Langsung ke konten utama

Cerpen_gagal_2 : Secangkir Pengertian


Judul : Secangkir Pengertian.
Oleh : Rosi Ochiemuh. 

            Seberapa penting arti hadirnya secangkir kopi hitam bagimu? Seberapa penting tembakau bakar yang dihisap menemani seluruh aktivitasmu? Denganku yang sejak tiga puluh tahun lalu menemani dalam beberapa fase kehidupan, suka dan duka bersamamu. Engkau selalu asyik menikmati keduanya dengan santai. Tanpa rasa bersalah membiarkan pasangan hidupmu ini memendam derita sendirian, karena bau asap rokok atau bau keringat yang telah bercampur keduanya itu puluhan tahun.

            Telah lama kubersabar dengan keadaan yang membawa kita kepada sesuatu yang salah. Kukatakan salah, karena gaya hidupmu yang selalu mengkonsumsi barang-barang ‘mubah’ itu. Sedikit banyak pun menguras kantong dapur kita. Ajaran agama yang rahmatanlil’alamiin banyak mengajarkan kebaikan. Tinggalkan hal-hal yang tidak penting, apalagi yang merugi. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu apalagi yang ‘shubat’. Lihatlah dirimu yang sejak pagi ketika mandi dan saat buang hajat pun, masih menghisap tembakau bakar itu, hingga saat aku masuk bergantian tercium bau asap tidak sedap dan sesak untuk bernapas. Lihatlah dirimu. Keriput telah menyatu di wajah-wajah kita setelah berpuluh tahun hidup. Anak-anak telah berada pada kehidupan mereka sendiri di tempat yang jauh. Lihatlah dirimu, Sayang.

            Tidak pernah kutunjukkan kekesalan penuh dihadapanmu, berpuluh-puluh tahun tetap sabar dan bertahan dalam kebiasaanmu yang menggangu, saat kita duduk bersama, berbincang empat mata atau berada dalam kamar. Setelah makan pagi dan siang pun, secangkir kopi hitam dan rokok itu ikut menjadi asupan paling penting bagimu. Lebih penting dari buah durian, mangga harum manis juga buah nangka yang tersaji di meja makan. Yang manfaatnya lebih baik dan berkah untuk dikonsumsi.

 “Abang serius mencintaiku sebagai seorang istri?”

“Abang tentunya mencintaimu, Sarinah.”

“Abang membual. Itu hanya sebatas kewajiban saja.”

“Aku tidak membual. Untuk apa hidup bersamamu, kalau bukan karena cinta, Sarinah?”

“Tapi Abang tidak pernah menurutiku sejak dulu, untuk berhenti.”

“Berhenti merokok dan ngopi? Ini selingan hidup, Sarinah.”

“Anak-anak jadi mengikuti jejak bapaknya. Perokok, Bang!”

“Mereka mengikuti pergaulan. Rokok memang berbahaya, kalimat peringatan di bungkusnya itu aku tahu. Tapi, kopi hitam, itu khasnya nenek moyang turun menurun.”

            Begitulah, perdebatan kecil antara aku dan dia. Hampir setiap hari disinggungkan ketidaksukaanku dengan dua hal itu. Hingga mendekati masa tiga puluh tahun usia pernikahan, dia tetap saja begitu. Rasanya ingin pergi sebentar dari rumah. Berbincang dengan teman-teman sebaya senja. Tetapi setelah berkumpul, apa yang terjadi? Keluhan teman-teman hampir sama dengan keluhanku tentang kepala rumah tangga mereka pada dua sebab itu.

            ***

            Tiga puluh tahun mendampingiku mengapa masih selalu membahas itu? Sebagai seorang suami, terkadang merasa risih. Risih dengan pertanyaannya yang terlalu menggurui. Kenapa harus membahas lintingan tembakau yang sudah sering kunikmati? Kenapa juga membahas kopi hitam, yang memang dia selalu menyajikannya setiap dua hari sekali? Kenapa? Ada yang salah dengan kebiasaanku sejak dulu? Jawabannya, mungkin istriku kurang perhatian.

