Oleh : Rosi Ochiemuh.
"Rai, apakah kamu sudah tahu kalau Dion ..." Kalimat Tita terputus.
"Dion? Sudah tahu, Ta," balasku dengan wajah murung.
"Aku hampir tak percaya kalau Dion adalah salah satu korban kebakaran di gedung karaoke itu," Tita seperti merasa bersalah.
"Itu sudah takdirnya, Ta. Yang pastinya kita harus melangkah ke depan, masa depan kita masih terbentang," ucapku lagi menenangkan dia.
Dion, sahabat yang selalu memberikan canda dan tawa itu dan selalu memberikan kata-kata motivasi saat kami dilanda frustasi karena permasalahan orang tua kami. Begitu supel dan tidak pernah merasa bahwa dia itu anak orang kaya. Dia selalu membantu kami ketika menjelang ulangan umum, saling memberikan contekan. Kerjasama yang saling menguntungka meski kami jarang membantu, dia selalu ada untuk meringankan kesulitan kami.
Kebakaran di gedung karaoke itu merenggut nyawanya. Menurut kepolisian, Dion terjebak di antara kerumunan pengunjung yang sedang ramai saat kebakaran terjadi karena konsleting listrik. Gedung karaoke paling besar di kota kami itu, terbakar di hari Minggu yang lalu, dimana semua orang menikmati hiburan dari aktifitas yang memusingkan seperti sekolah, kuliah dan kerja.
Aku termasuk seorang yang malas untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan seperti itu. Meskipun aku menyukai musik, suka menyanyi dan suka dengan anak band. Tapi kesukaan itu hanya kunikmati sendiri dalam kamar tidur. Dion selalu berbaik hati untuk mengajakku ke tempat-tempat hiburan itu. Begitu royalnya dia, sampai sering membelikan makanan dan minuman ringan, membelikan pulsa jika sedang kehabisan pulsa. Aku dan Tita sesekali dikenalkan dengan tempat-tempat nongkrong yang asyik. Seperti mall, bioskop, tempat karaoke dan kafe-kafe malam. Beruntungnya saat kejadian kebakaran itu, aku dan Tita memang menolak ajakannya karena kami punya urusan lain yang penting.
Dion itu remaja paling beruntung kehidupannya dari kami bertiga. Aku dan Tita punya banyak masalah di keluarga. Tita punya permasalahan dengan bapaknya yang jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang dengan mulut berbau alkohol, merampas uang hasil jerih payah ibunya untuk dihabiskan di meja judi. Sedangkan aku, seharusnya aku ini dijadikan anak bungsu saja. Kenapa harus jadi anak pertama yang setiap waktu harus mengalah dengan saudara-saudaraku? Adikku banyak--lima orang. Sedang ibu dan bapak hanyalah seorang pedagang sayuran di pasar tradisional.
Ingat terakhir kalinya Dion mengatakan sesuatu kepadaku dan Tita.
"Kalau aku nggak ada, Kalian tetap selalu berteman, ya. Belajar terus, jangan pernah buat contekan lagi jika ulangan semester nanti." Kalimat terakhir Dion sebelum kejadian itu terjadi hanya angin lalu bagiku dan Tita. Tak dianggap serius. Aku dan Tita menanggapinya biasa.
Jika aku dan Tita mengingat kalimat itu, rasa sedih itu kembali mengusik kami berdua. Sayang sekali, kenapa Dion harus meninggalkan dunia secepat itu dan semuda itu. Apalagi meninggal dunia dalam keadaan yang tragis. Terjebak dalam kebakaran gedung hiburan itu. Kami masih belum percaya, tapi kami berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Dion sudah meninggal dunia.
"Sudah dapat kartu ujiannya, Rai?" tanya Tita.
"Sudah, Ta," jawabku. Mataku memandangi bangku kosong di sebelah kami. Bangku tempat duduk Dion sewaktu dia masih hidup.
"Hei! Kamu mulai lagi, deh," ujar Tita.
"Apaan, sih, Ta?" tanyaku bingung dengan tegurannya itu.
"I-itu, kamu selalu memandang bangku kosong itu. Bangkunya Dion!"
"Hanya mengenang Dion. Apa salahnya?"
"Entahlah, Rai. Aku sedih jika melihat bangku itu kosong, dan teringat kenangan tentang kebersamaan kita dengan Dion. Ta-tapi ..., aku juga merinding, bulu kudukku merinding."
