Cerpen ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Cerita Muda-Cakrawala. Minggu, 25 Juni 2023.
Adakah yang masih percaya bahwa di zaman secanggih ini masih ada makhluk paling idealisme. Seorang pemuda bernama Asmawi. Orang ini menurut saya, pemuda yang punya ketidakwarasan soal cinta. Begitu setianya dia pada cinta pertamanya hingga jelang remaja. Cinta itu selalu ada pada gadis bernama Yulia.
Wajah Asmawi setengah kegantengannya mirip aktor Fedi Nuril, dan setengahnya lagi mirip komedian Tukul Arwana. Kira-kira seperti itulah membayangkan wajah Asmawi. Namun, saya tidak mau pusing memaparkan rupa Asmawi, karena yang pusing adalah kelakuannya.
Sejak kecil Asmawi menyukai Yulia yang anak guru ngaji dan buruh listrik. Ibu dan bapak Yulia sedikit terpandang di perkampungan kami. Mereka berdua sering dijadikan figur teladan yang dikagumi oleh tetangga sekitar karena keaktifan suami-istri itu dalam kegiatan sosial di masyarakat, khususnya lingkungan sekitar kami. Mungkin dari sinilah Asmawi menyukai keluarga Yulia dan akhirnya jatuh hati pada gadis itu.
Yulia sebenarnya tidak cantik, hanya saja dia supel dan periang. Namun, saya akui Yulia gadis yang manis, meski terkadang menyebalkan akan sifatnya yang selalu mengandalkan orang. Asmawi termasuk pemuda polos dan dungu. Begitu tunduknya pada apa yang dikatakan Yulia. Dari urusan pelajaran sampai urusan tetek-bengek lainnya.
Suatu waktu Asmawi pernah disuruh mengerjakan PR Bahasa Indonesia, membuat puisi bertema percintaan. Serta-merta Asmawi menyerahkan diri untuk membantu Yulia. Setelah mengerjakan PR gadis itu, saya tertawa terbahak-bahak dengan apa yang dituliskan Asmawi. Puisi percintaan yang kelewat puitis dan norak. Bait-bait puisinya menyampaikan rasa kekagumannya pada Yulia. Dan karena itulah saya tertawa terbahak-bahak. Begitu konyolnya Asmawi.
Yulia marah, karena dengan begitu akan ketahuan kalau PR Bahasa Indonesianya bukan tulisannya sendiri.
Tanpa kecewa dan kekesalan apa pun, Asmawi terima kemarahan Yulia kemudian menuliskan lagi PR baru. Akhirnya Yulia sumringah dan Asmawi ikut bahagia. Begitu konyolnya pemuda itu menurut saya.
Pernah suatu kali di musim hujan, saya ajak Asmawi untuk pergi ke kafe yang lengkap dengan permainan biliar serta pelayanan perempuan cabe-cabean. Di sana banyak sekali perempuan berbaju mini, seksi, cantik dan genit, membuat siapapun pemuda normal naik hasrat lelakinya. Satu perempuan mendekati saya dan satu mendekati Asmawi. Saya katakan bahwa ini hanyalah hiburan. Tidak akan ada yang marah di luar sana, termasuk Yulia. Menurut saya Asmawi terlalu percaya diri karena belum tentu Yulia menyukainya apalagi mencintainya.
Perempuan itu mendekati Asmawi, menawarkan minuman, dan mendekatkan lagi pahanya yang putih mulus hingga menempel ke paha Asmawi. Saya lihat Asmawi panas dingin, entah jadi bernafsu atau ketakutan. Saya menikmati hiburan perempuan seksi yang mendekati dan melayani saya saat itu. Terhitung sepuluh menit kemudian, Asmawi cepat-cepat meninggalkan perempuan itu beralasan ingin ke toilet. Tanpa diduga, Asmawi kabur meninggalkan saya sendiri dalam kafe di tengah larut malam.
“Jangan bawa aku ke tempat itu lagi, Kus!” teriaknya marah pada saya.
