Langsung ke konten utama

Lintasan Nakal Perempuan yang Jatuh Cinta Lagi.

Tatapan matamu yang baru-baru ini kurasakan begitu kunikmati hangat melesap ke lubuk hati. Jauh di sana, denyut nadi itu semakin berdesir deras dengan mulusnya.

Lalu senyuman manis itu tiba-tiba kurasakan aneh menyentil sudut jiwa yang kaku. Jadi bergelombang dan aku bergoyang-goyang diayun ombak samudera lengkung manismu. Padahal sudah lama hidup bersamamu, tapi mengapa rasa ini hadir kembali lebih dari rasa yang kualami dahulu.

Malam ini baru kurasakan api rindu itu menyala tiba-tiba dan hangatkan sepi yang biasanya kulalui saat kau tak ada. Aku sudah terbiasa, kau tak ada. Tapi kali ini berbeda. Rindu yang kehangatannya makin mengalir menuju sendi-sendi tubuhku. Dan mendiami syaraf-syarafku yang tenang. Lesat dan mendadak aku gelisah.

Tiba-tiba kuingin hujan turun deras malam itu. Saat kau belum datang padaku. Kemudian kau segera pulang dan mendatangiku untuk berteduh dari gigilnya hujan malam ini. Hingga rindu terobati meski kehadiranmu itu biasa terjadi. Tapi ini lain, entahlah. Kurasakan getaran saat dirimu datang menghampiri. Apakah jatuh cinta lagi? Bisakah kita jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Pada kamu yang memang selalu bersamaku.

Pipiku merona jambu, dan menginginkan satu tatapan indahmu untuk satu malam penuh saja bersamaku. Rindu itu siapa tahu reda dengan sendirinya. Atau bertambah menggebu dan bergumpal serupa es kepal yang renyah dan manis legit.

Kudengar ketukan pintu kamar dari luar. Gugup menyertaiku. Bersiap-siap merapikan diri sambil bercermin.
Pasti itu kamu yang pulang. Hujan benar-benar turun bersama hawa dingin yang sejuk. Dadaku bergejolak saat mendekati pintu. Kubuka pelan. Dan kudapati dirimu yang separuh basah oleh hujan.

Aroma hujan dan cinta menelusup di hidungku. Senyum dan tatapanmu menggairahkan. Kututup pintu dan segera memelukmu erat sebelum kau pergi lagi.

#TulisanKecil... tulisan yang serupa latihan jemari. Agar selalu bisa menulis. Latihan kecil dan belajar untuk romantis. 😘😘

MyRoom-Rosi. 22-Juli-2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...