Langsung ke konten utama

Postingan

Drama Hidup & Hujan

Aku suka hujan. Karena hujan bisa membungkam orang-orang yang menyebalkan. Hujan bisa menutup keangkuhan manusia. Hujan bisa memberi manfaat manusia. Tapi, aku menyukai hujan karena suaranya yang bising itu bisa mengalahkan suara yang lain. Suara orang-orang yang menyebalkan. Kemacetan yang tersebab karena genangan hujan itu adalah cara Tuhan membungkam kesombongan manusia moderen. Manusia kota yang tak punya otak, nuraninya tumpul. Aku benci jalanan kota, meski aku sering melewatinya. Karena hanya jalanan itulah aku bisa mencari nafkah. Yang sebenarnya mengecewakan. Aku kecewa pada sikap buruk dan mental pecundang pemimpin itu. Mereka hanya bisa marah-marah, mengungkit kesalahan karyawan yang sering salah, dan bahkan memperburuk suasana dengan memotong gaji sembarangan. Mereka bukan tak mau memecat langsung, tapi mereka gengsi untuk mengakui bahwa karyawan lama itu turut andil memajukan perusahaan mereka. Jika mereka mempekerjakan karyawan baru, pasti akan banyak makan wakt...

[Cerpen] Hanya Sebongkah Batu

Sebongkah patung batu itu tiba-tiba berkedip matanya. Dia terkejut. Sekali lagi matanya mengerjap-ngerjap. Seolah dia merasa ada yang salah dengan pandangan matanya.  Bukan cuma mata yang berkedip, kali ini bibirnya bergerak-gerak. Dia terbelalak. Entah mimpi atau bukan. Dicubitnya lengan sendiri. Tidak! Dia tidak bermimpi. Ini nyata. Patung batu itu mata dan bibirnya berkedutan.  "Hei! Lihat apa, Kamu?!" Patung itu bersuara. Bicara padanya. Kakinya serasa ingin mengeluarkan jurus langkah seribu. Tapi dia terkejut lagi saat akan menggerakkan kedua kaki. Kakinya membeku, kaku. Tak bisa bergerak, dan serasa ada yang menahan. "Apa Kamu tuli?!" seru patung batu di hadapannya lagi.  Matanya terbelalak kacau. Pikirannya kacau, hatinya lebih kacau.Dia tak bisa bergerak. Tiba-tiba sepatunya mengeras. Persis seperti batu. Warna abu-abu hitam. Patung batu berwujud seorang kakek tua berjenggot, berjubah dengan tangan bersedekap itu semakin mirip man...

Perempuan Rombengku.

Merah menjelma di wajahku yang lusuh Kala jemariku mengepal bagai bulatan batu, rusuh Kau tahu kenapa? Selintingan tajam menyentil gendang telinga Serupa aroma busuk menjelma Rupa bidadari berbibir dua belas Wajah dua belas bergantian bagai topeng tiap menitnya Bibir dan lidahnya dua belas Berdentang-dentang menggema Lanjutkan menghempas Ingin kujahit bibir dan lidahnya jadi satu Menjadi gagu dan tuna rungu Dalam seminggu itu Bak seorang host gosip yang hist. Paling pandai bersilat lidah Meski dua belas bibir dan lidahnya. Kenapa kepalanya tak dua belas saja? Biar semua takut Dia ciut Mengerucut Tak besar kepala Juga perut Yang ternyata berisi benihku Kutanam saham di sana Tiada sengaja Dan terbina rumah tangga Alakadarnya Ah, merah wajah lusuhku Dan kepalan jemariku bagai batu pun kaku Entahlah Tiba-tiba semua kelu Saat berhadapan di mukanya Telingaku terpasang terpaksa Tuk dengarkan ocehan rombengnya Kaleng karat Bibir dua belas. Berceloteh r...

Membaca Sesuatu Yang Langka.

Hari buku kemarin. Semua di beranda facebook, twitterku selalu bertema tentang buku. Kuis buku ramai menawarkan hadiah buku cuma-cuma hanya dengan melike status info, bagikan, dan komentar seputar buku. Buku-buku yang ditawarkan sungguh membuat mata ngiler . Betapa tidak, bukunya judul dan penulisnya sudah BestSeller. Siapa yang tidak mau, hayo? Aku tertarik. Dan terima kasih banyak kepada teman-teman FB penulis yang tag namaku. Ternyata banyak. Alhamdulillah masih diinget mereka dalam hal berbagi manfaat. Sayangnya kesibukan di kantor, pulang molor sampai rumah. Belum lagi memenuhi hak balitaku, dan tubuhku, hingga tak sempat ikutan. Hanya like saja status dari mereka. Hari Buku telah berlalu kemarin. Euforia buku di beranda FBku masih terasa juga. Maklum, aku banyak berteman dengan penulis dan penerbit. Hehe. Bukan apa-apa, ini demi menunjang hobi yang senang nulis, dan baca. Mereka selalu menyajikan hal-hal yang menarik untuk dibaca, disimak di berandaku tentang status mereka di F...

