Judul : Wanita di Permukiman Lumpur.
Oleh : Rosi.Ochiemuh.
Langkah kakinya penuh dengan lumpur. Setiap hari dia selalu melewatinya. Mulai dari berjalan dari gang masuk ke gang yang lain. Dinding-dinding gedung yang mengapit gang itupun penuh lumut hampir setengahnya, menambah kesan suram dalam pandangan matanya. Wanita tua itu selalu melewati jalanan lumpur hitam. Meski sangat menjijikkan namun dia tetap harus melewatinya, dengan terpaksa. Tidak ada jalan keluar lainnya, hanya jalanan itu yang sering dia lewati jika ingin ke jalan raya.
Ketika masuk ke dalam rumah, dia harus menyiapkan air di depan pintu. Tong berukuran sedang dari plastik yang ditutup rapat disediakan di depan rumahnya. Gunanya agar air di dalam tong itu dia pergunakan untuk membilas kakinya yang terkena lumpur hitam. Bersih kembali, kemudian mengelapnya dengan lap bersih yang digantung di samping rumahnya. Terkadang air yang dia sediakan penuh, setelah pulang dari aktifitasnya kembali ke rumah, terlihat tinggal setengah. Ini berarti ada yang sudah memakai airnya.
Wanita itu mengkerutkan dahi, sembari menoleh kanan-kiri untuk mendapati orang-orang sekitarnya. Ternyata sepi. Mungkin mereka semua sedang tertidur pulas di siang itu. Kenapa begitu sepi siang itu? Jalanan di sekitarnya masih basah dan menambah lumpur hitam. "Ya Allah ... Apakah harus aku merasakan ini semua? Setiap hari merasakan lumpur di luar rumah. Aku sudah berusaha untuk menjaga kebersihan dalam rumahku, tetapi tetap saja jalanan di luar rumah penuh lumpur hitam. Apakah aku harus hijrah?" gumamnya sendiri.
Usianya yang hampir senja, dan tinggal sendiri selalu membuatnya khawatir. Apakah jika dia mati ada yang tahu? Apakah ada yang mau mengurus jenazahnya jika dia meninggal sewaktu-waktu? Sementara lingkungan sekitarnya semua acuh, bahkan dengan jalanan yang dilumuri lumpur hitam. Jika pagi dan siang menjelang jalanan dipenuhi lumpur hitam. Semua penghuni permukiman itu rata-rata tidur, kemudian di malam hari mereka akan riuh seperti kelalawar yang terbang ke sana kemari. Penuh dengan kesibukan yang tidak bisa dimengerti oleh Darsih--Wanita tua itu. Entah kesibukan apa yang para tetangganya lakukan di malam hari. Jika azan subuh berkumandang, di sekitarnya akan terasa hening seperti tanpa penghuni.
Pernah suatu waktu tetangganya janda beranak dua itu, mengepulkan asap-asap kebodohan dari mulutnya. Seperti cerobong asap kereta api. Dia duduk di teras depan rumahnya. Dan saat Darsih membuka pintu rumah untuk keluar, dia terbatuk karena mencium asap dari janda beranak dua itu. Wanita tua itu lalu menegurnya dengan kesal.
"Hei! Kau ini wanita, kenapa merokok di depan umum?"
"Darsih! Wanita tua yang malang, untuk apa mengurusi kehidupanku," sahut janda beranak dua itu.
Asap masih mengepul di sekitarnya. Sedangkan dua anaknya sedang sibuk bermain lumpur.
"Aku hanya menasehatimu, Tita. Lihat anak-anakmu yang bermain lumpur. Mereka kotor, ibu macam apa kamu ini, membiarkan anak-anaknya tidak terurus," lanjut Darsih. Matanya semakin mengawasi buah hati janda beranak dua itu.
"Heh! Jangan mengurusiku dan anak-anakku! Urusi dirimu yang sudah renta. Anakpun kau tidak punya. Kasihan sekali," Tita menimpali. Ucapannya membuat Darsih semakin terpojok.
Wanita tua itu mengurut dada lalu beristighfar dalam hati. Semoga Allah menyadarkan janda beranak dua itu. Semakin lama dia tinggal di permukiman itu, semakin banyak sekali masalah dan ketidaknyaman. Tetangga-tetangganya yang berperilaku egois, oportunis, materialistis dan penuh ambisi itu sampai membuat jalanan di sekitarnya berlumpur hitam. Darsih selalu berdoa, agar dia bisa hijrah dari permukiman itu. Meski harus tinggal di rumah yang sangat-sangat kecil pun, Darsih mungkin bisa bernapas dengan lega.
