Langsung ke konten utama

Air Yang Apa Adanya, Tapi Penting.

           Hujan turun dengan derasnya, ibu dan kedua adikku segera mengeluarkan tiga buah ember untuk menandahkan air, yang keluar dari pancuran di atas genting.

“Rani! Nanti tolong kamu menggotong ember yang sudah penuh. Pindahkan ke bak dalam kamar mandi ya.”

“Kok kita menadah air hujan terus sih Bu? Tetangga saja tidak ada yang seperti kita.” Gerutu Rani mengeluhkan suruhan ibunya.

“Kalau mengharapkan listrik menyala, kapan kita akan bisa melakukan kerjaan rumah? Hanya karena listrik padam.” Sergah ibu sambil sibuk juga menadah air hujan. Memang sudah hampir tiga hari ini, listrik padam. Air yang kami pakai biasanya keluar dari pompa air, karena dengan setruman listrik jadinya pompa ikut tidak menyala. Praktis air tidak bisa didapat, dan sudah beberapa kali kami meminta air pada tetangga seberang yang punya sumur air. Menimba, mengisi lalu mengangkut ember berisi air itu ke rumah, dengan jarak yang lumayan jauh.

            Membuat ibu jadi kerepotan karena krisis air yang disebabkan mati listrik di rumah. Hujan di pagi ini memang membawa keberkahan dan kegembiraan buat Ibu. Karena pasti bisa menyetok air di tempayan besar. ibu kerepotan saat mati listrik, karena semua aktifitas yang dilakukan Ibu bersentuhan dengan air. Mulai dari memasak, mencuci sayuran, mencuci piring, pakaian, mengepel lantai dan memandikan adik-adikku yang masih kecil. Bukan cuma ibu yang kerepotan, bapak pun kena dampaknya. Sebelum mandi dan berangkat bekerja, bapak harus mengangkut air sumur untuk kebutuhan mandi di rumah.

“Sudah berhenti Bu, hujannya,” ujarku dengan sedikit lega karena tidak mengangkut air lagi ke dalam. Ibu melihat ke luar rumah. Sambil memandangi sekitarnya yang basah terkena air hujan. Berkilauan air basahannya terkena sinar matahari yang mulai siang.

 “Untung saja hujan turun ya. Alhamdulillah, kita jadi punya stok air cadangan. Mudah-mudahan besok listrik sudah menyala kembali, dan bisa menghidupkan pompa air lagi.” Gumam ibu berlirih, senyumnya mengembang diantara suasana keindahan dari matahari dan sisa air hujan.

            “Kenapa air itu begitu sangat penting sih Bu?” Tiba-tiba aku bertanya dengan penasaran, padahal pertanyaan itu seharusnya keluar dari mulut anak kecil. Bukan remaja sepertiku. “Kamu kenapa tanya seperti itu Rani?” Ibu menyela pertanyaanku yang dianggap sepele dan kekanak-kanakan.

“Cuma tanya saja, habisnya seperti berlian. Kalau tidak ada selalu diburu, padahal air itu kan cuma sekedar membersihkan, diminum dan sesudahnya hilang lagi.” Kali ini kalimatku membuat mata ibu menatapku serius.

“Begini sayang, dari pelajaran ilmu pengetahuan alam yang ibu ketahui. Bahwa seluruh tubuh manusia itu mengandung air. Mulai dari darah, otak, dan cairan yang ada dalam organ-organ vital lainnya. Jadi tubuh kita harus mengkonsumsi air yang cukup, dalam air pun terdapat zat O2 atau Oksigen yang membuat proses pembakaran makanan dan pernapasan. Air bukan juga penting bagi kita, tapi semua alam semesta beserta isinya juga perlu air. Jadi, jika dunia yang kita tempati mengalami krisis air, maka kehidupan alam dan makhluknya tidak seimbang, begitu.” Ibu menjelaskan detail seperti guru IPA.

