Oleh : Rosi Ochiemuh.
"Kok, ngasih segini lagi, Tong?!" Ketusnya.
"Maaf, Bos. Sedang sepi. Akhir-akhir ini selalu ada razia pengemis."
"Pokoknya Gue nggak mau tahu. Lo pada harus dapetin duit lebih banyak lagi!"
Bisnis pengemis Pak Kemal begitu menggiurkan. Bayangkan
saja, jika satu orang anak buahnya memiliki pendapatan seratus sampai lima
ratus ribu dalam satu hari, dikalikan dua puluh orang pengemis asuhannya dari
usia anak-anak sampai orang tua.
Disetorkan penghasilan sehari itu padanya, dia bisa meraup keuntungan jutaan
rupiah dalam satu hari! Bisnis fantastis tanpa harus bekerja keras.
Duduk manis di rumah. Setelah senja dia menagih uang
hasil mengemis anak buahnya. Rumahnya mewah, dengan dua mobil avanza. Dia
menggaji anak buahnya dengan dua puluh persen dari pendapatan mereka sehari
setelah mengemis di jalanan kota. Mata hati dan keimanan Kemal semakin
menghitam dan tertutup. Tetapi Allah.SWT Yang Maha Melihat lagi Mendengar tidak
pernah sedikit pun lalai dari keburukan hamba-Nya.
Kemal jarang sekali berkumpul dengan tetangganya lantaran dia tidak suka dinasihati. Semua warga sudah berusaha untuk memberitahukan bahwa bisnisnya itu melanggar ajaran agama Islam, tidak halal dan merugikan orang lain. Namun, Kemal tetap bersikukuh bahwa bisnisnya itu hanyalah miliknya. Bahkan sedikitpun harta Kemal tidak pernah disedekahkan. Ketika para remaja masjid meminta sumbangan untuk mengadakan perayaan Muharam, dia malah mencaci maki para remaja masjid yang membuat mereka tidak mau lagi meminta sumbangan pada Kemal.
Zaenab, istri Kemal pun sama. Dia bahkan selalu memakai perhiasan emas di tubuhnya yang molek dan cantik. Kalung, cincin dan anting. Pun tidak berhijab. Sudah berpuluh-puluh kali ibu-ibu sering mengajaknya untuk ke majelis pengajian, tetapi selalu ditolak Zaenab dengan ketus. Alasannya, dia tidak hobi mengaji. Zaenab pun sering kasar pada pedagang sayur, lantaran sayur dan lauk pauk kesukaannya telah dijual oleh di tukang sayur.
Kemal terpedaya oleh dosa yang semakin menumpuk,
menggumpal bak asap yang makin menebal. Nasihat dan teguran warga lewat saja
dari lubang telinga. Kemal Terhanyut dalam pusaran arus hitam yang siap menggiringnya
ke neraka jahanam tanpa disadari. Bahkan Kemal lalai mengajarkan istrinya untuk berbuat kebaikan dan menjalankan ibadah. Suatu waktu Allah bisa saja memberikan teguran tak
terduga bagi hamba-Nya yang lalai dan berdosa, dengan cara-Nya yang tidak diduga. Tanpa diminta dan diinginkan oleh hamba-Nya.
***
“Zaenab, Masaknya
sudah?!” teriak Kemal pada istrinya dari teras atas.
“Sebentar lagi
masakannya jadi,” jawab istrinya.
Istrinya kebingungan
karena tiba-tiba tabung gas elpiji hijau itu habis gasnya. Dia buru-buru memasang
regulator ke tabung gas. Selama memasang gas, Zaenab tidak pernah merasa takut
kebocoran gas. Tapi kali ini kecerobohan Zaenab berakibat fatal. Regulator
bocor, gas bau menyebar kemana-mana dari tabung gas elpiji yang masih penuh, tanpa di sadari. Zaenab malah menyalakan
kompor gas. Dan … Bum!
Kemal kaget mendengar suara itu yang sejak tadi duduk di
teras atas, dia terpelanting dari tempat duduknya. Kemal langsung turun dan
mencium bau kebakaran, asap pekat telah menguasai rumahnya. Dia panik, ketika
ruang dapur panas dan menyala-nyala karena api telah rata meruak. Seketika
ruangan dapur dan ruang tamu panas, meleleh dindingnya dan ambruk.
“Zaenab! Zaenab!”
