Langsung ke konten utama

CERPEN : PETASAN HATI (1)


Judul : PETASAN HATI (1)


Oleh : Rosi Ochiemuh.


Lelaki itu naik pitan, kala tangisan anaknya melengking bagai peluit lalu lintas berkali-kali. Histeris. Hingga isterinya berusaha mendiamkan tangisan buah hati. Namun sang buah hati seakan tenggelam dengan kemauannya, menangis sejadinya dengan ketidakmengertian yang tidak jelas dari pola pikir orang dewasa. Hingga lelaki yang sejak tadi peluhnya meninggi, melepuh ingin merebahkan sejenak tubuhnya di kasur yang empuk, meluap emosinya. Meledak seketika.

“Bisa nggak sih! Mendiamkan anak dengan tidak menjerit! Diam nggak, Lo!” teriak lelaki itu  kasar pada istrinya.

Tangisan anaknya semakin kencang.

“Ibu bilang diam, Ken! Ayahmu tidak senang. Sudah sepuluh kali, ibu bilang, Ken!”
Sang buah hati bukannya malah tersentuh mendengar ucapan ibunya. Malah makin menangis sejadi-jadinya.

Lelaki itu menendang pintu kamar mandi berkali-kali. Kekesalannya memuncak dibumbui hawa iblis yang merekah. Sontak membuat sang istri merasa sakit, kesal dan marah. Akhirnya kemarahan membakar rumah itu.

Sang buah hati mulai sadar, surai ayahnya telah merekah. Dan siap menerkam mereka berdua. Sang anak akhirnya diam, ketakutan melihat wajah sang ayah. Dilihatnya wajah ibunya banjir airmata, tanpa suara tangis sedikitpun. Sesak meluap-luap di hati perempuan itu. Perempuan yang tidak mau dikasari oleh orang yang dicintainya itu. ‘Kenapa harus kasar? Bisakah tanpa melakukan itu? Aku juga lelah, sedari pagi mengurus keperluan rumah, anak, dan lain-lain. Dari senin sampai jumat., bangun pagi mencari nafkah di luar sana, pulang magrib hampir selesai,’ pikir perempuan itu.

Dumelannya bersahutan bak piring yang dilempar. Prang, pring, prang! Hingga membuat dia tergugu sejenak. Buah hatinya menatap wajah ibunya yang pasi, kaku. Seperti patung yang wajahnya basah karena air mata.

“Ibu …,” panggil anaknya memelas. Dia masih memandangi wajah ibunya dengan saksama. Mengapa wajahnya seperti itu.

Lelaki itu masuk ke dalam kamar mereka. Dengan egonya, kekuasaannya atas nama kepala rumah tangga, dia memberi nasehat.

“Sudah berulang kali, ayah bilang. Jangan berteriak dengan anak!”
 

“Aku hanya ingin menenangkan, Ken. Dia menangis terus!” sanggah perempuan itu.

“Kamu! Selalu membantah suami! Percuma kamu salat, ngaji, berhijab! Tidak punya etika!”

“Apa?! Ayah yang harusnya mengerti. Jangan kasar seperti itu! Aku bukan anak kecil, ini istrimu!”

“Berulang kali kunasehati, kamu masih seperti ini! Jadi mesti bagaimana?”

“Aku nggak dapat pemimpin yang baik! Jangan pernah menyalahkan salatku, ibadahku! Seharusnya sama-sama berkaca!”

“Oh! Itu ucapan kamu! Kamu seperti ini. Maunya kamu seperti itu! Baik, aku ingatkan. Jika sekali lagi, maka jangan salahkan aku!”

Brukk!! Dengan keras bantingan pintu dari suaminya.

Buah hati mereka sejak tadi menyimak pertengkaran mereka.

“Kamu lihat, Ken. Ayah memarahi ibu. Hanya karena sepele, hanya karena kamu. Kamu tega, Nak …,” ujar perempuan itu pada anaknya yang masih balita.

Anak umur empat tahun itu masih diam memerhatikan ibunya. Dia sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya. Anak itu lalu mendekati ibunya, “Bu …, jangan nangis. Ibu …,” panggilnya. Dia menatap lekat wajah ibunya yang mematung pasi. Lelehan mutiara hangat itu jatuh tiada henti.

Perempuan itu menaruh sesal dan kesal di hatinya. Kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya. Kenapa suaminya semudah itu memberikan kekerasan padanya. Bukan saja tidak sedap didengar dan dilihat, tetapi itu terjadi dalam rumah mertuanya. Betapa sulit dipercaya kejadian itu terulang lagi. Dia menyesal. Dia memeluk anaknya dengan lembut. Namun rasa sakit yang sangat luar biasa masih menempel jelas dalam kalbunya. Sakit. Bukan saja sekarang ini suaminya membuat dia melelehkan airmata. Namun sejak pertama pernikahan, karena sikap dan ego yang keras. Susah diberi nasehat. Belum lagi, dia masih harus membantu ekonomi rumah tangga karena pekerjaan suaminya yang tidak tentu.

Sakit itu semakin menjalar ke kepalanya, hingga merasakan pusing yang hebat. Buah hatinya yang sejak tadi menangis, kini berganti mengantuk. Dibuatkannyalah susu untuk buah hatinya itu. Dengan diam, kaku, dia masih tetap diam. Dengan hingar-bingar di luar saat acara pesta warga dengan musik dangdut yang berdentum keras.