“Kamu itu bodoh sekali, Mawi. Cowok kok sukanya cuma sama satu cewek. Nikmati saja cewek itu, sebelum janur kuning melengkung!” sahut saya kesal.
Wajahnya makin surut mengerucut. Entah apakah Asmawi sudah kepincut dan kepelet sama Yulia, sampai dia tidak lagi tertarik pada gadis lain yang lebih seksi dan aduhai. Yulia itu gadis standar yang terlalu tinggi seleranya, mana mungkin akan menyukai lelaki seperti Asmawi.
Kepercayaan diri Asmawi akan perasaannya pada Yulia semakin menjadi. Asmawi sering memainkan gitar dan menyanyikan lagu-lagu anak band zaman sekarang bertema cinta, di depan rumah Yulia. Meski jaraknya berjauhan karena di seberang rumah Yulia itu ada pohon kapuk yang teranggur, di sanalah tempat Asmawi untuk menuangkan segala perasaannya dengan memainkan gitar dan menyanyi sampai larut malam.
Saya semakin kasihan pada Asmawi, di tengah kegilaan saya pada gadis-gadis baru yang saya kencani. Maklumlah, saya ini hanyalah seorang playboy cap kaki lima. Maksudnya masih kelas ecek-ecek, belum seberapa dibandingkan teman saya si Gugun yang sudah melalang buana jadi playboy kelas kakap.
Hanya Asmawi satu-satunya lelaki yang masih perjaka di tempat tinggal kami. Itu membuat dia dibully, tetapi kadang saya langsung menarik tangannya untuk hengkang dari perkumpulan pemuda gaul itu. Ketika semua pemuda seperti saya dan yang lainnya sibuk main game online di ponsel, chatting di Whatsapp grup untuk caril gebetan pada masa lagi segar-segarnya, Asmawi malah asyik bercumbu dengan gitarnya.
Terkadang saat memainkan gitar sambil menyanyikan lagu asmara, Yulia keluar dari rumahnya persis di depan pintu. Kemudian duduk di bangku teras bersama teman gadis sebayanya. Terkadang terdengar tawa cekikikan di antara mereka. Sepertinya gadis-gadis itu lebih suka gosip ketimbang belajar berkelompok. Asmawi semakin berkobar memainkan gitar dan menyanyi sampai suaranya serak-serak kerontang.
Dua tahun Asmawi seperti itu setelah masa usia remaja. Membuat saya merasa gemas dengan idealismenya yang cupu dan norak.
Seandainya saya jadi Asmawi. Sekali coba pasti akan diterima Yulia, secara saya itu pemuda rupawan dan keren kata para gadis yang sudah pernah saya kencani. Sayangnya, saya tidak menyukai Yulia.
“Apakah Yulia mau menerima cintaku jika aku mengatakannya, Kus?” tanya Asmawi. Akhirnya dia mau berkonsultasi pada saya.
“Kenapa tidak dicoba saja,” jawab saya sekenanya.
“Ajarkan aku, Kus. Bagaimana caranya mendapatkan hati Yulia,” ujarnya lagi.
Saya tersenyum kecut mendengar ungkapan itu, kemudian mengangguk pilu. Matanya berbinar, persis seperti kucing dapat makanan lezat dari tuannya.
“Benar, kamu mau bantu aku, Kus,” tanyanya berulang. Saya mengangguk lagi untuk kedua kali.
Besoknya dia melakukan apa yang sudah saya suruh. Pada malam Minggu Asmawi sudah menyiapkan segalanya, dari penampilan dan sesuatu untuk menaklukan hati Yulia. Rambut yang dicukur cepak, maskeran wajah sehari sebelumnya agar wajahnya bersinar. Memakai wewangian maskulin. Pakaian berselera anak muda jaman sekarang, dan rela berutang untuk membeli pakaian itu di tukang kredit harian.
Dengan membawa seikat bunga asli dan imitasi, sekotak coklat, dan martabak spesial untuk bapak dan ibu Yulia. Saya bilang, martabak spesial itu sekadar menyenangkan ibu-bapaknya agar urusan asmara semakin lancar. Jika sudah jadian dengan Yulia, berikan sogokan yang lebih spesial lagi agar hubungan semakin berlanjut dalam.
