Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN : RUTUKAN SUBUH.

* Cerpen ini belum pernah dimuat di mana pun. Dua kali dikirim ke media koran, tapi tidak pernah dimuat. Sepertinya memang belum berjodoh dengan konsep dan tema cerpen.      Karya : Rosi Ochiemuh. Subuh yang dingin, aku sudah tergerak bangun. Karena pekerja kantor kecil sepertiku tidak bisa menghentikan kemacetan jalan raya ingar-bingar liar kendaraan yang tidak akan menoleransi untuk jalan duluan. Bisingnya klakson-klakson sepagi itu terdengar seperti monster. Peringatan bahwa kita tinggal di sebuah kota maju yang bergantung pada kemajuan teknologi tapi miskin simpati.             Wajah-wajah tegang, tidak ada senyum kutemukan dari mereka kecuali wajah berkeringat yang berkali-kali melirik jam di pergelangan. Aku tahu jam tangan mereka tidak murahan seperti yang kupakai. Beberapa ber merek Swiss Army , Alba , Chanel , Jacob & Co, Bvlgari , Cartier , dan yang terjangkau Sofie Martin yang pemi...

CERMIN : SUARA-SUARA YANG BERKEJARAN.

* Cerpen ini belum pernah ditayangkan di manapun. Saya tulis hanya sekadar menulis saja. ( Karya : Rosi Ochiemuh) Suara emak dalam ponsel kali ini membuat aku tidak bisa berkata-kata. Emak berpesan sekali lagi, jaga diri, jaga makanan, dan jangan makan yang instan-instan. Apalagi makanan olahan yang ada bahan pengawetnya. Aku mengiyakan dengan berdeham. Mengiyakan nasihat emak bukan berarti bisa melakukannya.             Soal makanan, kami anak-anak rantau ini selalu ingin praktis saja. Maklumlah, demi mengejar   waktu, berhemat, agar bisa memiliki apa yang kami impikan. Aku dan temanku—Fifah, tidak pernah masak. Kami mengontrak di kontrakan kecil, satu kamar dengan satu kamar mandi. Mana ada tempat memasak. Hanya saja Fifah memiliki penanak nasi listrik yang bisa dimanfaatkan untuk menanak nasi, merebus makanan, dan masak mi instan.             Kemarin-kemarin se...

Perayaan Senin Sore

Hujan turun berderai-derai Serupa tangis Serupa perayaan sore ini Berlapis-lapis percikan bak kabut Jalanan basah membuminya debu Larut bersama sekelumit teori kehidupan perkotaan nan menggebu Bersama pikiran yang masih bersemedi Dalam yang jauh ke negeri antah berantah Yang tak kuasa kulawan semua ilusi Berbantah-bantah Pada logika manusiawi Kudengar hujan bisa menculik siapa saja Pikiranmu, pikiranku, semua pikiran manusia Terlena deru derai jatuhnya Sembab tanah dan hawa Lalu tertelan oleh kenangan yang piawai Hujan turun serupa tangis, serupa tarian ditingkahi riuh gelegar petir Angin yang bermain-main Serupa perayaan sore ini pada senin yang jemu Tak ada secangkir kopi pun secangkir teh hangat Pikiran masih berjibaku di jalan raya perkotaan yang tak ada matinya. Cikarang City; 26-November-2018.

KEKASIH DARI BULAN ( Cerpen)

Cerpen ini pertama dimuat di koran Harian Pikiran Rakyat. Edisi Minggu, 02 September 2018. Kedua matanya tertambat pada bulan purnama di malam itu. Semilir angin malam sedikit bertingkah membelai poni rambutnya yang panjang. Usia tiga puluh lima tahun yang menyedihkan untuk pria itu ketika semua teman-teman sebayanya sudah punya pasangan hidup dan keluarga. Hampir tak punya daya saat sanak keluarga dari orangtuanya menanyakan, “Kapan menikah?” Dan komentar terus berhamburan tanpa pernah membiarkan sedikit saja menjawab. Pria itu sebenarnya termasuk tampan sekitar lima belas tahun lalu sebelum jambang dan kumis terpelihara pada wajah yang berahang lebar. Kini ketampanannya seolah habis, sejak Gugun enam kali putus hubungan asmaranya tanpa sebab dan lima kali gagal ke jenjang pernikahan. Hanya karena hobinya melukis. Sampai saat ini, pria itu masih melukis dan memandangi bulan setiap malamnya. “Tidak ada perempuan yang akan mau denganmu, jika pekerjaanmu hanya begitu.” Bahkan kedua o...

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

RAMBUT MARLIN [Cerpen-Karya: Rosi Ochiemuh)

**Diterbitkan pertama kali oleh : Koran Radar Mojokerto (Grup Jawapos) Edisi ; Minggu, 02 - September - 2018. Empat tahun sudah bergelar pengangguran. Jika kuliah di universitas, mungkin sudah jadi sarjana. Bagaimanapun uang bicara ketika kamu ingin kuliah, atau akan memasuki dunia kerja. Banyak teman-teman seangkatan sekolah yang bekerja di dunia industri jadi pegawai operator mesin membayar terlebih dahulu uang muka pada yayasan yang mengelola. Sayangnya, aku bukan anak orang kaya. Emak dan bapak pedagang kelas teri. Dagang nasi uduk dan buka warung kopi. Berapa sih penghasilan mereka sehari? Bukannya tidak bisa cari kerja lain selain kuli pabrik dengan ijazah terakhir sekolah menengah kejuruan mesin. Sayangnya, aku bukan murid tekun. Semua nilai raport dan ijazah didapat dengan cara curang. Memalak teman yang pintar dan lemah. Nilaiku hampir setara dengan mereka. Tubuhku tidaklah besar, tapi otot-otot lengan dan kaki lumayan berisi. Karena setiap hari ke pasar pagi membeli keperlu...

Lintasan Nakal Perempuan yang Jatuh Cinta Lagi.

Tatapan matamu yang baru-baru ini kurasakan begitu kunikmati hangat melesap ke lubuk hati. Jauh di sana, denyut nadi itu semakin berdesir deras dengan mulusnya. Lalu senyuman manis itu tiba-tiba kurasakan aneh menyentil sudut jiwa yang kaku. Jadi bergelombang dan aku bergoyang-goyang diayun ombak samudera lengkung manismu. Padahal sudah lama hidup bersamamu, tapi mengapa rasa ini hadir kembali lebih dari rasa yang kualami dahulu. Malam ini baru kurasakan api rindu itu menyala tiba-tiba dan hangatkan sepi yang biasanya kulalui saat kau tak ada. Aku sudah terbiasa, kau tak ada. Tapi kali ini berbeda. Rindu yang kehangatannya makin mengalir menuju sendi-sendi tubuhku. Dan mendiami syaraf-syarafku yang tenang. Lesat dan mendadak aku gelisah. Tiba-tiba kuingin hujan turun deras malam itu. Saat kau belum datang padaku. Kemudian kau segera pulang dan mendatangiku untuk berteduh dari gigilnya hujan malam ini. Hingga rindu terobati meski kehadiranmu itu biasa terjadi. Tapi ini lain, entahlah...