HASRAT MEMBACA BUKU TERUSLAH MENGALIR.

Antara kejenuhan dan imajenasi. Buku adalah sarana untuk berlayar ke segala penjuru dunia. Menggali ilmu dengan membaca pengetahuan yang termaktub dalam kertas berjilid-jilid bernama buku. Aku bisa mengeja huruf dan membaca sejak kelas tiga SD. Itu adalah anugerah terbesar dalam hidup. Kedua orang tuaku amat sangat bersyukur. Sampai mencium kening dan pipi karena sudah bisa membaca. Mereka merasa lega, meski masih menjadi buah pikiran lagi. Yakni aku harus bisa menghitung dan menulis. Setelah bisa membaca saat duduk di sekolah dasar itu. Aku mulai lebay untuk membaca setiap apapun. Terlebih kata-kata juga kalimat yang terpajang di jalanan. Seperti di sekolahan, papan reklame & banner, lalu plat alamat rumah orang-orang yang ada di depan pintu mereka. Serasa senang dan nikmatnya bisa membaca.  Ada yang membuatku terkenang ketika sedang senang-senangnya membaca itu terjadi waktu smp. Bungkusan koran dan majalah bekas untuk bungkusan alas makanan gado-gado --daganganny...

PROMO BUKU DUETKU & MBAK RIEBUN CAHAYA :D

Judul Buku: Nyook Kite Ngumpul! Penulis: Rosi Ochiemuh & SH Kusuma Jumlah Halaman: 239 hal Dimensi: 14x21 cm Penyunting: Ichi Kudo Tata Letak: Ichi Kudo Desain Sampul: Ichi Kudo Penerbit: LovRinz Publishing Harga: Rp 49.000,- Kumpulan cerita NYOOK KITE NGUMPUL! mengajak kalian semua menikmati keseruan kisah-kisah di dalamnya. Pantengin kisah Aladin bersama Bimbim dan Ucok, yang mencoba menguak isu Kolor Ijo di Kampung Duren dalam GENTAYANGAN, jangan lewatkan pula kisah mereka saat melawan sejumlah preman di SEMAKIN MAJU KE DEPAN, lalu bagaimana Aladin dan Ucok bisa berurusan dengan para pemakai narkoba? Simak ceritanya di KEHILANGAN SOFI, dan keseruan cerita lainnya. Jangan lupa baca juga kisah Mail dan Zuki saat memburu cewek blasteran yang doyan ngedip-ngedipin mata dalam TARUHAN, lalu simak trik jitu mereka berdua saat menyelamatkan diri dari RAZIA RAMBUT, serta nikmati kesialan Mail saat mau memberi SUAPAN CINTA ke cewek gebetannya, dan masih bany...

CERPEN : RAHASIA MARIA_Oleh:Rosi Ochiemuh.

Rahasia Maria. Oleh : Rosi Ochiemuh. Keheningan malam menjadi momok menakutkan bagi Ely. Matanya selalu mengawasi setiap penjuru kamar, dapur, bahkan langit-langit rumah. Bukan karena takut kepada hantu. Tetapi sejak dia mengangkat dering telepon malam itu seminggu sebelumnya, teriakan wanita misterius dan ancaman meneror.  “Aaah!!” Suara teriakan itu mengangetkan neneknya yang tertidur di kamar sebelah.  “Ely, apa yang terjadi?” tanya nenek setelah gegas ke kamar Ely yang dalam keadaan terang.   “Nenek …, teriakan dan ancaman itu terbawa dalam mimpiku.” “Teriakan apa? Ancaman apa?” Dahinya mengekerut. Wanita sepuh itu memandangi sekeliling kamar Ely.    “Itu yang kutakutkan, Nek. Suara ancaman dan teriakan seorang wanita. Dari balik suara telepon berdering.” Nenek menatap Ely lekat, dan mengelus kepalanya dengan lembut.  “Mungkin kamu lupa membaca do’a sebelum tidur, Sayang. Nenek belum pernah mendengarkan it...