Di kepalamu sedang dihujani batu. Sakitnya sampai tidak bisa berkata-kata. Semula kamu tidak percaya bahwa batu itu sedang berjatuhan di kepalamu. Setiap malam kamu merasa batu-batu itu menghujani kepala sampai ambruk, lalu merasakan lagi pelukan hangat ibu yang setia menjaga. Batu-batu itu menghilang sebentar, tapi hujan batu itu datang lagi.
****
Malam purnama hari itu tidak terlupakan. Tuhan semakin sayang padamu. Penyakit datang tanpa pandang bulu. Malam pekat itu membuatmu merasakan sesak napas. Batuk memecah sunyi berkali-kali. Tenggorokan seakan dicekik aura malam, sesak yang tidak bisa dijelaskan.
Berkali-kali mengelus kandungan, berharap apa yang kamu rasakan tidak mengganggu bayi dalam rahim. Lia terlihat resah, lalu dia mengambil segelas air hangat untukmu. Begitu saja sudah buatmu bahagia, meski dalam keadaan sakit. Lia laksana malaikat kecil yang dikirim untukmu. Meski ayahnya bajingan, tapi Lia anakku baik hatinya, batinmu menggumam.
“Mama sakit? Besok ke dokter, ya,” pinta Lia, matanya selalu menatap resah padamu saat terbatuk-batuk.
Rumahmu di malam hari, kini terlihat terang dari balik jendela. Kamu tidak bisa tidur karena batuk durjana menghajar tenggorokan hingga dada jadi sesak.
Keesokannya, pagi disambut lesu dalam rumah. Di bawah kedua mata membentuk hitam sabit. Wajah muram, bibir merah menebal. Mengikuti saran Lia, kamu memeriksakan diri ke Dokter Klinik terdekat dari rumah.
“Ibu terkena batuk rejan. Ibu harus istirahat total dan tidak boleh melakukan rutinitas penuh. Apalagi ibu sedang hamil delapan bulan. Ini berisiko dengan kehamilan ibu,” ujar dokter itu. Kamu diam saja mendengarkan sambil mengangguk. Meski hati berkata, butuh uang untuk biaya persalinan nanti.
“Saya berikan resep obat khusus ibu hamil, minum dua kali sehari bersama vitaminnya. Udara perkotaan juga kurang bagus untuk ibu hamil, sebaiknya istirahat total,” lanjut dokter lagi, mengingatkanmu.
Selepas pulang dari klinik, kepikiran ucapan dokter tadi. Apakah memang harus istirahat total? Sedangkan kamu masih ingin bekerja. Bukan saja untuk memenuhi kebutuhanmu dan Lia, tapi biaya persalinan. Raga berada di ranjang, sedang pikiran ke awang-awang.
Tiba-tiba laki-laki itu masuk ke dalam rumah bersama kegilaan di wajahnya. Mulutnya berbau alkohol, dan berbagai umpatan keji yang siap keluar untuk menularkan virus kegalauan dan keresahan padamu.
“Aku mau pinjam tabunganmu. Ada uangnya tidak?!”
Kamu bangkit mendengar itu, seperti bom nuklir yang meluncur tepat di depan tubuhmu. Kehancuran baru saja datang menemui. Segala biang kesialan dan kesulitan hidup itu adalah suamimu.
Dengan langkah gontai, kamu hampiri tanpa berpikir lagi. "Untuk apa, Bang? Tabungan itu untuk biaya melahirkan, sekarang aku lagi sakit,” ucapmu lesu.
“Halah, kamu. Pura-pura sakit biar aku pergi!” gertak lelaki durjana itu.
“Tidak, aku sungguh sedang sakit, Bang. Kau lihat ini obat-obatnya, baru saja aku dari klinik dokter,” jawabmu memelas.
