Langsung ke konten utama

CERPEN : RAHASIA MARIA_Oleh:Rosi Ochiemuh.



Rahasia Maria.

Oleh : Rosi Ochiemuh.

Keheningan malam menjadi momok menakutkan bagi Ely. Matanya selalu mengawasi setiap penjuru kamar, dapur, bahkan langit-langit rumah. Bukan karena takut kepada hantu. Tetapi sejak dia mengangkat dering telepon malam itu seminggu sebelumnya, teriakan wanita misterius dan ancaman meneror. 

“Aaah!!” Suara teriakan itu mengangetkan neneknya yang tertidur di kamar sebelah. 

“Ely, apa yang terjadi?” tanya nenek setelah gegas ke kamar Ely yang dalam keadaan terang.

 “Nenek …, teriakan dan ancaman itu terbawa dalam mimpiku.”

“Teriakan apa? Ancaman apa?” Dahinya mengekerut. Wanita sepuh itu memandangi sekeliling kamar Ely. 
 
“Itu yang kutakutkan, Nek. Suara ancaman dan teriakan seorang wanita. Dari balik suara telepon berdering.” Nenek menatap Ely lekat, dan mengelus kepalanya dengan lembut. 

“Mungkin kamu lupa membaca do’a sebelum tidur, Sayang. Nenek belum pernah mendengarkan itu ketika mengangkat telepon berdering,” tutur nenek terpaku. 

Ely memeluk tubuh neneknya, dirasakan saat itu keresahannya sedikit hilang. Dia menatap lagi air muka wanita sepuh itu, terasa begitu teduh. Sejak kedua orang tua Ely meninggal dunia, hanya nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Yang dia tahu, ayahnya meninggal karena kecelakaan kereta listrik bawah tanah. Sedangkan ibunya meninggal saat dia berumur lima bulan. Karena sakit. Namun, dia sering mendengar gosip para tetangga bahwa ibunya meninggal bunuh diri.

***

Maria—nenek Ely--pergi dari pagi ke rumah bibi Heni. Maria diundang untuk acara syukuran kenaikan pangkat suaminya di perusahaan bonafit. Ely mengalah diam di rumah, karena akan ada hantaran paket yang datang hari ini. Paket ramuan herbal yang dipesan oleh neneknya dari warung online. Dia menonton televisi, membuat makanan ringan dari cokelat untuk menghilangkan kejenuhan.

Sejak pagi hingga siang belum terdengar bel berbunyi. Meski mata Ely menatap layar datar 21 inci itu, tetapi daun telinganya sigap mendengarkan. Perutnya tiba-tiba berbunyi, Ely membuat makan siang yang cukup nikmat. Sampai sore menjelang senja, suara bel baru terdengar. Ely lekas menuju pintu sembari mengintip dari balik jendela. 
  
Aneh, tiada seorang pun yang berdiri di muka pintu. Ely penasaran dan membuka pintu. Dijamahinya setiap sudut luar rumah, teras dan halaman. Tidak ada seorang pun di sana. Tiba-tiba hujan turun. Ely masuk kembali ke dalam rumah menyimpan tanya di benaknya. 
 
Dia menunggu, hampir dua jam. Suara bel belum berbunyi, hanya terdengar hujan. Ely ke ruang depan, memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Setelah itu dia menuju kamarnya. Belum sampai menuju kamar, telepon rumah berdering. Mungkin itu dari nenek, pikirnya. 

“Halo, Nenek?” sapa Ely di teleponnya.
  
Wajah Ely pias, di telinganya suara jeritan terputus-putus dari telepon. Kembali dia memanggil, ”Halo?! Ini siapa? Nenek?” Gagang telepon masih menempel di telinganya. 

“Kembalikan kotak itu…, kembalikan! Aaah!!!” Telepon langsung dimatikan Ely dengan hentakan keras. Dia menelan ludah, dadanya berdentum, matanya nanar, napasnya sengal. Siapa itu? Pikirnya. Apa ada orang yang mengerjainya malam ini? Teman-temannya tidak tahu jika malam ini Ely tidur sendirian. 

Dia berjalan mundur, terduduk di sofa, tak berapa lama suara bel terdengar dari luar. Ely tergugu. Ingin berlari ke kamarnya atau menuju pintu depan. Berperang rasa takut dan penasaran. Rasa penasarannya yang menang. Ely menuju pintu depan, seperti tadi mengintip dari balik jendela. Tidak ada siapa-siapa di luar. Hujan masih mengguyur deras. Dia pun membuka pintu dan mencari seseorang yang sudah memencet bel. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi terus mencari. Tidak ada siapa-siapa. Bulu tengkuknya berdiri.
 
