Langsung ke konten utama

Antara Emansipasi Wanita & Kebutuhan hidup

Di zaman saat ini, di Indonesia negaraku. Sudah banyak bertebaran kaum wanita bekerja diluar rumah. Menjadi Emansipasi wanita sejak revolusi dari R.A KARTINI. Mereka para wanita-wanita Indonesia banyak yang bekerja diluar rumah dengan berbagai prinsip dan  pemikiran mereka yang bermacam-macam berbagai keadaan mereka. Kenapa mereka para wanita-wanita di Indonesia banyak yang bekerja?. Semua mempunyai jawaban sendiri-sendiri. Ada yang mengutarakannya dengan senang ada yang mengutarakannya dengan sedih. Ada para wanita yang dengan sukarela bekerja di luar rumah karena meniti karier dan ingin sukses seperti kaum pria, dan ada wanita yang terpaksa bekerja di luar rumah Karena ekonomi dalam keluarganya yang tidak mencukupi.

  Sekarang di tahun 2013 ini, semua kebutuhan pangan, sandang begitu mahal. Kebutuhan hidup begitu mahal di Indonesia. Kesehatan dan pendidikan pun Mahal. Sementara lapangan kerja di dominisasi oleh wanita, dan para pria begitu susahnya untuk menjadi pekerja tetap, baik di instansi industry maupun yang lain. Kecuali bila si pria punya pendidikan tinggi. Seperti Sarjana atau Insinyur. Kalau Cuma sampai pada pendidikan Sekolah Menengah Atas, atau Sekolah Menengah Kejuruan, itu jarang sekali mendapat pekerjaan yang layak. Apalagi jika pria sudah berumur diatas 25 tahun, lebih sulit lagi mendapatkan pekerjaan.

      Di usia dewasa tersebut, pria rata-rata sudah beristeri dan punya anak atau sudah berkeluarga. Maka jika ada pemutusan hubungan kerja di usia tersebut, memulai untuk mencari kerjaan banyak kendalanya di Negaraku Indonesia ini, apalagi di kota-kota Metropolitan yang mengutamakan Industri-Industri, Maka banyaklah pengangguran di Negara ini khususnya para Pria. Dan tidak bisa kita menyalahkan objek pria yang menganggur, karena memang kenyataan di luar sana begitu. Lapangan pekerjaan untuk pria berusia 25 tahun keatas itu sedikit. Apalagi untuk menjadi pekerja tetap. Jauh lebih sulit. Adapun pekerjaan yang mudah dan gampang dengan membayar ke sebuah yayasan pencari kerja dengan biaya yang tidak sedikit. Sekitar 1 juta sampai ada yang berani bayar 2 juta setengah.
     
Pekerjaan seperti Kuli bangunan, proyek dan limbah mudah didapatkan para pria di usia tersebut yang masih produktif. Tetapi lagi-lagi, penghasilan tersebut tidak tetap dan hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bila ada anaknya yang sekolah, kemungkinan pas-pasan untuk membayar uang sekolah. Itu masalahnya. Maka para Ibu Rumah-tangga bekerja diluar rumah membantu suaminya untuk mencukupi kebutuhan Rumah-tangga. Peran wanita di saat sekarang tidak lagi dipandang sebelah mata. Wanita bekerja dengan semua alasan diatas juga dan memang semakin bertambah tahun semakin bertambah kerasnya kehidupan dan mahalnya kebutuhan hidup di Indonesia ini, sejak Reformasi tahun 1998 yang lalu. Kalau Cuma untuk memikirkan makan sehari-hari cukuplah. Tetapi bagaimana dengan pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka? apakah anak-anak mereka tidak disekolahkan?.. kami semua ingin anak-anak kami bersekolah, mengenyam pendidikan yang baik dan tinggi, hingga anak-anak kami masa depannya lebih baik dari kedua orangtuanya. Itu adalah salah satu perkataan seorang ibu rumahtangga yang mencari nafkah, bekerja diluar rumah.
     
Pemerintah seharusnya memikirkan hal-hal kecil seperti ini untuk rakyatnya yang kecil. Bagaimana caranya masyarakat khususnya orang kecil seperti kami dapat perhatian dari pemerintah. Lapangan kerja seharusnya dibuka seluas-luasnya untuk semua lapisan masyarakat, dan disejahterakan kehidupannya. Hingga pengangguran sedikit berkurang di tanah air ini. Pelanggaran HAM, kriminalitas, Narkoba dan perbuatan Asusila tidak akan banyak terjadi di Indonesia ini. Karena Efek dari pengangguran yaitu, tidak adanya Aktifitas yang positif dalam diri seseorang, hingga membuat dia berbuat hal-hal yang negatif. Serta pengangguran juga membawa seseorang untuk melakukan tindakan kriminal seperti mencuri,merampok, karena masalah ekonomi.
  
Dan bagi para pemuda dan pemudi yang menganggur, bisa jadi mereka tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Saat mereka tidak mengenyam pendidikan yang layak maka, penjerumusan ke sesuatu yang negatif itu lebih dekat. Mereka berkelompok menjadi Geng, istilah kelompok untuk anak-anak muda, lalu mudah dipengaruhi dan diajak ke-hal yang negative dan merugikan mereka. Juga Narkoba, pelecehan seksual bisa terus terjadi dikalangan anak bangsa kita. Karena semua berakar dari sebuah masalah yakni ekonomi. Tidak adanya Penghasilan dan kebutuhan semua makin mahal!.
       
