Ingin
kukatakan kepada seluruh alam, betapa seperti inilah perasaan seorang ibu. Seorang
ibu yang baru memiliki seorang anak yang masih kecil. Jika anakku tiba-tiba
menjadi seorang pemberontak dalam versi ngambek, semua tabiat anak itu
berbeda-beda. Khusus anakku yang memang sering ditinggal ibunya bekerja. Kata Neneknya;
dia sangat mandiri dan sering main sendiri. Tetapi jika malam hari setelah
ibunya ini pulang bekerja, manjanya datang dan tingkahnya mulai aneh. Seolah mencari
perhatian yang tidak bisa untuk di utarakannya.
Tingkah dan polahnya yang beraneka ragam. Kadang membuatku tertawa, bahagia, kadang membuatku kesal dan marah jika dia melakukan hal-hal yang aneh.
Tingkah dan polahnya yang beraneka ragam. Kadang membuatku tertawa, bahagia, kadang membuatku kesal dan marah jika dia melakukan hal-hal yang aneh.
Hampir
bisa dipastikan anakku akan mengajak bermain dan bercanda setelah ibunya ada di
rumah. Walau sudah berada di dalam kamar, dia sering mengajak bermain. Minta diputarkan
vcd lagu anak-anak, film karton dan mengajak bercanda. Yang tidak menyenangkan
adalah saat rewelnya datang tak menentu, manja dan rewel menjadi satu. Apalagi jika
sedang sakit dan badannya tidak sehat, Alhamdulillah nikmat rasanya menghadapi
sikapnya yang aneh.
Suamiku bilang, harus mengerti dengan anakku yang masih kecil ini, maklumlah dia mungkin butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari ibunya.
Suamiku bilang, harus mengerti dengan anakku yang masih kecil ini, maklumlah dia mungkin butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari ibunya.
Namanya
juga anak batita, hampir semua ibu-ibu pernah mengalami masa-masa itu. Sekarang
ini akupun merasakannya. Kata ibu mertuaku;’anak baru satu, kamu sudah kurang
sabar. Bagaimana jika mengahadapi lebih dari satu anak?’. Betul sekali yang
beliau katakan itu, baru punya anak satu sudah kelelahan badan dan hati,
bagaimana jika dua atau tiga anak yang diasuh. Perasaan sebagai seorang ibu
beranak kecil itu, jika sedang menghadapi kecerdasan anaknya yang terlalu
tinggi sudah menguras pikiran dan hati loh! Bagaimana dengan seorang ibu yang
sudah sabar mengurus buah hatinya sejak lahir dan setelah dewasa banyak
perubahan pada anak. Majemuk sekali masalah yang akan dihadapi.
Aku selalu mendengarkan dan menyaksikan pengalaman para ibu-ibu yang menghadapi buah hatinya setelah dewasa. Termasuk mamak dan ibu mertua. Ada yang menceritakan masa kecil anak-anak mereka yang selalu menurut dan tidak pernah menyusahkan, tiba-tiba setelah dewasa pola pikir dan tingkah laku tidak sesuai yang mereka inginkan. Ada lagi yang menceritakan masa kecil anak-anak mereka yang nakal, bengal dan sering menyusahkan. Tetapi setelah dewasa malah justru si anak nakal mereka menjadi kebanggaan hati ibunya.
Seorang ibu bisa mengendalikan anak-anaknya ketika mereka masih kecil, tetapi belum tentu bisa mengendalikan dan menjadikan anak-anak mereka setelah dewasa seperti apa yang mereka inginkan. Tidak mudah memang menjadi seorang ibu. Untuk menjadi seorang ibu, bukan sekedar mengasuh dan memberi makan anak saja. Tetapi juga membuat anak nyaman dan tentram bersama kita, dan selalu mengingat kasih sayang kita sampai mereka dewasa harus bisa tersimpan dimemori mereka. Anak yang penurut di rumah, terkadang belum tentu baik menurut orang di lingkungan luar rumah. Masih saja ditemukan anak-anak remaja yang terkena kasus kriminal, kasus kekerasan, kasus pelecehan, dan kasus sosial lainnya. Pengawasan bukan sekedar memberi nasehat dan perintah. Terkadang memang aku juga merasakan sebagai anak, selalu sering mendapatkan perintah, larangan, dan kecil sekali nasehat yang diberi.
Teman dan tetanggaku kebanyakan ibu-ibunya berusia diatas umurku. Dari obrolan mereka, sering kutemui keluhan mereka pada anak yang sudah dewasa. Anak yang masih kecil itu masih bisa diatur, dan dikasih nasehat. Tetapi banyak juga anak mereka yang sudah remaja pola pikirnya sering jauh dari keinginan sang ibu. Pepatahpun mengatakan; Ketika kecil rumah ramai dan berantakan, ibupun merasa lelah dengan hati senang. Ketika anak dewasa, rumah rapi dan sepi, ibupun merana dan sedih’. Perasaan yang sering dirasakan ibu kita dahulu, suatu saat juga kita mengalaminya, termasuk diriku.
Tetapi kebanyakan dari para anak, terutama anak laki-laki selalu tutup mata terhadap perasaan ibunya. Kebanyakan anak laki-laki yang dulunya begitu dekat dengan ibunya, tiba-tiba bisa pindah haluan perhatiannya pada seorang wanita yang bukan muhrimnya itu untuk di zaman saat ini.
Ibu selalu berusaha untuk membuat anak-anaknya menjadi yang terbaik dan sukses. Seorang ibu tidak akan pernah rela jika anak-anaknya terjerumus dosa dan kebodohan manusia. Seorang ibu akan senantiasa berusaha mencukupi kebutuhan pangan anaknya, sandang dan pendidikan dengan segala upayanya. Seorang ibu selalu menyisihkan uang belanjanya untuk menabung dengan alasan agar anak-anaknya bisa bersekolah lebih baik. Seorang ibu akan selalu memperhatikan anak-anaknya meski mereka telah berumahtangga, bahkan memiliki cucu. Seorang ibu berusaha adil terhadap anak-anaknya, meski terkadang anak-anaknya merasa pilih kasih. Seorang ibu tidak berhenti berdo’a untuk anak-anaknya, meskipun anak-anaknya tidak ada yang mendo’akannya setelah sholat.
Sesuatu yang kudapat dari pergaulan dengan ibu-ibu pengajian dan pelajaran dari sang ustad adalah, belajar terus menjadi seorang ibu yang bisa membuat anaknya terpuji dihadapan Allah, bukan yang hebat di dunia. Kekuatan seorang ibu adalah dengan beribadah yang ikhlas karena Allah dan selalu mendo’akan anak-anaknya agar menjadi orang yang bertaqwa. Dan selalu ikhlas menjalani perannya sebagai seorang ibu yang tidak pernah mengeluh bahkan selalu menyayangi anak-anaknya hingga akhir hayatnya. (Oleh:Rosi.Ochiemuh,Lippo cikarang,24-september-2014).
Komentar
Posting Komentar