanya? Dia pun selalu bertanya-tanya. Apalagi sejak dia lahir, belum pernah tahu siapa ayah kandungnya, di mana ayah kandungnya. Saat dia bertanya tentang itu, kakeknya akan berteriak.
“Jangan banyak tanya. Masih bagus kalau kamu, kami besarkan!”
Sedangkan jika dia bertanya pada neneknya. Nenek akan menangis panjang sampai setengah hari tak bicara, yang buat dirinya kesal jika tidak diajak bicara oleh siapa pun.
Dia pernah disukai anak gadis di tempat tinggalnya. Anak lurah, dan usianya waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun. Sedangkan anak lurah itu lebih tua lima tahun dari usianya. Ketika berita itu tersiar oleh warga kampung, saudara lelaki gadis itu menemuinya dan langsung memberikan bogem-mentah pada muka, perut, dada dan punggungnya. Nenek menangis terus mendapati Arang babak belur.
Sejak itu Arang berusaha menjauhi perempuan yang menyukainya. Baik terang-terangan maupun diam-diam. Meski begitu, dia tetaplah laki-laki normal. Menyukai lawan jenis dengan cara diam-diam pula, kepada Juriah anak tetangganya yang selalu mengantarkan lauk dan sayur matang ke rumah neneknya. Wajahnya biasa-biasa saja, tidak cantik dan tidak pula jelek.
Juriah anak piatu. Ibunya meninggal dunia saat melahirkan adik bungsunya. Namun, Juriah telanjur dibilang perawan tua oleh warga sekitar. Karena usia yang sudah menginjak kepala tiga. Jarak usia Arang dan Juriah terpaut sepuluh tahun, tapi Arang mengagumi Juriah dari sisi manapun.
Perempuan itu satu-satunya perempuan yang baik, ramah dan polos. Meski sudah dewasa. Juriah anak yang berbakti pada bapaknya. Adiknya diurusnya sejak bayi. Juriah mungkin terlalu sibuk mengurus bapak dan adik laki-lakinya yang kini sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hingga lupa menikah, lupa jika dia juga perlu membahagiakan dirinya. Arang tetap mengagumi Juriah.
Arang selalu datang ke rumah Juriah sekadar meminjam cangkul, arit, sambil menanyakan kabar bapaknya. Dan mengajak adiknya main gundu di halaman rumah.
Suatu hari hal terburuk yang ditakuti Arang datang. Neneknya sakit keras, batuk-batuk yang selalu datang tiap malam. Badan berkeringat dingin, dan muntah karena batuk. Neneknya terkena penyakit tua. Arang mengurus neneknya dengan tekun. Seperti saat neneknya dulu mengurus kakeknya yang sakit. Dia ingat, dan tak pernah menyimpan dendam pada kakeknya. Dia juga mengurus pemakaman kakeknya dibantu warga setempat.
Sejak saat itu, setiap hari Arang mengurus neneknya, dan segala keperluan neneknya. Sampai libur berdagang sayuran, dan tidak memancing selama beberapa hari. Uangnya pun makin menipis. Juriah dan bapaknya datang ke rumah. Saat itu Arang merasa gugup sekaligus bahagia. Dua rasa berlawanan jadi satu di hatinya. Juriah membawakan makanan hangat, sup ayam tanpa minyak dan merica untuk Arang dan neneknya.
“Bagaimana perkembangan nenekmu, Ang?” tanya bapaknya Juriah
“Semakin memburuk, Pak,” jawabnya lesu. Namun, dihatinya sedikit terhibur dengan kehadiran Juriah.
“Ang, kemarilah, nenekmu sepertinya ingin mengucapkan sesuatu,” ujar Juriah tiba-tiba.
Pemuda itu mendapati wajah neneknya mengarah pada lemari pakaian sambil menunjuk sebisanya. Berucap lirih, “Ang … Kamu ambil buku harian di dalam lemari itu. Buku itu milik ibumu. Kamu ingin tahu, kan, siapa ibu dan ayahmu sebenarnya.”
Arang mengangguk lalu menoleh pada Juriah dan bapaknya. Tanpa diduga, bapak Juriah pamit pulang karena ada keperluan mendadak tentang pekerjaannya di ladang. Juriah diminta untuk menemani Arang. Pemuda itu merasa bungah campur khawatir jika kesedihan yang berbaur bahagia akan membuat jiwanya kalap.
