Langsung ke konten utama

Puisi ( Gerah Melambung )

Gerah Melambung.

Kubuka beranda sosial di sepanjang media
mirip pasar ramai berjumpalitan tiada berdamai
semakin berjbaku dan kukuh.

Pelangi seakan tak ingin kembali melukis langit bumi
bintang-bintang di malam hari sembunyi dibalik gulita
seakan terkunci dan bersumpah tak ingin berkedap-kedip di langit sana

Langit mual berhari-hari selepas ditinggalkan mentari yang mengungsi
menghujani air mata kegelisahan
dan menari-nari di atas keresahan bumi fatamorgana

Gerah hingar bingar dunia dalam berita
negeri dalam kotak segiempat ketat
yang padat
terjungkal di ujung tanduk bahaya
Akhir...
Tiada menyadari akan ada akhir....
mereka tetap melaju lesat bak meteor di angkasa, lalu jatuh di sana hancur terceburai

Carut marut tak berbuntut
makin panjang logika orang-orang pintar berkelakar
tiada kelar hingar bingar itu pada kancah dunia dalam berita
negeri dalam kotak segiempat yang padat tak seindah warna-warni cahayanya.
tak selebar daun keladi
semakin hari semakin jadi parodi orang-orang berjiwa suci
gerahnya sembur menyembur serupa muntahan bubur
kebenaran mengabur, luntur bersama amarah, emosi dan kerasnya hati.

Cib, 19-Februari-2017.
****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...

Puisi (Rosi)

Teratai Menunggu Cerah Ungu menyapa pagi dalam dedauan sepi Hijau menebar pesona mengambang diantara jernihnya tertiup angin kesana kemari Merekah mempesona seakan menanti Datangnya sinar cerah sang mentari Senyum ditampilkan mekar dan indah Menari tertiup angin begitu megah Cantikmu wahai jelita ungu putihmu menebar suci baik hati Diantara dedauan dirimu tegak berdiri Seolah tegar menghadap langit biru Akh.. Seperti itukah gadis-gadis Sedang mekar-mekarnya dibalut ceria Seolah menunggu, dipetik dan dihias' Oleh para jumawa jejaka yang rindu si Jelita. (Cikarang,14-Oktober-2014, Rosi.Ochiemuh)