Perkataan Tita itu bukan tanpa alasan. Sudah seminggu Dion meninggal dunia. Teman-teman sekelas merasa sering ada keanehan di setiap harinya. Termasuk penjaga sekolah. Dia pernah melihat bangku itu bergeser sendiri tetapi tidak ada satu orang pun di sekolah. Teman-teman kami yang bangkunya ada di depan bangku mendiang Dion itu, sering merasa ada yang menepuk punggung mereka padalah tidak ada orang sama sekali. Namun aku dan Tita tidak terlalu percaya dengan sesuatu berbau tahayul, atas cerita mereka. Karena kami belum pernah merasakan itu.
"Tita, kita nggak boleh berpikiran sama seperti yang lain tentang Dion. Dia dan kita sudah beda alam," ucapku saat wajahnya mulai meringis.
"I-iya sih. Aku juga kadang merasa sedang diawasi oleh dia. Mungkin halusinasi saja, ya," sahut Tita. Duduknya mulai tak tenang dan tak nyaman, bergeser ke sana-sini.
***
Ujian telah dilaksanakan. Kami semua masuk pagi, dengan guru pengawas yang bukan dari sekolah kami. Seperti biasanya Tita memberitahukan aku bahwa dia sudah membuat kertas contekan. Disimpan di balik jam tangannya, di balik bandonya, dan di tali pinggangnya. Sedangkan aku, hanya menulis contekan seperlunya saja, seperti rumus matematika. Itu pelajaran yang selalu jadi momok memusingkan buatku. Kebetulan sekali ulangan di hari pertama ini, Matematika dan Bahasa Inggris.
"Rai! Kamu buat contekan apa?"
"Rumus-rumus. Kamu apa, Ta?"
"Pas banget, kita nanti barteran saja ya. Aku buat Rumus penting Bahasa Inggris."
Pucuk dicinta ulampun tiba, aku dan Tita saling melengkapi dalam masalah contekan. Senyum licik meruak antara aku dan Tita. Ulangan pertama dimulai dengan mata pelajaran matematika, guru yang datang mengawas dari sekolah tetangga. Aku sedikit mengenal guru tersebut. Dia itu jika mengawas selalu sibuk menulis di mejanya. Rasanya dia itu hanya menumpang nulis di kelas kami dan bukannya mengawas. Mata dan tangannya sibuk menulis sesuatu, entah itu tugasnya di sekolah sana atau tugas sekolah anaknya?
Kesempatan emas bagiku dan Tita untuk saling melengkapi dan berbagi contekan. Pertama-tama, aku mengisi soal-soal yang mudah sambil melihat rumus-rumus untuk dikerjakan dari contekan itu. Kemudian setelahnya baru kuberikan pada Tita.
"Rai, mana?" Suara Tita terdengar berbisik mengusik ketenanganku dalam mengisi soal-soal matematika.
"Rai, apakah kamu sudah tahu kalau Dion ..." Kalimat Tita terputus.
"Dion? Sudah tahu, Ta," balasku dengan wajah murung.
"Aku hampir tak percaya kalau Dion adalah salah satu korban kebakaran di gedung karaoke itu," Tita seperti merasa bersalah.
"Itu sudah takdirnya, Ta. Yang pastinya kita harus melangkah ke depan, masa depan kita masih terbentang," ucapku lagi menenangkan dia.
Dion, sahabat yang selalu memberikan canda dan tawa itu dan selalu memberikan kata-kata motivasi saat kami dilanda frustasi karena permasalahan orang tua kami. Begitu supel dan tidak pernah merasa bahwa dia itu anak orang kaya. Dia selalu membantu kami ketika menjelang ulangan umum, saling memberikan contekan. Kerjasama yang saling menguntungka meski kami jarang membantu, dia selalu ada untuk meringankan kesulitan kami.
Kebakaran di gedung karaoke itu merenggut nyawanya. Menurut kepolisian, Dion terjebak di antara kerumunan pengunjung yang sedang ramai saat kebakaran terjadi karena konsleting listrik. Gedung karaoke paling besar di kota kami itu, terbakar di hari Minggu yang lalu, dimana semua orang menikmati hiburan dari aktifitas yang memusingkan seperti sekolah, kuliah dan kerja.