Saya menunggu di luar rumah Yulia. Tidak apa-apa sementara jadi obat nyamuk, supaya semua berjalan dengan sempurna. Terlihat Yulia menyilakan masuk Asmawi, kemudian saya intip dari samping jendela. Terlihat ibu-bapak Yulia sumringah menerima sekotak martabak spesial. Lantas Asmawi disuguhi secangkir kopi susu.
“Tumben. Malam Minggu kenapa main ke rumahku, Wi?” Pembukaan mengejutkan dan disambut senyum Yulia.
“Aku datang kemari untuk sesuatu, Yul … Ini sudah lama sekali. Kamu harus dengarkan dulu,” tutur Asmawi.
Mata saya langsung terbelalak mendengar penuturan Asmawi yang blak-blakan. Padahal sebelumnya sudah saya ajarkan untuk basa-basi sedikit.
“Kamu serius sekali, Wi,” Yulia tergelak. Tapi Asmawi terdiam kaku.
“Aku sejak dulu menyukaimu, Yul. Aku cinta sama ka-kamu, Yul,” ucapnya.
Saya tergelak dan rasanya ingin terbahak-bahak, tapi saya coba tahan mulut saya dengan mengatupnya. Rasanya tidak percaya kalau Asmawi bisa langsung mengucapkan kata-kata itu. Selama ini dia bilang malu dan sebenarnya takut ditolak mentah-mentah.
Mata Yulia melotot, mulutnya menganga. Lantas menggeser tempat duduknya. Mungkin merasa tidak percaya pengakuan Asmawi. Pemuda dungu itu menunduk setelah mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.
Suasana jadi hening, sangat tidak mengenakkan bagi keduanya. Untung saja masih terdengar suara dari tv, serial india yang ditonton oleh mereka di ruang tamu.
Sebelum akhirnya Yulia bicara, Asmawi lantas meminum kopi susunya sampai tandas. Saya semakin geli pada kegugupan Asmawi yang tadi berani kemudian menjadi ciut lagi ketika Yulia melotot padanya.
“Kok, cepat sekali kamu mengatakannya? Mengapa tidak bawa gitar dan menyanyi lagu cinta di depanku?” tanpa diduga Yulia berbicara seperti itu. Oh, ternyata saya salah. Yulia juga merasakan apa yang dirasakan Asmawi.
Yulia lantas berkacak pinggang di depan Asmawi, dan pemuda dungu itu masih menunduk.
“Kamu tahu? Sudah lama aku menunggu kamu menyatakan cinta. Tapi kamu menyatakan cinta secepat ini dan tidak romantis, padahal kamu selalu memainkan gitar dan menyanyi. Kalau kamu mencintaiku, sekalian lamar aku untuk dijadikan istri!”
Betapa terkejutnya Asmawi. Begitupun saya. Yulia memaksa Asmawi untuk menikahinya langsung. Ini gila! Benar-benar gila. Yang saya tahu Yulia gadis yang pemilih dalam memilih pacar ataupun teman, dan gilanya gadis itu malah minta dinikahi Asmawi.
Oh, rasanya perut saya mulas-mulas mendengar itu, kepala saya jadi pusing dan gelitik menyentak. Bukan karena saya sedih dengan keputusan Yulia, tetapi saya menyesali kejadian dua minggu lalu. Ketika Yulia janjian bertemu dengan saya di sebuah motel murah, dengan segala keberanian Yulia mencurahkan perasaannya. Dia sangat mencintai saya, katanya sudah lama. Dimalam laknat itulah Yulia dan saya terhanyut rasa dalam sebuah permainan yang menggila dan semakin jauh. Saya tak bisa menolak kegilaan Yulia. Bagaimana dengan Asmawi? Apakah akan terima, bila Yulia pernah ada main sama saya?(*)
Cikarang Barat, November 2021-2022
Komentar
Posting Komentar