Bisa terjadi stress di dalam keluarga, dan bisa terjadi kepanikan dan ketakutan akan menghadapi masa depan. Semua tidak akan terjadi jika Masyarakat dibentengi dengan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Tetapi Kekuasan disebuah negeri juga berperan penting dalam peradaban masyarakatnya dan kemajuan negaranya. Maka Pemerintah di Negara ini punya Kewajiban Besar didalam kehidupan masyrakatnya. Terutama Pemimpin negaranya. Pengangguran yang tinggi di sebuah Negara akan memberi dampak Kriminalitas tinggi dinegaranya. Semuapun telah tahu itu.
    
Pemerintah juga punya kewajiban melindungi semua wanita-wanita yang ada dinegaranya dan memberikan pendidikan-pendidikan yang lebih baik. Karena tanpa wanita-wanita yang baik dan berkualitas moralnya, anak-anak bangsanya tidak akan memiliki semangat untuk memajukan Bangsa. Dan sebenarnya Tugas Wanita itu yang berada dibelakang layar. Untuk mencetak generasi Bangsa yang Berakhlakul karimah, berkualitas dimata dunia dan memajukan bangsanya lebih bermartabat. Sehingga tidak ada lagi wanita yang terpaksa meninggalkan rumah untuk bekerja mencari nafkah membantu keluarganya. Yang dilakukan wanita adalah berkarier dan berkarya untuk Negara ini dan mendidik putera dan puterinya menjadi manusia yang berkualitas akhlak yang baik dan berguna untuk Bangsanya.

( cikarang Bekasi oleh : Rosi Jumnasari ).21-APRIL-2013, my insipiration.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERJEBAK ( Cerpen-Rosi Ochiemuh )

** Diterbitkan pertama kali oleh : Majalah SIMALABA.net. Semarak Malam Minggu. Edisi Redaksi No.21. Sabtu, 02-Juni-2018. Tubuhku terpental masuk ke tempat bernuansa hijau. Hijau kelabu, hijau pastel, hijau muda, hijau terang, hijau daun, hijau lumut. Retinaku sakit sekali. Aku belum pernah ke tempat aneh ini. Tempat anomali di hadapanku orang-orang kulitnya seputih susu. Kendaraan mereka bukan dari mesin kaleng. Aku berpikir ini bukan bumi. Mereka lirik aku yang kebingungan. Kedua alis dan kening mereka berkerut seolah aku makhluk aneh di tempat ini. Kulitku sawo matang, rambut keriting hitam, mata bundar, hidung bulat, tinggi satu setengah meter. Mereka semua lebih pendek dariku. Mungkin setengah meter tingginya. Rambut mereka keperakan, hidung mancung, pupil mata hijau, jari-jari tangan lentik, kakinya jenjang, sepertinya mereka tidak berjenis kelamin karena postur mereka semua sama. Satu per satu mendekat, aku tidak bisa melihat keadaan. Mereka berkerumun, aku terduduk...

Namanya Arang (Cerpen Rosi Ochiemuh)

Cerpen ini dibuat dengan judul : Arang yang tak diharapkan. Kemudian direvisi dan judulnya saya ganti, lalu dishare diblog pribadi ini. Ang , panggilannya dari kepanjangan namanya—Arang. Entah mengapa kakeknya memberi nama itu. Tanpa nama belakang misalkan nama ayah, kakek atau ibu seperti nama temannya di sekolah. Hanya satu kata itu; Arang. Warna kulit yang bertolak belakang dengan makna namanya. Kulitnya seputih batu pualam, wajah tampan, bermata sipit indah, rambut hitam lebat, dan dua bola matanya kecokelatan. Semua orang berkata bahwa Arang anak laki-laki yang menarik. Kelak, saat dewasa banyak perempuan yang tertarik.  “Untuk apa kamu bertanya terus. Ibumu menitipkan kamu pada kami. Meski begitu akhir hidupnya, Nenek selalu sayang kamu dan ibumu,” ujar neneknya waktu itu saat pemuda itu selalu mendesak dengan pertanyaan. *** Arang, lelaki yang kuat. Bahkan kekuatan fisiknya terpancar sejak usia delapan tahun. Tubuhnya paling bongsor di antara anak-anak lain...

[CERPEN] "MATA-MATA HITAM" : Karya; Rosi Ochiemuh.

( Dimuat di Koran Harian Amanah, Edisi Hari Sabtu, 15-Oktober-2016)  Mata-mata hitam kecil bermunculan dari irisan daging sapi tanpa tulang yang baru akan diirisnya. Yatmo membelalak histeris dengan penampakan itu. Merasa ada yang ganjil dengan daging yang akan diolahnya, segera dia memanggil Keken—istrinya yang sedang menyusui bayi mereka di kamar.             “Bu! Kamu harus lihat. Daging ini aneh, bermata hitam, hidup, banyak sekali!” teriak Yatmo panik.             “Apa sih, Pak? Daging itu biasa saja, nggak ada mata atau apa pun,” jawab Keken memeriksa irisan daging dengan teliti. Yatmo mengucek mata lagi. Namun daging itu masih bermunculan mata-mata kecil. Seperti mata manusia bentuknya namun berukuran kecil, hitam dan berkedip-kedip. Yatmo makin ketakutan lantas pergi meninggalkan dapurnya. Keken terbengong dengan tingkah suaminya.    ...