Aku termasuk seorang yang malas untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan seperti itu. Meskipun aku menyukai musik, suka menyanyi dan suka dengan anak band. Tapi kesukaan itu hanya kunikmati sendiri dalam kamar tidur. Dion selalu berbaik hati untuk mengajakku ke tempat-tempat hiburan itu. Begitu royalnya dia, sampai sering membelikan makanan dan minuman ringan, membelikan pulsa jika sedang kehabisan pulsa. Aku dan Tita sesekali dikenalkan dengan tempat-tempat nongkrong yang asyik. Seperti mall, bioskop, tempat karaoke dan kafe-kafe malam. Beruntungnya saat kejadian kebakaran itu, aku dan Tita memang menolak ajakannya karena kami punya urusan lain yang penting.
Dion itu remaja paling beruntung kehidupannya dari kami bertiga. Aku dan Tita punya banyak masalah di keluarga. Tita punya permasalahan dengan bapaknya yang jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang dengan mulut berbau alkohol, merampas uang hasil jerih payah ibunya untuk dihabiskan di meja judi. Sedangkan aku, seharusnya aku ini dijadikan anak bungsu saja. Kenapa harus jadi anak pertama yang setiap waktu harus mengalah dengan saudara-saudaraku? Adikku banyak--lima orang. Sedang ibu dan bapak hanyalah seorang pedagang sayuran di pasar tradisional.
Ingat terakhir kalinya Dion mengatakan sesuatu kepadaku dan Tita.
"Kalau aku nggak ada, Kalian tetap selalu berteman, ya. Belajar terus, jangan pernah buat contekan lagi jika ulangan semester nanti." Kalimat terakhir Dion sebelum kejadian itu terjadi hanya angin lalu bagiku dan Tita. Tak dianggap serius. Aku dan Tita menanggapinya biasa.
Jika aku dan Tita mengingat kalimat itu, rasa sedih itu kembali mengusik kami berdua. Sayang sekali, kenapa Dion harus meninggalkan dunia secepat itu dan semuda itu. Apalagi meninggal dunia dalam keadaan yang tragis. Terjebak dalam kebakaran gedung hiburan itu. Kami masih belum percaya, tapi kami berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Dion sudah meninggal dunia.
"Sudah dapat kartu ujiannya, Rai?" tanya Tita.
"Sudah, Ta," jawabku. Mataku memandangi bangku kosong di sebelah kami. Bangku tempat duduk Dion sewaktu dia masih hidup.
"Hei! Kamu mulai lagi, deh," ujar Tita.
"Apaan, sih, Ta?" tanyaku bingung dengan tegurannya itu.
"I-itu, kamu selalu memandang bangku kosong itu. Bangkunya Dion!"
"Hanya mengenang Dion. Apa salahnya?"
"Entahlah, Rai. Aku sedih jika melihat bangku itu kosong, dan teringat kenangan tentang kebersamaan kita dengan Dion. Ta-tapi ..., aku juga merinding, bulu kudukku merinding."
Perkataan Tita itu bukan tanpa alasan. Sudah seminggu Dion meninggal dunia. Teman-teman sekelas merasa sering ada keanehan di setiap harinya. Termasuk penjaga sekolah. Dia pernah melihat bangku itu bergeser sendiri tetapi tidak ada satu orang pun di sekolah. Teman-teman kami yang bangkunya ada di depan bangku mendiang Dion itu, sering merasa ada yang menepuk punggung mereka padalah tidak ada orang sama sekali. Namun aku dan Tita tidak terlalu percaya dengan sesuatu berbau tahayul, atas cerita mereka. Karena kami belum pernah merasakan itu.
"Tita, kita nggak boleh berpikiran sama seperti yang lain tentang Dion. Dia dan kita sudah beda alam," ucapku saat wajahnya mulai meringis.
"I-iya sih. Aku juga kadang merasa sedang diawasi oleh dia. Mungkin halusinasi saja, ya," sahut Tita. Duduknya mulai tak tenang dan tak nyaman, bergeser ke sana-sini.
***
Ujian telah dilaksanakan. Kami semua masuk pagi, dengan guru pengawas yang bukan dari sekolah kami. Seperti biasanya Tita memberitahukan aku bahwa dia sudah membuat kertas contekan. Disimpan di balik jam tangannya, di balik bandonya, dan di tali pinggangnya. Sedangkan aku, hanya menulis contekan seperlunya saja, seperti rumus matematika. Itu pelajaran yang selalu jadi momok memusingkan buatku. Kebetulan sekali ulangan di hari pertama ini, Matematika dan Bahasa Inggris.
"Rai! Kamu buat contekan apa?"
"Rumus-rumus. Kamu apa, Ta?"
"Pas banget, kita nanti barteran saja ya. Aku buat Rumus penting Bahasa Inggris."
