Semua orang wajahnya muram dan kepala mereka seolah terlihat onak yang menonjol sejajar dengan rambut seperti siksaan yang baru saja dimulai pada Senin pagi di jalanan kota industri daerah Jawa bagian Barat. Tidak dengan Mursalina, dia senang bekerja di kantornya walaupun sebagai administrasi merangkap resepsionis di kantor penyuplai terbesar barang-barang spare part pabrik industri besar.
Dia membuka laptop dan menyeduh secangkir cappucino. Sambil duduk manis, dia melakukan pekerjaan dengan baik lalu buka internet di kantor sepuasnya. Sesekali mengintip Facebook, Twitter, Instagram, dan juga berita terkini, kemudian kembali mengerjakan tugas lalu mengantar arsip-arsip yang sudah di-print kepada bosnya di lantai dua untuk ditandatangani. Kepalanya terlihat bersinar, tanpa ada onak sedikit pun.
Bagaimana kepalanya tidak terlihat bersinar. Mursalina mendapat kebahagiaan dua kali lipat tiap akhir bulan. Bos memberi rezeki lebih kepada staf dan kurir karena para sales mencapai target penjualan sebelum akhir bulan di tiap bulannya, semua kebagian bonus dari pendapatan sales. Mursalina sumringah. Bos mereka tak segan mengajak makan siang di restoran terbaik.
Target penjualan staf sales meningkat per semester. Perusahaan untung besar, dan Mursalina serasa kejatuhan rontokan berlian. Diberi motor matik, fasilitas kendaraan untuk pulang-pergi ke kantor karena rumahnya jauh dari tempat kerja. Para kurir mereka juga kebagian fasilitas kendaraan.
“Senangnya kerja di kantor ini. Aku betah, Mba,” ucap teman kerjanya, staf kurir yang baru saja menjalani masa percobaan kerja. Kepalanya bersinar seperti lampu bohlam kuning.
“Iya, apalagi kalau karyawan lama, Mas. Semoga semakin lebih baik juga kerjanya,” sahut Mursalina bersemangat.
Ketika Mursalina mengajukan cuti nikah, perusahaan memberi waktu 1 minggu. Mursalina dapat hadiah pernikahan dari perusahaan, langsung ke rekening tabungannya. Rona bahagia menyelimuti kehidupan baru Mursalina.
Perempuan itu makin giat menjalani pekerjaannya. Meski macet mendera, dia tetap semangat masuk. Meski telat, bosnya memaklumi dan tetap memberi semangat. Tidak ada potongan gaji, tidak ada ocehan yang mengecilkan hati. Semua berjalan dengan sangat bahagia.
Sampai saat Mursalina hamil, perusahaan membuat perempuan yang bekerja di tempat itu makin diistimewakan. Ia diberi fasilitas khusus, jauh dari asap rokok, diberi ruang ber-AC dan setiap tugas arsip-arsip yang selesai dibuatnya, diberikan kepada kurir untuk diserahkan kepada bos di lantai dua. Mursalina hanya duduk manis bekerja. Makin lama, kehidupan Mursalina makin baik. Walau hanya administrator, ia punya rumah, motor, dan bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Membuat semua pekerja kantor lain iri padanya dan teman-temannya.
Waktu usia kehamilan Mursalina sudah memasuki 7 bulan, ia mengajukan cuti melahirkan. Sebagaimana biasa, semua kantor memberi kebijakan cuti melahirkan 2 bulan. Ternyata Mursalina mendapatkan cuti lebih, ditambah 2 bulan lagi dengan gaji pokok ditransfer setiap bulannya. Kata HRD-nya, cuti tambahan itu untuk pemberian ASI eksklusif pada bayi Mursalina. Saat melahirkan pun, semua biaya persalinan ditanggung asuransi kesehatan dari perusahaan. Suami Mursalina makin sayang, bahkan senang karena istrinya bahagia setiap hari meski bekerja di luar rumah.