Dia tidak lagi harus merasakan lembek dan joroknya lumpur hitam, asap-asap kebodohan, sikap apatis orang-orang di sekelilingnya dan juga tidak dicaci maki oleh tetangganya. Sabar dalam hatinya selalu berkumpul manakala sudah sampai di rumah. Hanya di dalam rumah dia bisa merasakan besihnya kaki, udara yang dia hirup dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Namun, jika dibiarkan apakah dia bisa mendapatkan teman dan tetangga yang menyenangkan?
Permukiman tempat tinggalnya itu selalu memakan bangkai para tetangga yang lain. Bau busuk itu terkadang tercium saat dia akan keluar rumah di pagi hari. Dimana aktifitas untuk menghidupi dirinya sendiri menjadi rutinitas yang wajib, setelah salat subuh. Dengan cepatnya Darsih menyingkir melewati jalan-jalan lumpur hitam dan gang yang diapit oleh dinding-dinding berlumut. Darsih berusaha untuk kuat. Semoga Allah membukakan jalan untuk bisa hijrah dari tempat itu.
****
Hampir tiga tahun Darsih merasakan hidup di permukiman itu, dengan terpaksa karena hanya di sana dia mendapatkan tempat tinggal yang murah dan terjangkau oleh kantongnya. Wanita senja itu akhirnya mendapatkan jalan keluar. Ada dua orang laki-laki yang datang ke rumahnya. Laki-laki itu memakai jas hitam berdasi, seperti orang kaya. Mobilnya terparkir di depan gang, karena tidak bisa masuk ke dalam. Hampir sama, dua lelaki itu sepatunya penuh lumpur. Darsih sudah menyiapkan dua kain lap bersih untuk mereka. Semua tetangga Darsih memandangi kedatangan dua lelaki itu. Terlihat parlente dan penuh wibawa.
Tetangga sekitar rumah Darsih yang menatap heran itu bukan tidak mungkin akan berpikir tentang kedatangan dua lelaki parlente. Ada yang berpikir bahwa lelaki itu adalah anaknya Darsih. Ada juga yang berpikir bahwa Darsih akan dibawa ke panti jompo disuruh anak-anaknya. Ada pula yang semakin gila pemikirannya, bahwa dua lelaki itu dari bank yang menagih hutang. Namun ada juga yang berpikir, apakah Darsih itu memiliki suami dan anak? Jika ada, kemana suami dan anak-anaknya? Darsih memang sosok wanita tua yang misterius. Semisterius semua sikap dan tingkah lakunya. Pikir mereka para tetangganya yang oportunis. Siang itu, kebetulan sekali para penghuni di permukiman itu memunculkan batang hidungnya.
"Ada apa kedatangan bapak-bapak kemari?" tanya Darsih bingung.
"Ibu, Kami berdua dari pengacara anak ibu. Pak Dimas," jawab salah satu lelaki itu.
"Saya tidak punya anak. Suami saya sudah meninggal tiga tahun yang lalu," ucap Darsih sambil berpikir, siapa yang mengaku anaknya itu.
"Dari surat pernyataan ini, menuliskan bahwa ibu mendapatkan rumah beserta isinya di Surabaya dari Pak Dimas Haryakusuma. Beliau adalah anak asuh ibu yang diambil dari panti asuhan. Lima belas tahun yang lalu dia merantau ke luar negeri dan mendapatkan pekerjaan. Lalu beliau mendirikan perusahan di Indonesia ini."
Darsih mendengarkan dengan seksama, wajahnya mulai merona saat lelaki itu menyebutkan nama Dimas Haryakusuma.
"Dimas, alias Didi. Iya, dia anak asuh saya dan suami, dulu sekali. Kami asuh selama tujuh belas tahun. Namun dia diambil kembali oleh ibu kandungnya di Surabaya karena sudah menemukan orangtua kandungnya," ucap Darsih membenarkan perkataan lelaki itu.
"Bagaimana kabarnya Dimas?" tanya Darsih pada lelaki itu.
"Beliau saat ini baik-baik saja, Bu. Sedang berada di Surabaya bersama keluarganya. Dia sudah lama mencari ibu dan bapak angkatnya, namun tidak pernah mendapatkan kabarnya. Ibu dan bapak kandungnya telah meninggal dunia. Dia terus mencari ibu, lalu akhirnya dia mendapatkan alamat ibu yang sekarang."
