Negara yang kita
cintai ini katanya sudah merdeka. Semua merayakan kegembiraan itu
berulang-ulang pada HUT NKRI yang kita cintai. Apa itu merdeka? Merdeka dalam
kamus bahasa Indonesia adalah bebas, lepas dari segala sesuatu yang membebani
tubuh. Entah apakah itu sesuatu yang kasat mata atau tak kasat mata.
Dalam diri kita sendiri sebagai manusia, kemerdekaan itu sudah Allah janjikan sejak Nabi Adam.As diciptakan. Manusia pertama yang menjejakkan kakinya ke bumi. Merdekanya Nabi Adam.As adalah diberikan hak kebebasan untuk berpikir dan berambisi dengan fasilitas yang Allah berikan berupa akal dan hati. Namun kembali lagi ke fitrahnya, bahwa manusia dan Jin diciptakan oleh Allah.SWT hanya untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya sampai akhir zaman.
Negara yang merdeka bukan berarti panduduknya sudah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebagai seorang manusia yang merdeka itu seharusnya bisa merasakan hidup yang nyaman, tentram dan makmur. Bukan merasakan nelangsanya, ketika pemimpin pemerintahan tidak becus, tidak amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai Abdi Negara.
Menurut saya, merdekanya manusia di zaman modern ini adalah, selama hidup tidak terbebani dengan hutang, tidak terbebani dengan mata uang, tidak dikendalikan oleh ambisi dan nafsunya, juga tidak terbebani menjadi pesuruh yang mendapatkan imbalan atau pun tidak mendapatkan imbalan. Itu menurut saya seorang manusia yang merdeka.
Manusia yang merdeka itu yang bebas menentukan jalannya. Manusia merdeka itu yang bebas berpikir dan independent ( berpegang kukuh pada idealismenya ). Bukan manusia yang ikut arus globalisasi dan moderenisasi. Untuk zaman saat ini yang sudah sangat canggih IPTEK (Ilmu pengetahuan teknologi) nya. Itu pemikiran saya, yang hanya seorang manusia dengan batas pendidikan sekolah menegah umum. Entahlah dengan yang lain.
Jika dalam kehidupan manusia seperti kita masih menikmati hasil jerih payah sebagai seorang pesuruh yang memiliki keinginan kebutuhan pangan, sandang dan papan dengan berhutang. Saya rasa kita belum merdeka. Toh selama berhutang yang terhitung belasan tahun pun, kita tidak bisa menebak sampai di mana usia kita berhenti. Selama itukah kita berhutang? Selama itulah sebagai manusia kita belum menikmati kemerdekaan diri sendiri.
Indonesia Negara yang memiliki hutang kepada bangsa Asing. Merdekanya Indonesia belum bisa terlepas dari yang namanya hutang luar negeri. Triliunan rakyatnya ini per-kepala digadaikan nantinya untuk hutang luar negeri itu. Per-kepala, yang masih dalam kandungan ibunya pun dihitung. Itu pernah saya baca di surat kabar, betapa hutang negara kita sangat besar pada bangsa Asing.
Mereka ( Bangsa Asing ) yang menilai, penduduk Indonesia itu berhutang per-kepala pada luar negeri. Pada kacamata agama Islam, tidak begitu. Yang menanggung semua itu adalah para pemimpin yang pernah menjabat di Negara ini. Meski mereka sudah lengser, toh tanggung jawab mereka pada negara dan segala tetek bengeknya termasuk hutang Negara itu sudah menjadi tanggung jawabnya di akherat. Itu sudah pasti. Kenapa para Khalifah di zaman Rasulullah.Saw itu sangat takut jika diembankan kewajiban mengurus sebuah daerah atau sebuah negara? Karena semua itu akan menjadi beban mereka dibawa sampai ke liang kubur nanti. Yang mengerti dan takut sama Tuhannya mungkin tidak ingin menjadi seorang pemimpin, pemimpin apapun itu. Yang tidak mengerti, mungkin mereka menikmatinya. Itu menurut pemikiran saya.
