Langsung ke konten utama

RAMBUT MARLIN [Cerpen-Karya: Rosi Ochiemuh)

**Diterbitkan pertama kali oleh : Koran Radar Mojokerto (Grup Jawapos) Edisi ; Minggu, 02 - September - 2018.


Empat tahun sudah bergelar pengangguran. Jika kuliah di universitas, mungkin sudah jadi sarjana. Bagaimanapun uang bicara ketika kamu ingin kuliah, atau akan memasuki dunia kerja. Banyak teman-teman seangkatan sekolah yang bekerja di dunia industri jadi pegawai operator mesin membayar terlebih dahulu uang muka pada yayasan yang mengelola. Sayangnya, aku bukan anak orang kaya. Emak dan bapak pedagang kelas teri. Dagang nasi uduk dan buka warung kopi. Berapa sih penghasilan mereka sehari?

Bukannya tidak bisa cari kerja lain selain kuli pabrik dengan ijazah terakhir sekolah menengah kejuruan mesin. Sayangnya, aku bukan murid tekun. Semua nilai raport dan ijazah didapat dengan cara curang. Memalak teman yang pintar dan lemah. Nilaiku hampir setara dengan mereka. Tubuhku tidaklah besar, tapi otot-otot lengan dan kaki lumayan berisi. Karena setiap hari ke pasar pagi membeli keperluan dagangan emak dan bapak. Juga kerja serabutan jadi kuli panggul sesekali.

Beberapa dari temanku anak tetangga selalu mengatakan aku ini mirip Marlin Gelok. Preman lawas pasar induk yang mati digantung depan rumahnya. Kalau mau tahu riwayat Marlin, baiklah. Aku ceritakan.

Marlin, pemuda pendiam di Kampung Gelok, letaknya di pinggiran Kota industri. Ibu dan bapaknya mati dibunuh perampok saat dia balita. Dibesarkan oleh kakeknya—paranormal tersohor waktu itu di Kampung Gelok yang adalah kampung kecil berpenduduk yang tidak waras pola pikirnya. Maksudku mereka masih bisa makan, minum, berhubungan seks, masih ingat mandi, buang hajat dengan wajar, dan masih ingat keluarga masing-masing. Ketidakwarasan itu yakni mereka gemar bermain judi, minum-minuman keras, percaya pada kuburan dan meminta pada kuburan.

Nah, yang terakhir itu membuat aku sedikit merinding. Konon di kuburan itu mereka sering lihat penampakan makhluk halus saat tengah malam. 

Mereka mencari wangsit dan pengasihan. Mulai dari ingin dapat nomor togel, mencari ilmu kebal, hingga kekayaan dan ketenaran. Syaratnya, selepas mereka mendapatkan apa yang diingini, mereka tidak boleh tinggal di Kampung Gelok sampai waktu yang ditentukan. Mereka harus tinggal jauh.
Kakek Marlin salah satunya yang suka mendatangi kuburan tengah malam. Bedanya, kakek Marlin punya keistimewaan. Dia bisa tinggal di Kampung Gelok selamanya, selepas dapat wangsit yang diidamkan. Memiliki ilmu kebatinan dan pengasihan. Hingga jadi tabib di kampung itu. Sayangnya, Marlin tidak sama dengan kakeknya. Dia penakut dan lemah.


Sejak kematian orangtuanya, Marlin pemurung, pendiam dan penakut. Sampai sering diejek tetangganya. Membuat kakeknya gemas. Hampir saja, kakeknya marah pada orang-orang di kampung itu.

“Kamu mau aku kirimkan penyakit busuk pada mereka semua?”

“Tidak usah, Kek. Biarlah Tuhan yang balas.”

“Cucu bodoh! Aku sudah gemas dengan mereka yang sok padamu.”

“Tidak, Kakek. Biarkanlah.”

Marlin tidak ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang meremehkan bahkan menghinanya. Tapi kakek bersikeras membuat cucu kesayangannya tidak lagi dianiaya. Diam-diam dia ingin memberi sebagian kekuatannya pada Marlin dengan cara menyuruh Marlin menemaninya ke kuburan cari wangsit baru.

“Aku tidak mau, Kek.”

“Jangan bantah. Aku hanya ingin ditemani. Paham?!”

Marlin menurut karena hanya kakeklah yang mengurus dan membesarkan dia. Hingga di malam itu tepatnya Jumat Kliwon, tanggal sepuluh suro dia temani kakeknya mencari wangsit. Kali ini di kuburan penjahat yang mati tiga hari lalu di alun-alun kota.

Tubuh Marlin merinding ketika duduk di hadapan kuburan basah. Suasana pemakaman umum di kampung tetangga mirip hutan rimba dalam kegelapan pekat. Bulan tidak muncul, hanya desau angin melarat-larat persis burung terbang ketakutan. Senyap, sunyi, sesekali dari jauh lolongan anjing dan ajak menggigil pilu.

Marlin melihat kakeknya komat-kamit tanpa suara, tenang seperti sungai tanpa riak meski saat itu terlihat pepohonan meliuk-liuk pelan tertiup angin malam yang lambat tapi dingin.

Suara burung gagak terdengar di antara pepohonan bambu yang dedaunannya bergoyang. Marlin berkeringat dingin, wajahnya pias. Dia tidak ingin melihat peristiwa ganjil di tempat itu, kedua matanya dipejam paksa. Tanpa disadari posisi duduk kakeknya sudah pindah di belakang Marlin, meletakkan kedua tapak tangan pada punggung Marlin yang basah keringat. Marlin terkejut, tapi dia tidak bisa bergerak. Sesuatu merasuki tubuh pemuda itu dari balik punggungnya yang panas dingin. Cahaya kekuningan merebak.