Pucuk dicinta ulampun tiba, aku dan Tita saling melengkapi dalam masalah contekan. Senyum licik meruak antara aku dan Tita. Ulangan pertama dimulai dengan mata pelajaran matematika, guru yang datang mengawas dari sekolah tetangga. Aku sedikit mengenal guru tersebut. Dia itu jika mengawas selalu sibuk menulis di mejanya. Rasanya dia itu hanya menumpang nulis di kelas kami dan bukannya mengawas. Mata dan tangannya sibuk menulis sesuatu, entah itu tugasnya di sekolah sana atau tugas sekolah anaknya?
Kesempatan emas bagiku dan Tita untuk saling melengkapi dan berbagi contekan. Pertama-tama, aku mengisi soal-soal yang mudah sambil melihat rumus-rumus untuk dikerjakan dari contekan itu. Kemudian setelahnya baru kuberikan pada Tita.
"Rai, mana?" Suara Tita terdengar berbisik mengusik ketenanganku dalam mengisi soal-soal matematika.
"Ssstt ..., sebentar lagi," balasku tanpa menoleh.
Tempat duduk Tita tepat di belakang tempat dudukku. Maka kami dengan pede dan beraninya untuk bekerjasama dalam mencontek.
Saat aku ingin memberikan contekan pada Tita ke belakang, aku tidak menoleh sama sekali. Takut ibu pengawas curiga dan malah memergoki kami.
Kurasakan tangan yang membalas uluran contekan itu sangat dingin. Kenapa tangan Tita sedingin ini, ya? Kutepis rasa aneh dalam pikiran tentang itu. Aku melanjutkan mengisi lagi soal lainnya yang kuketahui.
"Hei! Rai ..., mana contekannya?" Kaki Tita dari belakang menendang kakiku. Aku tersadar, Tita sejak tadi memanggil dengan berbisik.
"Eh, bukannya sudah kamu ambil tadi, Ta?" bisikku dengan menoleh pelan.
"Ngaco, kamu! aku belum ambil. Dari tadi aku nungguin," ucapannya membuatku merasa aneh dan binggung. Padahal tangannya bersentuhan dengan telapak tanganku.
Aku memastikan untuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Semua teman di kelas tidak ada satu pun yang melihat ke depan. Semua menunduk mengerjakan soal sambil berpikir. Lalu, siapa yang mengambil contekanku? Ibu pengawas sejak tadi tak beranjak dari duduknya lantaran sibuk menulis. Hanya Tita yang sejak tadi duduk tegap meratap untuk mengharapkan contekan itu.
"Ta ..., yakin kamu nggak ngambil contekanku?"
"Iya! Ngapain aku daritadi melongok ke kamu, manggil-manggil kamu terus."
Seketika rasa merinding datang ditengkukku. Kumenoleh ke bangku sebelahku yang bersandar di dinding. Bangku yang masih kosong, karena hanya Dion yang mendudukinya. Tak ada siapa-siapa yang menduduki bangku itu. Bangku itu tetap bisu, hening tanpa kegaduhan karena tiada penghuni.
"Ta! terus yang nerima contekanku tadi siapa?"
Aku penasaran dan seluruh badan ini kubalikkan ke belakang menghadap Tita. Terlihat Tita mengernyitkan dahi. Dua orang di belakang Tita sedikit terkejut, merasa terusik dengan ulahku di saat ujian yang hening itu. Lalu saat kulihat di bangku belakang lagi, Mataku mendelik tiba-tiba, tanganku gemetar, mulut dan badan ini kaku. Tita yang dihadapanku mulai bingung dengan bahasa tubuhku yang aneh.
Apakah yang kulihat itu? Sosok itu. Sosok yang seharusnya tidak ada lagi di kelas ini, tidak boleh lagi terlihat karena beda alam. Sosok yanng mirip Dion itu berdiri di bangku paling belakang mematung dengan tangannya yang memegang kertas kecil seperti contekan. Seketika dengkul dan tubuh ini melemas jatuh.
"Rai! Kamu kenapa? Bu pengawas! Rai pingsan!" Sayup-sayup teriakan Tita sambil menarik tangan dan tubuhku yang oleng.
SEKIAN.
Cikarang, 06-November-2015...
Ingin nulis cerita remaja horor, tapi rasanya kurang bagus, kurang remaja bahasanya dan kurang horor. Saat menulis cerita ini di kantor sendirian sambil menunggu pembeli datang, aku malah parno sendiri. Hadeh. ^T^ ..
Komentar
Posting Komentar