Langsung ke konten utama

Menatap Langitlangit Rumah.



Cinta bersemi dalam sebuah rumah yang di tinggali. Hidup dengan damai dalam satu atap itu sangat membahagiakan.. Oh, tetapi banyak juga rintangan yang menghadang setiap saat. Ujian-ujian kecil dan kerikil menghadang, dan terkadang penuh tenaga ekstra untuk menghadapinya.

Salahnya diri ini sering kali panik saat menghadapi setiap masalah, terutama setelah menikah ini. Kepanikan ini terjadi manakala merasa terkejut dengan sesuatu hal yang belum dihadapi. Dan Alhamdulillahnya, setiap dalam rumah setiap penghuninya punya sesuatu trik untuk mengatasinya dengan saling membantu, tenang, berpikir positif dan berusaha mencari jalan keluar yang baik.

Dalam cinta, ekonomi, prahara semua menyatu dalam sebuah rumah. Roda kehidupan selalu berputar tapi tidak selalu menetap, terkadang posisi kehidupan kita berada di atas, terkadang besoknya berada di bawah.

Langitlangit rumah bukan sekadar kalimat benda. Maknanya sangat luas, bisa rumah itu adalah keluarga, rumah tangga dan persahabatan dalam satu atap. Dimana didalamnya terdapat banyak penghuni dengan beberapa karakter dan sifat yang bermacam-macam.

Ada yang baik, buruk, terpuji dan tercela. Berbagai rupa karakter, isi hati, dan sifat manusia yang berbeda-beda berada dalam satu atap. Menatap langit-langit rumah membutuhkan kebijaksanaan dalam memandang berbagai hal saat berada dalam satu atap. Butuh keluasan hati, toleransi, tenggangrasa dan kasih sayang yang saling berkaitan.

Dan langit-langit rumah mengajarkan kita untuk menjadi seorang yang bijak, memandang ke depan, membuka hati seluas-luasnya untuk setiap penghuni rumah. Komunikasi yang membuat tatanan kehidupan menjadi lebih baik lagi. (Rosi.Ochiemuh. 02-oktober-2014)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...