Langsung ke konten utama

CERPEN : RUTUKAN SUBUH.


*Cerpen ini belum pernah dimuat di mana pun. Dua kali dikirim ke media koran, tapi tidak pernah dimuat. Sepertinya memang belum berjodoh dengan konsep dan tema cerpen.
   
Karya : Rosi Ochiemuh.

Subuh yang dingin, aku sudah tergerak bangun. Karena pekerja kantor kecil sepertiku tidak bisa menghentikan kemacetan jalan raya ingar-bingar liar kendaraan yang tidak akan menoleransi untuk jalan duluan. Bisingnya klakson-klakson sepagi itu terdengar seperti monster. Peringatan bahwa kita tinggal di sebuah kota maju yang bergantung pada kemajuan teknologi tapi miskin simpati.
            Wajah-wajah tegang, tidak ada senyum kutemukan dari mereka kecuali wajah berkeringat yang berkali-kali melirik jam di pergelangan. Aku tahu jam tangan mereka tidak murahan seperti yang kupakai. Beberapa bermerek Swiss Army, Alba, Chanel, Jacob & Co, Bvlgari, Cartier, dan yang terjangkau Sofie Martin yang peminat terbanyaknya perempuan muda. Aku tahu bahwa mereka tegang sembari bisa menunjukkan bahwa mereka berjam tangan mahal.
            Aku tidak terkejut lagi karena style hidup pekerja kantoran dituntut penampilan rapi bergaya masa kini. Apalagi berada di kawasan elite seperti kota yang di mana warga asing wara-wiri di sekitarnya, bukan karena mereka bekerja juga, tapi mereka pemegang beberapa saham perusahaan di kawasan kota besar. Jangan kaget jika kamu datang ke kawasan itu, terlihat pria dan wanita bule lari pagi sepanjang trotoar yang rapi dan nyaman dengan penampilan kasual. Jangan heran ketika kamu naik angkutan umum di sekitar kawasan elite itu kamu berpapasan dengan perempuan india beserta anak-anaknya, remaja berwajah korea berseragam sekolah dan tentu mereka akan berbicara dalam bahasa mereka bebas merdeka. Hingga merasa berada di luar negeri, bukan di negara sendiri
            Lalu kenanehan kecil ketika orang-orang yang memiliki mobil mewah itu memasuki permukiman ruko kawasan elite. Mereka memarkir mobil di pinggir jalan karena tidak mau bayar uang parkir. Bukan sebentar, hampir satu hingga dua jam. Padahal di sekitar pinggir jalan itu terpampang papan peringatan tulisan besar-besar,‘DILARANG PARKIR SEPANJANG JALAN INI’. Mungkin supir mereka tidak bisa membaca dan memang terlalu patuh pada majikannya. Tetapi perlakukan kontras terjadi pada pedagang-pedagang  asongan yang baru saja parkir motor sebentar untuk jajakan dagangannya, menunggu jikalau saja pembeli datang. Pedagang asongan itu baru parkir beberapa menit saja lalu diusir paksa oleh sekuriti kawasan itu. Salah siapa pakai motor?! Umpatku dalam hati pada pedagang asongan. Dan aku mengutuk pimpinan sekuriti itu supaya sulit minum kopi dan merokok selamanya.
            Banyak orang mengaku kaya dan terpandang. Contoh, mereka punya mobil tapi tak punya garasi. Yang menggelikan adalah bukan hanya satu, tetapi punya dua dan tiga mobil. Alasan untuk transportasi kebutuhan berdagang. Adalagi katanya untuk berdagang kaki lima di pasar malam. Alasan lainnya untuk disewa sebagai ladang usaha baru.
            Memang, mobil yang mereka beli dari uang sendiri, yang bisa didapat dari kredit, membeli bekas, dan tunai. Mungkin mobil saat ini bukan sekadar barang mewah, tapi kebutuhan. Seperti handphone dan laptop, yang tadinya barang-barang itu hanya buat orang tertentu dan sekarang jadi kebutuhan golongan manapun.
            Meski pedagang nasi kuning, tukang warung kelontongan, tukang gali, tukang bakso, tukang warteg, sah-sah saja punya mobil. Tapi apa tidak sebaiknya mereka lebih dulu memikirkan rumah mobilnya. Bukan memarkir mobil di lahan yang masih jalan umum. Apakah itu terlihat elok dan nyaman di mata orang? Padahal sejatinya mengganggu pengguna jalan lain, juga pejalan kaki yang merasa berjalan kaki adalah orang-orang rendahan yang harus banyak mengalah pada pengendara motor dan mobil.
            Subuh adalah waktu berharga bagi orang-orang yang ingin memulai aktivitasnya dengan bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika memulai hari sebelum matahari terbit. Meski tidak sibuk pun, orang-orang yang hidupnya bahagia memulai harinya pada sebelum dan di waktu subuh akan merasa kemenangan sudah berada di tangannya. Di waktu subuh orang-orang sepertiku sering terlena pada hari Sabtu dan Minggu yang menganggap hari itu adalah hari merdeka dari segala rutinitas. Bebas dari jalan raya, kemacetan, kerumitan pekerjaan dan orang-orang di sekitarmu yang di kepala mereka penuh dengan kata kerja.