"Subhanallah! Apakah ini jawaban dari-Mu atas segala doa-doa yang kupanjatkan? Akhirnya aku tidak sendiri, anakku--Didi mencariku, ya Allah," ucap Darsih penuh syukur. Airmatanya tidak terbendung lagi. Rasanya dia sangat bahagia dengan kabar baik yang disampaikan dua kurir anak angkatnya itu.
Darsih merasakan dirinya bisa bernapas dengan lepas. Seperti melepas jutaan beban yang sudah lama terendap di dada dan kepalanya. Hari itu juga, kedua orang kurir kepercayaan Dimas--anak angkatnya membawanya ke dalam mobil dengan barang-barang Darsih yang juga ikut diangkut ke mobil. Hanya buntalan bajunya, dan barang peninggalan almarhum suaminya. Semua tetangganya menatapnya heran. Kenapa Darsih pergi dengan kedua lelaki itu dengan membawa barang-barangnya. "Apakah Darsih pindah? Tanya mereka dalam hati."
Tiba-tiba saat Darsih akan menuju ke mobil. Salah seorang tetangganya menghampiri dan langsung memeluk Darsih. Janda beranak dua itu langsung memeluknya dan menangis sesenggukan.
"Ibu Darsih, jangan pergi! Bagaimana dengan aku dan anak-anakku. Tidak ada yang menasehati kami lagi, yang perhatian dengan kami lagi," ucapnya penuh penyesalan.
Darsih bengong, tanpa dinanya janda beranak dua itu memeluknya dan mengucapkan isi hatinya.
"Tita ... Ibu harus pergi dari sini. Ibu tidak mau kena cipratan lumpur lagi. Hijrah ini lebih baik buat masa tua ibu, untuk menunggu Sang Khalik memanggil dengan kasih sayang."
Mata Tita terlihat sembab. Hidungnya merah, kedua anak-anaknya pun menangis sambil memandangi Darsih.
"Tita ... Jaga anak-anakmu, sayangi mereka dengan tulus. Kamu juga harus hijrah dari tempat ini ke tempat yang lebih baik. Ke tempat dimana banyak didatangkan rahmat Allah. Biar miskin asal berkah dan halal, cari rezeki yang lebih baik. Hijrahlah ... sebelum terlambat," ucap Darsih pada Tita.
Tita kemudian memeluk lama tubuh Darsih. Darsih pun menyelipkan dua lembar uang kertas biru pada kedua anak-anak Tita, sebagai rasa sayangnya karena dua anak-anak Tita telah dianggap sebagai cucunya sendiri. Tita semakin terharu, janda beranak dua itu menyimpan semua nasehat Darsih dengan baik.
Darsih akhirnya meninggalkan permukiman lumpur itu. Tiga tahun tinggal di sana, serasa lama sekali. Semoga hijrahnya ini bisa membuat hidupnya lebih baik dan bisa beribadah dengan tenang. Sampailah dia di Surabaya dan menuju tempat tinggal barunya. Di sana Darsih disambut oleh dua orang suami istri dan tiga anak-anak mereka. Mata Darsih semakin dipicingkan untuk bisa mengenali mereka.
"Assalamualaikum, Ibu Darsih. Ini Dimas alias Didi. Ibu, apa kabar, Bu?" sapa Dimas dengan mata berkaca-kaca pada Darsih dan langsung memeluk ibu angkatnya itu.
"Walaikumsalam, baik, Nak. Alhamdulillah bisa bertemu kamu lagi," sambut Darsih, tangisannya tidak terbendung lagi.
Nampak wanita berhijab lebar di samping Dimas tersenyum semringah, airmatanya pun menetes haru melihat situasi itu. Ditambah keceriaan tiga anak-anak Dimas yang ikut larut dalam pertemuan itu.
"Ibu, kenalkan, ini Halimah--istriku. Nur, Jelita dan Rahmat--anak-anak kami," ujar Dimas lagi.
Darsih tersenyum dengan mereka, airmatanya mengalir hangat di pipinya yang keriput. Akhirnya dia mendapatkan masa tua yang indah bersama keluarga yang baru. Darsih bukan saja mendapatkan rumah yang dia impikan. Dekat dengan masjid, pasar dan majelis taklim, tetapi juga mendapatkan cinta keluarga kembali dari hijrahnya itu.
"Ya Allah, semoga mereka yang tinggal di tempatku dulu, bisa hijrah dari sana seperti yang kurasakan, Aamiin," gumamnya. Aroma kesejukan mengalir disekitarnya, Darsih merasakan udara yang dia hirup saat ini begitu sejuk, dan lantai yang dipijakinya begitu halus dan bersih.
Tamat.
(LippoCikarang, 07-08-2015 (rosi.ochiemuh))..
Komentar
Posting Komentar