Pertunjukan drama sebentar lagi akan dimulai, dari balik tirai itu kekasihku akan segera tampil dengan mempesona. Aku jatuh cinta sejak pertama kali mendengar suara soprannya yang membacakan puisi dan bernyanyi. Lalu lekuk tubuhnya bak gitar spanyol, hingga kuberpikir getaran cinta ini tergetar oleh dawai-dawai yang dia mainkan.
Coba pikirkan sekali lagi kenapa kau harus menyukai gadis yang pipinya seperti bakpau itu, suatu kali teman seprofesiku bertanya dengan cara terburu-buru. Kujawab saja, bahwa cinta tidak mengenal fisik. Betapapun aku temukan kejelekan dalam diri idolaku itu seperti aroma kentutnya atau bau keringatnya. Namanya cinta tetaplah cinta. Aku menikmati semua itu dari sang idolaku.
Tirai panggung dinaikkan, pertunjukkan baru dimulai dengan sangat elegan. Oh, rupanya kekasihku yang memulai pembukaan operanya. Dia membacakan puisi WS.Rendra, “Nyanyian Suto Untuk Fatima” dan musik pun mengancah panggung dengan lekukan tarian dari tubuhnya. Gadisku berperan sangat piawai, suaranya nyaring menantang. Lawan-lawan mainnya tidak sepadan pada keahliannya menjiwai peran.
Terkadang aku cemburu ketika dia berkali-kali beradu peran dengan beberapa pria. Wajah mereka sungguh menarik hati para gadis di luar sana, dan mungkinkah gadisku ikut-ikutan latah mengangumi mereka juga.
Atraksi panggung mulai gaduh. Bergantian peran-peran dimainkan dan musik terasa menghidangkan drama jadi menarik hingga tubuhku serasa melayang menari-nari di udara. Sekali lagi gadisku bermain dengan memukau di atas sana. Sampai dimenit terakhir semua penonton tidak lepas memandang opera yang memukau dengan gadis berpipi bakpau yang eksotik. Tepuk tangan penonton terakhir mengakhiri pertunjukan dan saatnya mengikuti si gadis di kamar ganti.
***
Memasuki kamar ganti, gadis itu duduk dekat meja rias lalu mematut diri di cermin. Matanya mengerjap beberapa detik kemudian menekuri lekuk-lekuk wajahnya sendiri.
“Seandainya kau datang, betapa bahagianya aku, Tio,” ucapnya di depan cermin. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengganti gaun pentas. Pertunjukan yang digelar oleh grup teater Kotak Pelangi selalu menawan dan menggairahkan penonton. Namun tidak berarti bagi gadis itu. Karena penggemarnya tidak datang sama sekali, pria yang tidak jelas bernama Tio.
Hampir seluruh sepakterjangnya dipelbagai pertunjukan drama selalu memukau, hingga dia memiliki penggemar pria dan wanita. Namun, tidak pernah ada penggemar yang sefanatik Tio selama ini.
Masih teringat dalam benaknya ketika pria itu sekonyong-konyong datang membawa setangkai bunga mawar merah dan kaos T-Shirt selepas pertunjukan. Setangkai mawar merah itu diberikan padanya dan kaos T-Shirt yang dibawa untuk meminta tanda tangan plus cap bibir darinya. Awalnya dia cemas jika penggemar fanatiknya ini seorang pria gila. Karena hampir setiap pertunjukkannya pria itu selalu datang dengan cara yang sama.
Kehadiran Tio sang penggemar fanatik itu semakin hari semakin memberi semangat baru dalam hidupnya. Hingga ketika menjalani profesinya sebagai pemain drama dan teater, dia berusaha untuk tampil semaksimal mungkin. Demi penggemar fantiknya, sampai dia menyadari jika tidak ada Tio yang menonton pentasnya itu geloranya seakan meluntur.
Suatu malam ketika dia terbebas dari pekerjaannya mementas drama roman, gadis itu mengundang Tio untuk makan malam di rumahnya. Makan malam yang romantis hingga menurutnya cara itu bisa membayar semua budi baik Tio yang telah mengalirkan semangat hidup pada kariernya. Gadis itu berdandan cantik dengan menyemprotkan parfum aroma bunga prancis di setiap lekuk tubuhnya. Meski Tio tidaklah setampan teman-teman pria di grup teater, tapi baginya kebaikan dan ketulusan pria itu mengagumi bakatnya sebagai pemain drama membuat gadis itu memiliki perasaan lebih dari suka.