Di negeri yang kita cintai ini. Berhutang, pinjam meminjam dan termasuk riba kecil sudah terbiasa meski negara ini berpenduduk muslim terbesar kedua di dunia. Riba kecil maksud saya, mungkin kita sudah paham seperti kredit mengkredit barang dan jasa. Jangankan untuk mendapatkan barang dan jasa dengan modal dan usaha sendiri itu kadang berhutang, yang sudah disediakan oleh negara pun masih dibebankan hutang. Padahal itu untuk warga negaranya sendiri. Saya selalu berpikir seperti itu, susahnya kehidupan rakyat, meski negara itu sudah merdeka.
Mereka tahu ( maksud saya ) para pemimpin itu pasti tahu kekayaan negara ini seperti apa. Prospek keuangan ke depan seperti apa, dan mungkin yang paling dalam, pemasukan negara pun seperti apa datang—keluarnya. Tetapi, kenapa rakyatnya sendiri yang mendiami sepanjang abad berganti dengan keturunan mereka yang baru setiap masanya, mendapatkan kebutuhan pangan, sandang dan papan itu masih berhutang dan masih dibebankan, tidak dengan memberi dengan cuma-cuma.
Begitu susahnya untuk meninggalkan berhutang itu, dalam kehidupan kita sebagai manusia yang tinggal di bumi Indonesia ini. Hampir semua rakyat di negeri ini punya hutang, walaupun dia bekerja dengan gaji yang besar perbulannya, walaupun dia punya tanah untuk bercocok tanam ataupun investasi lain. Semua hampir memiliki hutang masing-masing. Jadi, apakah kita sudah merdeka dalam artian jasmani dan rohani? Cobalah berpikir sejenak dengan apa yang saya tulis ini. Walau masih banyak kekurangan dan sembrawutan tulisan ini. Karena ini dari pemikiran dan benak saya.
Merdeka itu seperti apa? Manusia itu makhluk yang paling sempurna dari makhluk manapun yang Allah ciptakan. Termasuk makhluk bernama Jin pun yang sering kita takuti karena kita begitu bodohnya, karena kita tidak berpengetahuan dalam tentang agama. Mereka yang makhluk bernama Jin itu sangat iri sekali dengan manusia. Sejak Manusia pertama kali di ciptakan, hingga sekarang beranak pinak memenuhi ruang-ruang dunia.
Malaikat pun yang menurut kita paling tunduk dan patuh pada Allah.Swt pernah terbesit ingin merasakan menjadi manusia. Karena manusia bisa menimba ilmu dan pengetahuan dari manapun. Sedangkan malaikat tidak, apalagi Jin, mereka sudah punya porsi dilingkup sendiri.
Sayangnya, manusia yang sangat sempurna itu harus tunduk dan patuh pada sebuah mata uang. Pada rantai-rantai kehidupan hingga tak sadar telah menjadikannya seorang budak. Budak nafsu, budak ambisi, budak kemewahan, budak harta dan syahwat. Jika dipikir secara logika pun, kita belum mereka. Entahlah penulis ini menuliskan tentang merdeka yang menyeret-nyeret Negara dan agama Islam pula, itu karena apa yang ada dibenak ini ingin dilumerkan segera.
Dari keberadaan tempat yang didiami, sampai kelompok dan ke individu saja, manusia saat ini belum merasakan, menikmati dan memahami apa yang disebut dengan merdeka. Apakah kebebasan, yang sekedar kebebasan tanpa batas, lepas semau keinginannya. Atau sebuah kebebasan yang bukan merantai tetapi kebebasan dalam batas kebenaran dan keadilan. Wallahu’alam Bishowab. Ini hanya pemikiran dari si penulis. Lebih dan kurangnya saya minta maaf.
LippoCikarang
22-Mei-2015(Rosi.Ochiemuh).
Komentar
Posting Komentar