Kebijakan perusahaan memberikan kelapangan pada karyawan yang sudah menikah, khususnya perempuan. Mursalina jadi satu-satunya karyawan administratif yang diistimewakan karena dia satu-satunya perempuan yang bekerja di sana, sudah menikah, dan memiliki anak. Setiap kali Mursalina meminta izin tidak bekerja karena anaknya sakit, bos langsung mengiyakan tanpa ada pemotongan gaji dan tanpa birokrasi yang menyulitkan.
***
Perempuan itu taksadar, tertidur. Ia melupakan sesuatu yang ada di dada dan kepala, di antara hiruk-pikuk suara berisik kendaraan dan kegetiran orang dalam angkutan umum. Ia melupakan onak di kepala yang mulai meninggi bak ilalang berduri. Tiba-tiba suara seseorang menyadarkannya dari tidur.
“Mba …, Mba …,” panggil seseorang yang suaranya terasa dekat. Kemudian dia membuka mata perlahan. Terbangun dari lelap sejak kemacetan terjadi.
“Ada apa, ya?” tanyanya terbata kemudian melirik jam di pergelangan yang bernuansa putih dengan angka-angka romawi. Mukanya pias, sudah hampir 2 jam terjebak kemacetan.
“Itu, ponselnya dari tadi bunyi, Mba,” ucap pemuda yang duduk di depannya. Gegas dia mengambil ponsel dalam tas. Terkejut mendapati panggilan tidak terjawab sampai lima kali dan SMS dari suaminya: Lin, sudah sampai mana? Masih di perjalanan? Reina rewel sekali, nih. Begitulah isi pesan suaminya.
Dahinya mengernyit untuk kesekian. Ia menarik napas panjang untuk mengalihkan pandangannya menghadap jendela belakang angkutan umum, masih terjebak kemacetan. Begitu sesak membuat hatinya sumpek lagi. Rasa meledak-ledak ingin ditumpahkan dengan umpatan. Buru-buru ia pendam sampai angkutan itu berjalan lagi, tersendat-sendat mirip sendatan di dadanya.
Di musim penghujan, sejak sore hujan turun sangat deras. Membuat setiap titik ruas jalan raya jadi berlubang, banjir, menyebabkan kemacetan yang sangat parah. Ditambah berbagai bunyi klakson kendaraan saling sikut memekakkan telinga dan membuat pusing kepala. Hampir 2 jam perempuan itu berada dalam angkutan umum. Ia ingin turun dari sana dan mencari jasa ojek, tapi uangnya tidak mencukupi. Urunglah untuk mengojek, lalu ia menenangkan hati dengan memejamkan mata meski suara hiruk pikuk masih terdengar.
“Aduh, macetnya parah sekali,” keluh ibu-ibu di sampingnya. Dilihat lagi di samping ibu itu, ada perempuan muda berseragam biru tua, sepertinya dia buruh pabrik. Wajahnya pupus dan bolak-balik menatap ponsel lalu membuang pandangan ke luar. Supir di depan mereka ikut menggerutu bersamaan suara gerung kendaraan bermotor terjebak di jalanan. Udara di luar dan di dalam angkutan sesak menggumpal. Kepala-kepala mereka seperti buah durian yang penuh onak-onak, suram.
Mursalina melihat layar ponselnya kembali. Membalas pesan dari suaminya: Maaf, Mas. Aku kena macet. Mau naik ojek, tapi uangku tidak cukup. Tolong jaga Reina dulu. Pesan itu mungkin sudah terkirim pada ponsel suaminya. Mursalina mengucek mata berkali-kali, berusaha menahan bulir hangat yang dirasa akan meluruh.
Pagi tadi, saat kerja baru saja dimulai, ia dilabrak bosnya dengan kata-kata kasar karena kesalahan pada pengetikan angka yang membuat konsumen tidak mau menerima faktur. Setelah resah dibiarkan reda, datang lagi sesuatu yang membuat semangatnya runtuh.