            Kata siapa subuh selalu dingin? Temanku berkata bahwa subuh di tempatku dingin, ketika dia menginap di kamar kost pada hari Jumat malam Sabtu. Karena dia ingin habiskan waktu bersamaku. Katanya dia bosan berada di rumahnya sendiri. Bosan dan pusing pada keadaan rumahnya mirip gado-gado. Di dalam rumahnya ada empat keluarga sekaligus. Bapak dan ibunya yang sudah tua, kakak kedua bersama istri dan anaknya. Kakak ketiga bersama suami dan anaknya. Dan adik perempuannya bersama suami dan anaknya. Hanya kakak pertamanya saja yang tidak serumah. Bisa dibayangkan betapa kacaunya dia berada di dalam rumah itu. Hanya dia yang belum berumah tangga. Bisa jadi dia merasa tersisihkan, ibaratnya dia jadi obat nyamuk bakar dan sebagai asapnya saja.
            Aku bilang subuh di tempatku tidak selalu dingin dikarenakan tetangga kost-an yang kutempati ada orang aneh. Dia bukan pria, tapi sosok Alien yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Tidak pernah kulihat dia senyum, tertawa, dan menyapa tetangga kostnya kecuali pada ibu kost! Itu membuat kami anak kost merasa dia makhluk aneh. Orangnya gampang tersinggung jika diajak bercanda dan cepat emosi.
            Hingga suatu hari pada subuh paling dingin aku bermimpi bertemu dengan gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih mulus, harumnya melebihi bunga kasturi (jika tidak tahu bunga kasturi aku ganti bunga surga. Jika tidak mengerti dengan bunga surga, aku ganti dengan kembang tujuh rupa) wajahnya tidak bisa kugambarkan karena dia begitu cantik. Hampir sama dengan gambaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, konon ketampanannya tidak bisa digambarkan dengan ketampanan laki-laki di muka bumi ini. Seperti itu maksudku, tapi ini seorang gadis.
            Dia tersenyum duduk merapat di sampingku, merapatkan kembali tubuhnya di dekatku hingga merasa hangat menjalar sebagian tubuhku yang ringkih. Manik matanya begitu indah bagaikan kilau berlian, keharuman tubuhnya bisa kuhirup lebih dalam dan aku terangsang. Tubuhku menjalar hangat dan panas. Aku bagai patung yang dipeluk bidadari. Tidak bisa bergerak sama sekali. Tapi yang kurasakan panasnya makin menjalar. Hingga bergejolak di tubuhku.
            Wajah gadis itu semakin dekat padaku yang kaku dan.... Aku terkejut ketika tercium aroma gosong menyengat hingga terbatuk dan terdengar teriakan yang sangat keras.
            “Kebakaran! Kebakaran!” Mataku terbelalak melihat sekumpulan api telah membakar dinding kamar sebelah yang sedikit lagi menjalar pada separuh kasur. Aku meloncat dari kasur lalu berusaha keluar dari keadaan yang telah dipenuhi asap menggumpal. Dadaku sesak.
            Astaga! Kebakaran terjadi di kost-an kami subuh ini. Teriakan orang ramai di mana-mana. Tapi aku tidak bisa melihat apa pun karena kabut asap membuat mataku perih. Aku berusaha menuju pintu utama yang terbuka lebar penuh asap. Sepertinya semua sudah keluar dari rumah ini, tinggal aku sendiri. Orang-orang berteriak lebih jelas di luar. Dengan segala usaha dan kemampuan akhirnya bisa menuju pintu utama rumah kost.
            Aku melompati api yang menjalar pada pinggiran pintu. Selamatlah aku meski terguling-guling dan tidak tahu apakah punggungku terbakar atau tidak. Semua orang terkejut melihat aku keluar dari sana lelah berkeringat, terbatuk-batuk. Mataku masih perih karena asap bergentayangan di ruangan.
            Ketika membuka mata, samar-samar terlihat warga berkerumun menggotong tubuhku ke tandu menuju ambulans, dari kejauhan api semakin membesar. Aku melihat api besar itu berbentuk bayangan gadis dalam mimpi tadi dan tangan-tangannya seolah menghancurkan atap rumah kost dengan ganas.
            Di dalam perjalanan ke rumah sakit itu, isi kepalaku seperti film yang diputar ulang. Tergambar di sana, ibu kost yang sering mendatangi kamar pria aneh itu. Temanku yang menginap di kamar kost sehari sebelumnya mengaku kebingungan karena pacarnya hamil, dan dia berpikir untuk lari dari kenyataan. Teman-teman kost lain yang setiap malam Minggu membawa gadis-gadis ke kamar mereka. Lalu aku terpuruk dalam kesendirian di antara mereka dan berdoa agar semua berakhir dengan keputusan yang Tuhan berikan.(*)   

