Langsung ke konten utama

Merindukan Hujan Lagi

Sudah berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun wilayah tempat tinggalku tidak pernah lagi di jamah hujan.
Kemana hujan air itu? Kusebut hujan air saja, karena yang kurindukan saat ini hujan air. Air yang melimpah dan berkah turun dari langit, ciptaan Allah yang paling bermanfaat bagi kelangsungan hidup para makhluk di Bumi ini.

Melihat kabar di televisi semalam. Bendungan di jakarta dan daerah lainnya mengalami kekeringan. Karena sudah lama dilanda kemarau. Kemarau kali ini begitu panjang, hampir setiap daerah merasakan kekeringan. Bersyukurnya, Kalimalang airnya tidak kering, masih bisa mengalir deras. Begitupun sungai Musi kemarin kulihat, airnya hanya surut sedikit.

Yang jadi masalah adalah, ketika penghuni rumah hanya memakai mesin pompa air dan bukan mesin jet PAM. Di situ kadang aku merasa sedih. Pertama kali dihidupkan, airnya deras mengalir dari pipa dan keluar keran. Setelah sepuluh sampai lima belas menit, airnya kecil dan harus segera mengistirahatkan mesin air. Kedalaman air ketika memakai mesin pompa tidak kuat menarik sumber airnya. Tetapi mungkin kalau pakai mesin jet PAM yang super kencang menarik air di kedalaman paling dalam pun, pastinya bisa mengisi air di penampungan lebih banyak.

Jika hujan turun, pasti stok air dalam tanah meningkat dan banyak. Apalagi di rumah kami. Lahan tanah kosong masih ada. Sengaja dibiarkan kosong. Tetapi saat aku meminta hujan diturunkan, ada yang berceletuk padaku, "Ntar kalau hujan jalanan pasti macet, banjir deh," ucapnya. Iya sih. Memang serba salah untuk tinggal di kota besar ini. Apalagi di kota besar sudah miskin dengan lahan kosong dan tanah terbuka. Gorong-gorong dan parit mampet karena jarang dan tidak pernah sama sekali dibersihkan. Hingga ketika hujan turun, banjirlah jalan raya kota. Menggenang dan menghancurkan jalan aspal dan jalan cor.

Tetapi jika tidak hujan-hujan, debu semakin merajalela dimana-mana. Apalagi yang rumahnya dekat jalan raya dan perkotaan. Tiada pepohonan dan taman, benar-benar menyesakkan pernapasan. Di tambah para perokok yang liar ... Ckckck, hampir tidak ada lagi udara bersih di kota besar ini. Sejabodetabek, semua hampir terkena polusi udara. Jika hujan turun, debu-debu akan berkurang, polusi udara pun akan berkurang dan mengalir ke dalam tanah.

Serba salah memang, dikasih hujan semua mengeluh. Dikasih kemarau pun semua ikutan mengeluh. Kita ini memang manusia yang selalu kurang bersyukur. Terkhususnya Manusia yang tinggal di kota-kota besar dan negara maju. Beda dengan mereka yang tinggal di pedesaan, semua berusaha selalu mensyukuri kehidupan. Aku selalu berdoa, semoga hujan segera diturunkan dari langit di Jawa Barat dan daerah lainnya. Aku merindukanmu, hujan. Rindu harumnya hujan. Bulan Agustus, semoga hujan turun di bulanmu.

#CatatanRosi_05-08-2015  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...