Oleh : Rosi Ochiemuh.
Mendekati rumahnya, terdengar suara berisik bersahutan. Parman nampak tenang karena sudah terbiasa. Setiap hari dalam ruang sepetak yang dihuni bersama istri dan kelima anaknya adalah sebuah kisah pelik dalam hidup Parman.
Hidup seperti itu di mata para tetangga sangatlah kejam. Tapi mereka—tetangga—kebanyakan teori tanpa ada aksi apa pun untuk meringankan keadaan hidup Parman. Hanya bisa berbisik-bisik di belakang, di samping, di depan, tentang kehidupan lelaki itu.
Sepetak kontrakan dihuni satu keluarga. Bersama istri dan kelima anaknya. Tidur, makan, memasak, dalam satu ruangan, hanya bersekat dinding lemari pakaian. Untunglah kegiatan mandi dan buang hajat dilakukan di kamar mandi terpisah, menyampur dengan penghuni kontrakan lain. Ada yang memandang sebelah mata, iba dan bahkan tetangganya merasa terusik karena tidak bisa tenang bertetangga dengan mereka. Karena suara berisik, teriakan dari istri dan kelima anak-anak Parman.
Kenyataan begitulah kehidupan Parman. Dulu, skenario hidupnya tercecap manis. Dia adalah juragan bebek, kekayaannya hasil turun temurun. Baru menikah dan dikaruniai dua anak, Parman dilanda badai dalam bisnisnya dan semakin merugi. Meminjam ke bank berkali-kali untuk menutupi kerugian dan akhirnya terlilit hutang, satu per satu harta benda terjual. Uang hasil penjualan rumah dan ternaknya sebagian dipakai untuk kehidupan sehari-hari pun semakin menipis.
Usia tiga puluh tahun saat itu. Ijazah terakhirnya SMP, salah satu penyesalan terdalam bagi Parman. Kenapa tidak memiliki pendidikan tinggi? Penyesalan semakin bertambah karena dia akhirnya mengontrak dan mengontrak rumah.
Pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Hingga terdampar di kontrakan sepetak. Alasan sepele, karena ingin mengirit biaya. Meski dia tahu tempat itu tidak layak untuk istri dan anaknya.
Parman berusaha meluaskan hati mendapati anak keempat dan kelimanya dekil belum mandi. Lantai keramik putih ternodai oleh jejak kaki kecil. Bau pesing, bau pengab dan bau bekas masakan istri. Lalu penampilan istri yang kusut tidak terawat dengan suara melengking pada dua anaknya.
Setiap lelaki pulang ke rumah akan merasa muak dan jengkel mendapati pemandangan seperti itu. Tidak dengan Parman. Dia mencoba mengalihkannya dengan senyum. Hanya dengan senyum.
“Anak bapak sudah mandi belum?” liriknya pada dua anak balitanya yang tersenyum padanya.
“Pak, tadi siang mati listrik sampai sore, sekarang baru menyala. Air di kamar mandi habis karena ngantri,” timpal istrinya sewot.
Parman lalu ke kamar mandi yang sekarang sedang kosong. Tetangga kontrakan semua adalah pekerja buruh pabrik, kontrakan tetangganya sepi dengan pintu tergembok karena semua masuk kerja shift malam.
Dia pun menyalakan air keran mengisi bak mandi untuk dipakai bergantian mandi anaknya.
Istrinya dengan cekatan memandikan kedua anak balitanya. Sedangkan tiga anaknya yang lain masih mengantri. Mandi di waktu setelah Maghrib. Seharusnya anak-anak kecil mandi setelah Ashar. Namun begitulah yang terjadi dengan keluarga Parman.
Kenyataannya, mereka setiap hari harus mengalah dengan keadaan.
Setelah itu Parman memberikan hasil jerih payah seharian bekerja kepada istrinya. Namun istrinya menyambut dengan ketus. “Pak! Duit segini nggak cukup buat beli beras, lauk, minyak, apalagi gantiin gas buat masak!” cecarnya. Parman merasa getir mendengar itu.