Memang, saat ini kamu sedang tidak berdaya untuk menghadapinya. Serasa kekuatan itu sedang disedotnya. Laki-laki itu tanpa berkata lagi membuka paksa semua isi lemari pakaian. Mengobrak-abrik apa pun yang harus didapat, ia belum menemukan buku tabungan yang sebenarnya sudah kamu sembunyikan pada ibumu di rumahnya.
“Akhirnya dapat juga! Ini kuambil dulu, nanti aku ganti!” teriaknya dengan mata merah menyalak mendapati kotak kecil berisi kalung emas seberat dua gram. Keadaan yang persis seperti begal di berita televisi.
Kamu terbelalak melihat itu, dia sudah mengambil perhiasanmu satu-satunya, meskipun katanya akan diganti, belum pernah satu pun janjinya ditepati.
“Jangan, Bang! Itu pemberian ibuku. Kumohon jangan!” teriakmu memegangi kakinya. Saat itu tubuhmu lemas tanpa disadari. Sementara dengan kasar dia pergi melepaskan tanganmu dari kakinya. Melenggang penuh tawa tanpa menoleh lagi padamu yang menangis dan hampir pingsan. Rumahmu halai-balai laksana hatimu saat itu.
Sejak kejadian itu, sakitnya bertambah buruk. Batuk menjadi monster yang menyerang. Sampai tidak bisa menahan buang air kecil sebentar. Kemudian, datang hujan batu di kepalamu. Lia memandang sedih, dan meminta neneknya menjagamu. Lia khawatir. Anak itu merasa pilu dan sering menangis dalam shalatnya.
***
Kemarin sore, langit di atas Sungai Musi jingga keemasan. Memantul pada riak kecil air sungai yang tenang. Kamu tidak pernah absen menyaksikan itu selepas pulang kerja dari toko kain di Pasar 16 Ilir. Tempat dimana hiruk-pikuk perniagaan selalu ramai, walau beberapa toko telah terbakar berkali-kali tapi selalu punya banyak nyawa untuk kembali menjadi pasar kebanggaan kota pempek itu. Matamu terpaku di sungai Musi. Seakan diletakkan semua di sana.
Keresahan itu lalu berkumpul jadi air mata yang menetes di pipi. Ada gelombang di kepala, dan tubuhmu yang berbadan dua nampak gusar, berkali-kali mengusap perut yang membuncit tiap bulannya. Kehamilan kedua yang menyedihkan setelah pertengkaran yang berulang dengan suamimu.
"Kita ini sudah menikah delapan tahun, tapi sikapmu masih tidak berubah. Selalu buat orang susah, termasuk aku!”
“Diamlah! Jangan mengaturku, tugasmu cuma menurut saja!"
“Aku cuma mau kau jadi suami dan ayah yang baik. Bang, berubahlah demi anak kita.”
“Halah! Aku tidak butuh ceramah, aku sedang pusing. Aku perlu uang, mana uangnya?”
Dentuman keras daun pintu rumah seakan hampir lepas dari tempatnya. Kemarahan tertumpah dari suamimu yang pergi. Kamu remas jemari dengan kencang. Mungkin di dalam sana, janinmu ikut bergejolak. Emosi ibunya dirasakan pula. Satu per satu lelehan air mata jatuh ke lantai, kala tertunduk ke bawah sana. Hanya disana kamu bisa sembunyikan kemuraman. Rumah tangga yang kian keropos.
Batinmu teriris. Sekadar memohon hak dirimu dan Lia, lantas laki-laki itu marah. Sebenarnya, dia tidak pantas untuk menjadi suami dan cintamu. Laki-laki itu hanya pantas mendapatkan perempuan yang sama brengsek dengan dirinya.
Sejak kamu menikah dengannya, sejak itu pula tidak terlihat lagi tawa riang di wajahmu. Entah apakah serius menjalani pernikahan itu, atau memang kamu sedang menahan sesal atas pilihanmu sendiri.