Lippo Cikarang, July 2018.

*Setiap kita pasti punya rutukan tersendiri. Entah itu hanya sebuah keluhan dalam hati yang mula-mula kecil. kemudian jadi beban besar. Hingga jadi Rutukan jadi sebuah kutukan. Doa yang melaknat sesuatu yang kita benci. Ide cerpen ini berasal dari rutukan seseorang, kalian, kamu atau kita. 

*Mohon untuk tidak mengcopy paste cerpen ini. Atau memindahkan naskahnya ke mana pun, Atau menyalin, mengcopas, mengutip kalimat-kalimatnya sedikit bahkan keseluruhan. Tanpa izin penulis asli dari akun blogger ini. Jika Anda Melanggar. Saya akan bertindak tegas!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA TIDAK SALAH (Eps.2)

Kau tahu bagaimana menjadi dirimu sendiri? Tetapi itu semua masih belum bisa menjadikan dirimu apa adanya. Terkadang cinta terlihat manis dan masa lalu itu menyebalkan. Tapi yang menyebalkan adalah bersembunyi dari kenyataan. Putri Kaca. Kakek jarang mengajak aku bercerita sewaktu kecil dulu. Hanya Nenek yang rajin bertanya tentang sekolahku, temanku dan keadaan bapak, ibu dan adik. Saat bertandang ke rumah mereka, aku selalu kagum pada kecantikan dua kakak sepupu perempuan yang usianya lebih tua empat tahun dariku. Yang satu bernama Mary, dan yang satunya bernama Elis. Mary yang paling sempurna dari kami semua. Tubuhnya tinggi, kulitnya langsat, hidung bangir, matanya bundar hitam, rambutnya lurus berkilau, berlesung dagu dan pipi. Dia termasuk siswi paling pandai di sekolahnya. Elis, wajahnya ayu, manis, hidungnya mancung, kulitnya langsat, berambut gelombang, tubuhnya sintal dan tidak terlalu tinggi seperti Mary. Dia cucu perempuan tertua dari Kakek dan Nenekku dari...

#GA_SAUJANA_HATI

RESENSI BUKU. . OLEH : ROSI OCHIEMUH. Judul Buku : SAUJANA HATI . Penulis : SuEff Idris . Jenis Buku : Novel ( Fiksi ) . Nama Penerbit : LovRinz Publishing . Tahun Terbit : Copyright © 2015, by SuEff Idris. . Tahun Cetak : Cetakan Pertama Februari 2015 . Jumlah Halaman : Viii + 298 Halaman. . Jenis Kertas : Book Paper . ISBN         : 978-602-72035-4-9 . Harga Buku : Rp. 59.000 . .  “Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati, kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat.” .  Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak—adik, terkait pada nilai-nilai agama hingga kematian, diramu dalam bahasa yang c...

Buku Antalogi Pertamaku

Bermula hasil dari coba-coba ikutan event kepenulisan di facebook yang diselenggarakan oleh penerbit indie, yakni penerbit asrifa. Aku tertarik ikut karena temanya membahas seputar kisah di kantor. Dan Alhamdulillah cerpenku lolos masuk menjadi bagian dari buku ini. Tulisan cerpenku bersanding dalam buku ini bersama dengan para penulis yang sudah berpengalaman. Setelah bukunya di kirim ke alamat kantor dan dibaca lembar demi lembar ternyata bagus-bagus dan inspiratif isinya. Juga ada tips untuk para karyawan dan bos untuk hubungan keharmonisan dalam kerjasama yang baik. Jika Anda tertarik, bisa menghubungi alamat email saya: ochiemuh18@gmail.com atau alamat facebook: rosi.jumnasari@facebook.com. Karena buku adalah inspirasi dalam kehidupan.