*Cerpen ini belum pernah ditayangkan di manapun. Saya tulis hanya sekadar menulis saja. ( Karya : Rosi Ochiemuh)
Suara emak dalam ponsel kali ini membuat aku tidak bisa berkata-kata. Emak berpesan sekali lagi, jaga diri, jaga makanan, dan jangan makan yang instan-instan. Apalagi makanan olahan yang ada bahan pengawetnya. Aku mengiyakan dengan berdeham. Mengiyakan nasihat emak bukan berarti bisa melakukannya.
Soal makanan, kami anak-anak rantau ini selalu ingin praktis saja. Maklumlah, demi mengejar waktu, berhemat, agar bisa memiliki apa yang kami impikan. Aku dan temanku—Fifah, tidak pernah masak. Kami mengontrak di kontrakan kecil, satu kamar dengan satu kamar mandi. Mana ada tempat memasak. Hanya saja Fifah memiliki penanak nasi listrik yang bisa dimanfaatkan untuk menanak nasi, merebus makanan, dan masak mi instan.
Kemarin-kemarin sebelum tahun berganti baru, aku berpikir apakah gaji kami sebagai buruh pabrik garmen akan naik atau sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak naik karena perusahaan menurun pendapatannya. Jadi sebisa mungkin berhemat. Sedangkan Fifah, pekerjaannya sebagai pelayan toko alat-alat rumah tangga pun menghasilkan gaji yang tidak seberapa besar dari gaji buruh pabrik industri di kota ini.
Kami mendapatkan pekerjaan bukan di bagian pabrik industri otomitif atau pun elektronik yang tentu gajinya menurut UMK. Kami bersyukur saja dengan pekerjaan yang kami dapatkan, meskipun berusaha mencari kerja di tempat lain. Namun semua itu perlu modal uang lagi untuk membayar orang dalam dan yayasan. Biayanya tidaklah seharga beli beras satu karung.
Omong-omong tentang beras, sejak kemarin Fifah mengeluhkan harga beras yang naik daun per liternya. Biasanya bisa beli dua liter untuk tiga hari. Tapi saat ini hanya bisa beli satu liter. Biasanya kami makan tiga kali sehari. Kali ini kami makan dua kali sehari, dengan mengirit seperlunya. Bersyukurnya, uang kontrakan tidak ikutan naik. Kami masih membayar uang sewa per bulan lima ratus ribu itu dibagi dua. Aku dan Fifah.
Untuk urusan perut, aku termasuk orang yang pas-pasan. Pas ada uang buat beli gorengan, pas itu pula beli. Pas ada uang hanya bisa beli mie instan, pas itu pula beli. Mie instan dan telur ayam stok paling banyak di lemari. Jika emak tahu, dia akan marah. Meski suaranya hanya terdengar dari ponsel, tapi itu sudah membuat aku resah. Karena dia memikirkan semua tentang diriku. Aku takut dia kepikiran dan akhirnya sakit. Penyakit masuk angin, maag dan sembelit sering kurasakan jika mendekati pertengahan bulan. Menahan itu semua hanya dengan obat warung saja.
Aku dan Fifah selalu berpikir untuk pulang ke daerah kami masing-masing daripada harus menahan derita mengirit makan. Tapi sudah telanjur menjalani kehidupan rantau ini. Kota yang dipenuhi berbagai impian orang-orang dari luar daerah. Khususnya desa terpencil yang ingin hidup lebih baik dan mapan dengan bekerja di kota industri ini. Beruntungnya, kami tidak tinggal di Ibu Kota yang konon katanya lebih kejam dari ibu tiri itu. Tahulah apa yang kejam di sana.
Suara emak masih terdengar dari ponselku. Bercerita tentang adik-adikku yang butuh biaya lumayan banyak saat ini di sekolah mereka. Aku termangu, mendengarkan. Terkadang ingin protes pada emakku yang ketika ditelepon selalu terdengar kabar tidak menyenangkan di telinga juga nasihat-nasihatnya. Terakhir sebelum percakapan di ponsel itu berakhir, emak bilang bahwa harga beras di sana juga naik dan gas elpiji tiga kilogram juga langka, dagangan nasi di warungnya sepi pembeli.
Aku mendengarkan dalam keadaan kepalaku berkejaran, mengingat-ngingat kapan terakhir kalinya aku makan empat sehat lima sempurna, dan menerima gaji terakhir dari selepas perusahaan mengungumkan karyawan yang dirumahkan, lalu namaku termasuk dalam surat itu. Satu-satu barang yang aku miliki tinggal ponsel di tangan.(*)
Cikarang, 18-Januari-2018
*Pengalaman merantau Anda bisa dijadikan cerita, meski fiksi. Tapi dengan itu, kita jadi berbagi apa yang pernah dirasakan pada orang lain. Berbagi cerita itu indah, meski fiksi tidak selamanya cerita utuh. Terkadang dibumbui hal-hal yang baru atau khayalan kita sendiri.
*Mohon
untuk tidak mengcopy paste cerpen ini. Atau memindahkan naskahnya ke
mana pun, Atau menyalin, mengcopas, mengutip kalimat-kalimatnya sedikit
bahkan keseluruhan. Tanpa izin penulis asli dari akun blogger ini. Jika
Anda Melanggar. Saya akan bertindak tegas!
Komentar
Posting Komentar