Lelakimu bahkan tidak tahu bagaimana cara menafkahi lahir batin. Semuanya timpang. Belum lagi ibunya, hanya membicarakan aib rumah tangga anaknya daripada memperbaiki. Dia bilang, kamu adalah menantu yang tidak baik. Hanya bisa bekerja cari uang tanpa jadi istri dan ibu yang benar. Omongan yang tidak logis dan tidak berperasaan.
Harusnya anak laki-lakinya mencari nafkah dan menafkahi sejak menikahimu. Bukan menjadikanmu tulang punggung rumah tangga. Lamunan mendera. Manakala kamu sakit hati pada suamimu. Semua terungkit dengan sempurna tanpa jeda sedikit pun.
Selepas pulang kerja kamu menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke kolong Jembatan Ampera. Memandangi sungai Musi yang berkilauan menjelang senja. Memandangi beberapa pasang kekasih duduk mesra bercengkrama di BKB, Benteng Kuto Besak. Mereka pun menikmati suasana sore yang ramai dan indahnya langit senja. Batinmu tiba-tiba mengumpat mereka. Dulu pun kamu pernah berkasih mesra seperti mereka, bersama lelakimu, bukan? Dari sanalah datangnya cinta dan tak bisa menolak apa pun yang dulu diminta dari lelaki itu.
Mereka hanya menikmati sajian semu yang bodoh, batinmu. Pasangan kekasih itu akan merasakan kenyataan sebenarnya hubungan setelah menikah. Ya, setelah menikah, semua kejelekan sifat dan karakter yang tak diduga akan ditemukan.
Kamu cuma memainkan batang rokok karena ragu untuk dinyalakan. Sejak dilanda resah dan frustasi, kamu akan menghirupnya. Mengisap saripatinya dan dikeluarkan kembali dari lubang hidung dan mulut. Ada sesuatu yang melegakan saat merokok, pikirmu dulu.
Hampir saja rokok itu dinyalakan, kalau tidak mengingat sedang berbadan dua memasuki bulan ke delapan. Mengingat perkataan ibumu yang kamu sayangi.
“Jaga kandunganmu, Vina. Kehamilan kedua ini sangat ibu dan Lia dambakan, meski suamimu masih belum berubah. Kami menyayangimu.”
Sebatang rokok itu kamu buang ke sungai, terbawa arus. Kamu tersenyum kecil kala melihat beberapa perempuan sepertimu bersama balita mereka, bayi-bayi mereka yang lucu berjalan-jalan di sore hari di sekitar BKB. Dan bayangan Lia melintas di kepala, anakmu menunggu di rumah. Kamu lantas meninggalkan tempat itu setelah pikiran sudah tenang.
***
Ketika hujan batu di kepala tiba-tiba mereda. Kamu berjalan sendirian ke sebuah tempat yang di sana banyak manusia berbaju putih memakai perhiasan emas permata. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan.
Seolah mengajakmu untuk ikut. Kamu hampiri lalu menaiki perahu besar bersama mereka di atas sungai Musi yang berbondong datang dari sebuah rumah ibadah yang terang dan indah. Itu Masjid Agung. Mereka lalu mengajak berbincang, mengelus lembut perutmu yang besar dan meletakkan sehelai rumput fatimah di tangan. Kamu terima tanpa penolakan.
“Jangan takut, sebentar lagi kau akan bebas dari semua penderitaan. Kau nyaman bersama kami,” ucap perempuan yang semua tubuhnya tertutup kain dan jubah putih kecuali wajahnya.
Dirimu memang merasa nyaman. Sesuatu yang tidak kamu sadari jauh di tempat lain, Ibumu, Lia, kerabat, dan teman-temanmu, bertangisan di dekat ranjang pesakitan.
Kamu mengalami koma setelah peristiwa perampasan kalung emas itu, dan setelah beberapa malam merasakan hujan batu di kepala. Akhirnya dalam keadaan koma, bayimu dilahirkan melalui operasi. Tangis bayi pun terdengar setelahnya, tapi detak jantungmu berhenti.(*)
Cikarang-Barat, 20 April 2022
Komentar
Posting Komentar