Sudah bukan
rahasia jika seorang perempuan itu susah mengungkapkan perasaan sukanya.
Terpenting terhadap lawan jenisnya yang dia sukai. Bukan sekedar suka namun
getar-getar itu menjadikan rasa yang berkepanjangan, terngiang-ngiang dipikiran
disetiap melakukan apapun. Cinta... itulah yang pernah kurasakan saat menginjak
remaja. Zaman sekolahku dahulu, cinta itu sangat sakral. Tak mau diumbar
siapapun. Curhatannya pada buku deary, hampir setiap pulang sekolah. Layaknya
seorang puteri yang sedang melalang buana tiba-tiba bertemu pangeran pujaan
hati yang sreg di hatinya.
Itu dulu... saat masih remaja dan aku belum mengerti apa-apa. Daya khayalku tentang negeri dongeng itu sangat kental dan selalu menjadi imajenasiku pada setiap gambar yang kubuat. Pada setiap tulisan yang dimuat. Meski adik-adik dan kedua orangtua bilang, aku anak rumahan yang selalu berada dalam kamar. Senang menyendiri, berekspresi mendengarkan radio dan memulai untuk berkhayal. Hmmmm.. benar-benar sangat memalukan.
Tetapi lambat laun, semua itu berubah seiring bertambahnya usia. Mulut yang pendiam ini kini menjadi bawel, cerewet karena seringnya bertemu teman-teman kerja. Dan saat ku malu untuk berteman dengan anak laki-laki dulu, malah menjadikanku senang berteman dengan siapa saja. Itulah yang membuatku berubah. Dulu menyukai mimpi-mimpi serta khayalan indah, sekarang sejak tamat sekolah dan bekerja mulai menyukai realita yang sebenarnya.
Hingga saat-saat bertemu dengan suamiku, tidaklah seperti puteri yang bertemu pangeran. Jatuh cinta, mengungkapkan, menjalani lalu menikah. Bukan seperti itu. Realita yang kuhadapi adalah sebaliknya. Cinta datang saat seseorang terpuruk kalah pada sesuatu hingga ia menemukan kenyataan yabng sebenarnya. Datanglah sebuah harapan yang mulai bersinar dari seorang teman dan kisah masa lalu yang mengiba.
Perjalanan cinta setiap orang itu berbeda. Mungkin yang sedang kutuliskan ini adalah sesuatu hal yang tidak dimengerti akan kedatangan cinta itu dalam hidupku. Terkadang cinta dimulai dari titik terbawah seseorang, atau dititik kejayaan dan kemashyurannya. Ada lagi cinta yang penuh tipu daya pada yang merasakannya. Cinta memang buta. Buta karena tidak mengatasnamakan Tuhan dalam cinta.
Terkadang kita merasa, diri ini sudah hebat dapat merasakan cinta yang lain dari seorang makhluk Tuhan. Padahal Allah.Swt itu Tuhan yang Esa, yang pantas kita rindukan dan kita cintai. Hilir cinta itu mengalir disetiap nadi dan nafas yang saat ini kita rasakan.
Itu dulu... saat masih remaja dan aku belum mengerti apa-apa. Daya khayalku tentang negeri dongeng itu sangat kental dan selalu menjadi imajenasiku pada setiap gambar yang kubuat. Pada setiap tulisan yang dimuat. Meski adik-adik dan kedua orangtua bilang, aku anak rumahan yang selalu berada dalam kamar. Senang menyendiri, berekspresi mendengarkan radio dan memulai untuk berkhayal. Hmmmm.. benar-benar sangat memalukan.
Tetapi lambat laun, semua itu berubah seiring bertambahnya usia. Mulut yang pendiam ini kini menjadi bawel, cerewet karena seringnya bertemu teman-teman kerja. Dan saat ku malu untuk berteman dengan anak laki-laki dulu, malah menjadikanku senang berteman dengan siapa saja. Itulah yang membuatku berubah. Dulu menyukai mimpi-mimpi serta khayalan indah, sekarang sejak tamat sekolah dan bekerja mulai menyukai realita yang sebenarnya.
Hingga saat-saat bertemu dengan suamiku, tidaklah seperti puteri yang bertemu pangeran. Jatuh cinta, mengungkapkan, menjalani lalu menikah. Bukan seperti itu. Realita yang kuhadapi adalah sebaliknya. Cinta datang saat seseorang terpuruk kalah pada sesuatu hingga ia menemukan kenyataan yabng sebenarnya. Datanglah sebuah harapan yang mulai bersinar dari seorang teman dan kisah masa lalu yang mengiba.
Perjalanan cinta setiap orang itu berbeda. Mungkin yang sedang kutuliskan ini adalah sesuatu hal yang tidak dimengerti akan kedatangan cinta itu dalam hidupku. Terkadang cinta dimulai dari titik terbawah seseorang, atau dititik kejayaan dan kemashyurannya. Ada lagi cinta yang penuh tipu daya pada yang merasakannya. Cinta memang buta. Buta karena tidak mengatasnamakan Tuhan dalam cinta.
Terkadang kita merasa, diri ini sudah hebat dapat merasakan cinta yang lain dari seorang makhluk Tuhan. Padahal Allah.Swt itu Tuhan yang Esa, yang pantas kita rindukan dan kita cintai. Hilir cinta itu mengalir disetiap nadi dan nafas yang saat ini kita rasakan.
Akupun merasakan sesuatu hal saat baru bangun tidur. Allah.swt masih memberikan
cinta untukku. Membangunkanku dipagi hari dan membuatku tertidur dimalam hari.
Nafasku masih memburu setiap detik, detak jantungku masih berdetik setiap
detik, tak berhenti cinta itu terus ada mengalir dalam tubuh dan ruh ini
dari-Nya.
Lantas, mengapa hidup itu terlalu sempit pada pemikiran tiap manusia.
Padahal
Allh.Swt selalu memberikan cinta dan kemudahan setiap detik waktu yang telah
kita lewati. Hilir cinta itu semoga selalu bermuara pada-Nya, walau cinta itu
kita bagi untuk orang-orang terkasih.
Komentar
Posting Komentar