Sementara malam kian menenggelamkan diri pada awan gelap. Lelaki itu tetap memintal hatinya dengan luka menjuntai. Luka yang dirajam dirinya sendiri. Tak pernah mengerti mengapa semua bisa terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dilupakannya. "Delima, hatiku saat ini sudah berkepingkeping. Mengapa kau tak pernah bergeming," gerutunya.
Entah berapa belas purnama dipendamkannya luka itu. Setiap hari dia mencoba untuk tetap membalut sayatan luka dengan obat yang ampuh. Setiap saat pula sayatan itu mulai mengering, tiba-tiba tersentuh lagi oleh memori sisasisa bayang wanita yang telah menorehkannya.
"Sepotong hati ini kenapa masih perih?" gumamnya lagi.
Padahal lembah hitam di bawah matanya masih melengkung. Gelap, hitam dan mengeriput. Akibat terlalu lama tidak terpejam. Bagaimana ingin terpejam, jejak rekam torehan itu meninggalkan sesuatu
yang membuatnya gusar setiap detik.
Baru enam purnama, dia bisa merasakan ketenangan. Hatinya mulai berbenah untuk merubah kehidupannya. Dia mulai memperhatikan wajahnya yang ditumbuhi bulubulu lebat, menyeramkan dan menakutkan. Dia mulai memperhatikan penampilannya yang kurus kerontang. Akibat torehan lukaluka. ===Bersambung====
Entah berapa belas purnama dipendamkannya luka itu. Setiap hari dia mencoba untuk tetap membalut sayatan luka dengan obat yang ampuh. Setiap saat pula sayatan itu mulai mengering, tiba-tiba tersentuh lagi oleh memori sisasisa bayang wanita yang telah menorehkannya.
"Sepotong hati ini kenapa masih perih?" gumamnya lagi.
Padahal lembah hitam di bawah matanya masih melengkung. Gelap, hitam dan mengeriput. Akibat terlalu lama tidak terpejam. Bagaimana ingin terpejam, jejak rekam torehan itu meninggalkan sesuatu
yang membuatnya gusar setiap detik.
Baru enam purnama, dia bisa merasakan ketenangan. Hatinya mulai berbenah untuk merubah kehidupannya. Dia mulai memperhatikan wajahnya yang ditumbuhi bulubulu lebat, menyeramkan dan menakutkan. Dia mulai memperhatikan penampilannya yang kurus kerontang. Akibat torehan lukaluka. ===Bersambung====
Komentar
Posting Komentar