“Sarinah, setelah menua memang kita akan mati. Siap-siap mencari tempat untuk liang kubur.”

“Abang tahu itu.”

“Yang itu pasti tahu, Sayang. Kau yang memulai semua obrolan ini.”

“Seharusnya abang merenung dan bertindak memperbaiki. Sebelum itu terjadi.”

“Maksudnya?”

“Pikirkan saja, Abang sudah berapa tahun menganut agama yang abang anut? Atau hanya sekedar tameng.”

“Selalu saja membuat perdebatan, makin pintar saja. Darimana dapat ilmunya?”

“Untuk apa setiap Minggu dan Kamis aku pergi mengaji? Dari situlah ilmu agama yang kudapat melimpah, Bang.”

            Aku kalah lagi, obrolan itu bagaikan sebuah pertaruhan harga diri, kami sering berbincang-bincang, jika tidak ada anak-anak di rumah, panggilan seperti masih muda dulu sering kami lakukan. Dia memanggilku Abang dan aku memanggil namanya dengan penuh rasa sayang. Pengetahuanku tentang agama memang minim, tapi kalau pengalaman hidup banyaklah didapat. Apa ada yang salah? Istriku yang berharga itu perhatian. Perhatian dan kasih sayangnya sampai kepaling sensitif kebiasaanku. Termasuk menikmati rokok beserta menghirup secangkir kopi pagi, siang dan malam.

            Pagi ini dia sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Menanak nasi dengan memasaknya di kompor gas, memakai dandang sedang. Setelah cukup ditanak, kemudian diangkat dan dikipasi hingga uapnya sedikit, barulah diletakkan di wadah nasi dari anyaman bambu. Cara menanak nasi yang begitu merepotkan menurutku. Tapi rasanya memang sungguh luar biasa. Nasi yang dimasak di magic jar di zaman sekarang, rasanya kalah enak dengan nasi yang dimasak oleh istriku. Padahal sama-sama masak nasi. Anak-anak selalu menyuruhnya untuk memasak menggunakan Magic Jar, memasak nasi dengan tenaga listrik, biar praktis dan tidak repot. Tapi Sarinah selalu tidak mau. Dia ingin selalu masak nasi seperti kebiasaannya. Hingga barang elektronik penanak nasi itu teronggok saja.

            Tak lupa dia membuatkan secangkir kopi hitam untukku, lalu lauknya ikan bandeng goreng kesuakaanku yang dibelinya kemarin, sambal goreng dadakan dan sayur asem bening. Sarapan pagi yang sudah lengkap seperti makan siang. Itulah Sarinah, dia sudah bangun sebelum subuh. Tiga puluh tahun mendampingiku, belum pernah mendapatkan dia kesiangan bangun tidur atau aku yang lebih dulu bangun lebih awal. Selalu saja dia yang lebih unggul. Terkadang diri ini sangat iri padanya, meski itu memang sudah jadi tanggung jawabnya sebagai seorang istri.

            Kebiasaan yang selalu kubanggakan darinya adalah, ibadahnya pada sang Pencipta patut kuacungi jempol. Sesibuk apapun pekerjaan yang dikerjakannya, memasak, mencuci pakaian, mengurus putra-putra kami, membereskan rumah dan berdagang, salatnya selalu tepat waktu meski dalam keadaan yang sibuk. Azan berkumandang, dia langsung menghentikan aktivitasnya, berusaha menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba dahulu dengan minta tolong kepadaku.

“Bang, Sarinah mau salat dulu. Tolong gantian jaga anak-anak.”

Kalau sudah begitu, aku tidak bisa menolak. Bibir ini seakan beku dan tidak sanggup untuk mengatakan tidak mau.

“Bang! Azan berkumandang, salatlah dulu. Gantian, aku yang menjaga dagangan kita.”

