Judul : PETASAN HATI (2)
Oleh : Rosi Ochiemuh.
Ketika amarah menyapa. Sejak kemarahan dan letupan terjadi hingga kebakaran jenggot. Kebakaran menghanguskan semua amal ibadah mereka. Suami—Istri itu akhirnya diam-diaman. Mereka merasa punya argument masing-masing untuk membenarkan pendapat sendiri. Si buah hati, kini tidak serewel kemarin.
Perempuan itu mengerti bahwa anaknya jika sudah lelah dan mengantuk tangisannya akan melengking, disertai manja yang sering dilakukan anaknya.Namun tidak dengan suaminya, dia sebetulnya belum paham dengan cara istrinya. Apalagi mengerti kenapa anaknya menangis terus. Sang buah hati selama ini selalu diasuh oleh tangan hangat neneknya. Otomatis dia terkadang ingin bermanja, minta perhatian pada ibunya yang sibuk bekerja.
Perempuan itu diam ketika suaminya memasuki kamar. Tanpa dinanya, lelaki yang tadi sore mengkasari hatinya itu, menawarkan mie instan yang wanginya sedap. Dan memang perempuan itu suka dengan mie instan yang bekuah gurih. Ada rasa geli di hati perempuan itu. Kenapa suaminya menegur, padahal tadi dia marah besar hingga ke ubun-ubun panasnya. “Tidak mau!” Tolak perempuan itu pada suaminya. Lelaki itu tahu, istrinya masih marah besar padanya. Namun gengsinya cukup tinggi untuk mengalah pada sang istri.
Malam semakin larut, perempuan itu masih merasakan pusing di kepalanya. Sesak di hatinya sejak insiden tadi. Buah hatinya masih tertidur pulas dengan senyum. Mungkin perasaan suaminya merasakan yang sama, namun tidak begitu kentara seperti mimiknya berpapasan dengan keluarga di rumah.
***
Keesokan harinya, wanita itu berangkat kerja sejak pagi buta, setelah menjemur semua pakaian yang telah dia cuci semalam. Wanita tua itu menatapnya lekat. Matanya yang sudah silinder itu masih bisa menangkap jejak kesedihan di wajah perempuan itu. Dia tahu pasti terjadi insiden dalam rumah tangga perempuan itu, yang sudah dianggap anak kandungnya sendiri.
“Kok sudah mau berangkat, nggak dianterin Aak?” tanya wanita tua itu.
Perempuan
itu menggeleng menunduk. Mungkin dia malu dengan matanya yang bengkak akibat
semalam suntuk menangis.
Tiba-tiba dia berkata,” Saya berangkat, dia masih lelah. Biarin dia tidur dulu, Bu,” ucap perempuan itu.
“Nggak bawa bekal makan siang, Nduk?” tanya ibunya lagi.
“Nggak usah, Bu. Beli di luar aja,” jawabnya.
Sebenarnya dia tidak enak hati dengan wanita yang selalu memperhatikannya seperti anaknya sendiri, itu. Dia tahu, wanita tua itu hatinya sangat mulia, rajin ibadah, apalagi pakaiannya selalu syari walau dalam rumah. Wanita yang telah dianggapnya ibu sendiri itulah yang selalu membuatnya kuat, meski tidak langsung dapat nasehat darinya. Cara kehidupan wanita itu yang membuatnya ingin berkiblat menjadi lebih baik.
‘Bismillahi tawakaltu ‘alallahu’ perempuan itu berangkat kerja sendiri tanpa diantar. Dia tahu suaminya semalam suntuk pasti memikirkan dirinya yang terluka. Lelaki itu juga letih membantu dagangan orangtuanya. Dia tahu itu. Tidak mungkin dia harus memaksa untuk diantarkan ke tempat kerja, sebab masalah dan ego baru akan muncul bersamaan. Biarlah dia mengalah. Toh, dia sudah terbiasa sejak dulu mandiri, berangkat kerja dengan jarak yang sangat jauh setiap hari dengan angkutan umum. Pikir perempuan itu.
Dihadapinya semua seperti biasa. Menghadap atasan yang sudah memberikan berbagai perintah kerja. Perempuan itu berusaha untuk menutupi masalahnya dari siapapun termasuk rekan kerja. Tapi mata sembabnya tidak bisa membohongi orang yang melihat. Dia menyibukkan diri dengan menghidar dari pertanyaan rekan kerjanya, kenapa matanya sembab? Jika pun ada yang bertanya, dia hanya menjawab, ‘biasa, dikencingi binatang coklat itu,’ atau, ‘Sedang sakit mata, kena inpeksi'.