Dia lalu membuka lemari yang ditunjuk oleh neneknya dan mencari buku harian itu. Buku itu ketemu. Buku tulis kecil bersampul beludru warna merah. Tertulis di depan sampulnya, Anisa. Mengertilah, dia bahwa pasti suatu saat neneknya akan menjawab tentang asal-usulnya dan mengapa namanya Arang.
“Ang, jika kamu sudah membaca buku harian milik ibumu, apakah kamu masih menyayangi nenek? Apakah kamu tidak benci kakek dan nenek?” ucap neneknya lirih. Suaranya serak bercampur dahak yang mengganjal di tenggorokan.
Arang mengangguk. Bagaimanapun pahit kenyataan yang dia terima selepas baca buku harian itu, maka dia harus berlapang dada. Kenyataannya bahwa nenek dan kakeknyalah yang merawat dan membesarkannya sejak kecil.
Perempuan di dekatnya pun ikut terharu, terlihat kedua mata yang berkaca-kaca. Juriah berusaha menghibur Arang dengan senyuman dan berkata yang memenangkannya.
“Kamu tetaplah pemuda yang baik, Ang. Jangan pernah berubah selepas mengetahui jati dirimu sebenarnya. Jujur, sejak dulu aku sangat menyukaimu. Tapi, aku malu karena usia kita berbeda jauh.”
Gayung bersambut, perasaannya terhadap Juriah rupanya terbalas tanpa diminta. Arang tersenyum dengan bahagia meski saat itu dia sedang membuka buku harian milik ibunya. Satu per satu halaman dia baca dengan saksama. Juriah masih menemani neneknya di peraduan. Sampai selesai semua dibacanya hingga di akhir halaman buku itu selesai. Ditutupnya buku itu. Lalu Arang menarik napas panjang.
Bulir-bulir air matanya jatuh satu per satu. Tahulah apa yang terjadi dengan pemuda itu, pikir Juriah dan sang nenek.
“Terima kasih banyak, Nenek sudah mengurusku sejak bayi sampai sekarang ini. Terima kasih banyak, Nek,” ucap Arang tiba-tiba seseunggukan menciumi punggung tangan neneknya berkali-kali. Neneknya ikut heran dengan kejadian itu. Apa yang dirasakan Arang setelah membaca buku harian ibunya sendiri?
“Jujurlah pada Nenek, apa yang kamu rasakan. Mengapa harus seperti ini?”
“Jika aku jujur dengan perasaanku, apakah waktu bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan kita semua, Nek. Termasuk mendiang ibu dan aku?”
Neneknya terdiam. Juriah menahan ibanya, diam-diam dia menangis dan mengagumi Arang.
“Sekarang aku jujur dalam hal lain, Nek. Bahwa aku sudah lama jatuh cinta pada seorang gadis. Yang usianya lebih tua dariku. Dia sekarang ada di hadapanmu, Nek. Dan aku ingin menikahinya. Apakah aku dibolehkan, Nek?” Seketika rona wajah Juriah merah jambu, dan neneknya terperangah.
“Menikahlah dengan pilihanmu. Sebentar lagi aku akan pergi. Jangan lupa, kamu harus meminta dia pada bapaknya terlebih dahulu, Arang. Apa pun dirimu, Nenek selalu sayang padamu.”
Kedua mata mereka semua basah. Pemuda itu sejak dulu memiliki rasa yang peka. Dia selalu bisa merasakan apa yang dirasakan neneknya.
Arang menggenggam tangan Juriah, gadis yang lebih tua darinya itu. Dia merasa, hidupnya harus jelas dan berubah. Wajahnya yang tampan rupawan tak akan bisa membuat panggilan namanya jadi indah. Namanya tetap Arang. Lahir dari kepedihan yang tersiksa dari seorang perempuan yang diperkosa oleh majikannya di Negara Taiwan.
Air matanya setiap kali akan menitis dan berubah jadi gumpalan sesak. Manakala dia mengingat tulisan dalam buku harian ibunya. Bahwa dia ada bukan atas dasar pernikahan dan cinta tapi dari kebencian, dan penderitaan seorang perempuan. Namun, Arang sudah jadi sosok yang perasa dan penuh cinta pada perempuan termasuk neneknya sejak lahir.
Malam yang sunyi, setelah semua rahasia telah dihapuskan dari masa lalu seseorang. Arang merasakan detik-detik kepergian orang terpenting dalam hidupnya. Neneknya mengembuskan napas terakhirnya setelah azan Isya berkumandang.(*)
Rawamaju – Cikarang Barat, Juli 2019
Komentar
Posting Komentar