Mata Kelana.
Detik-detik di persimpangan waktu
kutermangu dalam bilangan ambigu tak bertemu ujungnya
alasan hidup masih berjalan
alasan napas masih berembus perlahan
tak sesak mendesak
Kuberikan hidup pada malam yang seharusnya telah terjaga
bola mata berputar menekuri ruangruang labuhan menganga
seolah diajak melanglang buana ke samudera sebingkai mata.
tak terdengar napas kesunyian di tengkukku
atau di ujung telingaku
seperti pengingat waktu bahwa malam telah melarutkan diri ini dan segera mungkin tuk pejamkan mata.
bukan meronda
tak pula meronta untuk dipinta turut pada aturanmu
duhai malam.
diam-diam desau angin berbisik pada telingaku :
"Puan, di seberang sana. Kekasihmu sangat merindukanmu. Katanya, pejamkanlah mata. Seumpama tertidur, dia akan datang ke alam mimpi."
Geming...
demi bisikan angin tadi, kupejamkan kedua mata ini menanti datangnya kekasih di alam mimpi.
Cibitung, 19-Februari-2017.
****
Permata Hati.
Dia tergelak riang dalam gurauanku yang tak biasa.
dia bilang, senang menikmati kebersamaan denganku
walau tak setiap hari, setiap detik menemani
hatiku pilu menahan sembilu
petik-petik lagu rindu bersenandung
saat dia bermendung
kubuka semua kotak perhiasan dalam lemari kenangan
terbilang semua ada tanpa satu yang hilang
dan kesenangan tersembul dalam kerumitan hidupku
hatiku hampa jika tak ada dia di sana.
buah hati yang kulahirkan dengan seluruh cinta
seluruh kepasrahanku
seluruh nyawaku
kukatakan, dialah harta terindah dari Tuhan kepadaku yang paling berharga.
kesenangan dan kesedihan yang melarut dalam darahku.
permata hati.
Cibitung, 19/02/2017.
***
Masa Kecil Sang Pendosa.
Mereka telah membawaku pada sekelumit pikiran orang dewasa
dan tak pernah mengembalikan pada tempat aslinya
Mereka menarikku pada kesedihan orang dewasa yang menghiba dengan air mata buaya.
Mereka menyeretku pada keahlian baru nan seru
menjadi pencerita ulung dalam balada dusta-dusta penggombal ulung, sampai permainan sumpah atasnama Tuhan.
Mereka biarkan aku tenggelam dalam kubangan orang dewasa yang melogika
Hingga ku tak tahu bagaimana rasanya nurani dan menjadi anak kecil lagi.
Kini, mereka berubah menjadi anak-anak kecil yang tak tahu malu di hadapanku.
Ajaran masa lalu kujalani sebagai pedoman hidupku dalam tubuh orang dewasa
Mereka jadi alat mendatangkan rupiah-rupiah dari keringat culas dan darah pendosa.
Cibitung, 19/02/2017.
Ditulis Oleh : Rosi Ochiemuh.
Komentar
Posting Komentar