Ketika membalikkan badan, kakinya menyentuh sesuatu. Ternyata kotak paket. Tertulis, “Untuk Nyonya Maria, dari Lewis.” Ely menatap lama kotak yang terbungkus kertas cokelat tua. Dibawanya masuk ke dalam. Aneh, kotak itu tidak kebasahan, padahal di luar hujan deras.

Telepon berdering lagi. Ely terkejut. Tiga kali berdering, Ely tidak mengangkatnya. Ketika berdering lagi, dengan gugup Ely mengangkat gagang teleponnya. “Ha-halo? Ini siapa?” tanyanya. Sunyi. “Halo! Ini siapa? Jangan main-main!” teriak Ely. Seketika suara petir menggelegar. Gadis itu menunduk replek menutup kedua telinganya. Gagang telepon tergantung. Setelah kepanikannya mereda, terdengar lagi suara dari gagang telepon itu. 

 “Kembalikan kotak itu! Kembalikan!” Ely terperangah dan menarik gagang teleponnya. “Siapa ini?” tanyanya berteriak keras. Kalimat di dalam telepon itu berulang lagi. “Kembalikan kotak itu! Kotak itu bukan milikmu!” bersamaan suara jeritan wanita melengking. Ely menghempas gagang telepon dan masuk ke kamar bersama paket kotak untuk neneknya. 

 “Apakah yang dimaksud kotak ini?” gumam Ely. Seketika dia menyingkirkan paket itu dan disembunyikan di kolong tempat tidurnya

***

Maria masih memeluk Ely yang ketakutan. Dia berpikir lama, apa yang sebenarnya terjadi dengan cucunya itu. Dia menengok ke pintu kamar yang terbuka. Telepon itu masih sama, tak berdering, pikirnya. Pelan-pelan dia ingin menanyakan sesuatu pada Ely.

“Kamu yakin ada teror seperti itu di rumah ini?”

 “Iya, Nek. Suaranya sangat jelas. Bahkan aku sudah menerima telepon itu tiga kali.”

 “Kapan itu? Kenapa baru cerita sekarang?”

“Minggu kemarin saat nenek menginap di rumah bibi Heni. Aku mengangkat telepon itu. Suara aneh meminta mengembalikan kotak. Aku tidak tahu kotak apa itu. Kemudian jeritan wanita.”

“Siapa dia? Siapa yang menelpon?” tanya Maria pada cucunya—wajahnya ikut mengerucut. 

“Entahlah, aku tidak tahu, Nek. Tiga kali aku menerima telepon aneh itu. Dan sebelumnya aku menerima kedatangan paket---,” Lidah Ely tercekat. 

“Paket? Paket apa? Bukannya kamu bilang paketnya tidak datang hari itu.”

“Ss-sebenarnya paketnya sudah datang, Nek. Tetapi aku takut itu bukan dari yang nenek harapkan. Paketnya kusimpan di kolong tempat tidurku.”

Saat Ely mengambil paketnya. Telepon berdering. Maria dan Ely saling berpandangan. Maria akhirnya mengangkat telepon itu, Ely mengikuti dari belakang. 

“Halo? Siapa ini?” tanya Maria. Hanya sunyi di sana.

“Halo? Siapa ini?” saat Maria ingin memutuskan teleponnya terdengar balasan dari sana. “Kembalikan, kembalikan kotak itu. Itu bukan milikmu!” 

“Siapa di sana? Kotak apa? Anda siapa?” Maria mencoba tenang sembari menginterogasi.

“Kotak itu ada di rumahmu saat ini,” sahutan dari sana menggema. 

Maria langsung melepaskan gagang telepon. Ely merasa cemas. Tapi masih menguntit neneknya menuju kamarnya. Maria mengambil paket yang ditujukan untuk dirinya. Perlahan dia membuka bungkusan, tersembul kotak persegi berwarna hitam. Dibuka lagi dengan hati-hati. Mata Maria terbelalak. Sesuatu mengingatkannya pada kejadian dua puluh tahun silam, saat Norma—ibunya Ely--meninggal dalam kondisi mengenaskan, yang tangannya memegangi kotak tombol yang terbelah dua. (*)

#Tantangan01, Grup LovRinz.
 Mengambil ide dari cerpen berjudul : Tombol, Tombol. Karya; Richard Matheson.
( 08-Maret-2016. Rosi.Ochiemuh)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.