Langsung ke konten utama

Merindu Suasana Hijau.

Sekarang ini sudah sangat jarang menemukan rumah yang pekarangannya di penuhi berbagai tanaman. Seperti pepohonan buah, pepohonan rindang, dan tanaman bunga. Apalagi di sekitar tempat tinggalku. Dulu ketika aku kecil, sering bermain melewati beberapa rumah tetangga yang masih punya pekarangan luas. Pagarpun ditumbuhi dengan tanaman hias dan tanaman hijau. Seperti pohon bunga sepatu, tanaman daun mangkok, tanaman daun beluntas, daun suji, daun pandan, tanaman daun kenikir yang bunganya sangat menarik dan lain-lain.

Selain sebagai tanaman hias yang menghiasi pekarangan rumah, juga berfungsi sebagai penghalang debu dari jalanan. Zat O2 atau Oksigen dari tumbuh-tumbuhan hijau yang mereka keluarkan di pagi hari, baik untuk pernapasan manusia dan hewan. Juga banyak sekali manfaat yang terdapat dalam tanaman-tanaman hias, dan tanaman hijau lainnya. Seperti daun kumis kucing, selain bunganya cantik, daunnya bisa juga untuk racikan obat herbal pada penyakit kencing manis dan kencing batu. Daun mangkokan, bukan sekedar penghias pagar pekarangan, tetapi daunnya berkhasiat untuk obat-obatan dan juga bisa dijadikan campuran lalapan dalam makanan. Tanaman daun suji, yang daunnya bisa untuk obat juga pewarna makanan alami.

Pepohonan buah yang sering kutemui dulu di rumah-rumah tetangga saat kecil yakni, pohon jambu air, pohon belimbing, pohon mangga dan pohon pepaya. Pemandangan pepohonan buah yang rindang itu menyedapkan mata, apalagi jika buahnya sudah banyak terlihat, membuat mata ingin memetiknya dan memakannya. Belum lagi fungsi dedaunan-dedaunan yang ada pada pohon-pohon tersebut. Bisa dipastikan setiap pagi akan merasakan kesejukan, disiang harinya tidak terlalu merasa panas pada suhu udara sekitar rumah. Sejak kecil, aku paling senang dengan rumah yang ada pekarangannya, yang dipenuhi berbagai pepohonan dan tanaman.

Jika bertandang ke rumah saudara mak-ku yang ada berbagai tanaman tumbuhan hijau, aku sangat senang dan merasa betah berlama-lama bermain. Karena terasa sejuk, dan memanjakan mata untuk selalu memandanginya. Meski rumah bapakku sendiri tidak ada tanaman apapun, karena tidak ada lagi lahan kosong dan jalanannya sudah tertutup semen. Kalau disiang hari serasa panas sekali suhu udara di rumah.

Sejak kecil aku lebih suka memandangi pepohonan rimbun, dengan dedaunan yang hijau dari pada memandangi gedung-gedung yang mewah. Bagiku, pepohonan yang rimbun dan hijau itu adalah pemandangan yang langka. Karena jauh dari pedesaaan, meskipun aku dari kampung halaman, kampungku bukanlah desa. Tetapi kota metropolitan yang hampir sama dengan ibukota Jakarta. Bedanya, Jakarta itu lebih ruwet dengan kemacetan, sedangkan kota kelahiranku tidak terlalu ramai dengan kendaraan.

Mungkin saat ini banyak orang yang enggan menanam pepohonan dan tanaman dipekarangan mereka. Tapi masih ada yang peduli dengan lingkungan sekitar rumah mereka, dengan menanami pepohonan, buah, bunga dan tumbuhan hijau lainnya. Untuk saat ini, kebanyakan lahan pekarangan dan lahan kosong di kota-kota besar sudah sangat langka. Adapun pekarangan rumah orang semua di-pakai untuk membangun ruang lagi, jalanannya pun di-semen, tidak membiarkan lahan tanah sebagai jalan. Sehingga ruang untuk serapan air hujan, tanaman hijau, pepohonan dan tanaman lainnya tidak ada tempat lagi.

Terkadang rindu akan suasana hijau di perkotaan, ada juga taman-taman kota yang dibuat oleh pemkot daerah tetapi banyak yang tidak terawat dan kotor. Sehingga malas untuk mengunjunginya, belum lagi lokasinya ber-tempat di-sekitar jalan raya umum, udara kotor oleh asap kendaraan dan debu dari jalan raya menganggu. Jadinya untuk menikmati pemandangan hijau, banyak warga yang pergi berkunjung ke rekreasi taman-taman. Seperti di kota Bogor dan Bandung. Yang terdapat rekreasi taman buah, taman bunga, dan taman matahari yang menyajikan pemandangan hijau nan asri. Juga tempat-tempat rekreasi hijau lainnya di perkampungan jawa-barat.

Warga kota yang setiap harinya beraktifitas, berjibaku dengan kemacetan bersentuhan dengan asap-asap kendaraan, debu, bisingnya suara kendaraan di jalan raya, dan panasnya matahari ketika menjelang siang. Pastinya membutuhkan relaksasi alam hijau nan asri dan tenang. Merindukan suara-suara burung berkicau, gemericik suara air dari aliran kali dan sungai, pemandangan elok rerimbunan pohon hijau, hamparan sawah hijau yang indah, serta pemandangan tanaman bunga dan buah yang berwarna-warni.

Naluri manusia untuk selalu kembali ke alam, karena manusia menjalani kehidupan bersama alam semesta. Meskipun manusia menyukai teknologi dan modernitas, tetapi tidak bisa lepas dan jauh dari alam itu sendiri. Semua saling berhubungan dan membutuhkan alam nan hijau seperti tumbuh-tumbuhan. Wajar saja, jika para pemimpin perusahaan atau Bos yang ada di ibukota dan kota besar lainnya, saat musim liburan tiba mereka berbondong-bondong pergi ke puncak, di Bandung, atau ke daerah lain seperti ke Bali yang masih banyak pemandangan hijau nan asri. Menjauh sebentar dari kepenatan di kota, hanya untuk merefleksikan pikiran dan tubuh dari rutinitas yang penat setiap harinya.

Untuk lebih menghemat biaya sekedar refresing mata, ada baik jika memiliki rumah yang masih ada pekarangan luar, di depan maupun dibelakang. Ditanami saja dengan berbagai tumbuhan hijau, tanaman bunga, buah dan pepohonan rindang. Supaya rumah tidak terlalu gersang, jika pun tidak ada lagi pekarangan atau lahan kosong untuk ditanami, bisa juga menanam tumbuhan hijau lainnya dengan media pot, ember plastik, atau pipa paralon yang tidak terpakai, seperti yang sedang trend di majalah tananam hias.

Hingga setiap berada di rumah, mata kita termanjakan oleh pemandangan indah dari alam, pasti akan membuat kita betah berlama-lama di rumah. Sebenarnya tidak mesti harus pergi ke rekreasi atau ke taman-taman kota, menciptakan lahan hijau di rumahpun akan lebih efisien dan juga menciptakan lingkungan sehat. Itu untuk menghilangkan rasa rindu terhadap suasana hijau. Semoga masih ada yang cinta lingkungan hijau, meski hanya di sekitar rumah. (LippoCikarang,17-September-2014, Oleh:Rosi.Ochiemuh)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.