“Kerjanya diteliti lagi. Ini gimana? Salesnya enggak bisa kirim barang karena penawaran salah!” gertak bos sambil melempar kertas penawaran ke meja, langsung di depan mukaku.
“Ma … maaf, Pak,” sahut Mursalina ketar-ketir. Rasanya ia ingin kabur dari ruangan yang tiba-tiba gerah meski AC menyala.
“Saya tidak butuh maaf kamu! Saya tidak ingin ini terjadi lagi. Mengerti?”
Sekali lagi, rasa geram mengembang di ubun-ubunnya, membuatnya ingin berteriak. Ada saja yang membuatnya tidak tenang, seperti salah tik satu huruf dan angka, hanya kesalahan kecil. Lebih menyakitkan lagi, ia sering jadi kambing hitam dalam setiap kesalahan, misalnya ketika staf bagian impor salah pesan barang dan yang datang bukan barang sebenarnya. Mursalina kebagian gerutu dari pimpinan. Pun saat staf sales tidak mencapai target, neraca untung merosot. Mursalina tak luput dari kemarahan bos.
Setiap orang tidak luput dari gangguan perjalanan menuju tempat kerja. Suatu ketika Mursalina telat 2 menit sampai kantor karena pengecoran jalan mendadak yang membuat macet. Potongan gaji menanti. Saat izin tidak masuk karena anak sakit atau urusan apa pun, potongan gaji juga diberlakukan meskipun untuk karyawan lama seperti Mursalina.
Kenaikan gaji selalu tersendat dan perempuan itu berusaha untuk irit dalam sebulan penuh. Hanya mengutamakan pembelian susu formula untuk buah hati yang masih berumur 6 bulan dan kebutuhan makan sehari-hari. Melahirkan pun, ia biayai sendiri. Ia ingin keluar, tapi ia gamang. Pendapatan suaminya belum mencukupi.
Sementara ijazahnya hanya sekolah menengah kejuruan, tidak bisa bergerak bebas seperti sepupunya yang bisa keluar masuk dari pekerjaan tak menyenangkan karena punya ijazah tinggi, dan mendapatkan jaminan gaji yang layak. Mursalina hanya bisa menumpuk ribuan sabar di dada demi kelangsungan hidup keluarga.
Setiap mendekati tanggal tua, ia kasbon di kantor. Tidak mudah, bahkan ia bertarung sengit dengan teman sekerja sehingga tiap bulan menerima gaji hanya dilema bagi Mursalina. Ia harus lebih cermat dalam pengeluaran. Bagaimanapun ia masih bersyukur karena masih ada mata pencarian kedua.
***
Kemacetan masih belum terurai. Ia memandangi wajah orang-orang yang kusut. Tak bisa turun dan tak berdaya di dalam. Tangisan klakson selalu melengking di telinga. Mursalina merasa seluruh tubuhnya lungkrah, kakinya pegal, teringat suami yang menunggu bersama buah hati.
Mursalina kembali memejamkan mata. “Andai saja takdir bisa kutulis sendiri seperti lamunanku tadi dalam tidur yang menyenangkan sebentar,” gumamnya. Buru-buru ia tepiskan pikiran itu. Onak-onak di kepalanya berubah menjadi indah saat berandai merangkai sesuatu yang diharapkan seperti keajaiban yang dibuat sendiri.
Perlahan ia merogoh tas, mencari sesuatu dalam keremangan dan riuh keluhan orang-orang dalam angkutan sesak itu. Mursalina terbelalak sambil merabai kembali tasnya. Diteliti berkali-kali isi dalam tas merah itu. Dompetnya raib! Kedua mata Mursalina berkejaran. Ia ingat sekilas pada ibu di samping dan pemuda di depannya tadi baru saja turun.
Cikarang Barat, Januari 2017—2023
Komentar
Posting Komentar