Hari buku kemarin. Semua di beranda facebook, twitterku selalu bertema tentang buku. Kuis buku ramai menawarkan hadiah buku cuma-cuma hanya dengan melike status info, bagikan, dan komentar seputar buku.
Buku-buku yang ditawarkan sungguh membuat mata ngiler. Betapa tidak, bukunya judul dan penulisnya sudah BestSeller. Siapa yang tidak mau, hayo? Aku tertarik. Dan terima kasih banyak kepada teman-teman FB penulis yang tag namaku. Ternyata banyak. Alhamdulillah masih diinget mereka dalam hal berbagi manfaat. Sayangnya kesibukan di kantor, pulang molor sampai rumah. Belum lagi memenuhi hak balitaku, dan tubuhku, hingga tak sempat ikutan. Hanya like saja status dari mereka.
Hari Buku telah berlalu kemarin. Euforia buku di beranda FBku masih terasa juga. Maklum, aku banyak berteman dengan penulis dan penerbit. Hehe. Bukan apa-apa, ini demi menunjang hobi yang senang nulis, dan baca. Mereka selalu menyajikan hal-hal yang menarik untuk dibaca, disimak di berandaku tentang status mereka di FB. Alhasih, aku sering mendapatkan wawasan baru, tak menutup kemungkinan juga ada sesuatu yang menyesatkan. Sebisa mungkin dihindari yang negatifnya.
Pembaca, Buku, Penulis dan Penerbit. Empat elemen yang menjadikan semua satu. Ada buku, berarti ada penulis dan penerbit. Ada buku berarti ada pembaca. Nah, di Indonesia ini minat baca sangatlah minim. Membaca hanya sekadar baca berita dan iklan di koran.
Hampir teman-teman alumniku dari SD sampai SMU semua tidak suka baca. Maksudnya tidak suka baca yang panjang-panjang. Kata mereka. Kepala mereka langsung pusing. Mungkin karena belum terbiasa. Mereka hanya membaca ketika diberi soal ujian dan mencatat materi di papan tulis. Tapi untuk disengajakan membaca buku, sepertinya belum ada pengakuan khusus dari mereka. Hanya satu dua orang yang bilang suka baca, tapi itu sejenis koran, majalah, novel tipis, komik, atau yang judul dan gambarnya menarik.
Disinilah masalahnya. Gemar memmbaca itu masih langka peminat. Penulis sastra di Indonesia banyak yang namanya belum dikenal banyak masyarakat luas. Hanya tahu dari pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra. Hanya tahu dari cerpen koran dan majalah. Jadi nama-nama penulis sastra ternama yang sudah melalang buana namanya di jagat dunia menulis, tidak setenar nama-nama artis pendatang baru di negara kita ini.
Ini sebenarnya PR bagi Pemerintah. Kenapa rakyat di setiap daerahnya minat baca kurang bahkan tidak ada sama sekali. Aku pun merasakan itu. Kurang pahamnya dan ketidaktahuanku pada nama penulis-penulis sastra yang karyanya sudah melalang buana dan terbaik.
Setiap lingkungan di sekitar kita masih banyak yang kurang minat baca. Terkadang ada yang berceletuk padaku, "Daripada baca lebih baik cari duit" atau "Orang yang suka baca/kutubuku itu orang yang tidak punya kerjaan" aku cuma nyengir. Hmmmm sampai segitunya ya, mereka memberi tanggapan orang yang gemar membaca.
Padahal semua pekerjaan butuh bisa membaca. Apasaja bentuknya. Apalagi aku, administratif. Semua pekerjaanku harus membaca dulu dengan teliti. Dan dirasakan, bahwa semakin kita sibuk membaca buku bacaan yang bagus pula untuk konsumsi jiwa. Semakin bertambah baik otak kita bekerja. Karena jika otak yang jarang diasah membaca, meskipun orang itu bertitel sarjana, insinyur, profesor, maka ilmu dan pemikirannya akan cepat tumpul dan hilang.
Membaca dalam kurun waktu dua tahun kemarin kugeluti kembali. Setelah usia anak setahun, lepas dari masa sulit. Mumpung ada waktu luang di kantor, dan masih diberi rezeki dari kantor ini. Beli buku yang bisa mengasah kemampuan berpikir. Atau beli buku yang menunjang wawasan kehidupan dan hobi. Karena ketika sudah tua, belum tentu kita bisa membaca leluasa, karena semua fasilitas dari-Nya seperti mata sudah semakin kurang sehat.
Dan aku sangat senang jika ada anak dan remaja yang gemar membaca buku bermanfaat. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu, dimana kebebasan meraih ilmu dunia akherat, masih luas di usia itu.
Semoga anak-anak dan cucuku nanti gemar membaca, Aamiin. Sehingga membaca membuat mereka menjadi orang soleh dan bijak. (*)
Komentar
Posting Komentar