Berjam-jam gadis itu menunggu Tio datang di antara meja makan yang telah tertata sedemikian rupa seperti di restoran dengan hiasan lilin aromaterapi dan bunga-bunga lili dalam vas-vas cantik. Hingga sampai larut pun Tio tidak datang. Di kedalaman rasa kecewanya tiba-tiba seekor lalat besar berwarna hijau merusak pemandangan ruang makannya yang indah. Gadis itu menyuruh pelayannya untuk membunuh si lalat, sembari berlalu memasuki kamar.
***
Kulihat dia duduk termenung sendiri, meski gaunnya sudah diganti. Namun riasan wajahnya belum terhapus sempurna. Oh gadisku, kenapa kau melamun? Ini aku datang untuk mengatakan bahwa aku adalah penggemar beratmu. Penggemar yang selalu membawakan setangkai bunga mawar dan kaos T-Shirt untuk dibubuhkan tanda tangan dan cap bibirmu. Meski sebenarnya diri ini ingin juga mendapatkan kecupan langsung dari bibir indah itu, dan rasanya tidak akan mungkin.
Gadisku masih menekuri cermin itu dan kutahu dia sedang memikirkan siapa. Tapi, tahukah, meski dia kehilangan sesuatu dari dirinya tetap saja semangat memainkan drama tidak pernah susut sedikit pun. Dia tetap bergelora dengan lekuk-lekuk peran dan suara yang lantang membuat semua mata penonton tidak pernah lepas untuk memandang atraksi memukaunya. Seandainya aku bisa memberitahukan bahwa dia bisa bermain cantik dalam perannya meski tanpa pria itu.
Tangannya meraih laci meja rias dan membukanya. Kulihat di tumpukan sana, ada bertangkai-tangkai mawar merah telah mengering, dikeluarkan dan digenggamnya erat sembari dicium meski harumnya sudah hilang tergerus waktu. Oh, kekasihku, kutahu itu dari siapa dan mungkin saat ini kau merindukannya. Terlihat kedua pipinya menggelembung manja dan basah menghangat. Gadis berpipi bakpau, mungkin suatu saat kau bisa bertemu dengan pria itu lagi, tapi tidak saat ini.
Kurasa saat ini aku bisa memandanginya jelas. Dia pejamkan matanya dan menyebut nama Tio berkali-kali dengan sadar. Aku cemburu sekali, meski dia tidak pernah tahu bahwa penggemar fanatiknya selama ini telah mati di tangan seorang pembunuh bayaran dan mayatnya membusuk dalam tempat pembuangan sampah di alun-alun kota. Gadis berpipi bakpau, cinta penggemar fanatikmu itu tidak pernah mati. Dia terbang merasuki tubuhku dan tubuh teman-temanku yang lain saat menghambur ke tubuh Tio yang kaku. Sayangnya, hanya aku satu-satunya yang sampai menemuimu, gadisku. Kutemukan dirimu di mana-mana hingga aku selalu menguntitmu kemana pun kau pergi. Hingga kurasakan cinta itu memang ada.
Dia masih terpejam lama memeluk bertangkai mawar yang sudah layu. Kulirik wajahnya, ingin sekali aku menyentuhnya namun takut dia akan berteriak. Hingga aku khilaf menyentuh bibirnya dan merasakan bunga-bunga di dada ini semakin rekah. Kusadari kedua matanya terbuka memandangiku lama dan kurasakan tangan besar itu menamparku dan bibirnya.
“Kurang ajar Kau, lalat! Kenapa Kau selalu menggangguku!” Dia histeris. Badanku terhuyung lemah. Tahukah, bahwa cintaku pada gadis berpipi bakpau ini hanya bertepuk tamparan. Dan aku rela, jika mati di tangannya.(*)
Cikarang Barat, 23 Oktober 2017.
Komentar
Posting Komentar