Kakek ternyata mentransfer sebagian ilmunya pada Marlin malam itu. Rambut Marlin berubah gimbal panjang merah marun. Keesokan harinya, Marlin mengalami perubahan pada hidupnya.

Mungkin akan terlihat benang merah antara aku dan cerita Marlin ini. Selepas itu, Marlin sakit tiga hari. Dia demam dan tidak ke luar rumah, kakeknya yang mengurus. Setelah dia sembuh dari sakit, Marlin merasa berbeda karena rambutnya. Tubuhnya berotot, lengannya kejal, kakinya tegap dan sekeras besi. Telinganya tajam, bisa dengar suara dari jarak beberapa radius kilometer. Bahkan suara nyamuk di rawa-rawa bersungut-sungut terdengar jelas. Tapi Marlin tidak terganggu dengan kemampuan terbarunya. Dia menikmati itu. Dia senang ditantang oleh orang-orang yang selama ini meremehkannya.


Rambut gimbalnya tidak pernah diperlihatkan. Dia simpan rapi dalam topi cupluk hitam. Mula-mula orang tidak menyangka jika dia sudah sembuh dari demam, lalu mengira rambut Marlin rontok dan ditutupi. Namun semua sindirian, kata-kata yang menghina tidak di acuhkan. Tetapi ketika salah satunya yang paling sering menghina dia berkata tentang kedua orangtua Marlin. Bahwa orangtua Marlin tumbal dari kakeknya yang suka cari wangsit di kuburan.

Muka Marlin memerah, tidak terima dengan perkataan orang-orang itu. Dia datangi satu per satu dan tanpa bicara lagi dia tarik kerah baju orang itu, diangkatnya tinggi-tinggi, dihempas sekali ke tanah. Semua terkejut. Marlin punya kekuatan. Semua orang mendelik, tapi Marlin santai menanggapi. Beberapa orang maju, memukul, meninju, menendang dia tapi mereka terpental. Tidak perlu keluar tenaga, Marlin sudah menjatuhkan mereka semua hingga terluka parah.


“Wah, jangan-jangan dia sudah diberikan ilmu sama kakeknya.”

“Dia curang, ilmunya didapat dari wangsit. Dasar Anak Kalong!”

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa padanya. Dia semakin besar kepala. Melakukan apa saja yang dia suka.”

Warga Kampung Gelok membicarakan Marlin. Bukan saja Marlin yang punya kekuatan, tapi kelakuan Marlin berubah jadi pemuda paling ditakuti di kampung itu. Bahkan setiap orang-orang dari mana pun hingga ke pusat kota akan gentar mendengar namanya disebut. Marlin Gelok dari Kampung Gelok. Marlin pun memperlihatkan rambut gimbal merahnya yang aneh. Kelamaan mirip Buto Ijo atau Samson Betawi.

Lima tahun lamanya Marlin memiliki kekuatan itu di tubuhnya, takdir tidak dapat dicegah saat kakeknya akan moksa. Usia laki-laki renta itu sembilan puluh tahun. Mulai merasakan sakit dan sekarat. Pada saat itulah rumah mereka terasa panas dan hampir terjadi kebakaran. Yang menyedihkan, tetangga mereka tidak satu pun yang datang menjenguk, juga saat tahu bahwa kakek Marlin meninggal dunia.

Marlin sedih, dan jiwanya kembali rapuh. Hanya satu orang kiai dari seberang dan pengikutnya yang membantu proses pemakamanan sang kakek. Marlin sangat terpukul, meski berkali-kali kiai sepuh itu memberi wejangan paling sejuk.

Sejak kematian kakeknya, Marlin makin buas. Sampai tidak ada satu orang di Kampung Gelok itu yang bisa meredamnya, kecuali Ambarwati. Janda muda dari ustaz Zakaria. Karena Ambarwati pula, Marlin kehilangan kekuatannya dan dijebak oleh warga hingga digantung hidup-hidup.

Konon kekuatannya berkumpul di rambut gimbalnya meski dia sudah mati. Rambutnya tetap abadi. Aku mendapatkan ilham ini dari anaknya Ambarwati yang masih hidup, Mbah Warso. Dia yang tahu harta karunnya Marlin. Barangsiapa yang memiliki rambut gimbal Marlin, maka dia akan mendapatkan kekuatan yang sama dan disegani siapa pun. Termasuk mendapatkan kekayaan.

Hari itu aku pamit pada orangtua untuk merantau belajar di pesantren. Mereka kaget saat tahu aku akan belajar nyantri di Kampung Gelok. Pesantren kecil milik Mbah Karsono. Tapi sebetulnya aku tidak ke sana, itu alasan kecil agar bisa keluar dari rumah. Aku pergi ke kuburan Marlin bersebelah dengan kuburan kakeknya. Aku ingin dapatkan rambutnya untuk jadi kaya. Setiba di kuburan Marlin pada malam pekat itu aku langsung menggali. Namun saat menggali, sosok hitam berjubah putih dan berambut putih, muncul di hadapanku. Aku berdiri kaku tak bisa berkata-kata dan hanya mendengar ucapannya. “Dasar Manusia Bodoh! Itu kuburan cucuku. Tidak ada apa-apa di dalamnya! Marlin tetap abadi pada wajahmu. Tapi bukan kekuatannya!” Aku tercekat dan tahulah pada siapa aku berhadapan. (**)


Cikarang City, 10 Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.