Langsung ke konten utama

Cinta Itu, Bagaikan Bunga.

Cinta pada pandangan pertama memang indah, itu kata banyak orang. Tetapi tidak bagiku, cinta pada pandangan pertama itu bohong. Buktinya cinta yang kurasakan saat ini karena kebersamaan yang terjalin dalam hubungan teman lalu ke pernikahan.

 Saat ini cinta itu bersemi kembali, mungkin cinta dalam rumah tangga itu seperti menanam bunga di taman. Bunga itu harus terus disirami dan diberi pupuk biar terus bermekaran. Seperti itulah menurutku cinta dalam rumah tangga.

Cemburu adalah bagian dari bumbu pernikahan, dan ini terjadi dalam rumah tangga kami. Jujur, aku sangat cemburu jika suamiku perhatian lebihnya pada selain aku dan buah hati kami. Dan saat mendapatkan masalah kemarin itu, saat aku tahu ada sms dengan kata sayang dari mantannya itu. Itu sangat membuat aku cemburu, panas sejak pagi sampai sore.

Untunglah, suamiku adalah type lelaki yang baik hati, jujur, dewasa dan bisa menenangkan diriku. Dia bukan laki-laki yang romantis, tetapi perhatian, kebaikan dan ketulusannya kuakui sangat hebat. Sekarang semakin kusadari, bahwa aku bertambah sayang dan cinta padanya.

Banyak yang bilang bahwa suamiku itu wajahnya ganteng dan tampan. Menurutku biasa saja saat baru pertama mengenalnya. Aku melihat pada diri suamiku itu pertama kali adalah kedewasaanya dalam berpikir dan bertindak. Apalagi tindakannya dan perlakuannya kepada keluarga, terutama ibu dan bapaknya. Namanya juga manusia yang tak luput dari kesalahan, ada juga kejelekan dan sikap yang tidak menyenangkan dari dia. Namun, itu semua bisa dirubah dengan perlahan.

Aku bertambah cinta dan sayang padanya, karena dia bisa menerima kekurangan-kekuranganku. Bukan saja menerima kelebihan dari diri ini, tetapi dia bisa menerima kekurangan-kekurangan juga. Maka, aku pun begitu padanya. Menerima terlebih dahulu kekurangan-kekurangannya setelah menikah, lalu lambat laun mulai menemukan pesonanya. Kesabarannya, kebaikannya, perhatiannya dan kesetiaannya padaku.

Rumah tangga yang menyenangkan adalah, ketika saat berdiri, rumah itu belum sepenuhnya penuh dengan cinta. Dan semakin bertambah usia rumah tangga, semakin bertambah pulan cinta-cinta di dalammya. Itu menurutku rumah tangga yang indah. Bukan sebaliknya. Karena semakin tua rumah tangga, semakin tua pula umur dan fisik pasangan hidup mereka. Dan di saat itulah cinta dan kesetiaan di uji setiap waktu dalam bentuk apapun.

Ya Allah... semoga rumah tangga kami dijadikan oleh-Mu rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah sepanjang usia kami. Sampai ajal menjemput kami, lindungilah cinta dan kasih sayang kami dalam keluarga kami. Dan penuhilah rumah tangga kami dengan rahmat dan kasih sayang-Mu.. Amiin ya Rabbal'alamiin.. (Cikarang, 03-oktober-2014, Rosi Ochiemuh/Rosi Jumnasari).






Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...