SUARA-SUARA KERAS.
Oleh : Rosi Ochiemuh.
“Kau
penyembah berhala. Penyembah benda mati!”
Aku
terperanjat dari tempat duduk. Wajah basah berkeringat, rasanya seperti habis
berlari jauh. Penumpang yang duduk di sebelahku menangkap ekspresiku saat
itu.
“Ada
apa, Pak?” tanyanya.
Aku
menarik napas panjang. Memejamkan mata dengan pelan dan membukanya lagi. Sejak tadi suara-suara keras itu menggema di
telinga.
“Sejak
tadi saya mendengar suara-suara yang keras. Tetapi ketika melihat sekeliling dalam pesawat, tidak ada yang berbicara satu pun termasuk Adik,” ucapku lirih.
Dia
memandangi wajahku. Kami bersitatap, mungkin dia berpikir aku mengalami sesuatu yang tak wajar.
“Coba bapak bertayamum,” ucapnya dengan senyum.
Rasanya
aku belum pernah mempraktikannya. Hanya pernah belajar cara bertayamum. Berwudhu
pun jarang kulakukan. Kesibukan berbisnis membuatku semakin lupa. Tapi jika ada
kesempatan umrah, aku tidak pernah melewatkannya.
“Saya
coba, Dik.”
Pemuda
itu kembali memintal biji-biji tasbih di jemarinya. Bibirnya basah dengan
zikir. Sedang aku kembali memejamkan mata untuk istirahat setelah bertayamum.
Mencoba merasakan ketenangan yang begitu sulit kudapat sejak tadi dalam pesawat.
“Kau
penyembah kotak hitam! Kau berbuat syirik!”
“Tidak!”
Pemuda
itu langsung kaget dengan teriakanku yang spontan.
“Istighfar,
Pak! Ada apa lagi?” tanyanya.
“Suara
itu lagi …, membuat saya tidak tenang.”
“Boleh
saya bertanya? Apa yang bapak perbuat sebelum berangkat umrah?”
Aku terdiam mendengar pertanyaannya, kupegangi pelipisku tiba-tiba
mendadak panas, padahal sebelumnya aku sehat walafiat.
“Ini
keberangkatan umrah yang kelima kali. Saya pergi umrah agar bisnis saya seperti
tahun-tahun kemarin bertambah maju,” jawabku tiba-tiba. Entahlah mulut ini lancar
berbicara selaras dengan isi hati. Aku jadi malu pada pemuda itu.
Pemuda
itu menatapku lama dan menggeleng pelan.
“Setiap
ibadah tujuannya Allah, Pak. Mubazir jika uang untuk ibadah umrah niatnya
salah.”
Ucapannya
menohok hati. Badan ini makin panas membuatku tak berdaya. Aku terdiam lama
dan mencerna ucapannya. Bibirku lalu beristigfar. Tiba-tiba badanku melemas
dan semua terasa gelap. Saat membuka mata lagi, aku mendapati diri ini di depan
Kabah sendirian dan di sekitarnya bersuhu panas.
TAMAT.
(KelasFF Loverinz... Pokoknya keren banget kelasnya :D)
Komentar
Posting Komentar