Langsung ke konten utama

Drama Hidup & Hujan

Aku suka hujan. Karena hujan bisa membungkam orang-orang yang menyebalkan. Hujan bisa menutup keangkuhan manusia. Hujan bisa memberi manfaat manusia. Tapi, aku menyukai hujan karena suaranya yang bising itu bisa mengalahkan suara yang lain. Suara orang-orang yang menyebalkan.

Kemacetan yang tersebab karena genangan hujan itu adalah cara Tuhan membungkam kesombongan manusia moderen. Manusia kota yang tak punya otak, nuraninya tumpul. Aku benci jalanan kota, meski aku sering melewatinya. Karena hanya jalanan itulah aku bisa mencari nafkah. Yang sebenarnya mengecewakan.

Aku kecewa pada sikap buruk dan mental pecundang pemimpin itu. Mereka hanya bisa marah-marah, mengungkit kesalahan karyawan yang sering salah, dan bahkan memperburuk suasana dengan memotong gaji sembarangan. Mereka bukan tak mau memecat langsung, tapi mereka gengsi untuk mengakui bahwa karyawan lama itu turut andil memajukan perusahaan mereka.

Jika mereka mempekerjakan karyawan baru, pasti akan banyak makan waktu dan uang. Karena karyawan baru butuh training selama empat bulan. Empat bulan itu belum sepenuhnya membuat karyawan baru ahli dan profesional. Dan mempekerjakan karyawan profesional perlu menggajinya yang profesional. Mana mau digaji sama dengan karyawan biasa.

Rasanya aku ingin diturunkan hujan kali ini. Hatiku sedang meletup-letup resah, kesal dan kecewa. Begitu banyaknya yang tidak kusukai harus kutelan bulat-bulat. Begitu banyaknya kekesalan kumakan mentah-mentah. Hingga terasa pahit dan kelat di dada.

Andai hujan bisa membuatku menghilang sementara. Ya, ketika aku merasa galau seperti ini, rasanya ingin menghilang sebentar dari keadaan. Rasanya ingin pergi ke tempat yang jauh dari orang-orang yang tidak bisa menyenangkanku.

Aku memang manusia yang sudah hidup selama tiga puluh lima tahun. Sangat tua dan mendekati setengah abad. Rasanya masih saja merasakan galau diusia seperti itu. Galau yang dibuat orang lain. Dan aku yang bodoh ini harus menahannya bukan sebentar tetapi berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Ibarat sampah yang dibuang sedikit demi sedikit. Makin lama sampah itu banyak dan menggunung bak bola salju. Tak bisa tertampung lagi, maka sampah itu akan jadi bom atom. Yang meledak ketika sudah menghasilkan zat panas yang besar. Meledak, kebakaran dan menghanguskan apa saja. Seperti itulah kegalauan jika terlalu lama dipendam.

Hujan kemarin sangat deras. Aku sangat suka. Meski banyak yang mengeluh banjir, macet dan lumpuh aktifitas. Ah, itu urusan mereka. Karena mereka tidak pernah mau tahu urusan orang terdekat apalagi orang lain. Hujan bisa mengerti seseorang yang galau dan seseorang yang kesepian.

Kalau aku anak kecil, mungkin aku sudah buka pakaian. Hanya pakai kaus oblong dan celana dalam. Mandi hujan semaunya. Sesuka hati. Mendengarkan riak dan geloranya. Berkecipak-kecipuk main air, bercanda dan tertawa. Seolah di sana ada kepuasan terdalam yang sudah lama tak kureguk.

Sayangnya, usiaku sudah tiga puluh lima tahun. Aku bukan anak kecil, remaja atau gadis lagi. Aku orang dewasa yang mendekati masa tua dan kematian. Ya Tuhan, aku bersyukur Engkau masih menurunkan hujan setiap waktu. Matahari pun tak pernah lelah menyinari ketika waktunya bumi dikeringkan.

Hihihi, aku jadi geli sendiri. Bumi seperti anak kecil yang dimandikan oleh-Nya saat hujan turun. Seperti shower yang diguyurkan ke kepala bocah kecil. Dan dikeringkan oleh sinar mentari. Kurasa bumi akan merasa segar dan bersih. Hingga usianya terasa kembali muda.

Aku bosan sekali. Galau di hati belum bisa hilang dari pagi hingga ke siang ini. Belum ada tanda-tanda hujan turun. Setidaknya aku bisa menyumpahi orang-orang yang bermalam Minggu dengan hujan yang turun deras.

Tapi, aku kasihan juga pada orang-orang yang berangkat bekerja shif malam. Mereka akan jadi kacau jika hujan deras turun. Juga para pedagang keliling, mereka tidak salah apa-apa. Hanya penyewa payung yang girang jika hujan deras turun, juga kodok dan katak yang begitu riang bernyanyi. Hujan bisa membuat suara kodok dan katak menjadi merdu.

Ketika selesai menuliskan ini. Aku akan pergi tidur. Memejamkan mata, dan mengurai semua kerusuhan tingkat dewa dalam perasaanku yang galau. Galau bikin baper. Hujan bikin adem.

Jadi mari kita tidur untuk mengistirahatkan kejiwaan dan hati dari kerusuhan kehidupan nyata yang selalu berkecambah setiap waktunya. Selamat tidur. Selamat menunggu hujan turun.

PayungBiru...

Cikarang, 20-Agustus-2016.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.