            Itu permintaannya yang tidak bisa kutolak mentah-mentah. Bibir dan mulutnya seperti terdapat sebuah mantra yang membuat aku tunduk. Menuruti kemauannya yang itu—patuh pada Sang Pencipta. Tapi entahlah, kenapa aku begitu sulit untuk patuh padanya barang sekali saja untuk dua hal itu—rokok dan kopi yang sudah mendarah daging jadi kebiasaanku. Pernah aku mencoba mengurangi porsi konsumsinya. Setiap hari mencoba untuk mengurangi rokok dan kopi. Biasanya dua hari bisa menghabiskan dua bungkus rokok, lalu dicoba sebungkus rokok dalam satu minggu. Biasanya minum kopi dua sampai tiga hari sekali, kucoba sehari satu gelas kopi. Apa yang terjadi? Lidahku terasa pahit dan aku tidak kuat untuk membatasi. Belum sebulan, aku sudah tidak tahan dengan hal itu. Teman-teman seprofesi saat sedang kumpul bersama, banyak yang menawarkan rokok dan kopi, kalau ditolak pasti akan menyinggung hati mereka.

******

            Sarinah masih menyempatkan diri untuk melayani suaminya dengan baik, meski hatinya sering kesal, kecewa pada suaminya. Serta badan yang mulai renta. Terdengar suara batuk yang panjang dari kamar cinta mereka. Rasmin—suaminya itu tetap keras kepala dalam dua hal yang selalu diributkan Sarinah. Prinsipnya sejak muda terdokrin dalam kesehariannya, tidak jantan jika tidak merokok dan minum kopi hitam. Sarinah sering menahan semua rasa risihnya kepada kebiasaan suaminya itu. Berpuluh tahun membiarkan diri mengkonsumsi hal mubah itu, membuat aroma tubuh Rasmin hampir sama dengan bau asap rokok dan aroma kopi jika berkeringat. Itulah yang mengganggu Sarinah, tetapi bukan itu saja, Sarinah takut jika penyakit-penyakit kronis menjangkiti organ tubuh suaminya seperti banyak kejadian yang dia dengar tentang mudharatnya.

“Abang batuk lagi, semalam pun begitu,” tukas Sarinah memandang ke arah suaminya yang tiduran di siang hari.

 “Hanya batuk biasa, Nah. Nanti juga baikan.”

“Itu karena salah konsumsi, Bang. Mana ada asap kalau tidak ada api. Begitu juga dengan penyakit. Sudahlah, berhenti saja.”

“Kamu masih saja selalu menyinggung itu. Seperti Abang ini sangat berdosa besar, jika merokok dan minum kopi.”

“Tidak akan berdosa jika tidak membuat gangguan. Tapi kalau berlebihan dan mengganggu orang lain juga kesehatan, sama saja abang menyiksa diri sendiri pelan-pelan.”

            Rasmin diam, dia tahu jika dia lanjutkan akan tambah tegang. Tadinya dia merasa senang pertanyaan istrinya itu adalah bentuk perhatian cinta. Ternyata arahnya lain. Menyinggung berkali-kali kebiasaan buruk Rasmin. Sarinah bukannya seorang istri yang selalu menyela perkataan suaminya. Sarinah bukan pula wanita yang keras kepala untuk berpegang teguh dengan pendapatnya. Sarinah bukan pula seorang wanita yang pembangkang. Dia justru sangat patuh, dan mungkin telah lelah tiga puluh tahun mematuhi kewajiban, patuh dan setia pada suami. Namun tidak sedikitpun nasehatnya diikuti Rasmin dengan sungguh-sungguh. Mungkin itulah yang membuat seseorang mulai lelah.

            Setelah azan subuh berkumandang dari masjid depan rumah mereka, kemudian terdengar pengunguman penting dari toak masjid. Tetangga dan teman mereka meninggal dunia di usia kepala lima. Rasmin yang setelah salat subuh, duduk di teras depan sambil menghisap kreteknya, terkejut. Tetangga sekaligus temannya meninggal dunia di usia lebih muda dari umurnya.

“Ada pengunguman, Nah. Karman meninggal dunia dini hari.”