Perempuan itu akhirnya bisa bernapas lega, kesendiriannya di tempat kerja membuatnya menjadi tercenung, merenung, berpikir dengan insiden kemarin. Kenapa, mengapa dan harusnya bagaimana? Itu yang ada di benaknya selama bekerja. Kesendirian membuatnya banyak berpikir, dan mungkin helaian uban sudah menumbuhi rambutnya di usia yang masih muda itu. Karena terlalu banyak berpikir. Pernah dia berpikir keras dan sangat panjang, apa yang terjadi? Kepalanya terserang rasa sakit yang sangat hingga hampir membuatnya pingsan. Untunglah dia selalu menyediakan balsam dalam tas, untuk jaga-jaga kalau pusing menyerang kala dia sedang banyak berpikir.
***
Jam pulang sudah berdentang, tanpa diduga pesan di hape dari suaminya. Dia ingin menjempunya pulang kerja.
“Assalamualaikum, ayah jemput di tempat biasa, ya?”
SMS yang seperti tidak terjadi apapun antara dia dan lelakinya. Perempuan itu membalas dengan cara yang sama. Sopan, santun, meski hanya berwujud SMS.
Sesampai di tempat biasa dia menunggu suaminya untuk menjemput. Diam itu masih memayungi mereka. Perempuan itu diam, lelakinya pun sama.Jadilah diam-diaman.
Sesampai di rumah, tetap sama. Hanya si buah hati yang bersama neneknya sedang di suapi makan sore. Azan Magrib berkumandang syahdu. Kakek sang buah hati sudah lebih dulu mengambil wudhu. Sedang sang nenek masih menyuapi. Perempuan itu menyalami tangan ibunya, buah hatinya ikut bersalaman menyambut riang. Tidak seperti kemarin, buah hatinya kini nampak ceria, tertawa dan menggodanya.
Itulah anak-anak balita, moodnya selalu berubah. Namun terkadang perempuan itu masih belum memahami watak anaknya sendiri, begitupun dengan suaminya. Kemana suamiku pergi? Pikir perempuan itu. Dilihatnya di kamar sebelah, lelaki itu bersujud, beribadah panjang. ‘Subhanalloh!’ teriak di hatinya girang. Akhirnya apa yang perempuan itu inginkan selama ini dikabulkan oleh-Nya. Lelaki itu bersujud pada Illahi, meski baru salat Magrib. Mungkin ke depannya dia akan melakukan yang lima waktu setiap hari. Aamiin, dalam hati perempuan itu mengaminkan.
Namun diam tetaplah diam diantara keduanya. Mungkin lelaki itu merasakan ucapan istrinya ada benarnya. Atau ingin membuktikan, dia pun bisa menjadi lebih baik. ‘Berkacalah!’ kata itu menggema di telinga suaminya. Lelaki itu bukannya keras hati untuk tidak merubah semua cara hidupnya. Tapi dia hanya ingin, agar tidak mengguruinya, tetapi dengan cara yang baik pula mengingatkan.
Insiden rumah tangga tetaplah insiden. Perempuan itu berpikir lagi, mungkin dengan semua kejadian kemarin, ada hikmah dibalik itu. Dia pun berpikir lagi, ‘Aku pun harus introspeksi diri, berubah lebih baik dari apa yang suamiku pikirkan, meski dia masih marah padaku.’
Dari hatinya yang terdalam, perempuan itu ingin sekali mencium punggung tangan suaminya dengan hikmah. Ingin sekali meminta maaf, meskipun suaminya sering menyakiti hati. Namun dia masih takut, petasan di hati masing-masing akan meledak lagi. Ego masih menyala bagaikan api unggun. Sewaktu-waktu akan membakar dan menghanguskan cinta.
“Sayang, sesungguhnya aku sangat mencintamu, karena Alloh. Aku tidak ingin engkau terlena dengan kelalaianmu pada-Nya,” gumam perempuan itu sendiri. Dia berdoa, agar rumah tangganya selalu dilindungi dari amarah dan tipu daya syaitan yang berbagai rupa. Dia berdoa agar rumah tangganya selalu diberkahi, menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Perempuan itu menunggu lelaki yang telah menikahinya untuk masuk ke kamar saat di luar sudah sunyi. Dan ingin dia katakan, “Sayang … Maafkan, aku.”
Cibitung, 29-08-2015 …. Rosi Ochiemuh
SELESAI.
*Semoga tulisan yang dihidangkan ini tidak menyinggung. Mohon maaf jika ada kesalahan dari tulisan dan cara penyampaian yang kurang berkenan. Dan terima kasih sudah membacanya. Semoga mendapat manfaatnya, jika tidak dapat; abaikan saja.
Komentar
Posting Komentar