Kau tahu kenapa?
Selintingan tajam menyentil gendang telinga
Serupa aroma busuk menjelma
Rupa bidadari berbibir dua belas
Wajah dua belas bergantian bagai topeng tiap menitnya
Bibir dan lidahnya dua belas
Berdentang-dentang menggema
Lanjutkan menghempas
Selintingan tajam menyentil gendang telinga
Serupa aroma busuk menjelma
Rupa bidadari berbibir dua belas
Wajah dua belas bergantian bagai topeng tiap menitnya
Bibir dan lidahnya dua belas
Berdentang-dentang menggema
Lanjutkan menghempas
Ingin kujahit bibir dan lidahnya jadi satu
Menjadi gagu dan tuna rungu
Dalam seminggu itu
Bak seorang host gosip yang hist.
Paling pandai bersilat lidah
Meski dua belas bibir dan lidahnya.
Menjadi gagu dan tuna rungu
Dalam seminggu itu
Bak seorang host gosip yang hist.
Paling pandai bersilat lidah
Meski dua belas bibir dan lidahnya.
Kenapa kepalanya tak dua belas saja?
Biar semua takut
Dia ciut
Mengerucut
Tak besar kepala
Juga perut
Yang ternyata berisi benihku
Kutanam saham di sana
Tiada sengaja
Dan terbina rumah tangga
Alakadarnya
Biar semua takut
Dia ciut
Mengerucut
Tak besar kepala
Juga perut
Yang ternyata berisi benihku
Kutanam saham di sana
Tiada sengaja
Dan terbina rumah tangga
Alakadarnya
Ah, merah wajah lusuhku
Dan kepalan jemariku bagai batu pun kaku
Entahlah
Tiba-tiba semua kelu
Saat berhadapan di mukanya
Telingaku terpasang terpaksa
Tuk dengarkan ocehan rombengnya
Kaleng karat
Bibir dua belas.
Berceloteh riang
Dan kepalan jemariku bagai batu pun kaku
Entahlah
Tiba-tiba semua kelu
Saat berhadapan di mukanya
Telingaku terpasang terpaksa
Tuk dengarkan ocehan rombengnya
Kaleng karat
Bibir dua belas.
Berceloteh riang
"Bang, bayi Kita menendang," ucapnya meletakkan jemariku yang mengepal bagai batu menjadi kertas. Merasakan gerak benihku di sana.
Cibitung, 29-06-16
*PuisiRombeng.
Rosi Ochiemuh....
*PuisiRombeng.
Rosi Ochiemuh....

Komentar
Posting Komentar