“Terserah mau diambil apa tidak. Bapak sudah berusaha cari uang. Besok bapak akan kerja keras lagi,” sahut Parman pada istrinya yang masih bermuka masam.
Percakapan suami-istri itu kadang selalu terdengar buah hati mereka. Tinggal bersama dalam ruangan sepetak menambah pemikiran anak-anak dewasa sebelum waktunya karena melihat dan mendengar dialog orangtua. Sampai anak tertua Parman yang masih berumur sepuluh tahun itu berceletuk, “Aku ingin kalau bapak dan ibu ngobrolnya di tempat lain saja. Kupingku rasanya sakit.” Parman melongo dengan ucapan anaknya itu.
Ketika semua penghuni kontrakan sepi. Parman sering duduk di luar menghadap jalan raya sambil menyeruput kopi hitam sasetan yang diberi oleh tukang warung. Tukang warung itu senang lapaknya dibersihkan oleh Parman yang memunguti sampah plastik bekas.
Dia selalu berpikir pindah ke kontrakan lain yang lebih besar. Namun tidak semudah membalikkan tangan. Matanya mendelik ke atas langit, berharap Tuhan akan segera memberikan jalan keluar. Bukannya Parman tidak mau pindah ke kontrakan yang lebih layak. Karena biaya sewa kamar dan rumah di kota industri ini mahal baginya. Satu petak kontrakan dua ruang dengan satu kamar mandi iurannya diatas lima ratus ribu perbulan. Sedangkan uang yang didapat setiap hari tidak sampai puluhan ribu.
Tiap malam dia berpikir keras tentang itu. Saat berpikir, otaknya bagaikan diserbu ribuan jarum menancap-nancap menimbulkan rasa sakit. Anehnya setiap kali Parman dicaci maki oleh siapa pun, tidak pernah merasa sakit. Ketika melihat pemberitaan di surat kabar, membuat dia berusaha berpikir jernih. Hatinya akan merespon pelan saat membaca berita tentang bunuh diri karena himpitan ekonomi. Haruskah aku juga seperti itu? Gumamnya. Kepala Parman berputar cepat menghilangkan pengaruh pikiran buruk yang singgah. Akhirnya dia masuk ke dalam kontrakan setelah lama berdiam dan berpikir-pikir, hasilnya selalu sama—nihil.
Sebelum subuh Parman bangun dan mandi saat semua tetangga kontrakan belum terbangun. Dia berusaha untuk mengisi penuh dua ember besar di dinding depan pintu kontrakannya untuk anak dan istri jika diperlukan mendadak. Diam-diam dia pergi ke masjid. Suara azan berkumandang. Seketika keteduhan merasuk lubuk hati juga pikiran kalutnya. Allah tidak pernah tidur, hanya Dia yang selalu mendengarku dan melihatku, gumamnya.
Dia menunaikan salat Subuh berjamaah. Pikiran kalut semalam pias terhempas jauh. Dia kembali ke rumah setelah salat. Istrinya masih meringkuk di kasur tipisnya beserta kelima buah hati dengan posisi tidur bagai gasing. Parman mendiamkan mereka tertidur pulas, dan dia segera mencari nafkah di luar sana. Yang tidak akan pernah tahu pekerjaan apalagi yang akan dikerjakan untuk mencari uang.
Kota selalu menampakkan wajah buram jika matahari meninggi. Asap-asap kemurungan dan polusi jadi satu di pelataran kota. Kerasnya kehidupan kota bergandengan dengan debu dan jutaan zat beracun dari polusi udara. Orang-orang seperti Parman hanya menanggapi semua itu hal biasa. Sebiasa warga kota yang tak acuh dengan kemelaratan orang lain yang tinggal di kolong-kolong jembatan, tidur di teras ruko dan kontrakan sempit.