Teriak Kemal memanggil istrinya yang mungkin terperangkap oleh kobaran api
dalam dapur. Tak sadar, Kemal lalu menyelamatkan
dirinya sendiri tanpa berpikir lagi untuk menyelamatkan istrinya. Dia berlari dan berteriak histeris meminta bantuan pada warga. Api semakin berkobar,
warga berdatangan, berusaha ikut memedamkan api. Mereka pun tidak ingin api
menyambar sadis ke rumah-rumah mereka. Pemadam kebakaran sudah dipanggil.
Tetapi belum datang juga ke TKP.
Kemal shock dan kalang kabut, ingin menyelamatkan harta
bendanya juga istrinya, tetapi api semakin membakar hampir seluruh isi rumah, lantai atas,
garasi dan mobil-mobilnya. Sirine berbunyi, pemadam kebakaran datang dan langsung beraksi.
Berusaha melaksanakan tugas untuk memadamkan api yang berkobar ganas. Herannya,
api itu tidak bergerak ke kanan atau ke kiri menyambar bangunan yang lain, meski saat
itu angin berseliweran kencang. Kobaran api membakar naik ke atas.
Akhirnya pemadam kebakaran memadamkan api yang membakar
rumah beserta isinya. Rumah Kemal yang sangat dia banggakan. Kemal tertuduk
lemas. Seperti orang kehilangan akal dia berteriak-teriak. “Harta Gue! Tolongin
harta Gue! Istri Gue! Tolong!” teriaknya histeris. Semua warga yang berkerumun
mulai kasihan pada Kemal. Kemal diungsikan ke masjid terdekat. Diberi air
minum, direbahkan, diberi kekuatan oleh warga dan penjaga masjid.
“Sabar, Pak Kemal. Ini
musibah. Mungkin ada yang salah dari cara hidup, kita,” ucap penjaga masjid
menenangkan. Dia tahu, bahwa lelaki yang disampingnya itu sedang ditegur
oleh-Nya.
Kemal terdiam limbung.
Di TKP, polisi menemukan jasad istrinya yang hangus terbakar dan langsung dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Istri yang
dibanggakannya itu yang bertubuh molek dan cantik rupawan, meski belum
memberikannya keturunan. Kemal makin histeris. Penjaga masjid itu kemudian
meninggalkannya sementara.
Azan Zuhur
berkumandang. Kemal masih limbung bersandar di dinding masjid. Warga sengaja
mendiamkannya dahulu, hingga diwaktu yang tepat, Kemal akan dibujuk untuk makan
dan minum. Disaat inilah Kemal terdiam mendengarkan azan berkumandang. Dia
merasakan hatinya tentram. Tak dirasa air mata meleleh tiada henti.
Kemal terdiam, lalu
terisak. Entah apakah saat itu juga Allah memberikan teguran sekaligus hidayah
padanya. Kemal menangis sesenggukan ketika para jamaah sedang melaksanakan
solat. Dia menangis sesenggukan, dalam keadaan itu, dia bersujud lama. Seperti
meminta ampun kepada sesuatu. Sesenggukan yang semakin membuat para jamaah di
masjid mengiba.
“Pak Kemal,” tegur
penjaga masjid dengan lembut menepuk pundaknya.
Kemal bangun dan
memeluk penjaga masjid tersebut.
“Sudah, Pak. Ini
musibah. Kejadian ini adalah isyarat dari-Nya agar bapak
kembali pada ajaran-Nya.”
Kemal mengangguk.
Mulutnya terkatub rapat sejak tadi. Tangisannya makin membuncah. Entah rasa
memuncak apa yang dirasakan saat itu. Penyesalan atau ketidak-ikhlasan hati
karena kehilangan segala yang dia punya.
“A-astagfirullahalaziim
…, saya tahu jalan saya salah, saya sekarang bangkrut, saya tidak punya apa-apa lagi. Apakah Allah masih menerima saya yang
bangkrut ini?” Tiba-tiba suara parau Kemal membuat penjaga masjid takjub.
Apakah ini keajaiban-Nya?
“Subhanallah! Pak
Kemal, Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia selalu
menerima pertobatan hamba-Nya.”
Tubuh Kemal melemas,
raganya seperti ringan tertiup angin karena merasa lega dengan pengakuannya. Rasanya ia ingin hijrah dari masa sekarang ke masa depan. Kehilangan membuat mata hatinya terbuka meski terpaksa terluka dan merasakan pil paling pahit sedunia.
Cikarang, 04-November-2015. Copy paste dari #KelasReligi di grup. Dipoles lagi sedikit.
.
Tulisan ini banyak kurangnya ... belajar lagi. :D
Komentar
Posting Komentar