“Innalillahi Wainnailaihi roojiun. Karman? Sakit apa dia, Bang?”

“Tak tahu, kemarin saat pulang dari salat jum’at dia sehat walafiat.”

            Mereka berdua datang ke rumah tetangga sekaligus teman mereka untuk melayat. Itu adalah perbuatan sosial yang sering mereka lakukan. Bukan hanya saat kematian, tetapi saat walimah, kelahiran dan khitanan pun, mereka siap untuk datang sekedar membantu tetangga-tetangga mereka yang sedang melakukan hajat suka atau pun berduka, walau memabant sekedar tenaga atau uang. Kebiasaan sejak mereka menikah selalu dilakukan di tempat tinggal mereka sampai saat ini.

            Rasmin berubah diam sejak pulang dari melayat. Rasmin ikut menyalatkan dan mengantar jenazah sampai ke liang lahat. Sedangkan Sarinah pulang lebih awal. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya sejak pulang tadi. Sarinah tahu jika sesuatu terjadi pada suaminya. Gelagatnya yang sejak pulang tadi diam saja, bahkan seperti memikirkan sesuatu. Secangkir kopi yang selalu disediakan setiap siang oleh Sarinah, sejak tiga puluh menit tadi belum disentuh. Masih utuh hingga aroma kopi sedikit hilang karena uapnya menghilang.

“Abang sejak tadi diam saja. Hanya mengucapkan salam dan langsung ke belakang. Sekarang pun Sarinah lihat, Abang masih diam. Sedang memikirkan apa?”

“Karman, Nah.”

“Kenapa dengan Karman? Dia terkena serangan jantung, kan?”

“Iya. Abang tidak tahu harus bilang apa padamu, selama ini abang merasa bersalah tidak pernah mendengarkanmu atau mengikuti saranmu.”

“Ada apa, Bang?”

Sarinah menatap wajah suaminya dengan lekat, dan kerutan di dahinya begitu banyak ketika mengernyit.

“Kata anaknya Karman, dia meninggal setelah minum kopi malam itu. Padahal dokter sudah mengingatkannya untuk tidak lagi mengkonsumsi kopi dan rokok. Sudah empat bulan Karman darah tingginya kambuh. Anaknya bilang, Karman semalam mengalami stroke, sayang sekali mereka telat membawanya ke rumah sakit hanya lima menit dari kejadian malam itu.”

Rasmin menatap langit-langit ruang tamunya sambil menarik napas yang sudah tinggal sisa umur.

“Jadi begitu rupanya. Berapa lama Sarinah ingatkan, Bang, tapi mulut ini dianggap angin lalu.”

Rasmin makin diam saja. dia tahu kebiasan buruk yang dilakukannya selama ini salah. Tapi tetap keras kepala hanya karena itu seperti kebiasan yang mendarah daging dalam hidupnya. Yang pun sama setianya menemani segala aktivitas dalam kehidupan. Meski … bisa merugikan sedikit kesehatan dan uang dapur.

“Masih mau melanjutkan atau berhenti total?”

            Rasmin menunduk lama, menganggukkan kepala dan menatap wajah istrinya yang meneduhkan. Ada rasa haru dari pertanyaan istrinya itu. Hanya dia merasa malu, nasehat istrinya bagaikan berlian saat ini. Secangkir kopi kini telah berubah menjadi secangkir perhatian yang harus dia konsumsi setiap hari. Ingin dia balas pula dengan secangkir pengertian untuk Sarinah. Dengan cara menuruti keinginan ratu dalam hatinya itu, berhenti merokok dan minum kopi, serta tidak ingin napas itu berhenti lebih cepat.

Sekian.
Cikarang, 27-April-2015.

Penulis: Rosi Ochiemuh, Nama asli : Rosi Jumnasari. Email: ochiemuh18@gmail.com
*Catatan ; Cerpenku yang gagal tembus media. Terkirim sejak tanggal : 28-April-2015 ke tabloid wanita. Semoga bisa menulis lebih baik lagi. :D

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.