Buah hatinya meminum susu, kemudian tertidur. Perempuan itu masih tenggelam dalam kekakuannya. Rasanya bongkahan batu besar sedang menghimpit tubuhnya dengan keras. Dia mendengar, tawa para warga yang menikmati pesta kecil itu. Dia mendengar suara-suara penuh kegembiraan. Namun telinganya terasa panas, kala mendengar tawa suaminya yang tanpa rasa penyesalan sedikitpun di luar.

Dia menarik napas dalam-dalam, teringat lagi kekecewaan kepada lelaki yang dicintainya itu. Saat dia hamil, saat dia melahirkan, semua terasa bagaikan film yang diputar kembali. Hingga meluap-luap gumpalan sampah di dadanya itu. Dan menangis histeris dibalik bantal.

Seharusnya suaminya tidak menanggapi tangisan anaknya dengan kasar, kenapa harus membagi luapan emosi dan lelahnya pada istri dan di hadapan anak kecil? Pikirnya lagi. Azan Magrib berkumandang. Perempuan itu masih tenggelam dalam ratapannya. Kesendiriannya, tanpa pembela. Tanpa ada yang mengerti. Keluarga di luar kamar terdengar sedang sibuk, sedangkan musik dangdut yang bergema keras berhenti sejenak. Andai saja, tidak ada insiden ini, pastilah dia bisa keluar dengan riang membantu ibunya berdagang makanan.

Dia tahu suaminya lelah. Dia tahu, dirinya bersalah. Tapi bisakah, memberikan nasehat itu tanpa menggurui dan kasar? Dia merasa sendiri, karena kedua orangtuanya di kampung halaman. Dan saat ini pun dia sangat merasa hidup sendiri. Percuma, menceritakan keluh kesahnya pada orang lain. Walaupun dengan orang yang sangat dipercayai, hasilnya; masalah bertambah besar, dosa pun bukannya berkurang malah bertambah. Caci maki dan penghinaan yang akan didapat. Rumah tangga yang tidak sakinah! Hardik mereka yang sangat membencinya.

Perempuan itu tergugu sendiri. Ia merasa dirinya sendiri. Hingga dia berpikir, ingin sekali pergi dan menjauh dari keadaan. Namun sayang, dia sangat menyayangi buah hatinya yang telah dia lahirkan dengan susah payah. Perempuan itu tahu, lingkungannya seperti apa, tetangganya seperti apa. Kanan-kiri hanya bisa mencela dikala aib orang sudah menyebar. Tapi disaat kesusahan mereka menjauh, tak menoleh barang sebentar. Yang ia tahu, lingkungannya sudah terkontaminasi kemunafikan, arus moderenisasi yang salah kaprah.

Agamanya hanya ujung bibir saja, bagi mereka. Hanya beberapa orang yang masih setia melaksanakan perintah agamanya dengan baik. Namun, namanya masih manusiawi, sesuatu keburukan selalu ada ditiap individu.

Kini hatinya mendendam. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Aku tidak ingin meratapi kesakitan hati dan jiwa. Hanya karena manusia yang tidak pernah menyembah Tuhannya, itu pikirnya. Perempuan itu masih menggerutu dalam hati. Suaranya makin parau, dia sampai berpikir Tuhan tidak adil padanya. Sesaat ucapan itu melesat di bibirnya yang basah. Seperti sesumbar sumpah serapah di kala warga sedang bersuka cita dengan cara mereka.

Ditatapnya lagi buah hatinya dengan saksama. Mungkin dalam diri darah dagingnya itu tersimpan semua karakter sifat dan sikapnya, baik dan buruk. Juga milik suaminya. Dia pun terbangun. Dan Berkata sendiri, “Maafkan Ibu, Nak. Jikalau boleh ibu memilih, ibu hanya ingin selalu bersamamu, mengurusmu dengan baik dan mendidikmu dengan benar, tapi … Ibu tak berdaya.”

Diusapnya rambut anaknya yang basah karena keringat, buah hatinya itu tidur dengan cantik. Seperti makhluk yang tidak berdosa. Memang dia tidaklah berdosa, hanya orang dewasa saja yang selalu berbuat dosa.

Perempuan itu kemudian bangkit keluar dari kamarnya. Lalu menuju kamar mandi, dilihatnya jam delapan malam di dalam kamar. Sementara mereka sibuk di luar dengan acara mereka. Perempuan itu segera melampiaskan peluru di hatinya agar melesat keluar. Saat sedang sepi dan semua orang sibuk di luar, dia mencuci pakaiannya, pakaian anaknya, dan pakaian suaminya. Dia gilas semua pakaian itu hingga bersih. Mungkin itulah cara yang ampuh untuk menghilangkan kesedihannya.

Cibitung: 19-08-2015

*TO BE CONTINUE ……..

Tulisan dengan segala apa yang ada dibenakku.. Rosi Ochiemuh alias, Rosi Jumnasari. Hanya tulisan iseng yang memang ada dikisah nyata. Semoga yang membaca bisa memahami dengan pikiran positif. Mohon maaf jika ada yang tersinggung. Kepala boleh sama hitam, tapi hati berbeda-beda isinya.






















Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.