Parman mengais rezeki dengan bersemangat. Meski perkataan istrinya selalu membuat hatinya miris. Sebegitu sialnyakah istriku menikah denganku? Pikirnya. Mata lelaki itu mengamati trotoar jalanan, tiada lain untuk memulung barang rongsokan. Terkadang sampai ke pasar-pasar menjadi pengangkut barang belanjaan. Lalu seribu, dua ribu dikantongi dengan senang hati. Parman menguras semua tenaga untuk lebih banyak mencari uang hari ini. Dia seperti kutu loncat, dari satu tempat ke tempat lain. Hanya demi rupiah.
Senyum mengembang di wajah peluhnya. Seribu, dua ribu terkumpul beberapa lembar di kantong rombengnya. Belum lama memulung sudah lumayan didapat dari hasil menjajakan tubuh kurusnya menjadi kuli. Parman menepi sejenak di samping warung tegal. Tercium aroma ayam goreng dan jejak masakan lezat. Suara keroncongan di perut berkeriuk. Sejak pagi belum memakan asupan apa pun selain air mineral. Parman melirik uang hasil kerja kerasnya dalam setengah harian itu. Jika tidak mengingat anak-istri, pasti dia akan tergiur untuk membeli seporsi ayam goreng untuk dirinya.
Parman menuju warung tegal dan hanya memakan satu lembar tempe mendoan dan minum segelas air mineral. Setelah dirasa sudah bisa mengganjal perut yang lapar, dia kerja lagi. Dipungutinya sampah di warung, di lapak penjual sayur, di kios toko klontongan. Satu karung sudah terisi sampah plastik untuk dijual kembali. Tiada terasa matahari meninggi di atas kepala.
Sebelum petang melangkah pulang. Parman mampir ke warung tegal dan membeli dua bungkus nasi beserta lima ayam goreng untuk anak dan istri. Rasa senang bisa memberikan makanan enak untuk mereka karena pendapatan hari ini lumayan banyak, lima lembar uang puluhan ribu.
Sesampai di rumah, Dia merasakan keanehan dari suasana rumahnya yang sepi melompong. Tidak terdengar suara istri dan anak-anak. Ke mana istri dan anak-anaknya? Tiba-tiba suara sahutan tetangga Parman terdengar bersama jawaban dari pertanyaan di benaknya.
“Man! Istri dan anak-anakmu dibawa ke mobil avanza hitam,” sahut tetangga kontrakan.
“Siapa, Mbak?” tanya Parman. Matanya menekuri kamar kontrakan, berharap ada petunjuk.
“Kata istrimu itu saudaranya, dia dan anak-anak mau pergi ke rumahnya,” ucap tetangga lainnya.
Parman terduduk lemas. Tetangga-tetangga memandang iba. Entahlah, apakah istrinya sudah bosan dengan keadaan hidup yang terlalu keras hingga tega dengan tanpa izin pergi. Parman mengusap keringat di wajah berbarengan dengan air mata yang meleleh. Dia masuk ke dalam dan mendapati barang-barang anak dan istrinya raib, tersisa hanya satu lemari pakaian dan tiga potong baju. Parman menemukan secarik kertas di depan lemari.
Pak, ternyata kakakku selama ini mencari keberadaan kita. Dia memaksaku dan anak-anak untuk ikut dengannya di Tengerang. Maaf, Pak jika istrimu ini lancang tanpa ijin. Aku sudah tidak tahan. Aku kasihan dengan anak-anak. Kau tahu, setiap hari mereka merengek meminta jajan, ini dan itu dan ingin seperti anak-anak tetangga. Tetapi aku hanya bisa menahan tangisan mereka karena tidak punya uang. Kalau Bapak sayang sama kami, segera menyusul. Di surat ini ada alamat kakakku, dia juga menyuruhmu untuk tinggal, asalkan sudah mendapatkan pekerjaan tetap.
Istrimu, Neneng.
Bungkusan makanan yang dibeli terjatuh di lantai, tiada terasa kucing kampung mendengus dan mendekat. Parman geming dan limbung, tercipta ruang sepetak di benaknya. Inikah jawaban-Mu dari do’a-do’aku?(*)
Cikarang Barat, 04-September-2016
Komentar
Posting Komentar