            “Bentuk air itu kan sepertinya biasa saja, tidak istimewa. Juga tidak menarik, sekilas menyegarkan jika melihatnya. Betul nggak Bu?” tanyaku lagi pada Ibu. Mata ibu masih sama memperhatikan dengan serius. Sementara keadaan sekitar luar rumah sudah ramai dengan orang-orang pasca hujan selesai turun.

“Yang Ibu tahu filosofi tentang air, bahwa air itu bewarna bening dan bergerak mengalir sesuai dengan jalan airnya. Mengikuti arus dan terus menuju ke muara. Filosofinya yakni, bahwa sifat air yang seperti itu adalah menjadi makhluk yang apa adanya dan mengikuti keadaan, sampailah pada muara berlimpahan air bah. Manusia mesti belajar dari sifat air, yakni menjadi diri apa adanya dan bisa mengikuti keadaan dengan tenang. Tapi saat terjadinya hentakan kuat, kekuatan air bisa membuat bencana alam, seperti banjir. Kalau kata koko Apei yang punya toko kelontongan di pasar, bilang; Jadilah seperti air yang apa adanya, mengalir tenang ketika mengikuti arus atau sabar, dan menjadi seorang yang dibutuhkan atau bermanfaat.” Gumam ibu dengan tersenyum.

            “Oh… jadi begitu ya… Rani jadi paham kenapa kata pemerintah bilang, kita harus menghemat pemakaian air dan juga listrik.”

“Pemerintah cuma mengingatkan Rani, toh! Kita yang menjalankan untuk menghemat air. Dari menghemat air, kita juga harus menciptakan lingkungan yang hijau. Yakni menanami pohon disekitar halaman rumah, tepi jalan raya dan lahan-lahan yang kosong. Sehingga stok cadangan air alam dalam tanah tetap banyak.” Ibu menjelaskan lagi, kali ini menyambungkan kata ke-pepohonan.

“Memang air itu adanya di dalam tanah Bu? Kan! Bisa dari langit karena hujan, laut, juga sungai.” Aku bertanya lagi yang membuat ibu mengernyitkan dahi, mendengarkan pertanyaanku.

“Kamu belajar apa saja di sekolah? Yang ini saja masih bertanya Rani? Hmmm… Pepohonan itu punya akar yang menyerap air saat menggenang di tanah. Lalu di disimpan menjadi cadangan air dalam tanah. Jika pepohonan sedikit, rawa-rawa dan penyerapan air tanah tidak ada, lalu hujan, bisa banjir. Seperti kejadian-kejadian di ibukota. Masa! Gitu aja masih bertanya.” Ibu menyindir, karena pertanyaan itu juga ada dalam pelajaran di sekolah. Aku nyegir dan mengangguk, semakin paham tentang makna keberadaan air yang penting dan manfaatnya.

            “Berarti! Kita harus menghemat air dalam mempergunakannya ya? Oh iya! Sifat air juga menjadi pelajaran buat hidup manusia ya Bu?”

“Iya Rani, semua ciptaan Allah.Swt itu, apa yang tidak ada manfaatnya bagi manusia? Semua pasti ada fungsinya.” Ibu menutup perbincangan dengan memuaskanku. Pelajaran dari air adalah; ‘jadilah apa adanya, bersabar dengan keadaan seperti air yang tenang mengalir, lalu berbuat banyak kebaikan, sehingga selalu dibutuhkan sesama, seperti air yang menjadi penting buat makhluk hidup. Gara-gara mati listrik, lalu mengangkut air di sumur orang, dan menadah air hujan, menambah pelajaran lagi buatku. Tiada kesusahan yang tidak bisa diatasi, dan selalu ada hikmah dibalik kesusahan dan kesulitan. Seperti kami yang sedang susah air di rumah sendiri.

Oleh : Rosi.Ochiemuh (Cibitung, 12-September-2014).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.